
Semua merasa terpukul atas meninggalnya ibu Ema, apa lagi Arga. Dia sangat sedih, apa lagi dia tidak tahu mamanya meninggal dalam keadaan tertidur sendirian.
Mungkin ibu Ema merasakan sakit sendirian di kamar, atau dia meminta tolong tapi karena keadaannya tidak bisa apa-apa jadi tidak bisa meminta tolong pada orang di rumah.
Sepulang dari pemakaman ibu Ema, Arga masuk ke kamarnya dan lebih memilih tidur dari pada menemani kerabatnya yang datang menyamoaikan bela sungkawa atau mengantarkan ke peristirahatan ibu Ema yang terakhir.
Yang menemani kerabat Arga yang berkunjung dan masih ada di rumah Arga hanya Anita. Dia memaklumi kesedihan suaminya itu, dia memberi alasan yang masuk akal agar kerabatnya tidak bertanya terus kemana Arga.
"Dia ada di kamar, bude. Katanya ingin istirahat dulu. Dan juga sedang sedih karena mama meninggal secara tiba-tiba." jawab Anita di tanya saudara ibu Ema tentang Arga.
"Ya, memang benar. Apa lagi Arga itu sangat sayang sekali sama mbak Ema. Jika dia sedih juga sudah sewajarnya, tapi bude mohon Arga jangan sampai di biarkan sendiri ya Anita." ucap saudara ibu Ema itu.
"Iya bude, saya akan mengingatkan Arga agar bisa menerima kenyataan mama sudah tiada." ucap Anita lagi.
Lalu setelah beberapa jam ada di rumah Arga, kerabat ibu Ema kembali pulang ke rumahnya masing-masing setelah berpamitan pada Arga di kamarnya.
Banyak petuah yang di sampaikan oleh kerabatnya itu, namun Arga hanya diam saja. Setelah selesai berpamitan, kini Arga kembali menyendiri.
Rasa penyesalan di hatinya begitu besar, hingga kesedihan yang dia rasakan semakin membuat dirinya terpuruk.
Anita melihat suaminya yang bersedih seperti itu jadi prihatin. Dia tahu suaminya itu sedang menyesali meninggalnya mertuanya.
Dia mendekat pada Arga, duduk di sampingnya. Menatap dengan rasa kasih sayang.
"Ga, yang sabar ya. Mama sudah tenang di sana." ucap Anita memberi kekuatan pada Arga.
Arga mengangguk, dia kini berbaring membelakangi istrinya itu. Anita menghela nafas panjang, lalu bangkit dari duduknya dan keluar dari kamarnya.
Dia memberi ruang untuk Arga menyendiri dan merasakan sedih yang mendalam. Anita bukannya tidak sedih, dia harus kuat demi kelima anak-anaknya juga ibunya. Karena tanpa Arga tahu, ibunya juga sangat terpukul dengan meninggalnya besannya yang sudah dia anggap seperti kakaknya.
Jika Anita ikut bersedih dan terpuruk juga, siapa yang akan mengurus anak-anaknya. Mereka juga ijut bersedih karena eyang putrinya sudah tidak bisa bermain lagi dengan mereka, terutama Celine.
Dia juga ikut terpukul, meski cara dia tidak terlihat menyedihkan. Tapi setiap kali bertanya pada Anita, ada rasa kehilangan. Anita juga sedih, sejak kecil bahkan sejak bayi Celine di rawat oleh mertuanya.
Kini dia yang akan menggantikan sepenuhnya Celine agar anak itu tidak bersedih lagi.
"Ma, papa masih di kamarnya ya?" tanya Celine ketika mereka semua sedang makan malam.
"Iya sayang, papa sedang tidur. Biarkan papa istirahat dulu ya." jawab Anita.
Semua anaknya makan tanpa bersuara, hanya celotehan Kevin yang tidak mengerti apa pun yang terjadi di rumahnya.
Anita mendesah, dia menyuruh anak-anaknya segera makan dan setelah makan mereka harus belajar atau langsung masuk ke kamarnya masing-masing.
Dan nanti Anita akan menemani Kevin untuk tidur seperti biasanya. Ibu Yuni sendiri tidak ikut makan malam. Dan malam ini hanya Anita yang kerepotan dengan keributan di meja makan, biasanya Arga membantunya. Tapi sekarang dia sendirian.
"Anak-anak setelah ini kalian cepat belajar ya, kakak Chila nanti di bantu adeknya belajar ya." ucap Anita pada anak pertamanya.
__ADS_1
"Iya ma." jawab Chila.
Gadis kecil yang dulu pendiam kini sudah besar. Sudah sepuluh tahun usianya, bisa di andalkan Anita untuk menjaga dan mengurus adik-adiknya di kala Anita repot.
Setelah makan malam selesai, kini kelima anaknya mulai bermain di ruang keluarga sembari belajar. Sampai jam sembilan, lalu Anita menyuruh mereka tidur. Anita juga sudah menidurkan Kevin di kamarnya bersama Angga.
"Abang cepat bobo ya, sudah malam." kata Anita pada anak ke empatnya itu.
"Iya ma." jawab Angga.
Lalu Anita mendongengkan sebuah buku cerita pada Angga seperti biasanya setelah Kevin tidur lebih dahulu.
Dan dua puluh menit, Angga sudah terlelap. Anita pun keluar dari kamar anaknya itu. Dia juga sepertinya sudah mengantuk, tapi sebelumnya melihat ketiga anaknya apakah sudah tertidur semua Baru dia masuk ke kamarnya.
Hal rutin yang di lakukan Anita setiap malam sebelum dirinya masuk kamarnya. Atau bahkan Arga juga secara bergantian dengan Anita.
Anita masuk ke dalam kamarnya, dia melihat suaminya sudah terlelap. Meringkuk dengan sedikit tetesan air mata di sudut matanya. Dia mendekat pada Arga, menghapus air mata yang masih tersisa di sudut matanya.
Kemudian dia juga sudah mengantuk, saatnya tidur. Karena besok akan lebih sibuk meski memang setiap hari dia lakukan sendiri, yang alin hanya membantu saja.
_
Sudah satu bulan sepeninggalnya ibu Ema, Arga berubah lebih pendiam. Dia sepertinya masih tenggelam dalam kesedihannya atas meninggal ibunya. Untuk satu minggu meratapi orang yang sudah meninggal, Anita pikir masih wajar. Tapi jika sampai satu bulan, bahkan lebih itu menurutnya sudah tidak wajar.
Anita kemudian membantu suaminya merapikan dasinya, namun Arga menolak. Anita heran kenapa perubahan Arga jadi seperti itu?
"Tidak kenapa-kenapa. Aku berangkat lebih pagi ya." ucap Arga.
Dia lalu mengambil tasnya dan keluar dari kamarnya. Tanpa sarapan lebih dahulu dengan anak-anak di bawah. Anita tertegun, setiap kali Anita mendekat pada suaminya. Arga selalu menghindar.
Ada apa dengan suaminya itu? Apakah rasa terpuruk itu masih berlanjut atau apa?
Pikiran Anita semakin tidak menentu, sudah sekian kali Arga menolak di bantu merapikan dasinya dan juga di bantu mengancingkan baju. Dia mendesah panjang, ada rasa sakit hati yang menyeruak dalam benanknya.
Tapi dia masih bertahan untuk tidak memaksa Arga bicara. Dia lalu keluar dari kamarnya, membantu ibunya yang kini sudah lebih baik dari biasanya.
Anita sudah berada di meja makan, di tatap oleh kelima anaknya.
"Ma, papa berangkat pagi lagi?" tanya Chiko di amini oleh ke tiga saudaranya.
"Iya sayang, papa sedang sibuk saat ini di kantor. Jadi tidak bisa mengantar kita ke sekolah." ucap Anita.
"Mamama, epin kut papa." ucap Kevin dengan logat cedalnya.
"Iya nanti ikut papa ya, papa kerja dulu." ucap Anita.
Kevin tertawa senang, dia kini melanjutkan makan potongan buah. Ibu Yuni melihat wajah anaknya bersedih, dia kasihan dengan Anita. Dia takut akan terulang lagi seperti dulu.
__ADS_1
Tapi pikiran jeleknya segera di hapusnya, di ganti doa-doa kebaikan untuk kebahagiaan Anita dan anak-anaknya.
Kini Anita harus mengantar kelima anaknya berangkat sekolah naik taksi. Menyewa taksi untuk dua tujuan. Satu ke sekolah dasar dan satu ke sekolah taman kanak-kanak.
Sedangkan Kevin tidak mungkin dia tinggalkan di rumah dengan ibunya karena ibunya juga sedang sakit.
Rasnya Anita kembali ke masa lalu, di mana dia mengurus Chila dan Chiko kecil sendirian saja tanpa adanya dukungan dari Rendi dulu.
Anita berharap Arga tidak seperti itu, menelantarkan anak-anaknya dan juga dirinya. Mungkin dia sedang terjebak dalam kesedihan mendalam.
Anita mendesah panjang, dia melamun du dalam mobil taksi yang dia tumpangi menuju sekolah Angga.
"Bu, sudah sampai." kata supir taksi membuyarkan lamunan Anita.
"Ah ya pak, maaf." ucap Anita.
Angga melihat mamanya melamun, dan bertanya.
"Mama sakit?" tanya Angga.
"Ngga sayang, mama hanya melamun." jawab Anita tanpa sadar.
"Melamun itu apa ma?" tanya Angga lagi.
Kini mereka memasuki gerbang sekolah Angga. Dan Anita tidak menjawab pertanyaan anak laki-lakinya itu.
"Abang sekolah jangan nakal ya, nanti mama tunggu di depan sama adek Kevin." pesan Anita anak ke empatnya itu.
"Iya ma."
Angga lalu berlari masuk ke dalam gerbang sekolah, sedangkan Kevin menunjuk minta di belikan mainan yang lewat.
"Ma, beli balon itu." rengek Kevin sambil menunjuk seorang laki-laki tua penjual balon.
Anita menghampiri laki-laki tersebut dan membeli satu balon sesuai warna kesukaan Kevin.
"Berapa pa?" tanya Anita.
"Lima ribu saja bu." jawab laki-laki tua penjual balon.
Anita pun memgeluarkan uang lima ribuan dan menyerahkannya pada penjual balon tersebut. Lalu Anita mengajak Kevin duduk di kursi yang sudah di sediakan pihak sekolah untuk menunggu anaknya.
_
_
_
__ADS_1
❤❤❤❤❤❤❤