IKHLAS MELEPASMU

IKHLAS MELEPASMU
111. Liburan Ke Vila Kembali


__ADS_3

Satu bulan sudah sejak pembicaraan Arga dan Anita tentang liburan ke vila, kini mereka akan bersiap untuk liburan.


Semua sudah di siapkan Anita sejak dua hari yang lalu, karena kebutuhannya juga banyak sekali. Dari kebutuhan dan perlengkapan baju kelima anaknya selama tiga hari juga punya dirinya dan Arga.


Kini terakhir merapikan bahan baku makanan yang penting saja untuk satu hari setelah mereka sampai di vila. Karena tidak mungkin harus pergi ke pasar untuk membeli keperluan dapur.


"Anita, ibu ngga ikut ya. Biar di rumah saja sama bibi." ucap ibu Yuni.


"Lho, kenapa bu?" tanya Anita heran.


"Tidak apa-apa, ibu merasa tidak kuat jika harus ke vila. Di sana kan jalannya naik turun, jadi ibu tidak kuat." ucap ibu Yuni lagi.


"Kan hanya di dalam mobil saja bu, nanti kamarnya juga tetap di bawah." ucap Anita lagi.


Raut wajah ibu Yuni berubah sedih, dia seperti merasakan kesedihan. Mungkin mengingat mendiang besannya, ibu Ema.


"Ibu nanti ingat almarhum mertuamu. Ibu tidak bisa terus mengingat beliau." ucap ibu Yuni.


Anita menghela nafas panjang, dia lalu merangkul ibunya. Memberikan ketenangan dan rasa nyaman agar ibunya tidak bersedih lagi.


Memang sudah hampir satu tahun semenjak ibu Ema meninggal, ibu Yuni masih belum bisa menghilangkan kenangan dengan besannya itu.


Ketika kedua anaknya bahagia, ibu Ema dan ibu Yuni juga merasakan bahagia. Ketika melahirkan cucu keduanya, mereka juga menjaga bersama saat Arga pergi ke kantor.


Di saat anak-anak dan cucu mereka merasakan bahagia libur bersama, ibu Yuni dan ibu Ema bercengkrama. Ya layaknya kakak beradik, seperti menemukan saudara kandung.


"Bu, jangan mengingat lagi. Mama memang pantas untuk di kenang, tapi tidak untuk menjadikan ibu semakin sedih. Mama pasti ikut sedih jika ibu sedih terus." ucap Anita.


"Ibu tidak bisa menghilangkan rasa sedih kehilangan mertuamu, Anita. Mbak Ema selalu baik dan mengerti dengan keadaan kita semua." kata ibu Yuni.


Dia menyeka air matanya yang sempat keluar. Anita semakin mengeratkan pelukannya. Dia merasakan apa yang di rasakan ibunya.


Sedangkan tidak jauh dari tempat Anita dan ibu Yuni saling memeluk, Arga sedang memperhatikan istri dan mertuanya saling berpelukan.


Sekilas dia mendengar jika ibu Yuni ingat akan kenangan ibunya dan perubahan raut wajahnya menandakan mertuanya itu merasa bersedih.


Arga menunduk, ternyata yang lebih merasakan kehilangan adalah ibu Yuni. Tapi kenapa dia malah mengacuhkan Anita. Arga kini semakin sakit hatinya dan merasa sedih. Rasanya dia bukan orang yang paling kehilangan, tapi karena egoisnya saja yang merasa sendirian tanpa ada yang peduli padanya.


Dalam hati dia bertekad akan selalu membahagiakan istrinya dan tidak akan menyakiti hatinya lagi, dia sudah berjanji pada ibu Yuni. Kedua anak dan ibu itu benar-benar menyayangi ibu Ema, mamanya.


Arga menarik nafas panjang, dia lalu pergi dari tempatnya semula menuju keluar rumah menemui anak-anaknya yang sedang bermain ayunan dan perosotan di halaman rumah.


_


Pagi ini semua sudah siap, karena perjalanannya juga cukup jauh jadi harus bersiap lebih pagi. Ibu Yuni sendiri kekeh tidak ikut dengan anakny a berlibur bersama.


Anita tidak bisa memaksa ibunya ikut serta, dia hanya berpesan pada pembantunya agar selalu menemani dan memberikan apa yang di butuhkan ibunya.


"Ibu tetap ngga mau ikut, sayang?" tanya Arga.


"Iya, aku jadi khawatir jika di tinggal di rumah sendiri dengan bibi." jawab Anita lirih.


"Jangan khawatir sayang, ibu akan baik-baik saja. Kalau pun ibu merasa pusing atau apapun, bibi sudah aku suruh menghubungi dokter. Aku sudah kasih nomor dokter yang siap datang ke rumah." ucap Arga.


Anita menghela nafas panjang, dia kembali mengecek barang yang akan di bawa siang ini.


"Semua sudah siap sayang?" tanya Arga.


"Sudah." jawab Anita.


"Ya udah, aku ke bawah dulu sama anak-anak."

__ADS_1


"Kopernya sekalian di bawa, Ga. Aku mau siap-siap."


"Iya, jangan lama-lama siap-siapnya"


"Iya."


Arga lalu menarik koper berisi bajunya dan Anita, sedangkan milik anak-anak sudah di masukkan ke dalam mobil sejak semalam.


Dia turun ke bawah, sedangkan anak-anaknya masih bermain di halaman rumah.


"Papaa,.." teriak Kevin berlari menghampiri Arga.


Dengan cepat Arga menyambut anaknya yang menangis itu.


"Kenapa sayang, kok nangis?" tanya Arga memggendong Kevin.


"Abang Angga pelit, injam mainan lobot ngga oleh." ucap Kevin yang sekarang ucapannya sudah lebih baik.


"Oh, kenapa abang pelit?"


"Hwuaaa!"


"Cup sayang, jangan nangis lagi. Nanti papa bilang sama abang Angga ya." ucap Arga menenangkan anaknya itu.


Mereka pun keluar, Arga meletakkan kopernya dekat mobil dan menghampiri anaknya itu.


"Abang, kenapa adeknya ngga boleh main sama-sama?" tanya Arga pada Angga.


"Adek mainnya di tarik-tarik pa, kan nanti rusak robotnya." jawab Angga.


"Eee, jadi adek nih yang nakal ya. Ngga boleh di tarik-tarik mainan robotnya, rusak nanti sayang. Kan ngga bisa buat mainan lagi." ucap Arga mengingatkan anak bungsunya.


Tapi Kevin malah menangis dengan menjadi. Arga kaget, dia lalu membawa anaknya untuk di tenangkan.


"Mamaa..!" teriak Kevin menyodorkan badannya pada Anita.


"Dia menarik mainan abangnya, si abang ngga boleh jadi nangis." jawab Arga.


"Cup sayang, ngga boleh merusak mainan ya. Kan nanti ngga bisa mainan lagi. Udah sayang jangan nangis, kita mau jalan-jalan." ucap Anita menenangkan anaknya itu.


"Sudah siap sayang?" tanya Arga pada istrinya.


"Sudah." jawab Anita.


"Anak-anak, ayo masuk ke mobil. Kita mau berangkat." teriak Arga pada ketiga anaknya yang masih bermain di halaman rumah.


Baik Chila, Celine dan Chiko berlari menuju mobil. Angga pun ikut berlari menuju mobil. Arga membuka pintu mobil dan mereka semua masuk ke dalam..


"Kevin sama papa dulu ya, mama mau izin sama eyang putri." kata Anita menyerahkan Kevin pada suaminya.


"Iya ma."


Anita pun masuk ke dalam rumah, menghampiri ibu Yuni yang ada di dapur entah sedang membuat apa.


"Bu, kami pergi dulu ya." kata Anita menyalami tangan ibunya.


"Iya, hati-hati ya. Tapi kamu benar hanya tiga hari di vila itu?" tanya ibu Yuni.


"Iya bu, Minggu sore kita sudah pulang. Paling sampai malam di rumahnya." kata Anita.


"Ya sudah, ibu hanya bertanya saja. Kalian bersenang-senangpah, jangan khawatirkan ibu." ucap ibu Yuni.

__ADS_1


Anita merasa sedih harus meninggalkan ibunya kini yang sekarang sering sakit. Dia lalu memeluk ibunya erat.


"Ibu jaga diri baik-baik di rumah ya, aku akan sering menelepon ibu sampai di sana." kata Anita lagi.


"Iya, jangan cemaskan ibu. Ada bibi yang akan menjaga ibu kok, kamu tenang saja." kata ibu Yuni menenangkan Anita.


Setelah merasa tenang, Anita melepas pelukan ibunya. Kemudian dia mendekat pada pembantunya itu dan berpesan agar secepatnya mengabari jika terjadi sesuatu pada ibunya.


Pembantunya mengangguk cepat, dia akan menjaga ibu dari majikannya itu.


Kemudian Anita berlalu meninggalkan ibunya yang menatap kosong ke depan. Memandang Anita sampai dia menghilang di balik pintu Dia menghela nafas panjang, entah kenapa rasanya sepi ketika Anita keluar dari rumahnya.


_


Perjalanan menuju vila memang sangat jauh, anak-anak bernyanyi dan berdendang untuk menghilangkan rasa bosan di dalak mobil yang lama itu.


Arga menoleh pada istrinya, dia tersenyum ketika Anita memejamkan matanya karena mengantuk dan membuka lagi.


"Kamu tidur aja sayang, nanti kalau sudah sampai aku bangunkan." kata Arga.


"Kamu nanti sendirian tidak ada teman ngobrol." ucap Anita yang kembali menguap.


"Ya buat apa di temani kalau kamu sendiri sudah mengantuk begitu, sudah tidur aja sana. Tuh, anak-anak juga sudah tidur."


Anita menengok ke belakang, ternyata semuanya tertidur. Dia juga ingin tidur tapi kasihan dengan suaminya sendirian menyetir mobil.


"Ngga deh, ngga tidur. "


"Tidur sayang, kamu nanti lelah."


"Tidak, Arga."


Arga tiba-tiba menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Anita kaget, dia menatap suaminya.


"Kenapa berhenti?"


"Mau tidur ngga?"


"Ih, kok maksa sih. Aku ngga ngantuk."


Arga maju memiringkan badannya mendekat pada istrinya lalu menarik wajah Anita, dia mencium bibir Anita yang sejak dari rumah ingin sekali dia cium.


Dengan lembut dan pelan, Arga mengecap bibir Anita. Anita merasa kaget, namun dia membalas ciuman suaminya. Mereka menikmati berciuman sampai keduanya kehabisan nafas.


Arga melepas ciumannya dan mengusap bibir istrinya yang sedikit bengkak. Dia tersenyum kemudian mengecup sekilas dan kembali ke kursinya.


Anita merapikan dandanannya yang sedikit berantakan karena ulah suaminya.


"Mau lagi?" tanya Arga masih dengan senyumannya.


"Ayo jalan, aku sekarang tidak mengantuk lagi."


"Hahaha, sejak dari rumah aku pengen cium kamu sayang. Mumpung anak-anak semua tidur."


Lalu Arga menghidupkan mesin mobilnya lagi, dia merasa senang sudah mencium istrinya yang sejak tadi ingin sekali menciumnya.


_


_


_

__ADS_1


❤❤❤❤❤❤❤


__ADS_2