
Seperti perkiraan Arga, Mourin memang meminta tebusan. Dan tebusan itu adalah surat rumah yang di perebutkan.
Tentu saja Arga sudah tahu, awalnya istrinya memang mau menuruti kemauan Mourin untuk di tukarkan dengan anaknya, tapi Arga mencegahnya.
Dua jam sejak jam tujuh pagi, ada sebuah secarik kertas di lemparkan ke arah halaman rumah, hanya di beri batu sebagai pemberat agar kertas itu bisa masuk dan di baca oleh Anita atau pun Arga.
Dan kertas itu di temukan oleh pembantunya, bi Ina.
Kertas itu bertuliskan sebuah ancaman, yang berbunyi.
JANGAN COBA-COBA LAPOR POLISI, JIKA INGIN ANAKMU SELAMAT SERAHKAN APA YANG AKU MINTA! HUBUNGI NOMOR 08213800XXXX
Dan tentu saja Arga tidak tinggal diam, dia langsung menghubungi polisi setempat untuk mencari keberadaan Mourin.
Tapi rupanya Anita ingin menuruti perintah Mourin, dia sedang mengambil surat rumah itu dan akan menghubungi Mourin, dan Arga mencegahnya.
"Sayang, tunggu dulu. Kamu jangan gegabah, kita cari jalan lain agar Chiko selamat dan Mourin tertangkap." kata Arga memberi pengertian pada istrinya itu.
"Tapi aku takut Mourin akan menyakiti Chiko, Ga." kata Anita masih setia dengan tangisannya.
Arga sendiri khawatir, dia juga cemas jika anak sambungnya di sakiti olah Mourin. Dia berpikir, jika Mourin tertangkap maka akan dia tambahkan tuntutannya agar lebih berat lagi hukumannya. Tidak ada yang boleh menyakiti keluarganya.
Dia tidak pernah ada yang dendam padanya ketika membela kleinnya, tapi ini adalah di luar semuanya. Keserakahan yang membuat Mourin jadi berbuat gila, padahal dia tahu surat panggilan dari kepolisian sudah dia terima. Tapi dia belum mendatangi kantor kepolisian untuk memberikan keterangan tentang masalah yang kemarin.
Arga memeluk istrinya, dia tidak tega dengan kesedihan yang di alami oleh Anita.
Sudah banyak sekali dia mengalami unian dan cobaan, di tambah lagi dengan penculikan anaknya. Arga benar-benar tidak akan memberikan kesempatan pada Mourin kabur dari jeratan hukum.
"Jika Chiko sudah kita temukan, aku tidak akan membiarkan perempuan itu kabur, sayang. Kamu tenang saja." ucap Arga masih menenangkan istrinya.
"Tetap saja sekarang aku tidak bisa tenang, Chiko belum tahu kabarnya bagaimana. Dia itu gampang sakit, bagaimana dengan makannya, bagaimana dengan tidurnya Ga. Aku ngga bisa bayangkan jika dia kekurangan itu semua, hik hik hik."
"Berdoa saja sayang, semoga secepatnya Mourin di temukan persembunyiannya."
"Sampai kapan? Ini sudah satu hari dia menculik Chiko. Bagaimana aku bisa tenang, Ga?"
"Iya sayang, aku juga khawatir."
Anita mendengus kesal, sampai kapan dia berdiam diri terus menunggu polisi bertindak dan menemukan Mourin secepatnya.
Bunyi dering ponsel Arga sangat kencang, dengan dengan cepat Arga mengambil ponselnya dan mengangkatnya.
"Halo?"
"Halo pak Arga, dari nomor yang di berikan itu aktif satu jam yang lalu. Dan kami melacak mereka masih ada di kota ini. Kemungkinan tidak jauh dari sekitar kota." kata sang penelepon pada Arga.
"Oh ya, saya mohon lacak terus nomornya pak Adnan, anak saya sekarang mungkin sedang ketakutan. Harus di temukan secepatnya." pinta Arga.
"Jangan khawatir pak, anak buah kami sedang menyebar mencari di mana mereka bersembunyi."
"Baiklah pak Adnan, saya tunggu kabar selanjutnya." kata Arga.
Klik
"Siapa Ga?" tanya Anita.
__ADS_1
"Aku menyewa detektif agar cepat di temukan selain lapor pada polisi sayang, aku kasihan sama kamu makanya aku sewa detektif juga." kata Arga.
Anita menghela nafas panjang, suaminya memang cepat tanggap. Dia lalu menatap suaminya dan kembali memeluknya, rasanya lelah sekali memikirkan anaknya belum di temukan. Tapi tetap saja, dia kepikiran terus.
Ke empat anaknya saja jadi sedikit terlupakan. Celine jadi menyendiri karena merasa bersalah.
Dia sejak tadi pagi tidak mau keluar dari kamarnya karena bersalah. Karena dia abangnya di culik.
Padahal jika gantungan kunci itu dia abaikan hilang, pasti tidak akan terjadi penculiknya Pikir Celine.
Chila masuk ke dalam kamar Celine, dia juga merasa bersalah karena tidak mencegah orang yang menculik adiknya.
"Kak, abang Iko sedang apa ya?" tanya Celine.
"Ngga tahu dek, kakak juga khawatir sama Iko. Kakak bersalah tidak cepat menolong Iko." ucap Chila.
"Celine yang salah kak, abang Iko kan nyari gantungan kunci Celine yang jatuh. Coba di biarkan hilang, pasti abang Iko ngga di culik." kata Celine.
"Kata pak Diman memang mereka berencana menculik Iko, dek. Jadi biar pun ngga mencari gantungan kunci kamu, bang Iko juga tetap mau di culik." kata Chila.
Celine diam, dia mencerna apa yang di katakan kakaknya. Dia.masih belum paham apa yang di katakan Chila.
Tapi dia diam saja dan hanya menatap meja belajarnya.
Hari ini anak-anak Anita tidak di perbolehkan sekolah selama Chiko belum di temukan, Arga sudah meminta izin pada kepala sekolah anaknya selama Chiko belum di temukan.
_
Anita mengambil secarik kertas yabg tadi pagi di lemparkan oleh orang suruhan Mourin. Dia menulis nomor telepon dan akan menghubungi nomor tersebut.
Arga tahu pasti istrinya akan menghubungi nomor tersebut. Maka dari itu, dia menyuruh detektif menyadap nomor istrinya dengan menggunakan GPS yang memang telah di pasang di ponsel Anita.
Tuuut
Belum tersambung, Anita mencoba menghubungi lagi, dia melihat ke arah pintu kamar. Dia takut Arga memergokinya, namun dia akan berusaha untuk menemukan Chiko.
Tuuuut.
Tersambung, jantung Anita berdetak kencang. Dia terus menghubunginya, menarik nafas pelan agar bisa mendengar suara orang di seberang sana.
"Halo, siapa ini?" tanya seorang perempuan di sana.
Anita mengira itu suara Mourin.
"Mourin? Ini aku, Anita." jawab Anita pelan.
"Oh, jadi kamu menghubungiku juga? Kamu merindukan anakmu?"
"Tentu saja, di mana anakku Mourin?!" tanya Anita dengan suara agak keras.
Sekali lagi dia melihat ke arah pintu kamar.
"Hahahah, tenang saja. Anakmu baik-baik saja denganku. Dia sedang tidur, dan sesuai keinginanku kamu berikan surat rumah itu lalu aku akan memberikan anakmu dalam keadaan baik-baik saja. Kamu setuju?" tawar Mourin.
"Jika tidak apa yang akan kamu lakukan pada anakku?"!
__ADS_1
"Hahaha, tentu saja aku akan menyiksanya sampai anggota tubuhnya patah!"
"Kamu sudah gila Mourin!"
"Aku memang gila, makanya jangan main-main denganku Anita!"
Anita diam, dia terisak dalam diam. Mulutnya dia tutup dengan tangan kanannya.
"Aku ingin mendengar suara anakku, Mourin. Sekali saja." pinta Anita.
"Kamu setujui dulu permintaanku, nanti aku berikan ponselku pada anakmu."
Anita diam lagi,
"Anita! Cepat katakan kamu menyetujuinya!"
"Iya, baik. Saya setuju. Tapi berikan ponselnya pada anakku." ucap Anita dengan mulut bergetar.
Tak berapa lama, Anita diam. Menunggu telepon dari anaknya.
"Halo, ma. Tolong adek ma. Hik hik hik." kata Chiko dengan suara tangisannya di telepon.
"Iya sayang, mama akan menyusul Iko. Menjemput Iko, Iko tenang saja ya. Papa akan memjemput Iko."
Belum sempat bicara banyak, ponsel di rebut lagi oleh Mourin.
"Bawa anak ini ke tempatnya dan ikat dia!" teriak Mourin terdengar di telepon.
Anita semakin terisak, dia menutup mulutnya lagi.
"Mourin!"
"Kamu jangan coba-coba membawa polisi, Anita! Jika kamu membawa polisi anakmu akan jadi mayat! Ingat itu."
"Tidak, jangan. Saya akan ke tempatmu sendirian. Di mana tempatnya?" tanya Anita.
"Kamu harus janji jangan bilang sama suamimu apa lagi polisi."
"Tidak, saya akan kesana sendiri dan membawa surat rumah itu. Sekarang berikan alamatmu."
"Aku akan memberikanmu alamat dengan beberapa petunjuk, jika sudah naik taksi kamu kirim sms ke nomor ini, dan ingat sekali lagi kamu bohong. Maka anakmu jadi mayat."
Setelah berkata seperti itu, Anita diam sejenak. Dia lalu bersiap untuk menjemput anaknya. Dan sebelumnya dia mengambil surat rumah itu dan dia masukkan ke dalam tasnya.
Buru-buru dia keluar dari kamarnya, kepalanya menengok ke kanan dan ke kiri agar suaminya tidak mengetahuinya.
Anita bergegas turun dan segera keluar rumah. Di belakang Arga menelepon detektif Adnan agar anak buahnya yang ada di depan segera mengikuti istrinya pergi.
_
_
_
❤❤❤❤❤❤❤❤❤
__ADS_1