
Sejak malam itu Rendi sering pulang dan Anita senang.Tapi setiap kali pulang dia selalu muram dan menyendiri.
Anita jadi bingung,apa yang di pikirkan suaminya itu.Apa yang mengganggunya selama ini,ingin sekali dia bertanya.Tapi ketakutan selalu dia rasakan.Takut suaminya marah lagi dan akan pergi lagi.
Malam ini Anita memberanikan diri akan bertanya pada suaminya.Dia menyiapkan kopi susu untuk di antarkan pada Rendi yang setiap malam di habiskan di ruang kerjanya.
Seperti punya goa persembunyian di kala banyak sekali pikiran,Rendi selalu di ruangan itu.Bagi Anita,Rendi hanyalah seperti bayangan yang melintas jika di rumah.Namun demikian dia akan menangkapnya ketika bayangan itu ada di depannya dan menatapnya
Namun sayangnya,bayangan itu selalu membelakanginya,entah sampai kapan akan seperti itu.
Kini dia berusaha membalikkan bayangan itu,mencari kebenaran yang tersimpan dalam siluet itu.
Anita mengetuk pintu ruang kerja Rendi,lalu mendorongnya membuka pelan.Di lihatnya Rendi sedang fokus mengetik di laptopnya.
Anita melangkah mendekat,meletakkan kopi susunya di meja samping tangan kanan Rendi.Dia diam,menunggu reaksi suaminya yang masih fokus mengetik.
"Kopinya mas."kata Anita.
"Emm.."jawab Rendi.
Hanya deheman kecil saja,tanpa melihat ke arah Anita yang masih setia di depannya.
"Sibuk ya mas?"tanya Anita lagi.
"Ya."masih dengan jawaban singkatnya.
"Mengerjakan apa sih?"mencoba bertanya ingin perhatian suaminya teralihkan padanya.
"Ya banyak,kamu tidak akan mengerti jika di jelaskan."ucap Rendi lagi.
Anita menghela nafas panjang,jawaban kali ini lebih baik dari pada sebelumnya.Tidak ada nada kasar ataupun meremehkan.
"Emm,mas Rendi aku mau tanya."
Rendi mendongak,dia melihat Anita ragu dan takut padanya.Sebenarnya dia tidak suka Anita terus mengganggunya,tapi dia mencoba bersabar dan akan menanggapi pertanyaan Anita.
"Mau tanya apa?"
Tentu saja Anita jadi kaget,dia diam sejenak memastikan suaminya itu tidak marah.
"Kalau tidak segera bertanya,lebih baik kamu keluar.Mengganggu saja."ucap Rendi yang tidak sabar dengan Anita.
"Tidak tunggu,aku mau tanya tentang ayah.Ayah kenapa begitu tiba-tiba meninggal,dan mas Rendi tidak memberitahuku kalau ayah sudah..."
"Jangan bertanya itu lagi,kamu yang membuat ayah jadi meninggal.Membiarkan ayah terjatuh di kamar mandi dan kamu keluar rumah tanpa mengawasi ayah."ucap Rendi,dia selalu menyudutkan Anita dengan peristiwa itu.
Anita menunduk,rasa penyesalannya kembali dia rasakan.Sesak di dadanya ketika suaminya selalu menyalahkannya dengan kejadian itu.
Padahal musibah siapa yang tahu akan terjadi kapan.
"Aku kan tidak tahu ayah akan keluar dari kamarnya dan pergi ke kamar mandi.Kamu selalu menyalahkan aku terus mas.Kamu sendiri jarang pulang waktu itu,tapi kenapa kamu selalu menyalahkan aku terus?"isak Anita tidak bisa di bendung langi.
Dia merasa suaminya selalu menyudutkannya dan menyalahkannya.Adakah di lihat dari sisi lain bahwa itu sudah takdir Tuhan.
Rendi mendengus kesal,dia tidak berubah.Masih saja menyalahkan Anita.Padahal tanpa sepengetahuan dia pak Hendri sadar waktu itu,tapi dia mengabaikan itu.Dia tidak berpikir karena perbuatannya waktu itu menelepon Mourin dengan sikap mesra di depan ayahnya,hingga ayahnya sampai koma dan akhirnya meninggal.
__ADS_1
"Kamu sekarang pergi,sebelum aku benar-benar pergi dari rumah ini."ucap Rendi ketus dan menatap Anita tajam.
Namun Anita masih bergeming,dia akan terus bertanya pada Rendi dengan perubahan sikapnya itu.
"Mas Rendi selalu marah-marah padaku dengan alasan yang tidak jelas.Apa salahku mas pada kamu?"tanya Anita lagi.
Dia sudah tidak peduli lagi dengan Rendi yang akan marah lagi padanya.Setidaknya dia tahu alasan Rendi marah dan selalu menghindarinya.
Rendi masih menatap tajam Anita,dia terus menelisik wajah istrinya yang terisak.Kemudian membuang nafasnya panjang.
"Apa karena kamu jatuh cinta lagi sama perempuan lagi mas? Hingga aku kamu marahi terus tanpa alasan."
"Cukup Anita! Jangan memancingku."
"Aku hanya butuh kejelasan kamu mas.Setiap di tanya kamu marah,setiap aku dekati kamu menjauh.Lalu aku harus apa?Kamu seperti menganggapku orang asing,padahal aku istrimu.Bukan orang lain,tapi kamu selalu menghindariku."
"Anita!"
"Kamu bahkan seringkali membentakku seperti ini."
"Anita,diam!"
Mata Rendi nyalang menatap Anita yang seakan tidak mau tahu kemarahan suaminya itu.Dia terus menuntut Rendi untuk menjelaskan apa kesalahannya dan apa alasannya dia bersikap seperti itu.
"Kamu benar-benar aku ingin keluar dari rumah ini.Jangan kamu menyesal aku tidak akan lagi tinggal bersamamu.Tunggu keputusanku satu minggu lagi.Aku sudah muak dengan pertanyaan bodohmu itu."
Setelah mengatakan seperti itu,Rendi menutup laptopnya dan pergi dari hadapan Anita yang masih terisak.
Rendi keluar dari ruangan kerjanya dan masuk ke dalam kamarnya.Dia merapikan kembali kopernya,keputusannya sudah bulat.Dia akan pergi dari rumah itu dan akan mengirimkan berkas dari pengadilan negeri.
Anita pun hanya diam saja,masih di ruang kerja Rendi.Dia sudah menduga akan sikap dan reaksi Rendi dengan pertanyaannya tadi.
Dia pasrah,dia mengingat ucapan Rendi yang terakhir tadi.Lalu dia menghela nafas panjang,dadanya sangat sesak walau berkali-kali menarik nafas dan membuangnya.Dia kini tidak peduli Rendi pergi dari rumah ini.
_
Pagi hari,Anita sangat tidak bersemangat.Setelah memandikan anaknya dan memberinya sarapan,dia kini menjadi sering melamun.Memikirkan nasib pernikahannya dengan Rendi,dia masih belum mengerti dengan sikap Rendi yang berubah jadi lebih sensitif.Padahal apa masalahnya,apa dia hanya mencari alasan saja untuk meninggalkannya?
Semua pikiran buruk bermunculan,apa dia masih belum bisa menjaga penampilan karena masih repot mengurus anak-anaknya?
Apakah memang benar Rendi memcintai perempuan lain selain dirinya?
Apakah dia kesal dan marah karena ayahnya meninggal di sebabkan jatuh di kamar mandi?
Banyak sekali pertanyaan Anita pada Rendi,tapi suaminya itu tidak mau menjawab satupun dari pertanyaannya.Tidak,hanya satu pertanyaan saja yang dia jawab.
Ya,dia menyalahkan Anita tidak bisa menjaga ayahnya hingga jatuh dan beberapa hari kemudian meninggal.
Siapa yang tidak menyesal dengan kejadian itu,siapa yang tidak sedih jika meninggalnya pak Hendri karena jatuh.Siapa yang tahu akan seperti itu jadinya
Rendi seolah lupa akan kedekatannya dengan ayahnya,dia bahkan jarang sekali menengok ayahnya yang sudah sepuh itu,dulunya.
Lalu,kenapa Anita yang dia salahkan?
Tak terasa air mata Anita kembali meleleh,dia benar-benar sedih dan kecewa.Dia sakit hati dengan sikap Rendi.
__ADS_1
"Bu.."
Noni membuyarkan lamunan Anita.Anita cepat-cepat menghapus air matanya dan menengok ke arah Noni.
"Ya Non,ada apa?"tanya Anita serak,menahan sesaknya di tenggorokan yang terasa menghimpit.
"Ibu nangis?"tanya Noni lagi.
Dia prihatin dengan majikannya itu,setelah seminggu lebih dia melihat ada raut wajah senang karena Rendi kembali.Namun sekarang raut wajah itu kembali meneteskan airmata.
"Saya ngga tahu harus bagaimana Non,bapak seperitnya tidak akan kembali lagi ke rumah ini Hik hik hik."ucap Anita pecah lagi tangisnya.
Pundaknya berguncang,dia menunduk menangis semakin kencang.Noni memberanikan diri untuk memeluk majikannya yang sedang bersedih itu.Dia memeluk erat,memberikan dukungan dan menumpahkan segala beban di hatinya.
"Sabar bu,mungkin ini cobaan buat ibu."ucap Noni menenangkan Anita,tapi dia juga ikut terisak merasakan sedih yang di alami Anita.
Semenjak dia datang ke rumah Anita,yang dia temui itu hanya wajah kesedihan dan kelelahan saja.Dia juga jarang melihat interaksi yang harmonis antara Anita dan Rendi.
Entah apa masalahnya,tapi dia tahu satu hal.Pak Rendi berselingkuh dengan perempuan lain dan Anita mengetahuinya.
Ya,seperti waktu itu.Perempuan bernama Mourin direktur Rendi datang,itu juga bisa jadi beban pikiran Anita.
Namun begitu,Noni tidak berani menanyakan apa pun pada Anita.Dia beranikan diri memeluk majikannya itu karena dia pikir Anita butuh pelukan untuk menenangkan dan memberi dukungan atas masalah yang dia hadapi.
Lama Anita memeluk Noni,lalu dia melepas pelukannya itu.Lalu menghapus sisa air mata yang mengalir di pipinya.
"Terima kasih Noni,saya butuh sandaran seperti ini tapi saya tidak tahu kemana."ucap Anita.
"Iya bu,sama-sama.Saya kasihan sama ibu,ibu menghadapi masalah yang cukup berat.Saya hanya membantu meringankan beban itu saja tanpa bisa menyelesaikan masalah ibu."
"Iya Non,terima kasih sekali lagi.Maaf saya mengotori baju kamu."
"Ngga apa-apa bu,yang penting ibu sudah merasa enakan."
Lalu Anita kembali ke kamarnya,dia tidak lupa hari ini adalah waktunya memberi gaji pada Noni.
Anita memberi uang lebih pada Noni di amplop yang dia siapkan.Lalu Anita keluar lagi dan menghampiri Noni yang sedang menyapu rumah.
"Ini Non,gaji kamu.Sekali lagi terima kasih ya."
"Wah,terima kasih bu.Saya memang sedang butuh uang."
"Ya sudah,kamu lanjutkan pekerjaanmu.Saya mau ke pasar dulu.Tolong kamu jaga si kembar ya,dia sedang tidur saat ini."
"Iya bu,beres."
Lalu Anita keluar rumah,seperti biasa dia berjalan kaki menuju pasar.
_
_
_
❤❤❤❤❤
__ADS_1