
Arga masih di kota, dia menyelesaikan tugasnya mendampingi korban KDRT dari suaminya. Karena jalan sidang sangat lambat dan pihak pelaku masih menolak dan tidak mau mengakui padahal sudah ada bukti. Mambuat Arga semakin sibuk dan frustasi dengan kasus yang satu itu.
Dia ingin cepat selesai dan pulang. Sudah lima hari dia ada di kota, dan masih belum juga finis persidangannya. Minggu depan harus memdampingi korban lagi, memuntut dan menunjukkan bukti-bukti yang di lakukan pelaku.
"Ibu tenang saja, minggu depan bukti akan di serahkan ke majelis hakim, jadi mantan suami ibu akan di jerat hukuma berat. Karena sudah ada bukti tapi masih mengelak." kata Arga pada klien yang di tanganinya.
"Terima kasih pak Arga. Saya sangat ingin mantan suami saya di hukum penjara pak." kata klien Arga.
"Ya, saya pastikan dia masuk penjara. Kareba buktinya sangat kuat." jawab Arga lagi
"Terima kasih sekali lagi pak Arga."
"Ya bu, kalau begitu saya permisi ada keperluan lagi setelah ini." kata Arga.
"Iya pak, silakan."
Lalu Arga meninggalkan tempat persidangan menuju parkiran. Setelah dari pengadilan itu, niatnya ingin mampir ke rumah Rendi yang dulu di tempati Anita daj anak-anaknya. Dia ingin berterima kasih saja telah memudahkan Anita untuk memilik hak asuh dengan mudah waktu itu.
Dia belum sempat bertemu Rendi lagi, meski bukan kapasitasnya untuk berterima kasih, setidaknya dia dengan mudah akan menikahi Anita nanti.
Mobil Expander yang di kendarai Arga melaju menuju rumah Rendi di kompleks perumahan lumayan besar meski bukan kompleks mewah.
Satu jam sepuluh menit dia sampai, karena tadi dia di warung mampir dulu untuk makan siang. Dia lupa kalau siang Rendi sedang ada di kantornya.
Tapi apa salahnya dia mampir, dia tidak tahu kantor Rendi. Jadi mampir ke rumahnya saja. Mobil Arga berbelok ke arah rumah Rendi, di sana terlihat sepi.
Namun Arga tetap turun dan membuka gerbang untuk duduk di teras rumah itu. Dia akan beristirhata di saja selama satu jam saja.
Baru saja dia duduk di teras rumah Rendi, ada seorang berpakaian celana jeans dan kaos berjaket kulit dua orang menghampiri Arga. Dia heran siapa mereka?
Kenapa masuk ke rumah Rendi, tapi sepertinya mereka seorang intel atau polisi biasa. Di sakunya ada sebuah senjata api, mereka mendekati Arga.
Meski heran kenapa ada polisi menghampirinya dan masuk ke rumah Rendi.
"Selamat siang." sapa orang berbaju jaket kulit.
"Ya selamat siang pak, ada apa?" tanya Arga tenang.
Dia tahu sikap polisi intel seperti itu, Arga masih penasaran kedua anggota polisi itu mau apa datang ke rumah Rendi.
"Apakah anda keluarganya pak Rendi?" tanya orang berjaket kulit itu lagi.
"Bukan, saya temannya. Memang ada apa ya, dan bapak-bapak dari mana?" tanya Arga
Arga makin penasaran, dia yakin itu dari kepolisian.
"Kami dari kepolisian, apakah anda bisa ikut dengan kami jika anda teman dari pak Rendi." kata laki-laki berjaket kulit itu.
Arga sudah menduga, tapi kenapa Rendi berurusan dengan polisi?
"Pak, sebenarnya Rendi punya masalah apa sampai pak polisi mendatangi rumahnya ini." tanya Arga.
Jika masalah kriminal biasa, dia akan membantu Rendi terjerat hukum atau setidaknya mengurangi masa hukuman. Tapi kenapa Arga pikir
__ADS_1
annya jadi kemana-mana.
Apakah Rendi korupsi di kantornya? Atau dia membuat keributan sehingga dia harus beurusan dengan polisi.
Arga lalu menuju mobilnya mengikuti kedua polisi itu. Belum jelas apa yang terjadi, polisi jika di tanya pasti di suruh ke kantor polisi untuk menjelaskan sesuatu. Arga tahu itu, karena itu untuk menjaga privasi orang bersangkutan dan juga menghindar dari kriminal lainnya.
Makanya harus di jelaskan di kantor polisi.
Baru juga dia tadi duduk di rumah Rendi, tapu dia hrus ke kantor polisi. Masih teka teki bagi Arga. Ada apa sebenarnya?
Dari rumah Rendi menuju kantor polisi pusat cukup jauh, banyak melalui jalan yang bertanda lalu lintas, seperti lampu merah.
Arga mendapat telepon dari Anita, dia melihat ponselnya dan nama Anita di sana. Apakah dia akan memberitahu Anita mengenai Rendi?
Tidak, belum saatnya. Karena masalahnya belum jelas Rendi kenapa bisa berurusan dengan polisi.
Arga menekan tombol warna hijau, menyambungkan teleponnya pada Anita.
"Halo Anita ada apa kamu meneleponku?" tanya Arga.
"Kamu masih di kota Ga?" tanya Anita.
"Iya, memang kenapa? Apa kamu kangen padaku?" tanya Arga menggoda Anita.
Anita diam, dia tidak menjawab pertanyaan Arga. Arga pun diam, mungkin ada yang di pikirkan Anira. Karena dia jarang sekali menelepon Arga jika tidak penting.
"Ga, bisa kamu membantuku?" tanya Anita di seberang sana membuat Arga heran.
"Bantu apa?" tanya Arga heran.
Arga diam, berarti Anita marasakan apa yang terjadi pada Rendi?
Mobil Arga berbelok, sudah sampai di kantor polisi, dia parkirkan mobilnya di parkiran kantor polisi. Masih belum menjawab permintaan Anita.
"Ga, kamu bisa kan menolongku?" tanya Anita lagi.
"Iya, aku nanti pulang dari kantor polisi langsung mengunjungi Rendi." jawab Arga.
Dia mematikan mesin mobilnya, namun belum terputus sambungan teleponnya.
"Terima kasih ya, Ga. Emm kamu ke kantor polisi ada urusan apa, Ga?" tanya Anita.
"Aku ada urusan penting. Oh ya, aku tutup dulu teleponnya ya, nanti aku telepon kamu balik." kata Arga.
"Iya Ga, maaf sebelumnya merepotkanmu." ucap Anita merasa tidak enak pada Arga.
"Tidak apa-apa, jika kamu meminta aku pulang sekarang pun aku akn pulang. Apa lagi ini masih di kota dan urusannya di kota kamu memintanya."
" Iya Ga, aku tutup teleponnya."
"Ya."
Arga memasukkan ponselnya ke dalam saku jaketnya. Kemudian dia turun dari mobilnya dan melangkah menuju gedung kantor polisi Dia melangkah seperti ada yang menuntutnya untuk melihat sebuah mobil ringsek di sebelah bangunan paling pojok.
__ADS_1
Langkah Arga berbelok ke arah di mana mobil itu terparkir di pojok gedung kantor polisi. Arga memperhatikan mobil itu dan plat nomornya, seperti kenal.
Tiba-tiba dadanya bergetar cemas. Apa yang terjadi dengan mobil itu. Dan pengemudinya bagaimana?
Satu orang polisi yang tadi menyuruhnya untuk datang ke kantor polisi itu ada di samping Arga yang sedang meneliti mobil yang di kenalnya itu.
"Apa yang terjadi dengan pengemudi mobil ini pak?" tanya Arga khawatir.
"Bapak kenal pemilik mobil ini?" tanya polisi itu lagi.
"Ya, saya kenal betul. Katakan apa yang terjadi dengannya?" tanya Arga lagi sudah kacau pikirannya.
Bagaimana tidak, mobil Rendi begitu rusak hingga tak berbentuk mobil lagi. Bagaimana dengan Anita dan kedua anaknya nanti jika tahu Rendi terjadi kecelakan.
"Kalau begitu, mari ke dalam kantor, ada sesuatu yang harus bapak ambil milik pak Rendi ini." kata polisi itu.
Arga mengikuti polisi yang melangkah menuju gedung kantor polisi. Pikirannya benar-benar cemas, Rendi terjadi sesuatu.
Setelah masuknke dalam kantor, polisi itu duduk di belakang meja kerjanya. Dia mengambil tas yang di bawa Rendi kerja setiap hari.
Lalu di serahkan pada Arga, Arga menerimanya. Dia menatap polisi itu.
"Lalu di mana Rendi pak?" tanya Arga.
"Pak Rendi ada di rumah sakit, saat ini beliau sedang di rawat intensive. Kami mencari keluarganya, tapi tifak menemukannya. Kemarin kami ke kantor di mana pak Rendi bekerja. Yang menerima direkturnya, tapi dirdktur itu tidak mau bertanggung jawab dengan pak Rendi di rumah sakit. Jadi dengan kebetulan saya datang ke rumah pak Rendi dan bertemu anda ada di sana." kata polisi itu.
Arga syok mendengar kabar bahwa Rendi ada di rumah sakit, tapi apakah dia kecelakaan parah?
"Keadaannya bagaimana pak polisi?" tanya Arga lagi.
"Saya kurang tahu, kami polisi hanya menangani kecelakaan lalu lintas, dan korban langsung di bawa ke rumah sakit. Saya dengar pak Rendi di rawat di ruang ICU "
"Apa? Apa separah itu kecelakananya pak?"
"Bapak lihat sendiri kondisi mobilnya, bisa jadi pak Rendi parah sekali."
"Ya Tuhan, apakah ini firasat yang di katakan Anita?"
Arga terdiam, dia harus ke rumah sakit secepatnya lalu pulang memberitahu Anita apa yang terjadi oada Rendi.
"Di mana rumah sakit itu pak?" tanya Arga.
"Di rumah sakit Permata Kasih. Bapak bisa mengunjunginya di ruang ICU." jawab polisi itu.
"Baik pak, saya akan segera kesana."
Lalu Arga berpamitan pada polisi dan dia akan langsung menuju rumah sakit Permata Kasih, melihat keadaam Rendi sekarang.
_
_
_
__ADS_1
❤❤❤❤❤❤