
Anita segara menuju rumahnya yang dia tinggalkan tiga tahun lalu, di ikuti oleh kedua anaknya di belakang yang masih belum sadar sepenuhnya.
Dia lalu memencet bel karena dia tahu Rendi ada di dalam rumah itu. Beberapa kali dia pencet namun Rendi belum juga muncul. Dia duduk di kursi, menunggu Rendi keluar.
Sedangkan Chila dan Chiko mengucek matanya dan melebarkan matanya. Mereka meneliti setiap sudut rumah, mengingat mereka pernah berlarian di halaman rumah itu.
"Kak Chila dulu aku main sepeda di sana." kata Chiko memgingat masa lalunya di rumah itu.
"Iya, kak Chila juga suka main sepeda di sana sama mbak Noni ya ma?" kata Chila meminta persetujuan dari Anita.
Anita tersenyum lalu mengangguk pelan. Rasa lelah dan mengantuk kini melandanya. Namun, dia heran kenapa Rendi belum juga membuka pintunya.
"Dek, coba panggil papanya." pinta Anita pada Chiko.
"Emang papa ada di sini ma?" tanya Chiko.
"Iya, tuh mobilnya ada di sana." kata Anita menunjuk mobil Rendi terparkir di halaman.
"Ih, papa kenapa ngga buka pintunya sih. Papaaa, papaa..!" teriak Chiko di depan pintu sambil menggedor keras.
Sedangkan Rendi sedang menenangkan hatinya yang terbakar cemburu melihat Arga mencium Anita tadi. Dia harus tenang, jangan sampai Anita menolaknya lagi. Dia harus merebut hati Anita dengan lembut, bagaimana pun caranya.
Rendi membuang nafas panjang, telinganya mendengar teriakan Chiko sejak tadi memanggil dirinya.
Setelah dia tenang, baru dia keluar dari kamarnya dan menuju ruang tamu membuka pintu rumahnya. Sejenak dia diam, tangannya memegang handle pintu. Wajahnya dia buat seceria mungkin menghadapi kedua anaknya dan mantan istrinya itu.
Klek.
Pintu terbuka perlahan, dan terlihat Chiko berteriak memanggil Rendi.
" Papaa, kok lama banget sih buka pintunya." protes Chiko dengan wajah cemberut.
"Maaf dek, papa tadi ketiduran. Ya udah, masuk semua yuk." kata Rendi melebarkan pintunya.
Dia menatap Anita, lalu mengambil koper dan tas ransel kedua anak kembarnya untuk di bawa masuk ke dalam kamarnya.
Anita berjalan di belakang Rendi, matanya berkeliling melihat setiap sudut rumah. Masih sama seperti dulu ketika meninggalkan rumah itu. Kemudian dia menuju kamar yang biasa dia tempati, meneliti apakah masih sama seperti dulu.
Masuk lebih dalam, dan ternyata masih sama. Hanya kasurnya terlihat berantakan karena tadi mungkin Rendi tertidur di kamarnya. Dia lalu meletakkan tas selempangnya di atas meja, lalu duduk di sisi ranjang itu.
Kedua anaknya masih di luar di mana mereka sedang bermain berlarian saling kejar-kejaran.
Rendi mendekat padanya lalu ikut duduk di sebelah Anita. Anita menengok, agak bergeser dia sedikit menjauh dari Rendi.
"Kamu di antar oleh temanmu?" tanya Rendi yang tidak mau menyebut nama Arga.
"Namanya Arga." kata Anita memberitahu Rendi
"Aku tidak perlu tahu namanya, katanya kalian kesini naik kereta api."
"Dia menawarkan diri sekalian mau ke kota juga. Jadi sekalian berangkat."
"Mau apa dia ke kota?"
Anita menatap Rendi heran, kenapa mantan suaminya itu terlalu ingin tahu tentang Arga, tapi menyebut namanya tidak mau.
"Dia ada pekerjaan di kota. Kamu pikir dia mengantarkanku cuma-cuma." ucap Anita sinis.
"Ya bisa saja dia modus untuk lebih dekat lagi dengan kamu. Lebih leluasa berdekatan dengan kamu." kata Rendi yang mulai terbakar rasa cemburunya.
__ADS_1
"Ck, aku wanita bebas mas. Bebas bergaul dengan siapa saja. Dengan Arga atau laki-laki lain, termasuk dirimu yang notabene papanya anak-anak. Jadi di mana kesalahanku untuk tidak dekat dengan laki-laki lain?" kata Anita mulai kesal dengan keposesifannya pada Anita.
Dia salah, kenapa baru sekarang merasa cemburu. Dan kemana saja dia ketika Anita terpuruk dan mencoba menerima nasibnya di cerai karena hal yang tidak masuk akal bagi Anita.
Anita bangkit dari duduknya, dia lebih baik menghindar dari Rendi yang setiap kali ketemu ada saja membuatnya kesal dan ingin marah. Dia bebas sebenarnya bisa saja marah-marah dengan perlakuan Rendi dulu sampai sekarang. Namun dia masih menghormati Rendi sebagai papanya anak-anak. Tidak baik bertengkar terus hanya karena hal sepele.
_
Malam ini Anita tidur di tempat biasanya dulu dia tidur ketika dia masih tinggal di rumah itu. Rendi sendiri tidur di ruang kerjanya dulu. Walaupun kini dia sudah punya rumah sendiri kerika masih hidup dengan Mourin, tapi karena ada kedua anaknya dan Anita. Dia menginap di rumah juga selama Anita dan kedua anaknya tinggal.
Dia kini sedang mengerjakan tugas kantornya yang belum sempat dia kerjakan di kantor karena pulang cepat, menyambut mereka.
Rendi tampak fokus dengan kerjaannya, sehingga dia tidak tahu Chiko sedang memandangnya di depan meja.
"Papa sedang apa?" tanya Chiko.
"Eh, adek kok bangun?" tanya Rendi, dia bangun dari duduknya menghampiri Chiko dan menariknya ke dalam gendongannya. Lalu di dudukkannya di depan meja tadi dia duduk.
"Papa sedang apa?" tanya Chiko lagi.
"Papa sedang kerja dek. Kok adek bangun sih?"
"Adek pengen minum pa, haus." jawab Chiko.
Lalu Rendi berdiri, dia mendudukkan Chiko di kursinya. Dia pergi ke dapur mengambilkan minum untuk Chiko. Rendi masuk lagi membawa segelas air putih dan di sodorkan ke mulut anaknya.
Chiko meneguk air minum itu sampai tandas, Rendi tersenyum. Dia lalu meletakkan gelas di samping mejanya.
"Adek kalau masih ngantuk, tidur aja lagi. Papa masih kerja." kata Rendi pada Chiko.
"Iya pa, Iko masih ngantuk." jawab Chiko.
"Iko mau sama papa tidurnya." Chiko mulai merengek.
Rendi menghela nafas panjang, dia lalu bangkit dari tidurnya dan mengajak Chiko masuk ke dalam kamarnya. Dia melihat Anita dan Chila sedang tidur saling berpelukan.
Andai saja yang di peluk Anita adalah dirinya, pikir Rendi.
"Pa, Iko tidur sama papa aja di kamar." kata Chiko.
Rendi melihat Anita masih terlelap, lalu Rendi membawa Chiko ke dalam ruang kerjanya yang dia sulap jadi kamar tidurnya.
"Iko tidur di sini, biar papa lihatin sambil kerja ya." kata Rendi.
"Tapi Iko mau sama papa tidurnya." rengek Chiko.
Agak kesal Rendi, dia sekarang sedang di kejar deadline tapi anaknya malah rewel. Sabar dulu, pikirnya.
"Ayo kita tidur di kasur papa."
Rendi menuntun Chiko naik ke ranjang kecilnya, Chiko naik dan Rendi duduk di samping Chiko. Menepuk punggungnya dengan pelan.
"Papanya ikut tidur, kayak mama tuh pa." kata Chiko lagi.
"Papa lagi kerja Iko, nanti papa ikutan tidur."
"Ya udah tidur aja. Besok lagi kerjanya."
"Ngga bisa Iko, papa kan harus menyelesaikan kerjaannya malam ini. Iko ngerti papa dong." kini Rendi mulai kesal dengan rengekan Chiko.
__ADS_1
Chiko diam, dia lalu menelungkup di balik bantal. Dia marah sama Rendi. Tapi Rendi malah meninggalkan Chiko untuk melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda tadi.
_
Pagi hari, Rendi bangun kesiangan. Dia bergegas mandi agar cepat berangkat ke kantor, setelah sarapan yang Anita buat sekalian buat dirinya.
Selasai mandi dan memakai baju dinasnya, dia duduk sebentar untuk sarapan bersama anak-anaknya. Dan seperti biasa Chiko membuat ulah pada Rendi.
"Pa, kapan jalan-jalannya pa?" tanya Chiko pada papanya.
"Nanti ya, papa dua hari ini lagi sibuk kerja. Papa usahakan tiga hari lagi kita jalan-jalan." ucap Rendi berjanji pada anaknya itu.
Anita yang mendengar janji Rendi hanya diam, dalam hati dia berdoa semoga kali ini benar janjinya di tepati.
"Tapi pa, Iko maunya sekarang." kata Chiko lagi.
"Ya kan papa kerja Iko. Nanti papa cari waktu buat jalan-jalan ya." kata Rendi lagi memberikan pengertian pada Chiko.
Bukan Chiko namanya kalau tidak memaksa seperti dulu dia memaksa minta ke kota menemuinya pada Anita
"Kerjanya nanti lagi pa, kan Iko ada di sini. Jadi papa temenin Iko jalan-jalan."
"Ngga bisa Iko, kalau papa ngga kerja nanti gimana jalan-jalannya ngga ada uang."
"Jual aja pa ponselnya, biar nanti buat jalan-jalan."
"Ya ngga boleh, dek."
"Pokoknya mau jalan-jalan sekarang pa, ayo dong pa." rengek Chiko,
Dia menghampiri Rendi dan menarik lengan kanannya yang sedang menyuapkan makanan ke dalam mulutnya. Hingga makanan itu tumpah di kemeja putihnya.
"Iko! Yang sopan dong, papa lagi makan jadi tumpah kan!" teriak Rendi kesal pada anaknya itu.
Anita mendengar dari dapur Rendi berteriak memarahi Chiko langsung mendekat. Dia melihat Rendi sangat marah pada Chiko, Anita menarik Chiko ke dalam pelukannya lalu menatap Rendi kesal.
"Bisa tidak sih mas jangan berteriak kalau bicara sama anak?" kata Anita.
"Kamu juga suka berteriak sama Chiko. Aku bukannya mau memarahi, tapi lihatlah baju kemejaku jadi kotor karena ulah Chiko." kata Rendi ketus.
Dia lalu pergi dari ruang makan dan menuju kamarnya untuk mengganti bajunya yang kena tumpahan makanan.
Chiko menangis, dia memeluk Anita.
"Sudah ya dek, jangan menangis. Kan papa mau kerja, jadi adek harus ngerti. Nanti kalau papa ada waktu ngajak jalan-jalan sama-sama kok." ucap Anita menenangkan anaknya.
Chila sendiri hanya diam, dia juga merasa takut ketika Rendi marah pada Chiko.
"Ma, kita pulang aja yuk." ajak Chila.
"Sabar sayang ,papa kan lagi buru-buru jadi ngga boleh ganggu papa ya." kata Anita lagi.
Dia harus sabar untuk beberapa hari, mungkin memang salah Chiko merengek di waktu yang salag. Apa lagi Rendi kesiangan bangun dan harus buru-buru berangkat kerja.
_
_
_
__ADS_1
❤❤❤❤❤❤❤