IKHLAS MELEPASMU

IKHLAS MELEPASMU
21. Mourin Hamil


__ADS_3

Direktur di jabat oleh Mourin sejak ayahnya sudah pensiun dari perusahaan.Dia memang di siapkan ayahnya untuk menduduki posisi direktur,makanya dia menempuh pendidikan sampai S2 di fakultas ekonomi agar bisa menjalankan bisnis keluarganya.


Dan terbukti,selama kepemimipinan Mourin sedikit demi sedikit semakin berkembang.Di tambah lagi dengan wakil direktur,yaitu Rendi yang cerdas.


Bukan tanpa alasan Rendi naik jabatan dengan cepat,karena dia memang sangat berkompeten menggantikan wakil direktur yang dulu sudah pensiun juga mengikuti ayah Mourin.


Mourin satu-satunya anak dari pasangan Maria dan Sugianto.Mourin juga sangat di manjakan oleh kedua orang tuanya karena anak yang lahir dari prematur dan menunggu lama untuk mendapatkan anak.


Hingga hamilnya Maria membuat Sugianto sangat memperhatikan dan menjaga ketat istrinya.Hingga Mourin lahir dan tumbuh dengan baik sampai dewasa dia di manjakan oleh kedua orang tuanya.


Sedari kecil Mourin sekolah di sekolah elit dan tidak pernah memegang pekerjaan rumah.Ibunya saja yang mengerjakan dengan pembantunya.


Pergaulan Mourin juga bebas,tanpa di batasi.Tapi dia sendiri tidak pernah mengecewakan kedua orang tuanya.


Pergaulannya hanya diam-diam saja,tanpa tahu kedua orang tuanya.Mourin bebas bergaul dengan siapa saja,dari kalangan artis juga model.Dari pebisnis muda juga sosialita kota itu.


Sampai dia menikah juga masih sering bergaul dengan mereka tanpa tahu suaminya.


Hingga akhir-akhir ini Mourin sering pergi ke klub malam dengan Sandra sahabatnya,apa lagi di saja ada Evan yang dulu waktu kuliah Mourin dan Evan pernah pacaran,tapi hanya satu tahun saja.Karena Evan harus pergi keluar negeri meneruskan kulianya di sana.


_


Hari ini hari libur di mana Rendi lebih santai di rumah.Rencananya dia akan mengajak Mourin untuk berlibur di pantai,namun itu gagal karena Mourin sepertinya tidak enak badan.


"Sayang,ayo kita jalan-jalan ke pantai."kata Rendi.


"Ngga sayang,badanku ngga enak."kata Mourin,dia menggigil.


Rendi memperhatikan Mourin yang terlihat sedang kedinginan.


"Badan kamu panas,sayang.Kalau begitu ayo kita pergi ke dokter."kata Rendi lagi.


Dia memegang kening Mourin dan dia merasakan hangat di tangannya.


"Aku mungkin capek aja."ucap Mourin.


"Tetap saja kamu sakit,harus di obati.Kita ke rumah sakit aja ya."kata Rendi.


"Ngga mau,aku cuma capek aja kok."Mourin tetap kekeh tidak mau ke rumah sakit.


"Ya udah,aku panggilkan dokter aja ke rumah.Kamu harus mau di periksa."ucap Rendi dengan tegas.


Mau tidak mau Mourin harus di periksa.Dia merasa pusing dan juga perutnya mual.Dia merasa ada perubahan dalam dirinya,tapi dia tidak mau menebak.


Dia ingat waktu bulan lalu ketika bertemu Evan di hotel dan tidur bersama di waktu jam kerja dia sedang masa subur dan lupa membawa kontrasepsi.Dia takut hamil,namun dia juga tidak tahu harus berbuat apa.


Apakah harus di gugurkan?


Tidak mungkin,Rendi nanti akan tahu.Tapi mungkin saja dia menerimanya hamil.Dua hari setelah tidur dengan Evan,malamnya Rendi meminta jatahnya.


"Sayang,sepuluh menit lagi dokter datang."kata Rendi setelah menelepon dokter pribadinya.


Dan benar saja,dokter datang memeriksan Mourin.Dia mengeluarkan stetoskop dan memeriksa ke dada Mourin.Mengecek denyut nadi di pergelangan tangan,lama dia mengecek.


Lalu dokter memberikan resep vitamin dan parasetamol.

__ADS_1


"Ini resepnya pak Rendi,tolong di minum pagi dan sore hari.Dan coba pak Rendi beli alat tes kehamilan di apotik,kemungkinan nyonya Mourin hamil."kata dokter.


"Apa dokter?"tanya Rendi dan Mourin bersamaan.


Dokter yang mendengar itu,merasa kaget dan melongo.


"Iya,mungkin nyonya Mourin hamil.Beli tes kehamilan di apotik,setelah itu langsung gunakan ya pak,tidak harus menunggu besok pagi."kata dokter lagi.


Rendi sangat bahagia,sedangkan Mourin terdiam.Dia terpaku,apa yang dia khawatirkan terjadi.Mungkinkah janin di dalam perutnya itu anak Evan atau Rendi.


Dia ingat betul,waktu melakukannya bersama Evan tidak memakai kontrasepsi.Tapi dengan Rendi dia memakainya.Mungkinkah itu bisa terjadi?


Setelah mengantarkan dokter pulang,Rendi berpamitan untuk membeli tes kehamilan di apotik.


Kini Mourin jadi bingung,dia terus memikirkan apa yang harus di lakukan.Dia berguling-guling di kasurnya dengan kebingungannya.


Akhirnya dia mengambil ponselnya lalu menghubungi Sandra.


"Halo Rin,ada apa?"tanya Sandra.


"Gue lagi bingung nih."kata Mourin.


"Bingung kenapa?Perasaan lo selalu hapoy aja deh."ucap Sandra.


"Ck,gue kayanya hamil deh."


"Kan lo punya suami,wajar aja kalo ko hamil."


"Gue bingung kalo emang gue hamil,ini anak siapa."


"Gue sama Evan aja,waktu itu gue lagi masa subur dan gue ngga pakai kontrasepsi.Tiga haru kemudian aku main sama Rendi.Terus gue bingun janin ini anak siapa?"tanya Mourin sambil melirik ke arah pintu kamar,takut Rendi datang.


"Ya udah sih,itu pasti anak Rendi.Lo ngga usah khawatir,bawa santai aja."kata Sandra lagi.


"Ya gue takut aja,ini anak Evan."


"Lo nyesel kalau memang itu anak Evan?"


"Ya ngga juga,takutnya Rendi tahu."


"Untuk saat ini lo santai aja dulu.Nanti kalau bayi lo lahir bisa lo tes DNA,memastikan itu anak Evan atau Rendi."


Mourin diam,ada benarnya juga kata Sandra.Lebih baik dia diam saja dulu,menikmati masa hamil.


"Baiklah,gue turutin saran lo."


"Nah,gitu dong.Santai aja,jangan tegang nyonya Rendi."


"Ish,ya udah gue tutup dulu.Sebentar lagi juga Rendi pulang.By."


"By."


Mourin menutup sambungan teleponnya,dia letakkan ponselnya di atas nakas.Dan tak berapa lama ,Rendi datang membawa apa yang tadi dia beli di apotik.


Dia menghampiri Mourin yang sedang berbaring si ranjangnya.

__ADS_1


"Sayang,coba kamu tes alat ini.Aku ingin melihatknya,apa benar kata dokter kamu hamil."katq Rendi tidak sabar.


"Sekarang?"tanya Mourin ragu.


"Iya,ayo cepat."


Lalu Mourin bangkit dari tidurnya dan dia mengambil alat tespek dari tangan Rendi.Dia lalu menuju kamar mandi,mencoba mengetesnya.Dia menunggu beberapa menit setelah gagang tespek itu dia celupkan ke dalam urinenya sendiri.


Tak berapa lama,dia ambil dan di perhatika.Dia pun terkejut,dia benar-benar hamil.Dia menutup mulutnya yang menganga lebar,tak percaya akan hasil tespek itu.


Nafasnya sesak ketika dia melihat dua garis itu,bingung seketika.Namun dia berpikir apa yang di ucapkan Sandra di telepon.


Kemudian dia keluar dari kamar mandi dan menatap Rendi lekat.


"Bagaimana sayang hasilnya?"tanya Rendi antusias dan tidak sabar.


Mourin menyerahkan hasil tesnya pada Rendi,dia mengambilnya dan melihat dengan seksama.Rendi tersenyum melihat dua garis itu lalu memeluk Mourin karena bahagia.


"Terima kasih sayang,kamu akhirnya hamil.Sudah lama aku menantikan ini."kata Rendi memeluk erat istrinya.


Sedangkan Mourin sendiri,masih diam.Antara bahagia atau petaka.Dia kemudian membalas pelukan Rendi.


"Besok kita periksan ke dokter."kata Rendi.


_


Rendi bangun lebih pagi,dia sengaja menyiaokan sarapan untuk Mourin agar istrinya itu tidak sibik di dapur.Dia akan memanjakan istrinya karena sedang hamil anaknya.


Walau hanya roti panggang,namun dia senang melakukannya.


Mourin datang dengan berpakaian rapi,dia tetao bekerja walau sedang hamil.Namun Rendi ingin melarangnya.


"Kamu hari ini jangan masuk kerja ya sayang."pinta Rendi.


"Lho,kenapa?"


"Kamu kan masih lemah,kandunganmu masih kecil."kata Rendi beralasan.


"Justru karena masih kecil aku akan tetap bekerja.Nanti kalau aku sudah besar perutnya aku cuti hamil."kata Mourin,dia tidak suka Rendi melarangnya bekerja.


"Iya,tapi kamu kan butuh istirahat cukup.Orang hamil itu gampang lelah,jadi harus banyak istirahat."ucap Rendi lagi.


"Udah deh,jangan larang-larang aku masuk kerja.Ngga enak tahu di rumah sendirian tampa melakukan apa-apa."kini Mourin makin emosi.


Rendi diam,dia tidak bisa mencegah Mourin untuk tidak bekerja.


"Ya udah,kamu boleh bekerja tapi nanti akalu merasa capek istirahat aja.Biar pekerjaan kamu aku yang kerjakan."kata Rendi akhirnya mengalah.


Mourin hanya mengangguk saja,dia lalu duduk dan sarapan roti panggang yang di buat Rendi untuknya.


_


_


_

__ADS_1


❤❤❤❤❤


__ADS_2