
Arga menunggu istrinya di tangani oleh dokter. Dia berharap istrinya bisa tertolong, karena sejak dari rumah kosong itu darah Anita terus mengalir deras.
Urat nadi yang tersayat sedikit, namun tetap saja mengeluarkan darah begitu banyak.
"Pa, apa mama baik-baik saja?" tanya Chiko dengan sedih.
"Berdoa saja mama baik-baik saja, ya. Papa juga khawatir dengan mama." jawab Arga.
Dia memeluk Chiko agar anak itu tenang dan tidak khawatir. Sejujurnya dia sangat kahwatir dengan keadaan istrinya, semua peristiwa masa lalu yang di alamai istrinya tiba-tiba melintas bagai rangkaian episode sebuah filam roman yang sedih dan menyayat hati.
Dia ingat pertama kali bertemu Anita di sebuah pasar sedang cekcok dengan seorang penipu yang sengaja menanbrakkan dirinya ke motor Anita dan menjadi panjang urusannya.
Dia begitu bahagia melihat Anita saat itu, memperhatikannya sejenak dan lama-lama perempuan penipu itu tidak mau menyelesaikan urusannya. Malah ingin menyudutkan Anita.
Dia pun turun dari mobilnya dan mengancam perempuan itu. Akhirnya perkara selesai, tapi lagi-lagi Anita masih menolak bantuannya karena dia memang membawa motor dan barang belanjaannya terlalu banyak.
Meskipun sama-sama terkejut, namun Anita biasa saja bertemu Arga pertama kalinya.
Dan pertemuan kedua memang tidak bisa di hindari untuk membantu Anita, motornya mogok di jalan. Mau tidak mau Anita menumpang mobil Arga.
Dan dari situ mulai dekat dengan Anita. Arga senang bukan main, meski agak lama dia berjumpa lagi dengan Anita saat itu karena pekerjaannya banyak sekali. Namun dia bahagia bertemu dan berhubungan lagi dengan Anita.
Ada senyum di bibir Arga ketika memgingat istrinya saat itu. Namun kini dia murung kembali, dia ingat kembali ketika Anita harus menemani anaknya ke kota menemui papanya, mantan Anita yang kini telah tiada.
Dia mendengar Anita pulang lebih dulu sebelum dia datang menjemputnya. Dia tahu jika Anita di lecehkan oleh mantan suaminya, dia marah sekali. Sampai istrinya dulu trauma pada mantan suaminya.
Air mata Arga menetes, mengingat saat itu hatinya benar-benar ikut hancur. Tapi dia juga menguatkan Anita, sampai dia berjuang untuk membantu Anita mempertahankan hak asuh anaknya.
Dan saat itu belum usai penderitaan Anita, ternyata Anita harus menerima kabar bahwa Rendi kecelakaan dan di rawat di rumah sakit karena koma.
Lagi-lagi cinta Arga di uji oleh kenyataan bahwa Anita harus mengurus Rendi sampai beberapa lama.
"Pa, apa mama sudah selesai di operasi?" tanya Chiko membuyarkan lamunan Arga tentang masa sulit Anita.
"Belum sayang, mama sedang berjuang dengan sakitnya. Abang doakan mama baik-baik saja ya." kata Arga menenangkan kembali Chiko.
Dia memeluk Chiko erat, rasa lapar yang melanda Chiko membuat dia meringis kesakitan.
"Iko kenapa?" tanya Arga cemas melihat Chiko memegangi perutnya.
"Dari pagi Iko belum makan pa, sakit perutnya." jawab Chiko.
"Ya sudah, ayo kita ke kantin saja. Kita makan dulu ya, nanti kesini lagi menunggu mama selesai di operasi.
"Iya."
Keduanya pun bangkit dari duduknya, mereka menuju kantin rumah sakit untuk mengisi perut.
Ternyata, Mourin hanya memberi Chiko makan satu hari sekali. Hanya di sediakan minuman saja di rumah itu.
Benar-benar tega Mourin, dan sekarang dia sedang di tangani oleh kepolisian untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya itu.
_
Arga kembali mengingat apa yang telah di alami tentang perjalanan cintanya dengan Anita yang berliku-liku.
Entah kenapa kenangan itu kembali membayangi pikirannya, sejauh dia ingat. Istrinya itu memang sangat tegar, kuat dan sabar.
Tidak ada raut penyesalan akan masa lalunya yang pahit, tidak ada dendam di hatinya pada orang-orang yang telah berbuat tidak baik padanya.
__ADS_1
Seperti waktu Marisa membayanginya untuk memisahkannya dengan Anita. Sampai dia rela harus menahan rasa rindunya pada Arga.
Arga juga sangat kecewa waktu itu ketika Anita memutuskan untuk tidak menemuinya dan menjauhinya.
Tapi beruntungnya dia, mamanya almarhum mengerti keadaannya. Sampai dia harus bersandiwara pada Anita dengan bunuh diri karena Anita menolaknya.
Itu adalah awal kebahagiaannya dengan istrinya, Arga tersenyum ketika dia mengingat itu. Trik ibunya agar Anita mau menikah dengannya, dan Arga sangat bahagia saat itu.
"Pa, makannya udah." kata Chiko.
"Minum dulu sayang." kata Arga.
Chiko pun minum dengan habis, Arga sendiri hanya mengaduk-aduk makanannya saja. Chiko memperhatikan papa sambungnya itu hanya mengaduk makanannya tanpa memakannya.
"Papa kenapa ngga makan?" tanya Chiko.
"Papa kenyang, ya sudah ayo ke tempat mama di rawat lagi." ajak Arga.
Dia hanya meminum minumannya sampai habis lalu menuju kantin untuk membayar makanan yang dia pesan.
Lalu Chiko dan Arga bergegas pergi dari kantin dan langsung pergi ke ruang operasi.
_
Masih menunggu di depan ruang operasi, Arga duduk dan berdiri silih berganti. Dia tidak tenang, ternyata operasinya sangat lama sekali.
Dia belum memberi kabar pembantunya di rumah, buru-buru dia mengambil ponselnya dan menghubungi pak Diman.
"Halo tuan, bagaimana apakah den Chiko sudah ketemu?" tanya pak Diman.
"Sudah pak Diman, Chiko ada bersama saya. Dan mamanya masuk rumah sakit. Tolong kasih tahu bi Ina untuk menjaga anak-anak juga pak Diman, karena saya kemungkinan pulangnya lama." kata Arga.
"Ceritanya panjang pak Diman, nanti di rumah saya cerita. Jaga anak-anak ya pak Diman?"
"Baik tuan, saya dan bi Ina akan menjaga anak-anak. Tapi tuan, apakah ayahnya nyonya Anita tidak di beritahu?" tanya pak Diman.
Arga diam, benar sekali. Apakah dia harus memberitahu mertuanya bahwa anaknya berada si rumah sakit.
"Nanti saja pak Diman, istriku belum selesai di tangani oleh dokter." kata Arga.
Dia tidak mau mertuanya itu tambah kepikiran mengenai kesehatannya. Saat ini pak Sugara sedang terapi, jadi jika di beritahu anaknya masuk rumah sakit dan di operasi akan jadi kepikiran dan tensinya naik lagi.
Pak Sugara terserang stroke dua kali katanya, dan sedang dalam pengonbata. Dulu Anita saja yang sesekali datang ke rumah ayahnya untuk mengetahui keadaan pak Sugara.
"Emm, tuan ini non Chila sama non Celine menanyakan keadaan den Chiko dan mamanya." kata pak Diman.
"Ya, boleh kasih mereka ponselnya."
"Halo, papa. Apa adek Iko sudah ketemu?"
"Sudah kak, ada sama papa dan mama"
"Terus kapan pulangnya?"
"Nanti ya, mama sedang di rumah sakit. Pak Diman suruh datang ke rumah sakit aja kak, jemput adek sekalian bi Ina menitipkan baju-baju papa, kak."
"Iya pa."
"Halo pak Diman, pak Diman ke rumah sakit ya jemput Chiko, sekalian bawa baju-baju gantiku." kata Arga.
__ADS_1
"Baik tuan."
Lalu sambungan telepon terputus karena dokter dari ruang operasi sudah keluar.
"Pak Diman, saya tutup dulu."
Arga mendekati dokter yang baru keluar, dia ingin tahu keadaan istrinya.
"Bagaimana dokter, apa istriku tidak apa-apa?" tanya Arga.
"Syukurlah pak.." kata dokter.
"Arga, dokter." kata Arga.
"Ah ya, pak Arga. Mari ke ruangan saya saja bicaranya."
Arga lalu menyuruh Chiko untuk menunggu di kursi, Chiko menurut.
Arga mengikuti dokter menuju ruangannya yang tidak jauh dari ruang operasi.
Mereka masuk dan dokter mempersilakan Arga duduk.
Kemudian dia duduk dan siap mendengarkan keteterangan dokter tentang istrinya.
"Istri anda sangat kuat pak Arga, dia berjuang di waktu kritisnya. Istri anda sempat kritis sebentar. Makanya kami menanganinya sangat lama, karena menunggu masa kritis istri anda lewat." kata dokter.
"Kritis? Apa istriku mengalami kritis?" tanya Arga kaget.
"Iya, kritis. Tapi hanya sebentar, beberapa menit saja. Setelah donor darah masuk ke dalam tubuhnya, ibu Anita kembali seperti semula. Kami juga sempat khawatir ibu Anita tidak bisa bertahan. Dan..." dokter berhenti sejenak.
"Kenapa doktar?" tanya Arga cemas.
Sampai sini, dokter berhenti. Membuat Arga semakin cemas.
"Kenapa dokter?"
"Emm, istri anda sedang.."
Kriiing
Suara telepon di meja berbunyi, dokter memberi isyarat untuk menunggunya sebentar karena dia menjawab telepon yang masuk.
"Dokter, ada pasien lagi yang mau di operasi." kata suster di seberang sana.
"Ya, saya segera kesana. Tunggu saya sepuluh menit lagi, tangani dengan benar pasiennya dan siapkan juga alat operasinya." kata dokter.
"Baik dokter."
Sambungan terputus, dokter melihat jam yang melingkar di tangannya dan segera menyelesaikan pembicaraannya dengan suami dari pasiennya.
"Baik pak Arga."
_
_
_
❤❤❤❤❤❤❤❤
__ADS_1