IKHLAS MELEPASMU

IKHLAS MELEPASMU
121. Cerita Anita


__ADS_3

Sejak pulang dari rumah ibu Rima, Anita sangat antusias untuk bertemu dengan ayahnya nanti. Wajahnya smuringah dan selalu terlihat bahagia.


Entah apa yang ada di benak Anita, sedikitpun hatinya tidak merasa marah dan kesal pada ayahnya yang dulu meninggalkannya.


Dia hanya berpikir, ingin berdamai dengan hatinya. Berdamai dengan keadaan yang dia alami. Berdamai dengan masa lalu ibunya juga ayahnya. Memang setiap orang tidak mudah memaafkan, tetapi dia hanya ingin menjalani hidup penuh dengan keringanan. Tanpa memandang sesuatu yang dulu buruk akan selalu buruk.


Dia juga percaya, setiap orang mempunyai alasan masing-masing untuk melakukan apa yang jadi masa lalu yang buruk.


Tidak ada salahnya memaafkan orang lain, terutama ayahnya. Bukankan ayah itu seseorang yang tidak bisa di buang darahnya? Meskipun dia telah berbuat salah.


Anita orang baik, dia berpikir pasti ayahnya juga baik. Hanya watak yang tidak bisa di seberangi orang lain. Perangai dan tutur kata bisa di perbaiki, namun watak yang sudah di berikan Tuhan tidal bisa di rubah.


Entahlah, orang baik memang tidak selamanya baik, namun orang baik berbuat jelek itu karena ada sebab yang membuatnya berbuat tidak baik.


Arga melihat istrinya begitu ceria tampak heran, hari ini dia memang belum bertanya hasil investigasi tentang ibu mertuanya pada istrinya karena anak-anak berebut bicara dan bercanda pada Anita.


Jadi dia mengalah, mungkin malam ini seperti biasa di tempat peraduan akan dia tanyakan.


"Papa, adek ngantuk." ucap Kevin pada Arga.


"Oh adek ngantuk?" tanya Arga menggendong Kevin.


"Iya, adek pengen tidur sama papa." ucap Kevin lagi.


"Ya udah, ayo kita tidur sayang."


Kevin menyandarkan kepalanya di bahu Arga, dia dalam sekejap tertidur. Anita melihat itu jadi heran.


"Kevin kenapa Ga?" tanya Anita.


"Ngantuk katanya, pengen tidur sama papanya." jawab Arga.


"Oh, gitu. Tumben banget."


"Aku ke kamar Kevin dulu sayang, nanti aku turun lagi." kata Arga.


"Iya."


Arga naik tangga, dia menuju kamar Kevin yang berada di sebelahnya. Dengan membuka pintu pelan, dia masuk dan langsung menuju ranjang kecil milik Kevin. Setelah di tidurkan dengan pelan, Arga menemani sebentar sambil menepuk pelan punggung Kevin.


Lima menit setelah di rasa cukup, Arga keluar lagi dari kamar Kevin. Dia tidak langsung turun dari kamar Kevin, tapi masuk ke dalam kamarnya mengambil ponselnya yang berdering sangat kencang.


"Halo."


_


Malam hari setelah anak-anaknya tidur, Anita masuk ke kamarnya, dia melihat suaminya sedang berhadapan dengan laptop. Biasanya Arga tidak pernah membawa pekerjaan kantornya le rumah.

__ADS_1


Mungkin terlalu banyak kerjaan jadi, di kerjakan di rumah. Anita mendekat, dia memegang pundak suaminya dan dengan pelan memijatnya.


"Aku pijat pundaknya ya, Ga." kata Anita.


"Boleh sayang, enak rasanya kalau di pijat sama kamu." ucap Arga sambil mengendurkan ototnya agar bisa di pijat dengan mudah.


Anita diam, tangannya sudah beraksi memijat bagian tertentu yang di rasa melelahkan.


"Euh, enak banget sayang pijatan kamu. Kalau tiap hari aku tidur nyenyak deh kayaknya." ucap Arga.


"Kan tiap hari kamu tidurnya nyenyak, bangun pagi juga sering kesiangan kalau ngga di bangunin sama aku." ucap Anita.


"Oh, iya ya. Kan aku makan kamu terus tiap malam. Jadi nyenyak terus tidurnya, hehehe.." ucap Arga mendongak ke arah istrinya.


Anita mencibir, dia masih melanjutkan pijatannya.


"Sayang, bagaimana dengan pencarianmu tentang ayah? Apakah ada titik terang?" tanya Arga masih belum mengalihkan pandangannya dari laptop.


"Sudah, tadi siang bude Rima cerita banyak. Ternyata ayah memang masih hidup." jawab Anita.


Arga menoleh, dia menutup laptopnya dan menatap istrinya. Tidak ada kesedihan di wajah istrinya, yang ada hanya raut wajah senang dan bahagia. Justru Anita malah tersenyum manis pada suaminya itu.


"Terus, apa yang akan kamu lakukan?" tanya Arga.


"Aku akan menemuinya, aku ingin bertemu ayah. Selama ini sudah bertahun-tahun tidak pernah ketemu ayah. Ayah masih hidup, Ga." ucap Anita dengan wajah cerianya.


"Apa kamu memaafkan ayahmu, sayang?" tanya Arga.


"Ya, aku yakin memaafkan perbuatan ayah. Ternyata yang pergi itu ibu membawaku jauh dari ayah, bukan ayah yang pergi tanpa kembali lagi. Ibu tidak terima ayah menikah lagi, jadi ibu memilih pergi dengan membawaku jauh dari ayah. Dan perempuan yang kemarin datang juga memang benar mantan istri ayah." ucap Anita.


"Bagaimana ceritanya sehingga ibu dan ayah bisa berpisah sangat lama? Bukankah ayah juga bersalah telah menikah lagi tanpa sepengetahuan ibu?"


"Iya, ayah memang bersalah telah menikah lagi tanpa sepengetahuan ibu. Jika ibu Rasti tidak menemui ibu, maka ayah akan terus menyembunyikan pernikahan keduanya dengan ibu Rasti. Namun kita tidak tahu alasan ayah menikah lagi dengan bu Rasti itu."


"Oh, jadi ayah menikah lagi waktu itu dan ibu pergi meninggalkan ayah membawamu pergi."


"Iya, bahkan ayah pernah menemui ibu tanpa aku tahu. Tapi ibu mengancam bunuh diri ayah jika ayah nekad datang dan menemuiku. Jadi ayah mengalah, hingga bertahun-tahun lamanya. Sebenarnya ayah dan ibu masih saling mencintai, entah karena keegoisan keduanya jadi tidak bisa bersama lagi. Aku sedih mendengar cerita bude Rima tentang ayah dan ibu dulu." ucap Anita lirih.


"Terus, sekarang ayah di mana?"


"Ayah sekarang lumpuh dan sedang berobat ke kota. Bude Rima tidak tahu berobat di mana, tapi katanya dua hari lagi ayah pulang berobat dari kota." ucap Anita.


"Apa kamu mau menemuinya?" tanya Arga.


"Tentu saja, apakah kamu keberatan aku menemui ayahku?"


"Tidak sayang, aku salut sama kamu. Tidak ada amarah dan dendam di hatimu pada ayahmu. Aku jadi semakin cinta sama kamu." ucap Arga.

__ADS_1


Dia memeluk istrinya dengan erat. Anita tersenyum dan membalas pelukan suaminya.


"Membenci dan dendam itu membuat hati lelah, Ga. Aku hanya ingin hidup tenang denganmu dan anak-anakku. Semua kesalahan ayah dan ibuku biar Tuhan yang membalasnya, kita tidak bisa mengadili beliau. Aku juga sudah sangat kenyang dengan rasa sakit hati dan kecewa, makanya aku ngga mau kecewa dan sakit hati lagi dengan melapangkan hati menerima semua persoalan hidup. Jika seamdainya kamu pun akan menyakiti hatiku lagi, aku tidak akan memintamu untuk menyudahi kamu untuk menyakitiku. Itu tergantung pilihanmu, apakah akan terus menyakitiku atau akan terus menyayangiku. Bagiku sama saja, hanya beda sikap yang harus aku lakukan." ucap Anita.


"Tidak sayang, aku tidak akan menyakitimu lagi. Kamu tahu aku sangat mencintaimu, aku juga akan sakit jika kamu merasa sakit sayang. Jangan katakan lagi tentang menyakiti, bagiku itu sangat sakit karena aku akan mengingat waktu itu mengacuhkanmu. Maafkan aku, sayang." ucap Arga lirih.


Dia jadi sangat bersalah jika sudah menyangkut rasa sakit hati yang Anita alami. Dia yang semakin sakit hatinya jika ingat itu.


"Maaf, Ga. Bukan aku mengingatkan waktu itu, itu jika kamu melakukannya lagi. Bagiku sudah tidak akan peduli, itu terserah kamu. Tapi aku percaya kamu tidak akan seperti itu lagi. Aku hanya ingin hidup damai tanpa ada dendam dan amarah." ucap Anita.


"Iya aku tahu, makanya aku sangat menyayangimu dan mencintaimu. Aku juga tidak akan bisa hidup tanpa kamu sayang. Dulu mengacuhkanmu begitu lama rasanya sangat tersiksa, sakit rasanya. Tapi mungkin rasa egoisku saja yang membuat aku bertahan mengacuhkanmu. Maaf ya, cup." ucap Arga.


Anita tersenyum, dia membalas kecupan suaminya. Lama.


"Apa kamu mau bertemu dengan ayahku?"


"Tentu sayang, dia ayah kandungmu. Kamu beruntung ayah masih hidup dan bisa di temui."


"Apa ayahmu juga sudah meninggal?"


"Ya, beliau meninggal saat aku SMP."


"Maaf ya, aku tidak terlalu tahu ketika kita dekat waktu SMA dulu."


"Ngga apa-apa sayang, aku laki-laki tidak boleh cengeng dan manja." ucap Arga, dia semakin mengeratkan pelukannya.


"Tapi kamu sekarang lebih manja dari pada Kevin, Ga." cibir Anita.


"Karena kamu harus selalu memanjakanku di kamar" ucap Arga.


Anita melepas pelukannya, dia jadi hafal maksud suaminya itu.


"Eh, mau kemana?"


"Mau ambil minum, aku haus."


"Jangan bilang kamu mau menghindar dari seranganku sayang."


"Hadeeh, apa bedanya sekarang sama nanti. Tetap aja kamu akan menyerangku dan memakanku. Udah ah, aku haus mau ambil minum dulu." ucap Anita.


Dia lalu beranjak pergi meninggalkan suaminya yang masih tersenyum menatapnya. Arga pun melanjutkan melihat laptopnya, memastikan pekerjaannya selesai karena keinginan memakan istrinya pun mulai bangkit seinring obrolan terakhirnya tadi.


_


_


_

__ADS_1


❤❤❤❤❤❤❤❤


__ADS_2