
Acara resepsi pernikahan telah usai, kini semuanya bisa bergembira meski lelah. Namun begitu, semua anak-anak Arga dan Anita bisa menginap di di hotel yang sudah di sewa.
Seperti halnya pengantin baru, kini Arga dan Anita sudah ada di dalam kamar hotel yang di hias layaknya kamar pengantin. Keduanya sedang berganti pakaian secara bergantian.
Karena pesta baru saja usai sore hari, kini keduajya hanya istirahat di kamar mereka dan saling mengobrol.
Anita duduk di tengah ranjang, dan Arga menyusul duduk di samping Anita. Rasa lelah dan letih tidak mereka rasakan. Yang ada kebahagiaan, keduanya saling berpelukan di tengah ranjang mereka.
Bercerita tentang masa depan yang akan mereka hadapi dengan anak-anak dan ibu mereka.
Arga mencium kening Anita lalu pipinya kemudian bibirnya.
"Emm, Ga. Apa kita nanti langsung tinggal di rumah itu?" tanya Anita.
"Ya, besok semua sudah harus pindah ke rumah baru kita." jawab Arga.
"Rumah yang di tempati dulu bagaimana?" tanya Anita lagi.
"Terserah kamu sayang. Apakah rumah yang dulu itu punya ibu atau punya kamu?"
Arga kini mengendus leher Anita, menciumnya daj menggigitnya pelan. Anita mendesah, nafasnya kini tidak beraturan. Arga suka suara ******* Anita, dia tersenyum.
Kemudian tangannya memegang pelipis sebelah kirinya dan mengarahkan wajah Anita menghadapnya. Tautan bibir keduanya semakin dalam, Arga terus memperdalam ciumannya hingga sampai tangan Anita meremas kepala Arga dengan kuat.
Kini bibir Arga turun ke bawah leher, dia mencium dan menggigit lagi. Memberikan tanda merah di sana. Tangannya turun ke bawah di bagian dua bukit kembar Anita, dia meremasnya pelan membuat Anita kembali melenguh panjang.
"Eeuh, Ga."
"Emm?"
Tanpa melepas bibirnya di bagian tulang belikatnya. Mulai turun ke bawah, tangannya membuka kancing piama yang di pakai Anita. Anita pembali melenguh ketika bibirnya sudah turun ke bukit kembarnya, di sana bibir Arga bermain-main.
Dan Anita kembali mendesah, dia benar-benar dalam puncak gaiarahnya. Namun sayangnya tidak bisa mereka lakukan.
"Arga." panggil Anita tertahan.
"Ada apa?" tanya Arga lembut, menatap sayu mata Anita yang menahan hasratnya.
"Kita tidak bisa melakukan itu hari ini." ucap Anita kecewa.
"Kenapa?" heran Arga dengan kalimat Anita, dia sudah tidak sabar melakukan hubungan suami istri dengan Anita.
Namun ada senyum lucu di bibirnya jika tahu Arga akan kecewa. Anita diam dan mengecup bibir Arga cepat. Belum menjawab pertanyaan Arga.
"Kenapa sayang?" tanya Arga lagi membelai pipi Anita.
"Aku sedang datang bulanan." ucap Anita masih dengan senyum senangnya.
"Apa?!"
"Ya, kamu tidak boleh menyentuhku sekarang?"
"Sayang? Yang benar saja, ini kan hari pertama kita. Kenapa kamu menggagalkan niatku memakanmu?" terlihat nada kecewa Arga.
Tadi dia bersemangat sekali sampai menikmati benar ******* Anita tadi. Tapi nyatanya harus terhenti karena tamu bulanan Anita.
Arga duduk lagi seperti semula, Anita melihat wajah kecewa suaminya itu.
"Sabar ya, aku ngga lama kalau datang bulan. Paling sekitar lima hari atau enam hari." ucap Anita.
Arga memghela nafas kasar, lalu menatap Anita. Masih dengan tatapan memelas, tapi kini dia hanya memeluk Anita dengan erat. Dia menarik tubuh Anita hingga kepala Anita jatuh di dada Arga.
"Apa kamu bahagia?" tanya Arga, dia mengecup puncak kepala Anita.
__ADS_1
"Ya, aku bahagia sekali." jawab Anita.
Kini keduanya hanya terlibat obrolan mengenai anak dan masa depan mereka saja. Tidak melakukan ritual malam pertama sebagai suami istri.
_
Karena Anita sedang datang bulan, Arga memotong masa menginap di hotel. Rencananya Arga memesan kamar hotel untuk dua hari, tapi di batalkan seharinya.
Dan mereka sekarang sedang akan berkunjung ke rumah baru yang dulu di tunjukkan Arga pada Anita.
"Anak-anak ikut Ga?" tanya Anita menyiapkan baju suaminya itu setelah Arga selesai mandi.
"Iya, ibu dan mama juga. Mereka kan belum tahu kalau aku beli rumah baru, kecuali mama sih." jawab Arga.
Dia mendekat pada Anita, meminta bajunya di rapikan kancingnya. Anita melakukan apa yang di minta Arga, dia malah menarik pinggang Anita untuk lebih dekat dan mencium pipinya berulang-ulang.
"Ga, nanti ngga selesai-selesai ini kancing bajunya." ucap Anita, wajahnya di miringkan untuk memghindar serangan Arga.
Arga tersenyum, dia kembali tegak. Tapi tangannya masih menempel di pinggang Anita, dia semakin menatap Anita semakin ingin menciumnya. Rasa gemas dan cinta yang membuncah dia salurkan dengan menggoda istrinya dan menjahilinya.
Dia kembali mencium lagi, tapi di leher Anita sampai Anita kaget karena gigitan kecil Arga membekas.
"Kamu tuh ya, sekarang berubah jadi drakula." ucap Anita kesal.
"Aku suka bau tubuh kamu, sedap pengen aku cium dan gigit terus." ucap Arga semakin aneh menurut Anita.
"Sudah ah, makin mesum aja pikirannya."
"Karena kamu belum aku makan sayang." senyum Arga mengembang.
Membuat Anita jadi ngeri dengan ucapan Arga. Dia lalu membuka pintu karena sejak tadi pintu kamarnya di ketuk dari luar.
"Maaf mengganggu, apakah sarapannya di bawa ke kamar atau di bawah nyonya?" tanya pelayan hotel itu.
"Baik ibu."
Lalu Anita menutup pintunya lagi, dia mengambil sepatu flatnya dan memakainya.
"Ayo kita ke bawah untuk sarapan." ajak Anita pada Arga.
"Ayo, kamu sudah kasih tahu mama dan ibu untuk sarapan di bawah?"
"Belum, nanti kita ke kamar mereka aja." ucap Anita.
"Ya udah, ayo kita sarapan. Aku sudah lapar sejak tadi."
Keduanya lalu keluar dan menuju kamar ibunya dengan anak-anaknya. Mengajak mereka untuk sarapan bersama di bawah.
_
Siang ini semua keluarga Arga dan Anita pergi mengunjungi rumah baru mereka, di perjalanan ketiga anak kecil itu sangat ribut dan antusias sekali mau mengunjungi rumah baru mereka.
"Pa, nanti kamar Celine baren sama kakak Chila ya?" tanya Celine.
"Ngga sayang, kakak Chila punya kamar sendiri, abang Chiko juga. Celine punya kamar sendiri." jaeab Arga.
"Yaah, ngga asyik dong pa." ucap Celine kecewa.
"Celine boleh kok tidur dengan kakak Chila nantinya." ucap Anita menimpali.
"Benar ma?" tanya Celine.
"Iya, tanya aja sama kakak Chila."
__ADS_1
"Kak Chila, Celine boleh ya tidur dengan kakak Chila?" tanya Celine dengan antusias.
"Iya boleh. Kan nanti kita main bareng." jawab Chila.
"Asyiik, nanti kita main bareng ya kak?"
"Iya."
"Abang Iko ngga di ajak?" ucapan Chiko membuat orang di dalam mobil tertawa karena lucu dengan mimik wajahnya.
"Bang Iko juga ikut main kok, sayang." ucap Arga.
Terbit senyum Chiko, lalu ketika anak kecil itu kembali berceloteh dan bernyanyi.
Hingga mereka tidak sadar, mobil Arga memasuki rumah besar bercat putih itu. Halaman luas dan ada beberapa mainan ayunan dan prosotan di sana. Baik Chila, Chiko dan Celine sangat antusias dengan rumah baru mereka.
Kini semua sudah turun dari mobil, ibu Yuni dan ibu Ema yang sejak di mobil hanya diam. Merasa takjub dengan rumah besar milik Arga itu. Walaupun ibu Ema tahu anaknya membangun rumah untuk keluarga barunya, tapi dia tidak pernah melihatnya.
"Ga, besar sekali rumahnya?" tanya ibu Ema.
"Iya ma, nanti kan anak-anaknya banyak. Semua sudah ada kamarnya masing-masing. Mama dan ibu ada di lantai bawah, anak-anak dan kamar aku ada di atas." jawab Arga.
"Kamu bisa membangun rumah sebesar ini, mama bangga sama kamu." ucap ibu Ema.
"Rumah ini aku buat untuk orang yang sangat aku cintai ma." ucap Arga, dia melirik istrinya yang tersenyum malu.
Cinta Arga begitu besar pada Anita, dia benar-benar mewujudkan mimpinya mempersembahkan rasa cintanya pada Anita dengan membangun rumah megah dan mewah.
Tidak ada yang tahu, Arga punya usaha lain selain jadi pengacara. Maka dari itu, membuat rumah mewah dan megah itu dia hasilkan dari usahanya di beberapa bidang. Ibu Ema sendiri tidak tahu kalau Arga punya perusahaan kecil-kecilan dan sekarang sedang berkembang. Hanya saja dia lebih fokus di dunia advokat.
Kini mereka masuk ke dalam rumah baru mereka, ketiga anaknya malah main di halaman depan.
Sedangkan Anita masih diam, dia menatap Arga dengan rasa harunya.
"Ga, terima kasih ya. Kamu mencintai aku begitu besar, meski aku bukan yang pertama." ucap Anita.
Arga menarik pinggang Anita, dia lalu mencium kening Anita dan menatapnya lembut.
"Sayang, sudah aku bilang tadi. Semua aku persembahkan untukmu, untuk orang yang sangat aku cintai. Kamu nyawaku, aku tidak akan bisa hidup dengan tenang jika kamu kesusahan dan kesedihan. Aku mencintaimu Anita, istriku. Cup." ungkapan hati Arga benar-benar membuat Anita terharu.
Dia kini memeluk Arga dengan erat, rasa bahagia dia ungkapkan dengan tangisan kecil. Membuat Arga heran.
"Kenapa menangis?" tanya Arga.
"Aku bahagia, Ga. Aku benar-benar bahagia." jawab Anita.
Dan kini Arga kembali memeluk Anita, seakan tidak mau melepaskan pelukannya.
"Tapi aku kecewa." ucap Arga.
Anita mendongak, mengerutkan dahinya.
"Kecewa kenapa?" tanya Anita heran.
"Aku tidak bisa malam pertama denganmu." ucap Arga dengan gaya lucunya.
Anita tersenyum, pipinya merona. Dia lalu melepas pelukan Arga dan melangkah masuk ke dalam rumah meninggalkan Arga yang tertawa senang karena telah menggoda istrinya.
_
_
_
__ADS_1
❤❤❤❤❤❤