
Sandra memikirkan ucapan Evan, dia berpikir apakah dia terlalu jahat jika Evan hanya ingin bertemu saja dengan anaknya, bukan membawanya pergi.
Lusa Evan berangkat lagi ke Rusia, bukan pada Evannya tapi lebih pada Elana. Apakah dia tidak merindukan papanya?
Sampai di rumah pun, Sandra masih memikirkan ucapan Evan.
"Tante San, udah pulang?" tanya Elana menyambut kedatangan Sandra.
"Iya sayang, jangan lari-lari nanti jatuh." kata Sandra memperingatkan Elana.
Gadis kecil itu tertawa kecli dan menggoyangkan kepalanya ke kanan ke kiri. Dengan tawa kecilnya itu sangat lucu sekali, bagaiman bisa Evan dulu tidak peduli pada bocah gadis kecil itu.
Sekarang jika dia tahu pasti sangat gemas melihatnya, dan ada keinginan untuk membawanya. Sandra tidak mau itu terjadi.
Dia sudah begitu sayang pada Elana. Dan jika nanti Mourin sudah keluar, dia juga berat untuk menyerahkannya.
Tapi itu masih lama. Yang dia khawatirkan adalah Evan, Evan begitu ingin melihat anaknya.
Apakah memang benar hanya ingin melihatnya?
Sandra bingung, memang tidak boleh seperti itu. Namun dia ingin memberi pelajaran pada Evan terlebih dahulu.
"Kakak El, sini duduk sama tante." kata Sandra menepuk sofa di sebelah kanannya.
Elana mendekat pada Sandra dan duduk di sampingnya sambil tersenyum ceria.
Pertama kali membawa Elana ke rumahnya, dia sangat pendiam dan juga selalu kesakitan dan memegang dadanya. Rasanya kasihan sekali, dan sekarang senyum ceria itu membuat Sandra bahagia.
Apa lagi jika sedang menggelayut manja di lengan Sandra, seperti sekarang. Elana tidak tahu Sandra memanggilnya mau apa, tapi dia tetap saja tersenyum lucu sambil memegang perut besar Sandra.
"Wah, tante dede bayinya tante." kata Elana dengan mata berbinar.
Sandra tersenyum, dia mengelus kepala Elana dengan lembut.
"Iya, dede bayinya suka main sama kakak El katanya." jawab Sandra.
"Emangnya dede bayi udah bisa ngomong ya tante? Kok sama kakak El ngga di ajak ngomong?" tanya Elana.
"Heheh, sekarang bisa ngomongnya sama tante aja dulu. Nanti kalau sudah keluar baru bisa ngomong sendiri." jawab Sandra.
"Ooh, begitu. Terus kapan adek bayi keluar tante?" tanya Elana lagi.
"Sabar ya kakak El. Kakak udah makan belum?"
"Heheh, belum tante."
"Makan dulu cantik, nanti kita ngobrol lagi sama tante."
"Tadi tante panggil kakak El ngobrolnya itu aja tante?"
"Iya, nanti setelah makan tante ajak kakak El ngobrol lagi."
"Oke tante."
Elana pun turun dari sofa besar itu, dia berlari kecil menuju dapur mendekat pada susternya dulu merawatnya.
Sekarang pun Elana masih minum obat, hanya dua kali sehari saja. Untuk menguatkan stamina dan kerja jantungnya
__ADS_1
Kata dokter jika obatnya selesai harus cepat membelinya lagi agar nanti tidak terlewatkan minum obat. Jika sehari terlewatkan, makan itu akan mengulang dari awal lagi.
Meski hanya obat stamina, tetapi obat kerja jantungnya yang membuat efektif dari obat staminanya.
_
Hari di mana Evan akan berangkat ke Rusia, jam pesawat berangkatnya sore pukul dua tiga puluh. Dia akan ke rumah Sandra lebih dulu pagi ini, berharap hanya busa melihatnya saja dari balik pintu gerbang. Baginya sudah sangat senang.
Evan sudah chek out dari hotelnya di mana dia menginap pukul sembilan pagi. Tidak masalah chek out lebih cepat karena dia ingin memantau rumah Sandra.
Berharap bisa melihat Elana bermain di depan rumah dengan pembantunya atau susternya.
Dia parkirkan mobilnya tepat di depan pintu gerbang, namun di sebelahnya agak jauh beberapa meter. Agar Sandra lewat mobilnya tidak menyadarinya.
Evan memantau rumah Sandra, dan di lantai dua Sandra memperhatikan ada mobil hitam yang dia tebak itu mobil Evan.
Dia juga memperhatikan Evan turun dari mobilnya dan melihat gerbang rumahnya.
"Ada apa ma?" tanya Jhosua pada istrinya.
"Itu ada mobil di depan rumah kita sejak jam delapan dan ngga pergi juga. Ku lihat itu sepertinya Evan sedang memantau rumah kita pa." kata Sandra.
"Dia mungkin ingin melihat anaknya ma, katanya hari ini dia akan ke Rusia lagi." kata Jhosua.
"Iya, katanya sih begitu kemarin bilang. Apa kita izinkan dia melihat Elana, pa?" tanya Sandra.
"Izinkan aja ma, mungkin untuk terakhir kali dia ingin melihat Elana sebelum berangkat ke negara istrinya." kata Jhosua.
Sandra masih berpikir apakah dia akan mengizinkan Evan bertemu dengan Elana.
"Menurut mama, jika orangtua ingin bertemu anaknya lalu di halangi, apakah itu menyakintakan?" tanya Jhosua.
"Ya, begitu juga Evan. Meski pun dia itu dulu menelantarkan Elana, tapi papa rasa dia tahu diri. Dia hanya ingin bertemu dengan Elana aja, dan ngga berani membawa Elana pergi dari kamu. Kurasa juga Elana perlu kalau papanya mencarinya. Dia juga sepertinya tahu siapa yang lebih berat akan dia ikuti. Elana itu anaknya perasa lho, papa pernah perhatikan dia. Dan juga pengertian anaknya." kata Jhosua lagi.
"Jadi, selama mama keberatan Elana tidak akan memaksa dia untuk bertemu papanya apa lagi ikut dengan papanya. Percaya sama papa." kata Jhosua memberi pengertian.
Sandra memandang suaminya, lalu memandang ke arah mobil Evan yang masih terparkir di depan rumahnya.
Lalu tanpa berkata lagi, Sandra keluar dari kamarnya. Di ikuti oleh suaminya turun ke bawah, dia takut Sandra terburu-buru turun sedangkan perutnya besar, jadi dia menjaga dari belakang.
"Ma, hati-hati." kata Jhosua memegang lengan istrinya.
Setelah sampai di bawah, Sandra menuju kamar Elana. Dia lihat Elana sedang asyik menggambar.
"Kakak El sedang apa?" tanya Sandra.
"Sedang menggambar tante." jawab Elana.
"Emm, kakak pengen ketemu papa ngga?" tanya Sandra lagi.
"Emangnya papa El ada di sini, tante?" tanya Elana lagi belum tertarik.
"Kalau ada, kakak El mau ketemu?" tanya Sandra lagi.
"Nanti kakak El di bawa papa tante, nanti tante ngga bisa main lagi sama kakak El." jawab Elana
Tentu saja membuat Sandra terharu, dia memeluk Elana. Benar kata suaminya, jika Elana itu anaknya perasa dan pengertian.
__ADS_1
"Kalaua kakak El di ajak papa ya jangan mau kak, Kakak tinggal pilih aja, mau tinggal sama tante San atau sama papa tapi jauh tempatnya. Ngga akan ketemu mama lagi kalau ikut papa." kata Sandra lagi.
"Tapi ketemu aja kan tante, kalau ikut papa kakak El ngga mau." jawab Elana.
"Ya, tinggal bilang sama papa, jika papa ajak ya. Tapi sekarang ketemu papa aja dulu."
"Iya tante."
Lalu Sandra menggandeng tangan Elana, dia membawa Elana keluar rumah dan menuju gerbang rumahnya.
Jhosua mengikuti dari belakang, dia hanya mengawasi kedua perempuan beda generasi itu.
Pintu gerbang di buka, Sandra keluar menggandeng Elana dan memberi kode pada mobil Evan untuk keluar dari mobilnya.
Tentu saja Evan kaget dan tidak percaya, dia lalu membuka pintu mobil dan keluar dari mobilnya menghampiri Sandra yang sedang menggandeng tangan Elana.
"Elana, anak papa." gumam Evan.
Elana hanya menatap papanya dengan biasa saja. Evan menunduk dan menghampiri Elana sambil terisak, dia merentangkan tangannya menyambut Elana untuk di peluk.
Elana menatap Sandra meminta izin padanya. Sandra mengangguk pelan.
Lalu Evan memeluk Elana dengan erat, dia menangis sejadi-jadinya.
Sandra memperhatikan interaksi antara ayah dan anak itu, dia juga merasa sedih. Namun demikian dia takut jika Elana akan di bawa oleh Evan.
Dia akan sekuat tenaga akan mempertahankan Elana berada padanya.
"Papa minta maaf ya, sayang. Papa ngga pernah jenguk Elana." kata Evan masih memeluk anaknya.
"Papa sibuk terus, jadi yang ngurus El tante San." kata Elana dengan polosnya.
Iya, papa tahu papa salah. Makanya papa hanya ingin melihat Elana aja, papa ngga ajak Elana ikut papa. Papa minta maaf ya, sayang." kata Evan.
"Iya pa."
Lalu Evan kembali ke mobilnya, dia mengambil hadiah boneka untuk di berikan pada anaknya itu sebagai hadiah terakhirnya dia di negara ini. Entah kapan lagi dia bisa datang berkunjung.
Setelah setengah jam bercakap-cakap melepas rindu pada anaknya, kini Evan akan pergi. Dia berterima kasih pada Sandra yang telah memberinya izin bertemu dengan anaknya tanpa seizin Mourin.
"Terima kasih, San. Gue akan kirim uang untuk kebutuhan Elana setiap bulannya. Gue juga ngga akan bawa Elana bersama gue ke Rusia. Lo ngasih gue izin ketemu dengan anak gue udah senang sekali. Sekali lagi gue terima kasih." kata Evan.
"Iya, gue akan jaga terus Elana demi Mourin, bukan buat lo. Lo bisa punya anak lagi dengan istri baru lo itu, jadi jangan usik lagi kehidupan Elana dan Mourin. Lo bilang semua sudah selesai, jadi jangan berharap bisa mengusik Mourin atay pun Elana." kata Sandra ketus.
"Tapi, suatu saat gue ingin ketemu anak gue lo kasih izin lagi?" tanya Evan.
"Gue ngga tahu, sekarang gue lagi ingin berbuat baik. Jadi lo jangan berharap lebih." kata Sandra lagi.
Evan tahu itu, lalu dia berpamitan pada Elana dan memeluknya sekali lagi.
Kemudian dia melambaikan tangan pada Elana. Elana pun membalas lambaian tangan Evan.
_
_
_
__ADS_1
❤❤❤❤❤❤❤❤