
Pemakaman ibu Yuni sedang berjalan, Anita mendampingi ibunya sampai liang lahat. Arga selalu menemaninya walaupun Anita terlihat tegar dengan proses oemakaman ibunya.
Kelima anaknya juga ikut dalam pemakaman itu, di sampingnya pendeta memberikan petuah dan doa pada sang almarhum dan keluarga yang di tinggalkan. A
Anita benar-benar kuat, meski derai air matanya sesekali mengalir di pipinya. Siapa saja yang melihat Anita pasti sangat salut.
Semua nampak menangis, tidak terkecuali Chila dan Chiko. Mereka yang sejak tinggal di rumah eyangnya dulu sangat kehilangan.
Kevin hanya diam saja dan melihat kakak-kakaknya menangis. Dia di gendong oleh pembantu Anita dan juga Angga di gandengannya
Acara pemakaman pun selesai, setelah mengucapkan turut bela sungkawa pada Anita dan Arga, semua yang ikut hadir di pemakaman itu pun berpamitan pulang.
"Anita, yang sabar ya. Ibumu sudah tenang di sana." ucap salah seorang kerabat ibu Yuni.
"Iya bude, terima kasih." ucap Anita.
Lalu mereka pergi meninggalkan Anita dan keluarga di pemakaman itu. Arga memberi ruang pada istrinya di pemakaman ibunya.
"Bi, ayo bawa anak-anak semua ke mobil. Biarkan Anita di sini dulu." ucap Arga.
Pembantunya itu pun mengangguk, dia mengajak kelima anak majikannya itu pergi dari sana. Arga mengambil alih Kevin dari gendongannya bibi.
Dia dan anak-anaknya akan menunggu di mobil untuk satu jam ke depan. Baru nanti setelah satu jam dia akan menjemput istrinya yang sepertinya masih berat dengan meninggalnya ibu Yuni.
Dan sementara itu Anita sedang berjongkok di samping pusara ibunya, tangannya memegangi nisan dan menatapnya lekat. Air matanya terus saja meleleh.
"Bu, ibu tenang di sana ya Ibu jangan khawatirkan aku. Aku sudah bahagia dengan Arga, aku tahu ibu sangat khawatir dengan kebahagiaanku. Aku tahu sejak kecil di tinggal ayah entah kemana, ibu sangat khawatir akan terjadi lagi pada anak-anakku bu. Aku tahu ibu sangat menyayangiku, aku tahu. Hik hik hik." Anita diam sesaat.
"Sekarang Arga lebih menyayangiku dan mencintaiku bu.Ibu tenang di sana, jangan bersedih lagi. Ibu juga pasti bertemu dengan mama di sana." ucap Anita lagi.
Dari jauh, seorang laki-laki yang duduk di kursi roda sedang menatap Anita sedih. Di belakang kursi roda ada seorang wanita yang sama tua dengannya menatap Anita kasihan.
_
Anita sudah kembali ke rumahnya, rasa sedih kehilangan ibununya memang dia alami. Namun dia tetap tenang dan biasa saja di depan anak-anaknya.
Arga yang melihat istrinya begitu tegar di hadapan anak-anaknya jadi sedih sendiri. Dia yang dulu di tinggal mamanya meninggal hanya bisa mengurung diri dan terpukul, bahkan menjauhi Anita dan anak-anaknya.
Ingin dia memeluk istrinya sebagai rasa perhatian dan cintanya pada Anita. Dia menatap Anita dengan pilu, bagaimana bisa seseorang telah di tempa hidup dalam segala cobaan sejak kecil, sekarang menjadi wanita kuat.
Arga mendekat pada istrinya yang sedang menyuapi Kevin.
"Sayang, biar aku saja yang menyuapi Kevin." ucap Arga mengambil alih piring berisi makanan Kevin.
Anita pun menurut, dia memberikan piringnya dan tersenyum.
Sedang bergantian menyuapi Kevin, pembantu Anita mendekat pada mereka di meja makan dan memberitahu ada tamu yang ingin menemui Anita.
"Nyonya, di luar ada tamu ingin bertemu anda." katanya.
"Oh ya, siapa ya bi?" tanya Anita.
__ADS_1
"Saya tidak tahu, nyonya. Sepertinya orang baru, bukan saudara ibu." kata pembantunya itu.
Anita heran pun juga Arga, lalu Anita bangkit dari duduknya dan menuju ruang tamu. Tapi termyata tamu itu belum di suruh masuk ke dalam.
Kemudian dia menuju pintu utama, dia membuka dan melihat ada seorang perempuan paruh baya sedang menatap ke halaman rumah yang luas.
Anita memperhatikan perempuan tersebut dari atas sampai bawah kaki, tidak begitu kenal. Namun sepertinya dia tahu dirinya.Anita mendekat dan menyapa dari belakang.
"Emm, anda mencari saya?" tanya Anita pelan.
Perempuan itu menoleh, dia menatap Anita dengan wajah sedikit terkejut. Lalu dia tersenyum tipis.
"Kamu Anita kan?" tanya perempuan itu masih dengan senyumnya.
"Iya, memangnya ibu kenal saya? Siapa anda, bu?" tanya Anita heran.
"Apakah saya tidak di perbolehkan masuk?" tanya perempuan itu.
Anita diam, dia masih bingung kenapa perempuan itu tahu tentang dirinya. Dia sendiri tidak tahu siapa perempuan itu. Namun demikian, dia lalu mengajak perempuan itu masuk ke dalam rumah dan menyuruhnya duduk di sofa.
Perempuan itu memperhatikan sekeliling rumah Anita, dia takjub dengan rumah besar tersebut. Ternyata besar dan mewah juga rumah anaknya ya, gumamnya dalam hati.
"Ibu mau minum apa?" tanya Anita.
"Jus jeruk juga boleh." kata perempuan itu.
Anita pun permisi untuk mengambilkan minum sesuai permintaan tamunya, Arga melihat istrinya dan bertanya siapa tamunya.
"Aku tidak tahu, belum pernah melihatnya." jawab Anita menyiapkan minuman.
"Apakah saudara ibu?" tanya Arga lagi.
"Sepertinya bukan, tapi mungkin dia tahu tentang ibu meninggal." kata Anita lagi.
Setelah selesai menuangkan jus jeruk, Anita mengambil cemilan di dalam lemari untuk di suguhkan pada tamunya itu.
Baru dia menuju ke ruang tamu lagi menemui perempuan itu. Dia letakkan di meja jus dan cemilan.
"Silakan di minum jusnya bu." kata Anita.
"Terima kasih."
Dia lalu mengambil gelas berisi jus tersebut dan meminumnya sampai habis. Anita sendiri heran, namun dia diam saja menunggu perempuan itu bicara lagi.
"Rumah kamu besar ya, beda dengan emm.." ucap perempuan itu tidak di teruskan.
c
"Dengan siapa? Maaf, ibu ini siapa?" tanya Anita heran.
Perempuan itu menghela nafas panjang, dia ingin bercerita. Tapi apakah ucapannya di percaya?
__ADS_1
"Saya kenal dengan ibumu dan juga ayahmu dulu." berhenti, membuat Anita semakin penasaran.
"Ibu siapa, jangan mempermainkan saya ya bu. Suami saya itu pengacara, ibu bisa di tuntut kalau bicara bohong atau mau menipu." ucap Anita yang semakin penasaran namun dia mengancamnya.
Perempuan itu terdiam, ada rasa takut. Namun dia beranikan diri untuk bercerita.
"Baiklah, saya mau cerita. Namun tenangkan hatimu dan jangan marah."
"Bagaimana saya tidak marah, ibu datang-datang membuat saya penasaran dan terkejut. Anda bilang mengenal ibu saya, apa yang ibu tahu tentang ibu saya?" tanya Anita sedikit keras ucapannya.
"Saya Rasti, mantan istri pak Sugara. Kamu tahu kan pak Sugara itu?" tanya ibu Rasti itu.
Dan tentu saja Anita tahu, siapa itu Sugara. Ya, dia adalah ayah Anita yang menurut ibunya itu telah meninggalkan dirinya dan ibunya sejak Anita masih kecil.
Sejak umur tiga tahun Anita di tinggal pergi ayahnya entah kemana. Ibu Yuni juga tidak memberitahu akan perihal ayahnya.
Dalam benaknya, ayahnya tidak peduli padanya dan ibunya. Jadi dia tidak pernah bertanya di mana ayahnya berada.
"Anda kenal pak Sugara? Apa buktinya anda adalah mantan istri pak Sugara?" pertanyaan Anita membuat tegang dirinya sendiri.
Ternyata, ada fakta yang tidak di ketahui oleh Anita tentang ayahnya dan ibunya.
"Katakan, anda mengetahui apa tentang pak Sugara." ucap Anita keras.
Arga yang di dalam menjadi penasaran, kenapa istrinya berteriak. Dia lalu menghampiri istrinya yang kesal karena tamu perempuan itu.
"Sayang ada apa?" tanya Arga, dia duduk di samping istrinya.
Perempuan itu memandang Arga dengan senyum ramah lalu menatap Anita lagi.
"Saya tahu banyak, dan saat ini saya belum bisa bercerita tentang dia. Jika kamu penasaran, kamu bisa menghubungiku di nomor ini. Saya kesini hanya ingin melihat keadaan anaknya." ucap perempuan itu.
Dia lalu bangkit dari duduknya dan permisi untuk pulang. Kartu nama dia letakkan di meja dengan gelas kosong itu. Anita ingin memcegah perempuan itu, namun di tahan oleh suaminya.
"Sayang, biarkan dia pergi. Jika memang dia mengetahui banyak tentang siapa itu, nanti juga dia akan datang lagi." kata Arga.
Dia takut perempuan itu menipu istrinya, Anita menatap suaminya dengan bingung.
"Kamu tahu pak Sugara itu siapa, Ga?" tanya Anita.
"Siapa dia?" tanya Arga heran.
"Dia ayahku, makanya aku ingin tahu tentang ayahku darinya. Tapi dia pergi, dia sengaja membuatku semakin bingung." ucap Anita.
Belum juga seminggu, ada kejutan yang memang membuat bingung Arga dan Anita. Ada rahasia apa dengan ibu Yuni?
_
_
_
__ADS_1
❤❤❤❤❤❤❤