
Persiapan pernikahan Anita dan Arga sudah di tahap akhir, hanya mungkin wajar saja jika ada perbedaan pendapat di antara mereka mengenai konsep pernikahan.
Meski pernikahan kedua bagi Anita dan Arga, namun tetap saja merasa deg-degan.
Satu minggu lagi dari waktu yang di tentukan, Anita tidak boleh bertemu dengan Arga Ibu Yuni melarang kedua sejoli yang sedang di mabuk cinta itu tidak boleh di pertemukan. Arga di larang berkunjung ke rumah Anita.
"Bu, tapi saya ingin ketemu dengan Anita." kata Arga mencoba merayu ibu Yuni ketika dia berkunjung pada malam hari seperti biasa.
"Maaf nak Arga, bukannya ibu menghalangi kalian bertemu. Ini waktunya sudah dekat, satu minggu lagi. Jadi nak Arga bersabar bertemu dengan Anita." ucap ibubYuni kekeh dengan pendapatnya.
Agak kesal juga Arga, namun dia tahan dan bersabar. Mencoba merayu ibu Yuni lagi.
"Kan seminggu lagi itu masih lama, bu. Boleh ya saya bertemu dengan calon istriku?" tanya Arga memelas.
"Ck, kamu tidak sabar ya. Ya sudah kalau masih memaksa apa ibu batalkan saja lamaran nak Arga?" ancam ibu Yuni, dia tidak bersungguh-sungguh dengan ancamannya itu, tapi untuk memberi pengertian pada calon mantunya itu.
"Eh, jangan dong bu. Ya sudah iya, saya pulang. Salam untuk Anita." ucap Arga dengan wajah kecewanya.
Ibu Yuni hanya tersenyum saja melihat mimik wajah kecewa Arga. Dia hanya menggertak saja tadi. Kalaupun Arga memaksa ya mau tidak mau dia izinkan Arga bertemu dengan Anita. Tapi nyatanya Arga takut dengan ancamannya.
"Apa salahnya sih menunggu seminggu lagi." gerutu ibu Yuni ketika Arga sudah pulang.
Dia masuk ke dalam rumah lagi, Anita mendekat pada ibu Yuni.
"Arga sudah pulang bu?" tanya Anita.
"Iya, dia ngga sabar banget pengen ketemu kamu. Padahal kata ibu sih, lebih mengharukan nanti ketika waktu pernikahannya. Coba kamu menahan semua keinginan dalam seminggu, ketika ketemu di waktu yang membahagiakan. Itu rasanya seperti sebuah balon besar dan pecah." ucap ibu Yuni.
"Ibu istilahnya ada-ada saja deh, balon pecah.Hahaha.."
"Ya iya, Anita. Kamu menahan rindu selama satu minggu tidak ketemu. Pas ketemu rasanya sangat senang sekali. Seperti balon pecah meletusnya karena semakin besar tekanan rindunya." ucap ibu Yuni.
"Hahaha.." tawa Anita pecah.
Dia memang sedang menahan rindu tidak bertemu dengan Arga selama sudah sepuluh hari. Sejak pemesanan baju penagntin dan praweding, sejak itu sudah tidak bertemu lagi. Karena Arga sendiri sibuk di kantor pengacaranya.
Tapi setelah sedikit longgar waktunya, malah ibu Yuni melarang Arga bertemu dengan Anita.
Anita masuk.ke dalam kamarnya, dia mendengar telepon berbunyi di ponselnya. Dia tersenyum, lalu di gesernya tombol warna hijau untuk menyambungkan suaranya dengan Arga di telepon.
"Halo Ga, kenapa?" tanya Anita.
Dia senang Arga meneleponnya, rasa rindunya sedikit terobati mendengar suara Arga.
"Akhirnya bisa mendengar suara kamu lagi." ucap Arga.
"Memang kenapa Ga?"
"Aku kangen sama kamu, ibu melarangku bertemu denganku. Huft."
"Sabar Ga, tinggal seminggu lagi kita juga bertemu."
"Aku ngga sabar Anita, bagaimana denganmu?"
"Aku?"
__ADS_1
"Ya, bagaimana perasaanmu?"
"Emm, bagaimana ya?"
"Sayang, bagaimana denganmu?"
Anita tertegun dengan sebutan sayang Arga padanya. Dia diam terpaku, meski Arga tidak ada di depannya dia tetap saja malu.
"Anita, mulai sekarang aku akan panggil kamu seperti itu. Kamu suka ngga?"
Anita masih diam, dia tersenyum bahagia dengan panggilan Arga padanya. Entah kenapa tiba-tiba dadanya bergemuruh, membuncah.
"Sayang...? Kamu masih di situ?"
"Iya, Ga."
Dan malam itu obrolan Anita dengan Arga berlanjut pada rencana kemana mereka berbulan madu nanti setelah menikah dan berencana mempunyai berapa anak.
Namun ketika merencanakan mau punya anak berapa, ternyata Anita sudah sangat mengantuk. Dia tertidur dan tidak menanggapi Arga lagi yang sedang bicara panjang lebar.
Arga curiga, kenapa Anita hanya diam saja.
"Anita, kamu tidur?"
Tak ada jawaban, hanya suara nafas berhembus di ponsel Arga.
"Ternyata kamu tidur. Ya sudah, aku tutup teleponnya."
Masih tidak ada jawaban, dan akhirnya Arga menutup teleponnya. Dia lega bisa menghubungi Anita, melirik jam di dinding kamarnya.
Satu minggu lagi, Anita menjadi istrinya.
_
Kini waktunya telah tiba, hari di mana Arga daj Anita menikah di gereja di mana sidah mereka tentukan tempatnya.
Jam tujuh, Anita di jemput oleh beberapa penata rias untuk di dandani dan di rias. Ibu Yuni dan kedua cucunya juga. Semua di rias pagi-pagi sekali.
Karena acara pemberkatannya sekita jam seouluh pagi, serta resepsinya langsung di hotel setelah pemberkatan dan pengambilan janji suci pernikahan.
"Ma, mama sama om Arga menikah haru inia?" tanya Chiko.
"Iya sayang, Iko kenapa manggilnya om lagi?" tanya Anita yang sedang di rias oleh perias pengantin.
"Eh, iya ma. Lupa, papa Arga. Hehe..." ucap Chiko meralat ucapannya tadi.
Anit tersenyum, dia maklum karena ini baru bagi mereka.
"Ma, kita nanti jadi pengiring pengantin ya sama Celine juga?" tanya Chila yang juga di dandani oleh perias.
"Iya sayang, nanti Chila dan Celine serta adek ada di belakang mama."
"Nanti yang ngantar mama ke altar siapa ma?"
"Mama jalan sendiri, kan di belakang mama ada pengiring pengantin cantik dan ganteng."
__ADS_1
"Pasti seru ya kak?"
"Iya."
Dua jam sudah mereka di rias oleh perias pengantin. Konsep pernikahan intermasional yang sederhana tidak mengurangi sakralnya pernikahan Arga dan Anita.
Di tempatnya Arga sangat gugup, dia takut salah mengucapkan janji suci pernikahan.
"Kamu gugup, Ga?" tanya ibu Ema.
"Banget ma, ini pernikahan yang membuat aku sangat tegang banget." ucap Arga.
Keringat dingin keluar dari pelipis dan lehernya, ibu Ema tersenyum. Dia mengusapkan tisu di pelipis anaknya.
"Padahal ini pernikahan kedua kamu, apa rasanya beda?"
"Beda ma, kalau dulu deg-degan, tapi tidak antusias seperti sekarang. Rasa bahagianya sangat jauh berbeda. Sekarang seperti menemukan harta karun ma."
"Ish, kamu berlebihan banget istilahnya."
"Benar ma, aku seperti menemukan harta karun yang sangat aku inginkan, hik hik. Aku bahagia sekali ma. Akhirnya aku bisa menggenggam Anita dalam hatiku selamanya." ucap Arga, hatinya bergetar.
Dia menangis bahagia, ibu Ema memeluk anaknya itu. Dia juga bahagia anaknya ternyata menemjkan cinta sejatiny.
"Sudah, jangan menangis. Kamu harus tenang, sebentar lagi pemberkatan akan di lakukan. Kendalikan hatimu Arga." ucap ibu Ema.
"Iya ma. Terima kasih ma." ucap Arga kembali memeluk ibu Ema.
Dan kini Arga sudah sampai di gereja katerdal di mana gereja yang sudah di tunjuk olehnya jauh-jauh hari.
Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh kurang lima belas menit. Semua dia dalam gereja sudah berkumpul, dari rekan kerja Arga di kantor dan juga undangan, serta tetangga Anita dan Arga.
Kini musik pengiring sudah di bunyikan, bertanda Anita akan masuk dan melewati altar. Seperti rencananya semula, hanya ada tiga pengiring pengenatin wanita. Tidak ada pendamping pengantin.
Anita melangkah perlahan seiring musik bergema, di belakang ketiga anaknya berjalan mengikuti Anita dari belakang. Arga menatap Anita yang terlihat takjub dengan penampilan Anita yang berbeda, dia tersenyum meski hatinya dag dig dug tidak karuan.
Sampai di depan Arga, Anita berhenti, dia menatap dengan tatapan hanya Arga yang bisa mengartikannya. Tangan Arga terulur, Anita menyambut. Lalu keduanya berdiri di depan pendeta.
Keduanya mendengarkan beberapa nasihat pernikahan. Setelah selesai, baru pengambilan janji suci pernikahan oleh keduanya. Anita dan Arga saling berhadapan, menatap manik mata keduanya memberikan seluruh rasa yang mereka rasakan.
Setelah di lakukan sumpah, lalu Arga mengambil cincin yang sudah di sediakan dan di sematkan di jari manis Anita, begitu juga Anita menyematkan cincin pada Arga.
Setelah penyematan cincin, pendeta mempersilakan Arga membuka penutup wajah Anita dan menciumnya dengan lembut. Keduanya hanyut dalam kehangatan masing-masing cinta dalam bentuk sentuhan bibirnya.
Lalu tepuk tangan dari para hadirin membuyarkan rasa yang menghanyut dalam manisnya cinta.
Mereka akhirnya melepas pagutan bibirnya, lalu tersenyum manis. Keduanya kemudian menyaoa dan bersalaman dengan beberapa orang di sana sebelum keduanya pergi menuju hotel untuk melakukan resepsi pernikahan sederhana dan hanya sampai sore saja.
Yang terpenting Arga dan Anita sudah di persatukan dengan ikatan suci pernikahan. Semua merasa bahagia, baik ibu Yuni dan ibu Ema. Apa lagi ketiga anak-anak mereka yang sangat antusias keduanya bersatu dalam keluarga.
_
_
_
__ADS_1
❤❤❤❤❤❤