IKHLAS MELEPASMU

IKHLAS MELEPASMU
112. Bumbu Rahasia


__ADS_3

Sampai di vila, Arga segera membangunkan anak-anaknya untuk segera turun dari mobil. Anita sendiri merasa lelah karena selama perjalanan dia menemani suaminya.


"Yeee, liburan kesini lagi." teriak Chila dengan bersemangat.


"Iya kak, nanti kita jalan-jalan lagi ke pasar malam." ucap Celine menimpali ucapan Chila.


"Iya, kak. Iko juga mau naik kora-kora waktu dulu sama kakak Chila." ucap Chiko.


"Belum tentu ada lagi pasar malamnya kak, kan waktu kebetulan aja ada pasar malam di alun-alun desa." ucap Anita.


"Yaah." keluh ketiga anaknya itu.


Mereka melangkah masuk ke dalam vila dengan langkah gontai. Anita hanya menggeleng kepala saja melihat mereka kecewa seperti itu.


"Kenapa sayang?" tanya Arga.


Dia menurunkan koper anak-anaknya dan membawanya masuk.


"Mereka pengen ke pasar malam seperti waktu itu, kataku belum tentu ada lagi sekarang. Mereka kecewa." jawab Anita mengambil satu koper dari tangan suaminya.


"Ooh, ya nanti kita cari hiburan alternatif lain aja. Lagi pula malam ini semua harus istirahat, karena besok kita pergi ke pantai." ucap Arga.


"Mungkin mereka senang jika di kasih tahu akan ke pantai besok."


Keduanya pun naik tangga dan membawa koper anak-anaknya ke dalam kamar masing-masing.


Chila dan Celine satu kamar, sedangkan Chiko dan kedua adik laki-lakinya satu kamar dengan Angga dan Kevin.


"Sayang, aku langsung istirahat aja ya. Lelah banget rasanya." kata Arga pada istrinya.


"Ya, kamu istirahat aja. Aku masak untuk makan malam dulu, nanti kalau sudah siap aku bangunkan kamu." kata Anita.


Arga mengangguk, dia lalu masuk ke dalam kamarnya. Sedangkan Anita turun lagi untuk membuat makan malam.


_


Malam semakin larut, suasana di vila kebetulan hujan turun. Membuat penghuni vila semakin kecewa karena tidak bisa kemana-mana.


Arga sendiri menemani Angga dan Kevun menonton tivi. Chila, Chiko dan Celine sedang bermain tebak-tebakan di ruang yang sama.


Anita membuat cemilan pisang goreng dan teh hangat untuk makan kudapan mengisi waktu malam ini.


Setelah semua sudah matang, dia membawanya ke ruang tivi karena di sana anak-anak dan suaminya berkumpul.


"Siapa mau pisang goreng?" teriak Anita mendekat pada mereka.


"Aku mau ma." teriak semua anaknya.


Anita meletakkan pisang goreng di meja, dia duduk di sebelah suaminya yang sedang memangku Kevin.


"Kamu mau pisang goreng, Ga?" tanya Anita.


"Mau dong sayang, aku suka pisang goreng buatan kamu. Manis dan ada bumbu rahasianya." ucap Arga menggombal.


"Aku ngga pakai bumbu rahasia, mana ada bumbu rahasia di pisang goreng?"


"Ada sayang, aku tahu dan merasakannya ketika menggigit satu pisang goreng. Rasanya seperti damai sekali." ucap Arga dengan mimik wajah lucu.


Anita tersenyum, dia merasa aneh dan menggelengkan kepala.


"Berlebihan banget sih." ucap Anita, dia menyantap pisang goreng buatannya itu.


Dia merasakannya dan menerka bumbu apa yang di maksud Arga. Tapi dia hanya merasakan manis dan gurih dari susunya saja.


"Lho, beneran ada bumbu rahasianya sayang. Kamu ngga akan merasakannya." ucap Arga kekeh.


"Lalu apa yang kamu rasakan dari pisang goreng ini?" tanya Anita penasaran apa yang di rasa suaminya itu.


Arga tersenyum, dia menggeleng cepat sambil mengunyah pisang gorengnya.


"Ish, kamu itu pasti mengada-ada deh." ucap Anita sedikit kesal.


"Hanya aku yang merasakannya sayang juga anak-anak." ucap Arga masih tidak mau bicara apa bumbu rahasianya.


"Kakak, bagaimana pisang gorengnya?" tanya Anita pada Chila .

__ADS_1


Karena Chila yang bisa di tanya dan mengerti sedikir tentang rasa masakan.


"Enak ma, manis dan gurih." jawab Chila.


"Iyq ma, pisang gorengnya enak banget." kata Celine menimpali.


Anita tersenyum, masih teka teki jawaban kedua anaknya. Dia melirik suaminya yang masih mengunyah pisang gorengnya.


Dia tidak memperpanjang masalah bumbu rahasia yang di maksud Arga. Mungkin Arga hanya menggodanya saja, pikir Anita.


Malam semakin larut, Anita meminta izin pada suaminya untuk menelepon ibunya di rumah.


"Ga, aku mau menelepon ibu dulu ya. Mau tanya kabar bagaimana keadaannya di sana." kata Anita.


"Di sini aja sayang, neleponnya." kata Arga.


"Ponselku di kamar, sebentar saja kok." ucap Anita.


"Ya sudah, kasih tahu sama aku nanti keadaan ibu bagaimana di sana ya." kata Arga lagi.


"Iya."


Lalu Anita beranjak dari duduknya, dia melangkah menuju kamarnya yang ada di kamar di lantai atas.


Arga kembali memakan pisang goreng yang tersisa di piring. Anak-anak sudah tidak mau menghabiskan sisa dua pisang goreng di piring.


Dia lalu melirik jam di tangannya, masih pukul delapan tiga puluh Setengah jam lagi anak-anak waktunya tidur.


Karena cuaca di luar sedang hujan dan dingin, jadi mereka tidak bisa kemana-mana selain harus di dalam vila saja.


_


Sementara Anita masuk ke dalam kamarnya, dia menelepon ibunya beberapa kali karena belum di angkat juga.


Tuuut


Masih dengan suara panggilan, belum terjawab juga. Anita gelisah, dia lalu beralih menelepon rumah. Dan terjawab.


"Halo?"


"Oh, nyonya Anita ya?"


"Iya bi, ibu kemana?"


"Ibu ada di kamarnya sedang istirahat, nyonya." jawab pembantunya itu.


"Oh, bibi bisa lihat di kamar ibu sebentar? Saya cemas dengan ibu, tadi di telepon tidak di angkat." pinta Anita pada pembantunya itu.


"Iya nyonya, saya ke kamar ibu dulu."


Lalu terdengar suara gagang telepon di letakkan di samping boksnya. Anita menunggu dengan gelisah, semoga ibunya baik-baik saja.


Tak lama, suara pembantunya terdengar lagi.


"Halo nyonya, ibu sedang tidur. Tapi tadi beliau bangun dan akan menghubungi nyonya katanya." kata pembantunya itu.


Ah, lega rasanya Anita mendengar ucapan pembantunya itu.


"Ya sudah, aku tutup dulu teleponnya bi."


"Iya nyonya."


Klik


Anita menutup sambungan teleponnya, dia kembali menghubungi ibunya lagi.


Tuuut


"Halo Anita, ada apa?" tanya ibu Yuni di seberang sana.


"Halo bu, ibu baik-baik saja?" tanya Anita.


"Iya, ibu baik-baik saja. Kamu jangan khawatir, liburan yang tenang." ucap ibu Yuni menenangkan Anita.


Dia tahu anaknya itu merasa cemas, maka dari itu dia menenangkan Anita.

__ADS_1


"Ibu, aku video call sama ibu ya?"


"Ya sudah, iya."


Anita lalu menutup sambungan teleponnya dan berganti dengan video call denga ibunya. Arga masuk dan duduk di sebelahnya, tak lupa ciuman di pipi iatrinya dan memeluknya erat.


"Ada apa sayang?" tanya Arga.


"Mau video call sama ibu." jawab Anita.


Arga melepas pelukannya, dia duduk manis di sebelah istrinya itu. Ikut melihat mertuanya.


Tuuut


Tersambung dan terlihat ibu Yuni sedang tersenyum di layar kaca.


"Bu, sehat ya?" tanya Arga pada mertuanya itu.


"Iya, Ga. Kamu jaga istri dan anak-anakmu ya, bersenang-senanglah kalian." ucap ibu Yuni.


Anita tersenyum haru, dia menoleh ke arah suaminya sekilas dan kembali menatap layar ponselnya.


"Ibu sudah makan malam?" tanya Anita.


"Sudah, tadi sama bibi." jawab ibu Yuni.


"Ibu kalau merasa tidak enak badan bilang sama bibi ya." ucap Anita lagi.


"Iya, kamu jangan khawatir."


Perbincangan itu terus berlanjut, Arga pamit keluar untuk menidurkan anak-anaknya. Anita mengangguk, dia merasa tenang sudah melihat ibunya baik-baik saja.


"Ya sudah bu, aku tutup ya teleponnya."


"Iya, sekali lagi kamu yang tenang jangan khawatirkan ibu. Ibu baik-baik saja."


"Iya, besok aku telepon ibu lagi."


"Iya."


Lalu sambungan video call terputus, dia letakkan ponselnya di meja. Rasa lega dia rasakan setelah melihat langsung ibunya baik-baik saja. Meski tadi merasa khawatir dengan ibunya yang dia tinggal di rumah dengan pembantunya.


Kini Anita bergegas keluar dari kamarnya untuk melihat anak-anaknya apakah memang benar suaminya itu menidurkan Kevin dan Arga.


Dia mengintip dari balik pintu yang terbuka sedikit, dia melihat Arga sedang membuat tebak-tebakan pada ketiga anak laki-lakinya. Anita tersenyum, dia lalu turun kebawah untuk merapikan mainan dan mengambil sisa piring yang tadi wadah pisang goreng


Dia pergi ke dapur, mencuci piring dan membersihkan dapur yang tadi belum sempat dia bersihkan.


Ketika dia mencuci piring, ada sepasang tangan melingkar di perut Anita dan hembusan nafas menerpa tengkuk Anita, dan tiba-tiba bulu kuduknya meremang dengan ciuman suaminya di lehernya.


"Emm, Ga. Aku lagi cuci piring." ucap Anita pelan.


"Teruskan aja sayang, aku menunggu kamu selesai." kata Arga kembali mencium tengkuk istrinya.


Mau tidak mau Anita mendesah tertahan, Arga suka dengan suara ******* istrinya. Dia kembali mencium tengkuk Anita, kali ini sembari menggigit-gigit kecil tengkuk Anita.


"Eeuuh, Arga. Sabar kenapa, aku belum selesai." ucap Anita semakin frustasi.


Senyum Arga memgembang, dia melepas ciumannya dan menempelkan kepalanya di bahu istrinya. Memperhatikan Anita mencuci piring.


Anita sendiri merasa sia-sia melepas ulat bulu di tubuhnya. Dengan cepat Anita menyelesaikan pekerjaannya dan berbalik pada suaminya.


"Kamu ngga sabar banget sih."


Dan tanpa menjawab, Arga membopong istrinya ala bridal. Tentu saja Anita kaget dan menjerit.


"Argaaa!"


_


_


_


❤❤❤❤❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2