
Sesuai keinginan Arga, tiga hari di rumah sakit. Meski dia merasa aneh dengan keinginan suaminya itu, Arga masih saja berseteru dengan suster gendut yang merawat anaknya.
Arga benar-benar ingin istrinya cepat pulang. Dan hari ini Anita pulang dengan cepat. Menurut dokter, Anita pulangnya setelah lima hari di rawat. Tapi suaminya itu ngotot minta agar istrinya cepat pulang.
Anita pun mengalah, jadi dia bersiap untuk segera pulang ke rumah. Arga sendiri sedang mengurus administrasi pelunasan dan surat chek up sepanjutnya setelah satu minggu di rumah.
Suster yang mengurus anaknya jadi sedih ketika Anita akan pulang, dia berharap pasien itu mau menggenapkan dua hari lagi menginap di rumah sakit.
"Bu, apa ibu ngga kasihan sama anaknya? Dia belum siap untuk suhu ruangan di rumah ibu." bujuk suster itu.
Anita tersenyum, dia hanya menanggapi ucapan suster itu hanya tersenyum.
Dia pusing mendengar ucapan Arga agar secepatnya pulang, dan sekarang dia di minta untuk menunda kepulangannya?
Tentu saja dia akan menuruti keinginan suaminya, dari pada di rumah sakit bukannya istirahat tenang malah omelan suaminya yang terus menerus tanpa henti jika sudah di rumah sakit.
"Memangnya kenapa suster menahan saya untuk menunda kepulangan saya?" tanya Anita penasaran.
Suster itu diam, dia tidak berani jawab kalau dia sangat senang dengan bayi Anita.
"Ya kan sesuai anjuran dokter bu, harus lima hari di rawat di rumah sakit. Kasihan lho anaknya." kata suster itu lagi.
"Tenang saja suster, di rumah juga ada yang merawat anak saya nantinya. Banyak malah yang akan menjaga anak saya, bukan hanya ibunya. Tapi juga papanya juga kakak-kakaknya." kata Anita.
"Tapi bu, suami ibu tuh ngga bisa gendong. Mengambil bayi dari boks aja harus buru-buru, itu kan salah. Seharusnya hati-hati, jangan terburu-buru. Belum lagi kalau menggendong, jangan di goyang-goyang. Suami ibu malah di goyang-goyang, bayinya kan jadi puyeng bu." kata suster itu memberi alasan agar mau tinggal dua hari lagi.
Suster itu sangat sayang pada anak Anita, lucu dan menggemaskan. Apa lagi pipinya itu tembem, membuat suster itu berat berpisah dengan bayi Anita.
Kembali Anita tersenyum, dia tahu suster itu senang dengan bayinya.
"Suster boleh kok poto bersama dengan anak saya kalau mau." kata Anita menawarkan agar suster tersebut tidak merasa kecewa.
Dia lebih baik menuruti ucapan suaminya dari pada suster. Bukan apa-apa, dia risih dengan pembicaraan Arga mengenai suster yang ada di depannya itu. Ada saja sebutannya untuk menjuluki suster itu, dia jadi tidak enak jika susternya tahu kalau suaminya mengatakan yang tidak-tidak.
"Waaah, boleh ya bu?" tanya susternya dengan senang hati.
"Iya, boleh sebagai kenang-kenangan untuk suster. Tapi fotonya jangan di jual ya, heheh.." kata Anita bercanda.
"Ya ngga bu, masa di jual. Saya suka aja pegang anak ibu, menggemaskan lihatnya. Heheh..." jawab suster.
Tak berapa lama, Arga masuk dengan membawa beberapa obat untuk di minum di rumah. Dia melihat suster gendut itu masih ada di ruangan istrinya, pandangan sinis pada suster tersebut. Anita tahu suaminya masih dendam dengan suster gendut itu, dari pandangannya saja sekarang terlihat berbeda. Mengandung permusuhan.
__ADS_1
Setelah mengambil foto, suster tersebut keluar dari kamar Anita. Dia mengucapkan terima kasih pada Anita telah di izinkan mengambil foto anaknya.
"Kamu izinin dia mengambil foto anak kita?" tanya Arga heran.
"Ya dari pada dia terus merengek minta menunda kepulanganku, kamu pasti ngga mau kan?" kata Anita dengan lirikan acuhnya.
Arga diam, dia tahu istrinya malas mendengarkan ocehannya tentang suster gendut itu.
_
Sudah satu minggu Anita pulang dari rumah sakit, banyak karangan bunga sejak kelahiran hari pertama Cheril. Dari berbagai klien Arga, kantornya juga teman-teman satu kantornya. Tak lupa juga karangan bunga dari karyawan pabrik dan juga perorangan. Kini dia waktunya kontrol ke rumah sakit lagi, memastikan rahimnya sudah bersih dari sisa-sisa darah nifas dan melahirkan.
Dia di antar lagi oleh suaminya ke rumah sakit. Sebenarnya Arga agak malas ke rumah sakit kalau nanti bertemu lagi dengan suster gendut yang dulu membuatnya kesal.
Tapi Anita meyakinkan kalau sekarang hanya bertemu dengan dokter kandungan saja, tidak mungkin bertemu lagi dengan suster itu.
Karena tugasnya memang di bagian penjagaan di ruangan bayi, bukan asisten dokter kandungan.
Dan benar saja, Arga tidak ketemu dengan suster bawel itu di rumag sakit. Dia jadi lega, lalu Anita dan Arga masuk ke dalam ruang praktek dokter. Dokter pun menyuruh Anita berbaring di ranjang periksa, perutnya di buka sedikit untuk pemeriksaan rahim yang memang sudah bersih atau belum.
Di bantu oleh suster asisten, Anita membuka rok bagian pinggangnya sedikit dan di oleskannya jeli, lalu alat USG di tempelkan untuk melihat rahim Anita dengan jelas.
Beberapa kali di gerakkan agar semuanya terlihat di layar monitor, dan di layar monitor dokter memperhatikan dengan teliti.
Dokter memberi catatan dan resep serta memberi arahan tentang makanan yang bagus untuk ibu menyusui dan baik untuk melancarkan asi.
"Bagaimana dengan rahim saya dokter? Apakah sudah steril semua?" tanya Anita.
"Iya ibu, semua dalam rahim ibu sudah bagus dan sudah steril. Tinggal ibu minum vitaminnya ya, jangan sampai ketinggalan. Makanannya juga harus di banyakin makan sayuran dan buah juga. Jangan lupa daging-dagingan untuk menambah protein hewani, bukan hanya dari sayuran saja ya bu." kata dokter memberi saran.
"Baik dokter." jawab Anita.
Setelah selesai menulis reaep, dokter memberikannya pada Arga dan menebusnya di bagian obat.
"Saya permisi dulu dok."
"Ya, silakan. Selanjutnya..."
Anita dan Arga keluar dari ruang praktek dokter, mereka pun duduk sebentar di ruang tunggu.
"Semua harus di minum sayang?" tanya Arga.
__ADS_1
"Iya, kan itu vitamin agar asiku lancar dan menambah kuat akunya Ga." jawab Anita.
"Ya sudah, aku tebus obat dulu ya. Kamu tunggu di sini dulu." ucap Arga.
"Iya."
Arga lalu pergi meninggalkan Anita menuju bagian obat-obatan, menyerahkan resep dari dokter.
Arga menunggu dengan sabar, dia melihat istrinya dari jauh masih duduk bersandar di kursi.
Setelah memastikan istrinya masih di ujung sana, Arga duduk di kursi tunggu. Dia keluarkan ponselnya untuk mengetahui perkembangan kantor firmanya dari sektetarisnya.
Lama Arga chatingan dengan Nia, hingga nama Anita di sebut oleh bagian informasi. Dia pun berdiri di depan, menunggu obat Anita segera dia ambil.
Lalu dengan membayar kontan obat-obatannya, Arga menerima tiga bungkus obat sekaligus setelah semua sudah di tebus.
Kemudian dia kembali di mana Anita duduk, dia melihat Anita sedang mengobrol santai dengan suster yang dia ingin hindari.
Wajah kesalnya tampak jelas, bahwa Arga tidak suka dengan suster tersebut.
"Sudah Ga?" tanya Anita.
"Sudah, yuk kita pulang." kata Arga.
"Sudah bisa gendong dengan benar pak Arga?" tanya suster gendut itu..
Sekarang sapaannya sopan pada Arga, dia tidak masam lagi wajahnya. Tersenyum semanis mungkin.
Tapi jika di sapa dengan menanyakan cara menggendongnya sudah benar atau belum, dia jadi semakin malas menjawab pertanyaan suster gendut itu.
"Ayo kita pulang sayang." ajak Arga tanpa menjawab pertanyaan susternya.
"Iya, suster terima kasih ya. Dan maaf dengan sikap suami saya." kata Anita.
"Iya bu, tidak apa-apa. Kalau begitu, saya juga pamit mau pergi ke ruang bayi lagi." ucap susternya.
Anita dan Arga pergi dari tempat mereka berdiri menuju keluar dari rumah sakit.
_
_
__ADS_1
_
❤❤❤❤❤❤❤❤