IKHLAS MELEPASMU

IKHLAS MELEPASMU
64. Menyerah


__ADS_3

Dokter dan perawat menempelkan alat kejut jantung di dada Rendi, di tempelkan beberapa kali tanda di monitor masih berbentuk garis.


Sekali lagi dokter menempelkan alat kejut itu di dada Rendi, dan terdengar bunyi putus-putus. Di layar monitor pun sudah terlihat bergelombang lagi.


Baik dokter dan para perawat merasa lega dan menarik nafas kasar. Ada ketakutan dari orang-orang di dalam ruangan itu.


Anita dan Arga juga takut dengan keadaan Rendi yang tiba-tiba jadi berubah drastis.


"Sebaiknya jangan dulu di ganggu, biarkan pak Rendi istirahat dengan tenang. Ibu dan bapak bisa keluar terlebih dahulu." kata dokter.


Arga dan Anita memegang tangan Anita, dia memberi kekuatan pada Anita karena tadi di buat cemas dengan keadaan Rendi.


Dokter pergi ke tempat berjaga masing-masing malam ini, sedangkan Arga dan Anita duduk di kursi tunggu di depan kamar Rendi.


Mereka masih berpikir apa yang membuat Rendi tiba-tiba membuat kejutan seperti itu. Apakah Rendi tadi mendengar ucapannya dan Anita tadi? pikir Arga.


Sedangkan Anita juga masih bingung. Kepala Anita di senderkan ke bahu Arga, Arga merangkul Anita. Mendekapnya erat.


Malam ini memang sangat menegangkan, Arga menemani Anita tidur di ruangan Rendi. Anita tidur di sofa panjang sedangkan Arga tertidur di sofa kecil.


_


Hari sudah pagi, Anita bangun dari tidurnya. Dia melihat Arga masih terlelap di kursinya. Anita kasihan melihat Arga seperti itu.


Anita berpikir, Arga sangat baik padanya. Sampai dia rela dirinya merawat Rendi sampai sembuh meskipun nanti sudah pulang. Tapi dia sudah bertekad akan menyewa perawat untuk Rendi jika sudah pulang.


Dia akan bicara pada Arga tentang ini, dan saat ini Anita tidak masalah harus merawat Rendi lagi di rumah sakit. Tapi dia heran, kenapa tiba-tiba Rendi jadi lemah detak jantungnya.


Apakah semalam dia mendengar pembicaraan dengan Arga?


Anita mendekat di bangsal Rendi, melihat mesin pengukur jantung. Normal, seperti tadi malam dia melihat sebelum Arga bicara padanya.


"Apa kamu dengar pembicaraanku dan Arga, mas?" tanya Anita pelan.


Tidak ada gerakan dan isyarat dari Rendi. Dia memegang tangan Rendi, dingin. Kembali dia melihat ke layar monitor. Masih normal.


Anita pun melangkah masuk ke dalam kamar mandi, satu tetesan air mata lolos dari sudut mata Rendi. Ada ksedihan yang dia rasakan, mendengar ucapan Anita tadi.


Biarlah dia yang pergi meninggalkan Anita, sudah saatnya bahagia dengan Arga yang mencintainya dengan tulus, begitu juga dengan anak-anaknya. Dia ikhlas Anita bersama dengan Arga.


Kembali sudut mata Rendi meneteskan air mata, namu matanya masih terpejam, hanya bisa merasakan betapa lelah dan tersiksa Anita merawatnya selama ini.


Dia yang sejak dulu menyakiti Anita sampai pada malam itu, hingga Anita harus pergi tanpa pamit padanya. Dan bertemu di persidangan itu dia trauma padanya. Dia benar-benar memyesal, kembali sudut matanya basah.


Kini sudah waktunya dia menyerah, menyerahkan Anita pada laki-laki baik yang mencintai Anita dan kedua anaknya. Rendi ikhlas melepasnya. Dia akan bahagia nanti di tempatnya yang layak di sana.


Arga bangun dari tidurnya, dia tidak melihat Anita di sofa panjang dan beralih ke bangsal Rendi. Melihat layar monitor masih normal.

__ADS_1


Arga melihat Anita keluar dari kamar mandi sudah segar, karena dia mandi terlebih dahulu.


"Kamu mau mandi Ga?" tanya Anita.


"Aku mau cuci muka saja, lalu mencari sarapan buatmu." kata Arga.


Arga lalu masuk ke dalam kamar mandi, mencuci mukanya yang terlihat masih mengantuk, tapi dia harus kembali ke kampung. Karena siang nanti harus menemui klien baru di kantornya.


Setelah selesai mencuci muka, Arga terlihat segar kembali meski baju yang dia pakai masih seperti tadi malam.


Dia lalu keluar dari kamar mandi, merapikan rambutnya dengan sisir. Lalu dia mendekat pada Anita yang sedang duduk di sofa.


"Kamu mau sarapan apa?" tanya Arga.


"Apa saja, Ga. Aku juga belum lapar." katw Anita.


Dia masih memikirkan ucapan Arga tadi malam dan juga kondisi Rendi sekarang.


"Ga, aku mau bicara sama kamu." kata Anita, tapi dia melirik ke arah bangsal Rendi.


"Mau bicara apa?" tanya Arga.


"Emm, nanti saja. Kamu beli sarapan saja dulu." kata Anita lagi.


"Ya sudah, aku ke kantin dulu ya." kata Arga.


_


Tiga hari masih normal keadaan Rendi, dokter bilang Rendi kembali koma namun masih bisa mendengar orang di sekitarnya.


Untuk itu, dokter menyarankan Anita terus mengajak bicara Rendi. Meskipun hanya sapaan saja.


Tapi sore ini, Rendi membuat kejutan ketika Anita sedang berada di kantin membeli makanan untuknya, perawat memberitahu kalau Rendi kembali sekarat.


Anita langsung saja meninggalkan kantin dan pesanannya, pikirannya juga cemas Rendi kembali di bantu kejut jantung untuk mengembalikan kesadaran dan detak jantungnya.


Berkali-kali dokter dan perawat menempelkan alat kejut jantung di dada Rendi. Dokter berhenti sesaat dan menggelengkan kepala seperti menyerah.


"Bagaimana dokter, apa masih bisa?" tanya perawat di sampingnya.


Sementara Anita yang berada jauh di belakang melihat Rendi seperti itu menangis, dia tidak tahu harus berbuat apa.


"Kita sekali lagi untuk mencobanya, jika masih tidak juga naik detak jantungnya. Berarti pasien tidak bisa di selamatkan." kata dokter.


Dan dokter kembali menempelkan alat kejut jantung itu di dada Rendi. Beberapa kali tetao saja detak jantung Rendi tidak naik.


Dan akhirnya dokter pasrah, dokter melihat ke arah Anita dan menggelengkan kepalanya. Bertanda dia sudah menyerah dan Rendi tidak bisa di selamatkan.

__ADS_1


"Maaf bu Anita, kami sudah berusaha. Namun ternyata pak Rendi menyerah sendiri. Saya pikir pak Rendi kuat dengan adanya dukungan ibu dan anak-anak ibu. Maaf sekali lagi tidak bisa menyelamatkan pak Rendi." ucap dokter menyesal dan sedih.


Anita hanya mengangguk, dokter dan perawat keluar dari ruangan itu. Satu jam kemudian jenazah Rendi akan di urus.


Anita menangis, dia kemudian mendekat ke bangsal Rendi yang masih di terpasang alat-alat medis. Tak berapa lama perawat tadi masuk lagi untuk melepas semua peralatan yang menempel di tubuh Rendi.


Anita melihat Rendi yang pucat, rupanya dia sudah menyerah setelah satu bulan lebih bertahan untuk bisa bertemu dengan anak-anaknya.


"Kamu menyerah mas, apa kamu tidak kasihan dengan anak-anakmu? Hik hik hik." ucap Anita di sela tangisannya.


Dia menangis lama, dan akhirnya dia menghubungi Arga.


"Ada apa Anita?" tanya Arga di seberang sana.


Anita lama tidak menjawab, hanya isakan tangisnya saja yang terdengar oleh Arga.


"Anita, ada apa kamu menangis?" tanya Arga lagi cemas dengan keadaan Anita.


"Ga, mas Rendi menyerah. Dia sudah berpulang Ga. Hik hik hik.." ucap Anita di sela-sela tangisnya.


"*Ya Tuhan, a*ku akan segera ke sana." jawab Arga.


"Ga, sekalian bawa juga anak-anak untuk terakhir kalinya melihat papanya." pinta Anita.


"Ya, aku akan bawa Chila dan Chiko, ibu Yuni juga sekalian." jawab Arga.


"Terima kasih Ga."


Lalu sambungan telepon terputus, Anita kembali memandang ke arah Rendi lagi yang sedang di rapikan langsung.


Kemudian Anita keluar, dia duduk di bangku di depan kamar. Tangisannya masih tersisa hanya air matanya saja.


"Bu, jenazah mau langsung di bawa ke tempat peristirahatannya dan langsung di kebumikan atau di bawa ke rumah duka?" tanya perawat.


"Mungkin ke rumah duka saja, nanti saya kasih alamatnya." jawab Anita.


"Oh ya bu, di meja ada tas hitam itu apakah punya anda?" tanya perawat lagi.


"Iya, itu punya pak Rendi. Biar nanti saya ambil sus." kata Anita.


Dia pun masuk ke dalam ruangan itu, mengambil tas Rendi yang sejak ke rumah sakit tas itu ada di sana. Arga tidak memberitahu kalau itu adalah tas Rendi yang tidak pernah di buka isinya apa.


_


_


_

__ADS_1


❤❤❤❤❤❤


__ADS_2