IKHLAS MELEPASMU

IKHLAS MELEPASMU
53. Masa Persidangan


__ADS_3

Anita kini fokus mengurus kedua anak kembarnya, membesarkannya dan menyekolahkannya sampai nanti dewasa.


Dia sekarang lebih giat mengurus tokonya, sampai kadang malam pun dia buka. Yang tadinya selepas petang tokonya langsung tutup.


Arga sendiri juga sering datang ke rumah Anita mengurus persidangan hak asuh anaknya dengan Rendi.


Arga juga sering mengunjungi Rendi untuk meminta tanda tangannya agar bisa dengan mudah hak asuh itu jatuh pada Anita.


Namun berkali-kali dia menolak dengan kunjungan Arga meminta tanda tangan dan surat pernyataan, namun Rendi menolak. Dia mau menanda tangani asal Anita mau menemuinya.


Tapi permintaan Rendi itu tidak di gubris oleh Anita. Dia sangat benci sekali dengan Rendi.


Proses persidangan yang alot membuat Anita fristasi, dia ingin menyerah, namun Arga memberinya semangat agar bisa melanjutkan pengajuan hak asuh anaknya.


"Kamu akan meyerah begitu saja?" tanya Arga.


"Aku tidak tahu, mas Rendi sepertinya membuatku frustasi, Ga." ucap Anita.


"Dia hanya minta bertemu denganmu, katanya dia mau meminta maaf. Mungkin itu jalan terbaik."


"Tapi permintaannya membuat aku muak, Ga."


"Aku akan temani kamu menemui Rendi, agar dia tidak akan macam-macam lagi sama kamu." ucap Arga.


Anita terdiam, dia bimbang dengan ucapan Arga. Anita menghela nafas panjang.


"Baiklah, aku mau. Tapi aku juga minta dia nanti jangan pernah lagi mengunjungi anak-anaknya. Aku ngga mau dia semakin mempersulit hak asuh itu."


"Tapi anak-anak ngga mau bertemu papanya kan?"


"Iya, mereka tidak mau. Mungkin untuk saat ini, entah nanti kelak dewasa."


"Jangan pikirkan yang belum terjadi. Untuk saat ini kamu fokus mengurus Chila dan Chiko dulu. Jika nanti dewas mereka mencari papanya, kamu jangan melarangnya karena itu hak mereka."


Anita mengangguk, dia lalu berdiri menatap ke arah jendela. Memang saat ini Anita ada di kantor pengacara di mana Arga bekerja untuk melengkapi berkas.


Karena minggu depan persidangan hak asuh anak sudah di mulai.


"Aku mau pulang Ga, ini sudah siang." kata Anita.


"Aku antar kamu pulang." kata Arga.


"Apa kamu tidak sibuk?"


"Emm, sibuk banget sih tidak, tapi untuk mengantarmu pulang aku ada waktu. Lagi pula ini sudah mendekati waktu istirahat makan siang."


"Terima kasih, Ga." kata Anita.


Dia lalu mengambil tasnya dan keluar dari kantor Arga. Arga berjalan di samping Anita. Rasa lelah dan mengantuk Arga rasakan, semalam dia begadang untuk melengkapi laporan kelengakapan persidangan hak asuh anak Anita.


Dia akan melakukan apa pun untuk membantu Anita, dia akan selalu hadir di sisi Anita ketika Anita membutuhkan bantuannya, termasuk memulihkan kepercayaannya pada sebuah pernikahan.


Dia belum berani menanyakan hal pribadi pada Anita, biarlah Anita menyadarinya sendiri bahwa dia selalu ada untuknya.


Nanti jika Anita sudah ceria lagi, dia akan menanyakan tentang permintaannya itu.


Arga membuka pintu mobil untuk Anita, Anita tersenyum melihat Arga begitu manis membukakan pintu mobil untuknya.

__ADS_1


Anita masuk, duduk di samping Arga mengemudi mobil expandernya.


"Kita mau makan di mana?" tanya Arga.


Anita melihat jam di tangannya, pukul setengah dua belas.


"Aku makan di rumah aja ya." kata Anita.


"Oke, aku ikut makan di rumahmu." jawab Arga santai.


Anita tersenyum, dia hanya tidak mau merepotkan Arga terus.


_


Waktu persidangan hak asuh anak Anita sudah dekat. Anita harus bolak balik ke pengadilan bersama Arga. Mereka di minta untuk melengkapi berkas dan harus menghadirkan mantan suaminya. Namun rupanya Rendi tidak mau datang, justru itu membuat susah untuk melancarkan persidangan.


Anita kesal sekali, membuat Arga siap jika Anita sudah putus asa.


"Bagaimana kalau kita temui Rendi." usul Arga.


Anita menatap Arga, dia ragu dan ingin tetap menolak bertemu dengan Rendi.


"Aku hanya membantu menyelesaikan masalahmu Anita, aku ingin kamu bahagia hidup tenang dengan Chia dan Chiko. Ku mohon singkirkan dulu egomu." kata Arga yang hampir putus asa membujuk Anita untuk bertemu Rendi dan mempermudah semuanya.


Anita kembali berpikir, kenapa harus menghindar? Bukankah harus di hadapi, Rendi akan tambah sombong dengan kekuasaannya atas tanda tangan persetujuan itu.


"Baiklah, aku mau. Tapi bertemu di persidangan saja nanti. Biar sekalian selesai." kata Anita.


Wajah Arga ceria, tidak sia-sia dia membujuk Anita agar mau menerima bertemu dengan Rendi.


Hari berikutnya jadwal persidangan, tinggal menunggu pihak dari Rendi. Pengacara Rendi juga sama-sama kekeh ingin mmepertahankan agar hak asuh jatuh pada Rendi. Rendi sendiri sudah tidak peduli lagi, dia tidak meminta pengacaranya untuk mempertahankan hak asuh anak jatuh padanya.


Arga tahu, lawan dari pengacara Rendi itu sangat berambisius. Dia hanya butuh tanda tangan Rendi untuk menyetujui hak asuh jatuh pada Anita. Bukan sekedar perang urat syaraf antara pengacara. Dia murni ingin membantu Anita mendapatkan hak asuh itu.


Dan hari yang di tunggu tiba, Arga sengaja lebih pagi sebelum Rendi berangkat kerja. Dia datang ke rumah Rendi memberutahu bahwa Anita mau menemui Rendi asal Rendi mau tanda tangan berkas persetujuan hak asuh jatuh pada Anita.


Tok tok tok


Arga mengetuk pintu rumah Rendi yang tampak sepi. Dia melihat mobil Rendi masih ada di halaman rumah. Tapi kok sepi.


Lama Arga menunggu, dan tak lama Rendi masuk ke rumahnya sendiri, dia sepertinya dari mini market di seberang jalan membeli sesuatu.


Arga memperhatikan Rendi yang terlihat kurus di banding dia bertemu terakhir meminta tanda tangan padanya.


Rendi pun melihat Arga dengan berpaiakan masih santai, namun di tangannya membawa setumpuk map berisi berkas persidangan.


Rendi mendekat pada Arga, di matanya kini sudah tidak ada permusuhan seperti dulu. Dia kini tidak mau tahu apa yang di lakukan Anita dan Arga.


"Ada apa kamu kemari?" tanya Rendi dengan wajah datar.


"Aku memberitahumu kalau Anita mau menemuimu, tapi di tempat persidangan. Di pengadilan." kata Arga.


"Benarkah." wajah senang Rendi terpancar.


"Tapi kamu harus menanda tangani berkas dulu. Nanti jam sebelas Anita sudah ada di sana dengan saya." kata Arga lagi.


"Oh." Rendi menunduk.

__ADS_1


"Kamu akan datang kan?" tanya Arga.


"Iya, yang penting aku bisa bertemu dengan Anita dan minta maaf. Untuk hak asuh terserah Anita, dia mau mengambilnya juga aku ngga apa-apa." kata Rendi.


"Tapi pengacaramu sangat kekeh ingin jatuh padamu." kata Arga.


Dia tidak mau pengacara Rendi mempersulit semuanya. Maka dari itu, Rendi sebaiknya bicara sama pengacaranya untuk melepas dan mempermudah persidangannya.


"Aku akan bicara dengan pengacaraku untuk melepaskan kasus ini dengan mudah. Dan juga nanti ada aset tambahan buat anak-anak di cantumkan di BAP. Kamu jangan khawatir, aku ikhlas melepas semuanya. Anita membenciku juga aku terima memang selama ini aku yang salah. Terlalu egois." kata Rendi.


Ada penyesalan di mata Rendi, setelah kejadian itu dia banyak sekali merenung tentang apa yang di alaminya selama ini.


"Baiklah, saya tunggu di pengadilan bersama Anita." kata Arga.


Arga telah pulang ke tempat di mana dia menginap. Di motel terdekat dengan pengadilan. Memang tempat pengadila adanya di kota. Semua pusat pemerimtahan ada di kota itu, dan segalanya juga mudah di akses di sana.


_


Siang ini sebelum persidangan di mulai, seperti janjinya, Anita menunggu Rendi datang menemuinya. Mereka berada di sebuah ruang mediasi untuk di pertemukannya lagi antara mantan istri dan mantan suami. Karena mereka berdua sudah lama bercerai jadi yang diskusikan mengenai anak saja.


Pengacara Rendi juga tampak kesal, kenapa Rendi mau menyerah begitu saja. Jika seperti itu dia lebih baik tidak menerima bantuan hukum untuk Rendi.


Baginya popularitas sebagai pengacara yang selalu menang dalam kasus sidang apapun lebih penting dari uang saat ini. Dia ingin terkenal dengan kasus yang selalu di menangkannya.


Rendi menghampiri pengacaranya yang tampak kesal padanya.


"Kenapa anda menerima begitu saja pak Rendi, kenapa anda tidak memperjuangkan hak asuh itu?" tanya pemgacara itu.


"Saya takut tidak bisa mengurusnya pak pengacara. Jadi saya serahkan pada mantan istri saya." kata Rendi.


"Ck, jika begini kenapa kasusnya minta di selesai dengan kemenangan dulu." kata pemgacara itu lagi.


"Saya berpikir jika lebih baik hak asuh jatuh pada mantan istri saya pak pengacara." kata Rendi lagi.


Perdebatan itu sangat alot, hingga akhirnya pengacara Rendi menyerah.


Kemudian dia meninggalkan Rendi, dan Rendi pun masuk ke ruang mediasi. Di sana ada Anita dan Arga sedang mengobrol dan menunggunya.


Rendi mendekat, dia berdehem untuk menyadarkan keduanya bahwa dia sudah ada di dalam ruangan itu.


" Ehm!"


Anita dan Arga menoleh ke arah sumber suara itu. Mereka melihat Rendi menuju ke arahnya. Mata Rendi tak lepas dari Anita, dia berharap Anita mau memaafkannya meski itu sulit. Setidaknya Rendi bisa bertemu dengan Anita.


"Aku keluar dulu. Bicaralah dengan tenang, aku ada di depan pintu." kata Arga memberi ruang untuk Anita dan Rendi bicara.


"Iya." kata Anita.


"Jangan takut, Rendi sepertinya sudah berubah." kata Arga lagi.


"Iya." hanya singkat saja.


Lalu Arga keluar dari dari ruangan itu, memberikan ruang pada Anita dan Rendi bicara. Dia akan berjaga di depan pintu jika suatu waktu Rendi mendadak berbuat di luar dugaan.


_


_.

__ADS_1


_


❤❤❤❤❤


__ADS_2