IKHLAS MELEPASMU

IKHLAS MELEPASMU
164. Kamu Terlalu Cantik


__ADS_3

Anita dan Arga sudah sampai di rumah yang akan mereka tinggali selama dua hari. Anita juga menyuruh Noni untuk membantunya di sana selama dua hari itu.


Noni senang bukan main, dia akan bertemu lagi dengan si kembar dan juga anak Anita lainnya. Dia terkejut ketika mendengar majikannya itu mempunyai enam anak dari suami pertama dan anak kembarnya.


Benar-benar mempunyai anak banyak itu menyenangkan, rame meski merepotkan. Tapi enak jika sudah pada besar nanti bisa saling memyayangi satu sama lain. Jika ada yang kesusahan pasti saudaranya yang membantu.


"Sudah siap semua sayang?" tanya Arga pada istrinya yang masih berkemas.


"Sudah Ga, aku lagi beres-beres barang milik Cheril aja." jawab Anita.


"Kira-kira jam berapa pemberkatannya?" tanya Arga.


"Katanya sih jam sembilan, telatnya jam sepuluh. Setelah dari gereja, langsung ke hotel katanya." jawab Anita lagi.


"Aku tunggu di hotel aja bagaimana sayang?" tanya Arga ragu.


"Kok gitu? Ya ngga enak sama neneknya Celine Ga, kalau kamu malas-malasan begitu bagaimana dengan Celine? Dia sudah aku bujuk untuk jadi pengiring pengantin, dan Marisa sangat senang sekali lho. Jangan patahkan kebahagiaan Marisa Ga. Atau jangan-jangan kamu ngga kuat Marisa menikah lagi?" pancing Anita.


"Dih, ngapain aku ngga kuat. Angkat kamu dari lantai bawah ke lantai atas aja aku kuat. Makan kamu tiap malam juga aku kuat, apa lagi makan kamu berjam-jam tambah kuat." jawab Arga nyeleneh.


"Hadeeh, makin ngawur kamu jawabannya." kata Anita dengan malas menanggapi ucapan suaminya.


Tingkat kemesuman Arga semakin tinggi, jika di ladeni semakin menjurus yang tidak-tidak.


"Ya sudah, ayo kita berangkat. Sudah semakin sore, sampai di sana pasti malam jadi harus banyak istirahat nantinya." kata Anita.


"Ya sudah, ayo. Biar aku yang bawa Cheril ke bawah." kata Arga.


Arga menggendong Cheril dan Anita membawa koper kecil milik anak bungsunya. Mereka langsung turun ke bawah dan keluar rumah.


Bi Ina di beri pesan oleh Anita dan pak Diman untuk menjaga rumah untuk dua hari ke depan. Senin malam mereka kembali lagi ke rumahnya.


Setelah semua tampak masuk le dalam mobil, Arga langsung melajukan mobilnya menuju kota. Karena besok sudah harus bersiap untuk pergi jalan-jalan dan hari Minggunya menghadiri pernikahan Marisa.


_


Malam hari pukul sembilan Arga dan keluarganya sampai di rumah milik Chiko. Ya, rumah itu sangat besar dan cukup untuk anak-anak berkumpul.


Noni menunggu kedatangan Anita dari pagi hari, sekalian beres-beres rumah dan sore harinya dia menyiapkan cemilan dan mungkin hanya menanak nasi saja dengan menyediakan mie instan.


Barangkali terlalu malas untuk memasak, tapi di sini banyak sekali makanan siap antar.


"Selamat datang bu Anita, senang sekali rasanya ketemu dengan ibu sekeluarga." sapa Noni dengan wajah sumringahnya.


"Sama juga Noni, saya juga senang bisa ketemu kamu lagi. Bagaimana keadaan rumah?" tanya Anita dia meletakkan koper Cheril.

__ADS_1


"Semua sudah saya bereskan bu, jadi ibu dan bapak tinggal menempatinya saja. Juga kamar anak-anak sudah rapi semua." jawab Noni.


"Terima kasih ya Noni, saya jadi merepotkan kamu." kata Anita.


"Ngga apa-apa kok bu. Sudah tugas saya, kalau ibu tinggal di kota lagi pasti saya akan ikut ibu saja." ujar Noni.


"Kamu ikut saya ke kampung saja, Non. Sama kok seperti di kota ini, kalau kamu mau." kata Anita.


Dia juga butuh asisten satu lagi, jika Noni mau dia akan bawa Noni ke kampung.


"Emm, masih bingung bu. Suami saya nanti bagaimana?" tanya Noni.


"Emm, ya itu terserah kamu. Nanti kalau kamu berubah pikiran kamu boleh hubungi saya ya." ucao Anita.


"Sayang, di mana kamarnya?" tanya Arga.


"Kamarnya yang mana, Non?" tanya Anita.


"Di sebelah kiri paling ujung bu, kalau anak-anak sebelah kanannya semua." jawab Noni.


Dia takjub dengan suami Anita, sangat romantis dan penyayang. Tidak seperti dulu Rendi yang selalu datang hanya diam dan sering mengacuhkan istrinya, gumam Noni.


Semua anak-anak tampak kelelahan, mereka langsung tidur di kamar yang sudah di bersihkan. Noni sendiri tidur di kamar belakang.


Dan ternyata semua tidak ada yang minta makan, hanya Anita yang merasa lapar dan membuat mie instan rebus.


_


Pagi-pagi semua tampak bersiap untuk memghadiri pemberkatan pernikahan Marisa dan calon prianya. Anita tidak tahu calon pengantin pria Marisa, yang dia baca di kartu undangan itu namanya Martin.


Arga juga sudah bersiap dan sangat rapi. Dia memakai tuxedo hitam dan kemeja putih di padu dengan dasi kupu-kupu. Anita memaksa suaminya memakai itu, karena Arga rencananya tadi memakai batik saja agar lebih santai.


Tapi istrinya ingin lebih resmi dan Anita juga memakai dress warna pink rose yang soft selutut, sedikit terlihat belahan dadanya. Membuat Arga melotot, tidak terima istrinya berpakaian terlalu terbuka belahan dadanya.


"Sayang, kenapa kamu pakai baju itu?" tanya Arga.


"Aku menyesuaikan baju kamu aja, Ga. Kan biar serasi kita." jawab Arga.


"Ganti bajunya, jangan pakai itu. Kamu mau semua laki-laki melototi kamu dengan baju terbuka itu?" kata Arga dengan kesal.


"Aku ngga bawa baju lagi buat ke acara itu, udah sih yang penting aku ngga macam-macam di sana. Lagi pula siapa yang akan melirik ibu enam orang anak ini?" kata Anita masih membela diri.


"Sayang, kamu itu masih sangat cantik. Nanti banyak laki-laki yang melirik kamu, aku ngga suka itu. Pokoknya kamu ganti baju, titik!" kata Arga dengan nada tingginya.


"Aku harus pakai baju apa? Di bilang ngga ada baju lagi, aku sudah menyiapkan bajunya yang ini."

__ADS_1


"Terserah kamu saja, aku ngga mau ke acara itu kalau kamu masih pakai baju itu." kata Arga merajuk.


"Ya ampun, sebentar saja Ga. Nanti setelah bersalaman sama Marisa di hotel kita langsung pulang ya?"


"Terserah, pokoknya aku ngga mau ke acara itu!"


Arga lalu pergi begitu saja, dia keluar kamar entah menuju kemana. Anita menarik nafas panjang, dia pikir suaminya akan terima dengan baju pilihannya itu. Lalu dia harus pakai baju apa di acara itu?


Kemudian dia mencari baju lagi di lemari, seingatnya dia membawa baju couple batik. Kemudian Anita memerikasa baju-bajunya dan memang dia menemukan baju couple batik. Agak aneh sih, tapi biarlah. Dari pada suaminya marah dan tidak mau ke acara pernikahan Marisa, bisa gawat.


Lalu dia meminta Noni untuk menyeterika baju batik couple agar lebih rapi. Dia lalu mencari suaminya yang ternyata ada di belakang rumah sedang bermain ponsel.


"Ga, ayo ganti bajunya. Kita pakai baju batik saja, biar sama nantinya." kata Anita.


Arga bangun dari duduknya, lalu mengikuti istrinya masuk ke dalam kamar. Dia mengganti baju tuxedonya dengan baju batik.


Sejenak dia memperhatikan istrinya yang masih memakai baju tadi. Memang sangat cantik istrinya memakai baju itu dan serasi dengannya tadi memakai tuxedo, tapi dia tidak rela jika nanti banyak mata laki-laki menatap istrinya dengan penuh nafsu.


Arga pun mendekat, dia memeluk istrinya dari depan dan menciumnya penuh gairah. Sampai ketukan pintu dari luar Arga tidak peduli.


"Emm, Ga. Itu bajunya sudah siap, aku mau ambil bajunya dulu. Lepas kamunya, ummph." kata Anita menahan dada Arga agar menjauh.


"Huuf, kamu membuatku ingin menerkam jadinya kalau pakai baju ini." kata Arga mengusap bibir Anita yang basah karena ciumannya tadi.


Anita melepaskan diri dari pelukan suaminya dan membuka pintu kamarnya.


"Ini bu bajunya sudah siap." kata Noni menyerahkan baju batik tersebut.


"Terima kasih ya Non, saya merepotkan kamu lagi." kata Anita.


"Ibu ini kayak apa aja, saya kan memang begitu tugasnya. Tapi kenapa baju batik bu? Kan sudah bagus pakai baju itu, cantik lagi bu Anita."


"Suami saya ngga mau Non, ya sudah saya ganti baju dulu. Terima kasih ya."


Kemudian Anita menyerahkan baju batik Arga dan dia juga menggantinya dengan cepat, karena sekarang sudah menunjukkan pukul delapan lebih tiga puluh.


Dia harus cepat ke acara pemberkatan Marisa dan Martin, agar Celine tidak berubah pikiran.


_


~> maaf ya, ini ternyata tidak cukup untuk satu bab jadi nambah satu bab lagi untuk menuju tamat..🙏🙏🙏🙏


_


_

__ADS_1


_


❤❤❤❤❤❤❤❤


__ADS_2