
Sepeninggal perempuan paruh baya yang mengaku mantan istri pak Sugara, Anita jadi lebih diam. Dia sering memikirkan tentang perkataannya waktu itu.
Membuat Arga, suaminya jadi heran. Dia mendekat dan memeluknya dari belakang, kemudian mencium pipinya.
"Sayang, kenapa akhir-akhir ini kamu sering diam dan melamun? Ada apa?" tanya Arga lembut dan kembali mencium pipinya lagi.
Anita berbalik menghadap suaminya dan menatapnya penuh kebingunan dan bimbang. Arga menatapnya heran.
"Kamu tidak mau cerita sama suamimu ini,hem?" tanya Arga lagi.
"Ga, aku kepikiran dengan ucapan perempuan itu. Apa yang harus aku lakukan?" ucap Anita lirih.
Arga menghela nafas panjang, dia lalu menarik tubuh Anita untuk lebih dekat dan memeluknya. Memberikan ketenangan, dia tahu istrinya sedang gelisah.
"Jika kamu penasaran, carilah dia. Kan ada kartu namanya juga, apa perlu aku ikut menemanimu?" tanya Arga dengan pelan.
Dia bukannya tidak mau membantu istrinya, namun dia ingin tahu apakah Anita bisa menyelesaikan masalahnya itu sendiri, karena dia yakin Anita belum mau meminta bantuannya.
"Tidak usah, Ga. Aku akan mencari tahu sendiri tentang ayahku." ucap Anita.
"Emm, kamu sudah memeriksa kamar ibu? Mungkin saja di sana menemukan hal yang bisa membuat kamu tahu tentang ayahmu." ucap Arga lagi.
"Oh iya, kamu benar. Baiklah sekarang aku akan ke kamar ibu." kata Anita dengan senangnya.
Dia beranjak dari duduknya dan melepas pelukan suaminya. Namun dia di tahan oleh Arga, Anita kembali terduduk.
"Mau kemana?"
"Ke kamar ibu. Kan tadi kamu mengusulkan itu."
"Nanti lagi, aku pengen makan kamu sayang." ucap Arga sudah mengendus kembali di leher Anita.
"Tapi ini penting, Ga. Eeuh.." ucap Anita lagi.
Dia mulai terlena, namun otaknya masih berpikir tentang kamar ibunya.
"Makan kamu juga lebih penting sayang, biar besok aku fokus kerja." ucap Arga lagi.
Dia kembali mencium dan membuat tanda merah di sana. Anita pun pasrah, dia tahu suaminya tidak akan membiarkannya pergi begitu saja.
_
Malam sudah sangat larut, jam menunjukkan pukul sebelas tiga puluh. Setelah memuaskan suaminya Anita turun ke bawah menuju kamar ibunya.
Dia mencari kunci kamar ibu Yuni dan membuka pintu yang sudah di tutup sejak ibunya di rumah sakit. Sejak itu pula Anita tidak pernah masuk ke kamar ibunya, dia hanya tidak mau mengingat hal yang menyedihkan. Cukup dia mengingat ibunya tapi tidak mau mengingat kenangan akan benda-benda milik ibu Yuni.
Masih memakai bethrop dan hanya memakai sandal jepit, rambut dia cepol ke belakang. Anita masuk ke dalam kamar ibunya dan memeriksa segala tempat di mana sesuatu yang cukup untuk menyembunyikan hal rahasia.
Dia membuka setiap laci dan lemari, dia membutuhkan jawaban semua rasa penasarannya itu sejak perempuan itu datang. Apa yang di sembunyikan ibunya tentang ayahnya.
__ADS_1
Benarkah ayahnya meninggalkan ibunya dengan sengaja dan tidak lagi mau menemuinya?
Anita membuka sebuah brankas kecil yang terkunci, dia mengambil brankas itu dan mengocok isinya.
"Apa ya isinya?" gumam Anita.
Dia mengambil brankas itu dan di letakkan di meja, kemudian dia memcari kuncinya di laci lemari. Namun tidak menemukannya, dia tidak putus asa kembali mencari bawah tumpukan baju ibu Yuni.
Tangannya meraba setiap sudut bawah baju, dan dia merasakan di tangannya memegang sebuah kunci kecil.
Tanpa membuang waktu dia menariknya dan membawanya. Mencocokkan apaka itu kunci brankas milik ibunya.
Lama Anita mencoba membuka brankas tersebut, dia mengotak atiknya dan masih tetap belum berhasil.
"Kok ngga bisa buka sih?" gumam Anita lagi.
Anita berpikir bagaimana dia bisa membuka brankas itu, kemudian pikirannya langsung pada martil. Ya, dia akan membuka paksa dengan martil.
Anita berlari keluar kamar menuju sebuah gudang kecil di bawah tangga. Dia mencari martil dan langsung menemukannya. Setelah dapat martil itu, Anita masuk kembali ke kamar ibunya.
Dia ambil brankas itu dan di bawa ke lantai untuk di pukul sekencang mungkin agar tidak menimbulkan suara yang terlalu keras.
Tok trak trok trak
Suara martil beradu dengan gembok membuat Anita ngeri dengan martil yang dia pukulkan di gembok. Tak lama, gembok itu pun terbuka. Bertepatan suaminya masuk karena suara martil tadi.
"Sayang, kamu sedang apa?" tanya Arga mengagetkan istrinya.
Arga diam, dia merasa bersalah. Dan matanya melihat isi brankas yang tadi, dia pun berjongkok dan mengambil sebuah amplop putih kecil yang terlihat lusuh.
"Sayang, ini apa?" tanya Arga.
Anita mengambil alih amplop yang di pengang suaminya dan membukanya pelan, takut amplop lusuh itu sobek karena memang sudah rapuh.
Dengan hati-hati Anita mengambil isi amplop tersebut, sebuah kertas dan foto seorang laki-laki dengan gaya berdiri.
Anita memperhatikan foto tersebut, dia membalikkan fotonya dan ada tulisan sebuah nama Sugara.
Arga mengambil alih foto itu yang terlihat muda, mungkin sama dengan usianya sekarang.
"Ini siapa sayang?" tanya Arga.
"Itu foto ayahku." jawab Anita.
Dia membaca kertas yang hampir pudar tulisan tintanya. Di sana tertulis sebuah pesan dengan kalimat pendek.
"Sampaikan pada anakku, ini foto ayahnya. Kamu harus memberitahu dia jika ini aku.'
Hanya kalimat seperti itu, tidak ada petunjuk yang lain membuat Anita semakin penasaran.
__ADS_1
"Ini foto ayahmu? Pak Sugara?" tanya Arga.
"Iya."
"Seperti mirip Chiko ya, matanya." ucap Arga.
Anita memperhatikan foto ayahnya, dan memang benar apa yang di katakan suaminya. Matanya mirip dengan Chiko.
"Sayang, apa yang kamu temui hanya ini?" tanya Arga.
"Iya, aku ngga menemukan yang lain. Apa ibu benar-benar tidak mempunyai sesuatu untuk di jelaskan tentang ayah? Sebenarnya dari dulu aku ingin bertanya tentang ayah, tapi aku kasihan sama ibu. Ibu sepertinya tidak mau membahas ayah denganku." ucap Anita.
"Ibu punya saudara kan?" tanya Arga.
"Iya."
"Coba kamu datangi saudara ibu itu, tanyakan tentang ayah. Bagaimana ayah bisa pergi tanpa kabar dan tidak pernah kembali. Pasti saudara ibu itu tahu banyak." usul Arga.
Anita menatap suaminya, lalu mengangguk. Dia menutup brankas itu dan meletakkan kembali di meja. Sekali lagi Anita menatap sekeliling kamar, ada banyak kenangan di kamar itu tentang ibunya. Lalu dia keluar kamar mengikuti suaminya keluar.
"Besok aku ke rumah saudara ibu dengan Kevin, nanti anak-anak berangkat sama kamu dan bibi aja ya Ga?" kata Anita.
"Iya sayang, semoga kamu bisa menemukan titik terang tentang ayah." ucap Arga.
"Terima kasih ya, Ga. Kamu selalu mendukungku." ucap Anita.
"Apa pun aku akan lakukan jika kamu membutuhkan bantuanku, sayang."
"Nanti saja, aku akan cari tahu sendiri. Kamu ngga apa-apa kan tidak aku libatkan sementara ini?" tanya Anita, dia takut suaminya kecewa.
"Terserah kamu sayang, aku akan siap jika kamu butuhkan. Hanya pesan aku, jangan lupa sama anak-anak dan suamimu ini." ucap Arga lagi.
"Ngga kok, aku tetap jadi ibu dan istri yang baik bagimu. Aku cuma ingin tahu tentang ayah saja, apakah masih hidup atau sudah tiada. Karena aku penasaran sekali dengan ucapan perempuan itu." kata Anita.
"Ya, kamu jaga kesehatan ya."
Anita mengangguk dan mengecup pipi suaminya.
Arga membalas dengan memeluk pinggang istrinya itu dan membimbingnya naik tangga. Tapi Anita malah menarik tangan suaminya menuju dapur.
"Mau apa sayang?"
"Kita bikin nasi goreng yuk? Aku lapar." ucap Anita sedikit manja.
Arga tersenyum dan mencubit kecil hidung Anita. Dia suka sisi ke kanak-kanakan istrinya itu. Kemudian dia mengikuti istrinya menuju dapur. Dia menuruti apa mau istrinya, Anita.
_
_
__ADS_1
_
❤❤❤❤❤❤❤❤