IKHLAS MELEPASMU

IKHLAS MELEPASMU
26. Kehidupan Di Kampung


__ADS_3

Rendi melajukan mobilnya dengan kencang,dia ingin sekali bertemu anak-anaknya. Entah kenapa dia merasa rindu pada kedua anak kembarnya,yang dulu tidak pernah merasakan rindu pada kedua bocah itu.


Sampai di depan gerbang,Rendi menghentikan mobilnya. Suasana rumah itu terasa sepi,memang jika malam hari rumah Anita selalu di matikan lampunya walau ada orang di dalamnya.


Rendi belum berani turun,hanya menatap depan rumah itu dari dalam mobil. Lalu dia menghembuskan nafas pelan,ragu dia mau turun. Takut mengganggu Anita dan anaknya istirahat.


Setelah berpikir lama,akhirnya Rendi menjalankan mobilnya lagi. Dia akan pulang ke rumah mendiang ayahnya. Ya dia akan menginap di rumah itu malam ini.


Tanpa menunggu lagi,Rendi kembali menjalankan mobilnya menuju rumah pak Hendri. Pikirannya benar-benar kacau dan hatinya sakit.


Pagi tiba,


Rendi kembali mendatangi rumah Anita sebelum berangkat ke kantor. Tapi sampai di depan rumah,keadaannya sama saja dengan tadi malam. Masih sepi. Dia penasaran lalu masuk,garasi tidak di kunci. Mungkin Anita lupa,pikir Rendi karena memang Rendi ke rumah itu jam setengah enam pagi,jadi wajar rumah masih sepi,pikirnya.


Rendi mengetuk pintu berulangkali,namun tidak ada jawaban. Dia heran,apa Anita masih tidur?


Rendi akhirnya keluar lagi dan masuk ke dalam mobilnya. Dia melihat pembantu Anita dulu melintas mengayuh sepeda menuju pasar.


Buru-buru Rendi keluar dari mobilnya dan mencegat Noni yang mengayuh sepeda dengan santai.


"Kamu Noni kan,pembantu Anita?"tanya Rendi.


Noni menatap Rendi,lalu dia turun dari sepedanya. Heran kenapa ada Rendi di sekitar rumah mantan majikannya. Apa dia akan menjual rumah itu?pikir Noni.


"Iya pak Rendi. Pak Rendi ada apa di depan rumah itu?"tanya Noni penasaran.


"Rumah Anita kok masih sepi ya,kamu tidak datang ke rumah Anita?"tanya Rendi.


"Lho,pak Rendi tidak tahu?"tanya Noni heran.


"Tidak tahu apa?"


"Ibu Anita kan sudah tidak tinggal di rumah itu lagi."


"Sejak kapan?"


"Dua tahun yang lalu pak Rendi."


"Apa?"


"Sebentar,saya mau ambil kunci rumah bu Anita yang di titipkan pada saya."


Lalu Noni pulang ke rumahnya mengambil kunci rumah Anita. Sedangkan Rendi hanya melongo saja,dia tidak menyangka Anita pergi dari rumahnya sudah selama itu. Berarti dia melupakan Anita dan anak kembarnya selama dua tahun.


Betapa bodohnya dia,meninggalkan Anita dan anak-anaknya. Dan sekarang dia pulang ke kampungnya. Lalu mantan mertuanya tahu kalau dia sudah bercerai dengan Anita.


Rendi terduduk di kap mobil dengan lesu,terlambat dia untuk datang dan menyadari keberadaan Anita dan anak-anaknya.

__ADS_1


_


Anita selama dua tahun merasa tenang hidupnya,dia mengasuh kedua anaknya dengan baik. Dia juga membuka toko sembako dari uang yang di kirim Rendi setiap bulan walau tidak sesuai kebutuhan hidup kedua anak-anaknya.


Memang tidak cukup,namun dia punya tabungan dari sisa uang belanja selama dia masih jadi istri Rendi. Cukup untuk modal membuka usaha toko sembako kecil-kecilan.


Dan selama dua tahun tinggal di kampung bersama ibunya,Anita semakin sibuk dengan tokonya. Dia kini sudah melupakan Rendi dan hidup dengan tenang.


"Bu, aku mau ke pasar dulu. Si kembar belum bangun dari tidurnya,kalau menanyakan bilang saja pergi ke pasar."kata Anita pada ibunya yang sedang menyiapkan sarapan.


"Ya sudah sana pergi,biar nanti si kembar ibu yang mandikan."kata ibu Yuni.


Lalu Anita menaiki motornya dan melajukannya menuju pasar induk yang hanya berjarak satu kilo meter dari rumahnya. Dia akan membeli stok barang untuk tokonya.


Di otaknya kini hanya ada harga-harga barang sembako dan kebutuhan lainnya. Dia menjual barang semabako dengan harga yang lumayan miring dengan yang ada di toko lainnya. Makanya Anita selalu di bicarakan oleh tetangga yang tidak suka padanya dan pemilik toko lain dengan gosip yang aneh-aneh.


Tapi Anita tidak ambil pusing dengan gosip yang tidak benar,baginya menjual murah dengan keuntungan sedikit tapi ramai pembeli itu juga menguntungkan. Dia tidak peduli di gunjingkan kalau dagangannya memelihara dedemit.


Siapa juga yang suka memelihara dedemit untuk penglaris,dia tidak percaya akan hal itu.


Anita mengendarai motornya dengan cepat karena hari sudah mulai siang. Jam delapan biasanya ibunya yang membuka toko kalau dia sedang pergi ke pasar. Dan kalau sudah buka toko,pembeli akan langsung ramai saja dan ibunya kerepotan melayani pembeli yang kadang tidak sabar untuk cepat di layani.


Belum lagi harus meladeni Chila dan Chiko yang meminta mandi dan sarapan. Anak empat tahun itu sekarang lebih aktif di banding dulu di rumahnya. Mereka sering bermain di luar sampai siang sebelum makan dan di lanjut lagi sampai sore.


Karena teman-teman di kampungnya banyak yang menghampiri untuk bermain bersama di luar. Tiga bulan lagi Chila dan Chiko masuk sekolah TK,Anita harus mengumpulkan uang banyak untuk kebutuhan tambahan.


Decak kesal Anita,dia menoleh ke arah jendela mobil expander. Melihat sekilas si pengemudi lalu meloyor pergi melajukan motornya ketika ada peluang jalan kosong kendaraan.


Sedangkan pengemudi mobil itu menatap kepergian Anita,dia terpaku dengan kepergian Anita yang buru-buru pergi. Hingga suara klakson membuyarkan keterkejutan pengemudi mobil expander tersebut dan segera melajukan mobilnya sebelum suara-suara klakson saling bersahutan kembali.


_


Anita memarkirkan motornya di pinggir pagar,muatan barang di belakang sangat banyak hari ini karena stok banyak yang sudah pada habis. Saat Anita sedang membereskan belanjaannya di etalase toko,dia mendengar anaknya Chiko menangis kencang.


Buru-buru Anita menghampiri anaknya yang menangis kencang dan mencari Anita.


"Hwuaaah,mama Iko jatuh,sakiit."teriak Chiko.


"Iya sayang,kenapa Iko jatuh?"tanya Anita menarik Chiko ke dalam pelukannya.


"Iko jatuh di dorong Caca."adu Chiko.


Anita masih membelai kepala dan punggung anaknya sambil menenangkannya.


"Sudah,masa anak laki-laki cengeng sih."kata Anita masih menenangkan Chiko.


"Mereka bilang Iko cengeng,ma.Hwuaah..."suara Chiko makin kencang.

__ADS_1


Anita semakin memeluk erat anaknya yang makin menangis kencang.


"Udah dong Iko,kan Iko anak pintar.Masa jatuh dikit aja nangis sih."


"Kaka Chila juga suka nangis kok ma."kata Chiko.


"Kaka menangis kenapa?"


"Kaka nangis karena Caca bilang Chiko dan kaka Chila ngga punya papa. Kaka Chila marah,tapi kaka langsung nangis."ucap Chiko dengan polosnya.


Anita tercekat mendengar cerita anaknya itu,ternyata Chila dan Chiko suka sekali di ledek karena tidak ada papanya. Anita makin mengeratkan pelukannya pada Chiko,hatinya miris dan hampir saja pelupuk matanya berair.


Cepat-cepat Anita menghapusnya sebelum Chiko mengetahuinya. Dia tidak sadar,di depan ibu Yuni mendengarkan percakapan antara anaknya dan cucunya. Ibu Yuni yang kini menangis,merasa kasihan pada kedua cucunya yang selalu di hina tidak punya papa.


"Ma,papa kok ngga datang-datang ya."ucap Chiko yang membuat hatinya kembali perih.


"Papa nanti juga datang sayang,Chiko makanya jadi anak yang pintar. Tidak boleh cengeng ya."kata Anita menguatkan anaknya dan juga hatinya.


Dua tahun dia bisa mengendalikan hatinya untuk tidak bersedih,tapi kesedihan itu tersingkap lagi dengan perkataan anak laki-lakinya itu.


Dia juga merasa bangga pada anak sulungnya,walau Chila sering di hina namun dia tidak pernah bercerita padanya. Chila benar-benar anak yang kuat dan pengertian.


Kini Chiko sudah tenang dan kembali bermain di luar bersama teman-temannya.


Ibu Yuni menghampiri Anita yang sedang merapikan barang belanjaannya tadi yang sempat tertunda karena Chiko menangis.


"Anita,jika kamu mau menikah lagi. Menikah saja Anita."ucap ibu Yuni yang sejak tadi berdiri di belakang Anita.


"Ibu ngomong apa,aku belum siap menikah lagi bu. Chila dan Chiko masih kecil."jawab Anita.


"Justru mereka masih kecil,mereka butuh sosok papa,Anita. Atau kamu masih mengharapkan si Rendi yang brengsek itu?"


"Dia juga mungkin sudah bahagia bu,mana mungkin aku memgharapkan mas Rendi lagi."


"Panggilanmu juga belum berubah. Ibu sakit hati sama si Rendi itu,ibu tidak akan sudi jika dia minta balik lagi sama kamu."


Setelah mengatakan seperti itu,ibu Yuni keluar dari toko. Anita diam,dia sendiri sedang menguatkan hatinya,tapi ibunya malah mengungkitnya lagi.


Isakan kecil terdengar dari mulut Anita,dia benar-benar rapuh saat ini.


_


_


_


❤❤❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2