IKHLAS MELEPASMU

IKHLAS MELEPASMU
50. Kesalahan Fatal Rendi


__ADS_3

Anita dan kedua anaknya sampai di mall yang berada di ujung jalan yang pernah dia kunjungi dengan Noni. Yang dulu Noni melihat Rendi bersama dengan Mourin ketika itu berselingkuh darinya.


Chiko berlarian di susul Chila yang senang sekali jalan-jalan di mall. Anita tersenyum melihat kedua buah hatinya ceria dan antusias pergi ke mall. Melihat keduanya senang dan ceria membuat bahagia hatinya.


"Ma, Iko mau main ding dong." kata Chiko.


"Kakak juga ma, pengen main ding dong." ucap Chila menimpali.


"Iya, ayo kita ke time zone. Lets go" teriak Anita, di sahuti oleh kedua anaknya dengan antusias.


"Yeeeaaa, lets go!"


Senyum ceria keduanya mengembang sepanjang jalan menuju time zone.


Mata Anita berkeliling, siapa tahu ada outlete menjual pakaian anak-anak. Dia akan membelinya beberapa stel untuk kedua anaknya.


"Kakak, adek mama ke toko baju dulu di pojok sana ya. Mau beli baju buat kalian. Nanti jangan kemana-mana ya." kata Anita memberi pesan pada kedua anaknya.


"Ya ma."


Setelah memastikan kedua anaknya bisa di percaya tidak kemana-mana hanya di tempat permainan. Anita langsung pergi ke toko baju untuk kedua anaknya.


Anita asyik memilih beberapa baju yang menurutnya menarik dan bagus untuk Chiko, dia di senggol dari belakang oleh wanita yang terlihat seperti seorang wanita karir sedang memilih baju juga.


Anita menoleh, begitu pun wanita itu. Mereka saling menatap, dan tatapan keterkejutan dari keduanya. Saling terpaku, namun wanita itu cepat sadar dan tersenyum sinis pada Anita.


"Oh, mantan Rendi ya." kata wanita itu yang ternyata dia adalah Mourin..


Anita diam, masih menatap datar pada Mourin. Kemudian dia pindah tempat, menghindari Mourin agar tidak beradu mulut. Dia malas bicara dengan Mourin.


Tapi ternyata Mourin mengikuti kemana Anita pergi. Dia ingin tahu, apakah Rendi kembali pada mantan istrinya.


"Emm, apa kabar dengan Rendi?" tanya Mourin.


Anita menoleh, dia diam saja. Lalu beralih kembali mencari baju yang pas untuk Chiko.


"Ternyata dia kembali lagi sama mantan istrinya ya. Tahu kah kamu, Rendi itu sebenarnya masih mencintaiku. Dia bilang ingin kembali padaku." kata Mourin lagi.


Anita masih diam, dia terus saja memilih baju. Setelah mendapatkan baju yang pas untuk Chiko, dia menuju kasir.


Sedangkan Mourin sudah di hampiri oleh laki-laki, ya dia Evan suaminya sekarang. Anita menoleh ke arah Mourin yang di hampiri oleh laki-laki menggandeng anak perempuan kecil. Anita memperhatikan interalsi Mourin dan laki-laki itu.


Apa laki-laki itu suaminya? Mereka berinteraksi seperti suami istri. Pikir Anita.


"Ibu, apa masih ada yang di beli?" tanya penjaga kasir itu pada Anita.


"Oh, tidak mbak ini saja."


Kemudian penjaga kasir menghitung baju yang di pilih Anita.


"Semuanya empat ratus tujuh puluh lima ribu rupiah bu." kata penjaga kasir tersebut.


Anita mengeluarkan ATMnya untuk membayar tagihan tersebut, setelah selesai penjaga itu memberikan kembali ATM yang di berikan Anita.


Dia memasukkan lagi ATM yang tadi untuk membayar baju yang dia beli. Lalu dia pergi dari kasir dan menuju tempat di mana kedua anaknya bermain di timezone.

__ADS_1


_


Sore Anita dan kedua anaknya sudah ada di rumah lagi. Chila dan Chiko sedang bermain game di ponselnya yang dulu di berikan oleh Rendi. Sambil menunggu Rendi pulang.


Biasanya dia pulang menjelang malam jam enam sore. Dan sembari menunggu, ketiganya ada di teras rumah menikmati sore bersama sambil makan cemilan yang tadi di beli di mall.


"Kak kok di ponsel adek ngga ada permainan ular sih kak?" kata Chiko pada Chila.


"Sini kakak cari." kata Chila.


Dia mengambil ponsel Chiko dan mencarikan apa yang dia inginkan.


Waktu sudah menunjukkan pukul enam sore. Anita masuk ke dalam rumah, dia akan merapikan baju yang akan dia bawa pulang. Dia sebenarnya tidak enak harus meninggalkan ibunya terlalu lama.


Sekarang ini ibu Yuni sering sakit-sakitan karena sudah tua. Anita harus lebih menjaga ibunya, karena dia tidak mau menyesal nantinya.


Pukul sembilan malam, Rendi belum pulang. Sedangkan Anita masih belum tidur karena dia menunggu Rendi untuk bicara. Anak-anaknya sudah tidur sejak jam delapan malam. Anita pergi ke dapur untuk membuat mie instan, karena dia merasa lapar.


Sambil menunggu mie instan matang, Anita memeriksa ponselnya. Lagi-lagi ada pesan singkat dari Arga masuk di ponselnya. Anita membacanya.


"Aku menunggumu pulang."


Hanya singkat pesan dari Arga, dia membalasnya. Namun masih di perhatikan sejak tadi, hingga Rendi pulang dan masuk ke dalam ruang kerja Anita tidak tahu.


Mie instan sudah matang, Anita masukkan ke dalam mangkuk dan di letakkannya di meja makan. Dia lalu mengambil air putih untuk teman makan mie instan.


Dari ruang kerja Rendi, dia melihat Anita ada di dapur sedang makan. Belum berani dia menghampiri Anita, masih menatapnya dari jauh.


Anita selesai makan, dia kemudian menuju ruang keluarga. Menonton TV sebentar sebelum dia akhirnya tidur jika Rendi belum datang. Besok dia akan pulang, semua barang sudah di siapkan.


Sedangkan Rendi menuju dapur, dia sendiri juga merasa lapar. Dia ingin minta bantuan Anita untuk membuatkan mie instan. Tapi matanya melihat ponsel Anita tergeletak di meja makan, ragu dia mengambil untuk di serahkan pada Anita. Namun akhirnya dia ambil.


Tapi begitu ponsel di tangannya, bunyi notif pesan singkat di ponsel Anita. Rendi memperhatikan, dia penasaran pesan dari siapa malam begini Anita dapat pesan singkat.


Rendi melihat Anita di ruang TV, lalu dengan cepat membuka pesan itu dari siapa.


Aplikasi pesan terbuka, di sana tertera nama Arga yang mengiriminya pesan. Rendi membacanya.


' Aku kangen sama kamu.'


Singkat pesan singkat dari Arga, namun mampu membangkitkan emosi Rendi. Dadanya memburu, dia menatap pesan itu bergantian dengan Anita di depan TV. Dia jadi ingat ketika Arga mencium Anita di mobil. Kembali dadanya bergemuruh cemburu.


Tanpa menunggu, dia bergegas menghampiri Anita yang sedang menertawakan tontonan lucu di televisi. Rendi sejenak terdiam melihat Anita.


Anita menoleh ke arah Rendi, setelah menyadari ada seseorang berdiri di belakangnya.


"Eh, mas Rendi sudah pulang." sapa Anita.


Rendi masih diam, tapi tatapan tajamnya menusuk ke arah Anita. Anita jadi heran, kenapa Rendi?


"Mas Rendi kenapa?" kembali Anita bertanya.


"Kamu sudah berniat untuk menikah dengan temanmu itu?" tanya Rendi sinis.


"Apa maksudmu?"

__ADS_1


"Heh! Berlaga bodoh. Kamu malah sering berbalas pesan dengannya."


Anita mencerna ucapan Rendi, namun dia tetap belum mengerti maksud Rendi.


"Kamu ngomong apa,mas?"


Rendi sudah tidak lagi menggunakan akal sehatnya, dia mendorong Anita hingga terjerembab di kursi. Anita kaget, belum hilang kekagetannya Rendi malah memaksa ingin mencium Anita.


Kepala Anita menghindar ke samping dan di dorongnya muka Rendi dengan kuat. Dia sekuat tenaga menyelamatkan dirinya dari emosi Rendi.


Namun Rendi semakin kalap, dia malah menampar Anita dan kembali mencoba memaksa untuk memcium Anita. Anita terus berusaha sekuat tenaga agar Rendi lepas darinya, rasa perih di pipinya tidak seberapa perih di hatinya. Dia benci Rendi.


Hingga sebuah teriakan kedua bocah menyadarkan Rendi dan menyelamatkan Anita dari paksaan Rendi padanya.


"Papa!!"


"Papa!!"


Dua teriakan sekaligus secara bersamaan membuat Rendi terdiam dan menatap kedua anaknya yang berdiri di belakang kursi sofa.


Rendi mematung, dia menatap kedua anaknya. Lalu dia bangkit dari atas Anita. Anita menangis, dia lalu bangun dan menghampiri kedua anaknya untuk masuk ke dalam kamarnya. Kemudian menguncinya.


Sebelum masuk, Rendi mengejar kedua anaknya untuk meminta maaf. Tapi teriakan Chiko membuat Rendi terkulai lemas.


"Iko benci papa!"


"Adek, kakak mamafkan papa nak. Papa khilaf. Hik hik hik."


Rendi menangis di depan kamar Anita, dia tersungkur dan menundukkan kepalanya dengan menyesal. Tangisan dan panggilan Rendi pada kedua anaknya tidak di gubris sama sekali.


Di dalam kamar, Anita menghapus air matanya yang tadi menetes. Rasa benci dan sakit hati pada Rendi kian memuncak. Besok pagi-pagi sekali dia harus pergi dari rumah itu. Semua sudah dia rapikan apa yang harus di bawa.


"Ma, Iko mau pulang. Iko ngga mau ketemu papa lagi. Papa jahat sama mama. Hik hik hik." ucap Chiko.


Anita memeluk Chiko dan Chila yang sedang menangis. Ketinganya lalu saling memeluk dan menangis. Tapi Anita kini menenangkan mereka.


"Sudah ya jangan menangis, mama ngga kenapa-kenapa kok. Besok pagi-pagi sekali kita pulang naik kereta api." kata Anita menenangkan kedua anaknya yang masih menangis.


"Kakak ngga mau ketemu papa lagi ma." ucap Chila.


"Iko juga ma, adek benci papa." Chiko menimpali.


Anita terus menenangkan keduanya, hingga mereka tertidur pulas. Anita juga sudah mengantuk, dia hendak memesan tiket kereta api di ponselnya. Namun tadi dia melihat ponselnya di pegang Rendi.


Anita menghela nafas panjang, berarti besok dia harus cepat ke stasiun untuk memesan tiket langsung agar tidak ketinggalan.


Dan akhirnya, Anita mengantuk dan tertidur di samping kedua anaknya yang tertidur pulas. Mereka tertidur saling memeluk.


_


_


_


❤❤❤❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2