
"Selamat siang Anita." sapa perempuan itu dengan suara dan mimik wajah datar.
Dia sebenarnya enggan untuk berbasa basi, namun karena Anita sedang ada di rumah sakit jadi dia menyapa dengan ramah meski bukan sifat dia suka berbasa basi.
Anita sendiri kaget dengan kedatangan perempuan itu, yang tak lain adalah Mourin. Mantan istri almarhum Rendi.
Mau apa dia menemuiku? pikir Anita.
"Kamu datang padaku ke rumah sakit sepertinya ada yang penting, karena bagimu aku bukan orang penting kan." kata Anita sedikit ketus.
Dia tahu Mourin bukan orang yang suka basa basi, makanya dia langsung menanyakan pada intinya. Apa lagi pembantunya itu sudah dua kali memberitahu ada seorang perempuan cantik datang ingin menemui Anita.
Jadi ternyata Mourin, ada apa sebenarnya?
"Tepat sekali, aku memang ada urusan penting denganmu. Tapi mengingat dirimu masih sakit, kurasa nanti saja aku membicarakannya denganmu." kata Mourin.
"Jangan menunda-nunda lagi, langsung saja pada intinya. Karena saya yakin kamu bukan orang yang punya banyak waktu, lagi pula aku juga butuh istirahat." kata Anita lagi.
Mourin tersenyum sinis, dia berjalan mondar mandir memikirkan apa yang akan dia katakan.
Dan Mourin berhenti tepat di depan Anita sambil menatap sedikit tajam. Entah dia sedang mengintimidasi Anita dengan tatapannya, namun Anita tidak gentar.
Dulu memang dia sedikit segan dengan mantan istri Rendi, tapi sekarang dia berani berbicara ketus pada Mourin.
"Apa yang mau kamu bicarakan? Kurasa sudah tidak ada masalah lagi, karena mas Rendi sendiri sudah meninggal." kata Anita.
"Justru karena Rendi tiada, aku ingin membicarakan....." ucapan Mourin terputus dengan suara kencang Arga masuk.
"Sayang, kamu sudah lebih baik?" tanya Arga ketika tiba-tiba masuk dan tidak tahu ada orang di dalam kamar istrinya.
Dia melihat ke arah perempuan yang terlihat datar saja menatap Arga. Arga heran, siapa perempuan yang berpenampilan sangat rapi. Apakah teman Anita?
Setahu Arga , Anita tidak pernah punya teman yang berpenampilan seperti perempuan itu.
"Dia siapa, sayang?" tanya Arga mendekat pada istrinya yang masih menatap Mourin.
"Dia mantan mas Rendi, Ga." jawab Anita pelan.
Arga memandang kembali Mourin dari atas sampai bawah, pantas saja Rendi dulu tertarik pada perempuan itu, ternyata penampilannya juga terlihat nyaris sempurna. Hanya saja Arga melihat raut wajah Mourin terlihat angkuh.
Mourin bukan tipe perempuan Arga, namun siapa pun yang melihat Mourin pasti tertarik.
Mau apa nada datang menemui istriku?" tanya Arga datar.
"Saya ada perlu dengan istri anda. Dan benarkan Anita istri anda? Heh, dia dulu terlalu gendut jadi dia di campakkan ole Rendi." kata Mourin sinis.
"Jangan hina istriku!" teriak Arga.
"Jangan membicarakan orang yang sudah meninggal!" sentak Anita juga.
Dia kesal pada Mourin, buka apa-apa memang tidak baik mengungkit orang yang sudah meninggal.
"Waah, ternyata kalian kompak juga. Tapi, justru itu ada hubungannya dengan Rendi." ucap Mourin.
"Apa yang kamu mau?"
"Tepat sekali, emm pak pengacara. Saya mau..." ucapan Mourin terpotong dengan datangnya perawat yang akan memeriksa Anita terakhir kalinya.
Mourin mendengus kasar, dia melirik jam di tangannya. Sudah jam tiga sore, dia berdecak kesal.
Perawat memeriksa Anita semuanya, dari detak jantung. Nadi serta tangan yang di gips. Setelah selesai, perawat itu membuat catatan pemeriksaan pada Anita.
"Pak, sore ini istri anda sudah bisa pulang." kata perawat tersebut.
"Akhirnya bisa pulang juga, aku kangen banget rumah dan anak-anak." ucap Anita tersenyum.
"Kamu ngga kangen sama aku?" tanya Arga.
Mereka seolah tidak melihat dan ada orang lain di situ.
"Ya kangen kamu juga." jawab Anita tersenyum.
"Saya tidak punya banyak waktu, Anita. Lusa saya akan datang lagi ke rumahmu, dan saya harap kamu ada di rumah." kata Mourin dengan ketus karena dia kesal dengan kedua suami istri itu seolah tidak ada orang di sekelilingnya.
Arga hanya mencebikkan bibirnya, lalu dia duduk di sebelah Anita dan memeluknya. Perawat juga sudah keluar, jadi Arga bebas memeluk istrinya.
Sejak Anita di rawat, dia jadi absen bermanja-manja dengan Anita. Makanya dia mengambil kesempatan ketika semua orang tidak ada. Tak lupa juga dia menutup pintunya.
Arga melepas pelukannya dan menatap istrnya lembut, matanya menatap bibir Anita. Sejak tadi dia ingin mengecap bibir istrinya itu yang terlihat menggoda.
__ADS_1
Keduanya pun tanpa membuang kesempatan saling memagut dan mengecap. Lama mereka melepas rasa rindu pada diri masing-masing meski Arga tiap hari datang berkunjung.
Hanya kali ini kesempatan leluasa bisa bermesraan dengan istrinya.
_
Kini Anita sudah berada di rumah setelah tadi sore pulang dari rumah sakit, dia bisa beristirahat di kamar kesayangannya.
Kelima anaknya masuk ke dalam kamarnya untuk memeluk ibunya itu.
"Seneng deh mama udah pulang." kata Chila.
"Iya, ngga enak kalau ngga ada mama." Celine menimpali.
Kevin naik ke atas ranjang, dia duduk di sebelah Anita dan ikut memeluknya. Anita tersenyum dengan tingkah anak bungsunya itu.
"Kevin pintar ngga selama mama di rumah sakit?" tanya Anita, di mencium kepala anak itu.
"Pintar ma, ngga nangis." jawab Kevin lucu.
Anita tertawa kecil, dia kembali mencium kepala anak bungsunya itu.
"Mama kangen banget sama kalian semua." ucap Anita menatap satu persatu anak-anaknya.
"Kami juga kangen mama, mama sakitnya lama banget." ucap Chiko.
"Ya, kata dokter mama harus istrahat lama sayang. Jadi d rumah sakitnya lama." ucap Anita.
Mereka pun berbincang tentan keseharian mereka selama di tinggal Anita di rumah sakit. Ada saja tingkah lucu Kevin ketika kakak-kakaknya mau belajar.
"Coba mama ada, pasti Kevin seneng di lihat mama." kata Chila.
"Ma, jangan sakit lagi ya." itu kata Angga yang sejak tadi diam saja melihat kakak-kakaknya bicara.
"Ngga sayang, mudah-mudahan mama sehat selalu ya." jawab Anita tersenyum pada Angga.
Angga memang anak yang sensitif, dia akan diam jika Anita terlihat sakit. Dan sepertinya Angga merasa kasihan jika Anita sakit.
"Tangannya masih sakit ya ma?" tanya Chiko.
"Sedikit sayang, nanti kalau sudah sembuh gipsnya di lepas kok." ucap Anita.
"Belum tahu sayang, tergantung nanti papa aja. Kalau mama harus di rumah jaga kalian ya, mama ngga kerja. Tapi kalau papa bilang mama harus kerja lagi ya, mama harus kerja." jawab Anita.
"Jadi, kalau kita minta pada papa, mama ngga kerja boleh ya ma?" kini Celine yang antusias.
Anita tersenyum, dia tidak mengiyakan dan tidak menggeleng juga.
Arga masuk ke dalam kamarnya, dia tersenyum anak-anaknya ada di kamarnya. Dia maklum, mungkin kelima anaknya kangen sama istrinya itu, sama dengannya dia sangat rindu istrinya ada di rumah.
Angga menoleh ketika Arga masuk dan duduk di ujung ranjang.
"Pa, mama jangan kerja lagi ya?" ucap Angga dengan antusias.
"Iya pa, mama di rumah aja ya. Kasihan mama sakit." Chiko menimpali.
Arga masih diam, dia menatap istrinya dan menaikkan satu alisnya untuk meminta penjelasan. Namun Anita hanya tersenyum saja.
"Mama akan di rumah selama penyembuhan, mengenai mama nanti kerja lagi atau tidak. Papa belum bisa jawab sayang." kata Arga.
"Yaaaah."
Keluh mereka, Arga merasa lucu dengan sikap mereka.Kompak sekali.
"Udah kan kangen sama mamanya?" tanya Arga menatap satu persatu anak-anaknya.
"Tapi kakak masih pengen sama mama, pa." jawab Celine.
"Tapi mama harus istirahat dulu sayang, besok pagi kalian bisa bersama mama lagi. Gantian sekarang papa yang kangen sama mama." ucap Arga agak tegas.
Dia tidak mau anak-anaknya lama dengan istrinya. Dan mereka pun menurut, satu persatu pergi dan keluar dari kamar Arga dan Anita.
Terakhir Kevin masih belum keluar dan masih memeluk Anita.
"Adek ngga cepat keluar?"
"Kevin masih kangen mama, pa." rajuk Kevin dengan mimik lucu.
Arga bangun dan bersiap menggendong Kevin, dia harus menidurkan anak kelimanya itu.
__ADS_1
"Ayo papa temani tidur, ini sudah malam sayang. Kevin harus cepat tidur." kata Arga.
Kevin mengangguk dan memeluk pundak Arga, Anita tersenyum saja melihat kedua anak dan ayah itu keluar dari kamarnya.
Kini Anita terdiam di kamarnya yang semenit lalu ramai oleh celoteh anak-anaknya, sebelum Arga mengusirnya suruh keluar dan tidur.
Memang sekarang sudah jam sembilan empat puluh menit, jadi memang harus pergi ke kamarnya masing-masing.
Anita mengangkat tangan kirinya yang masih di gips itu untuk bergeser dan di sandarkan di bantalan.
Dia kembali berbaring, menatap langit-langit sambil memikirkan tadi siang dengan datangnya tiba-tiba Mourin ke rumah sakit.
Anita pikir, tidak mungkin hanya sekedar menjenguk saja. Perempuan angkuh itu pasti punya maksud dan tujuan sehingga harus rela datang ke rumah sakit untuk bertemu dengan dirinya.
"Mau apa Mourin menemuiku ya?" gumam Anita.
Dia masih bingung dan penasaran, hingga dia tidak sadar kalau Arga sejak tadi memperhatikan istrinya yang masih menatap langit-langit sambil bergumam sendiri.
Arga melihat tangan kiri Anita yang masih di gips itu, dia lalu menatap kembali wajah istrinya yang masih setia pandangannya di langit-langit kamar.
Hingga Arga tidak tahan dengan lamunan Anita, dia berdehem dengan keras agar istrinya itu menyadari kalau suaminya itu sejak tadi ada di kamarnya.
"Ehem!"
Anita menoleh k arah suaminya dan memandang heran.
"Kenapa? Tenggorokan kamu sakit?" tanya Anita dengan polosnya.
Arga berdecak kesal, kenapa istrinya baru menyadari kehadirannya malah bertanya seperti itu.
Dia duduk di samping Anita, dan Anita meraih tangan suaminya dan membelainya dengan jempolnya.
"Kenapa?" tanya Anita pelan.
"Kamu yang kenapa, kok melamun. Sampai ngga sadar aku sejak tadi lihatin kamu memandang langit-langit kamar. Memangnya apa yang kamu pikirkan sayang?" tanya Arga yang berganti posisi jadi menopang kepalanya di tangannya menghadap istrinya
Anita mendesah pelan, dia memang harus bicara dengan suaminya itu meski belum tahu maksud kedatangan Mourin bertemu dengannya.
"Aku memikirkan tadi siang, kenapa perempuan itu mencariku?" tanya Anita.
"Apa kamu mengenal dia dengan baik?" tanya Arga.
"Aku kenal, tapi ngga dekat dengan dia. Dia namanya Mourin, mantannya mas Rendi setelah cerai dari aku." jawab Anita.
"Oh, jadi dia selingkuhan Rendi waktu itu?"
"Iya, dia direktur di mana mas Rendi bekerja."
"Lalu, apa yang dia inginkan? Bukankah yang dia cari sudah tidak ada?"
"Aku yakin bukan itu, dia juga tahu kalau mas Rendi tidak ada. Aku juga bingung dan penasaran sama dia."
"Katanya dia mau datang lagi kan lusa?"
"Ya, tapi aku belum tahu dia mau apa mencariku."
"Jangan di pikirkan, lusa kamu tanyakan secara jelas. Apa maunya dia, jadi kamu tidak penasaran lagi." ucap Arga.
Anita mengangguk, di senderkannya kepalanya pada pundak suaminya. Arga memeluk istrinya itu.
"Sayang, apa aku harus absen lagi?" tanya Arga dengan penuh makna.
"Ya, maaf ya. Kamu tahu kan kondisiku ini?" tanya balik Anita yang seolah tahu dari maksud pertanyaannya itu.
"Hampir seminggu sayang, masa aku absen lagi."
"Sabar dong suamiku, tunggu gips ini di lepas. Aku ngga nyaman jika harus bergumul dengan tangan terbatas begini."
Arga mendesah, dia hanya pasrah. Memang dia tidak pernah absen tentang meminta jatah pada istrinya, tapi sekarang dia harus puasa entah sampai kapan.
Sabar ya Arga....😊😊
_
_
_
❤❤❤❤❤❤❤❤
__ADS_1