
Kehidupan Anita kembali normal, dia kini membuka tokonya lagi. Selama di kota, tokonya ibu Yuni yang menjaga, tapi tidak membeli stok karena kadang jika kelelahan ibu Yuni jatuh sakit.
Jadi, buka toko selama Anita tidak ada hanya dari pagi sampai jam tiga sore. Kalau pun ada yang memaksa membeli, paling hanya melayani sebatas petang saja.
Dia tidak sanggup harus terus menjaga toko Anita yang pelanggannya sudah banyak.
Seperti sekarang, Anita membuka tokonya agak siang jam setengah sembilan. Karena dia harus ke pasar membeli stok banyak yang sudah pada habis ketika dia tidak ada.
"Bu Anita, kemana saja. Lama ngga kelihatan." tanya ibu Irma pelanggan Anita.
"Saya ke kota bu, papanya anak-anak meninggal. Jadi saya harus ke sana, menemani anak-anak." jawab Anita.
"Oh, turut berduka cita ya bu Anita. Ibu Yuni juga bilang sih, kalau papanya si kembar meninggal." kata ibu Irma lagi.
Anita hanya tersenyum saja. Setelah melayani ibu Irma, Anita kembali melayani pelanggan lainnya. Memang sangat ramai toko Anita, samapi dia kerepotan melayani pembeli yang rupanyamerasa kangen dengan pelanyana Anita yang cekatan dan cepat.
Dan pelanggan tetangga desa pun rupanya tahu kalau Anita kembali membuka toko dan melayani.
"Wah, mbak sudah kembali ya." kata Eros.
"Iya, bosan juga tinggal di kota. Kamu tahu aku ada di kota?" tanya Anita.
"Ibu mbak Anita yang kasih tahu. Aku kan beli rokok, biasanya mbak Anita yang melayani. Eh katanya mbak Anita sedang ke kota."
"Ya, kamu beli rokok lagi?"
"Iyalah, mbak. Seperti biasa."
Anita mengambil rokok yang biasa di beli Eros. Lalu dia menyerahkan padanya rokok itu.
Obrolan mereka pun terjadi, sampai cerita lucu Anita sampai tertawa lepas dengan cerita lucu dari Eros.
Ibu Yuni yang mendengar Anita tertawa lebar itu jadi ikut senang, mungkin beban Anita berkurang sejak dia pulang dari kota setelah tujuh hari kematian Rendi.
"Eyang, mama tertawanya kencang banget ya." kata Chila yang heran Anita tertawa seperti itu.
"Iya, biarkan saja. Mama kamu senang mendengar cerita dari pelanggannya itu." kata ibu Yuni.
Satu jam Eros mengocok perut Anita dengan cerita konyolnya, sampai dia memegang perutnya. Dan setiap pelanggan yang datang ke tokonya membeli barang sampai heran dengan Anita yang tertawa lepas. Masalahnya, Anita jarang tertawa seperti itu. Paling sering hanya tersenyum dan paling senyum menampilkan giginya saja.
"Bu Anita senang banget tertawanya." kata pelanggam yang baru datang.
"Iya nih, tuh orangnya yang membuat saya tertawa terus." jawab Anita masih menyungging senyum.
Pelanggan itu pun senang melihat Anita tersenyum seperti itu.
"Mbak, saya pulang dulu ya. Emak pasti memcari saya." kata Eros pamit pada Anita.
"Ya udah sana pulang, kamu bikin aku sakit perut." ucap Anita.
Eros melambaikan tangannya, dia lalu menaiki sepeda motor bututnya yang suaranya itu membuat satu erte mengomel. Anita menutup telinganya sampai Eros menghilang dari pandangan matanya.
_
"Ma, kata ibu guru, setiap hari harus bawa bekal makanan ke sekolah ma." kata Chila pada Anita.
"Bekal makanan, kak?" tanya Anita yang sedang merapikan baju yang di pakai Chiko.
"Iya ma, teman-teman semua bawa bekal makanan." ucap Chiko menimpali.
"Memangnya mau di bawakan bekal apa?" tanya Anita menyisir rambut Chiko.
__ADS_1
"Apa aja ma, bisa juga snack atau buah kata ibu guru."
"Oh, ya udah. Mama bawakan apel ya buat bekal di sekolah?"
"Apelnya di potong-potong ma, biar gampang makannya."
"Kalau di potong-potong duluan nanti hitam lho apelnya. Apel itu harus langsung di makan, ngga boleh di biarkan dulu. Nanti cokelat apelnya."
"Ya udah ngga di potong lagi ma." ucap Chila.
Lalu Anita mengambil apel di dalam kulkas dan susu kotak dua buah. kemudian di masukkan ke dalam kotak makan. Mungkin hari ini apel sama susu kotak dulu, besok Anita bisa bikin bekal kreasinya untuk bekal.
Dia menyiapkan motornya untuk mengantar kedua anaknya berangkat sekola, dan pulangnya pergi ke pasar.
Setelah mereka siap, Anita menyuruh keduanya naik di belakangnya.
"Ayo naik, mama nanti sepulang mengantar kalian mau ke pasar." kata Anita.
"Ya ma."
Lalu keduanya naik di jok belakang, membonceng saling berpegangan di pinggang Anita. Baru setelah semua siap, Anita melajukan motornya menuju sekolah Chila dan Chiko yang memang jaraknya tidak terlalu jauh.
Tapi Anita ingin mengantar kedua anak kembarnya ke sekolah, biasanya kedua anaknya itu berangkat sendiri dengan teman-temannya berjalan kaki.
"Kenapa di antar sih ma, kan biasanya berangkat sendiri sama teman-teman." kata Chila.
"Sekali-kali mama antar kalian berangkat ke sekolah. Kan banyak yang di antar oleh mamanya." jawab Anita.
Mereka sampai di depan gerbang sekolah, Chila dan Chiko salaman mengecup tangan Anita.
"Belajar yang rajin ya, jangan kebanyakn ngobrol sama teman kalau waktunya belajar." pesan Anita pada kedua anaknya.
"Ih, ngga kok ma. Dodonya yang suka ngajak lari-lari di kelas." elak Chiko.
Anita tersenyum, tap kemudian dia menasehati anak laki-lakinya itu.
"Ngga boleh dek, kan kasihan sama ibu gurunya kalau belajar lari-lari terus. Adek jangan mau kalau di ajak lari saka Dodo." ucap Anita.
"Iya ma, nanti adek bilang sama Dodo ngga boleh lari di kelas." ucap Chiko lagi.
"Bukan ngga boleh lari di kelas dek, tapi ngga boleh main lari-larian kalau lagi belajar sama ibu guru." kata Chila meluruskan.
"Betul kata kaka, tidak boleh lari-larian kalau sedang belajar sama ibu guru. Kasihan ibu gurunya nanti capek." ucap Anita mengingatkan Chiko.
"Iya ma."
"Ya sudah, sana masuk. Tuh semua sudah baris, ayo masuk."
Chila dan Chiko masuk dan berlari menuju kelasnya. Anita menatap keduanya sambil tersenyum. Lalu dia menjalankan motornya dan melajunya menuju pasar.
_
Malam ini Arga datang, memgapel jika remaja bilang. Anita senang, Arga datang berkunjung. Entahlah, sejak masalah dengan Rendi selesai sampai dia mendapatkan warisan Rendi yang begitu banyak. Dia sering tersenyum, wajahnya juga sangat ceria.
Arga senang melihat perubahan pada Anita, dia merasa lega Anita ceria lagi. Jadi, sudah tidak ada lagi saingan untuk merebut hati Anita.
"Malam ini bulan begitu terang sinarnya ya." kata Anita memandang ke atas langit.
Mereka duduk di teras rumah, Anita hanya ingin duduk berdua di teras dengan Arga.
"Iya, seperti malam ini kamu begitu cantik dan terang sekali wajahnya sampai mengalahkan terangnya bulan." ucap Arga menggombal.
__ADS_1
Anita tertawa lepas mendengar Arga menggombal pada dirinya. Arga pun senang Anita tertawa tanpa beban itu.
"Kamu menggombalnya berlebihan sekali, Ga." kata Anita masih dengan sisa senyum di bibirnya.
"Aku tidak menggombal, Anita. Aku memang lihat kamu berbeda dari sebelumnya, kamu terlihat cantik dan berseri begitu. Apa lagi sekarang pipinya tambah memerah." ucap Arga lagi.
"Sudah, Ga. Aku jadi malu." ucap Anita menundukkan wajahnya.
Arga semakin tertawa lepas dengan tingkah Anita yang lucu. Seperti remaja kembali, dan lupa kalau dia sudah punya anak dua.
"Aku suka kamu yang malu-malu begitu. Semakin menggemaskan." kembali Arga menggoda Anita.
"Arga!"
Anita berteriak, dia kesal dengan godaan Arga.
"Hahaha...!"
Canda dan tawa keduanya terus saja di lontarkan. Kini Anita yang meledek Arga dengan cerita masa lalu di SMA. Malam semakin larut, hingga pukul sebelas Arga baru pamit pulang. Karena besok dia akan ke kota lagi, melanjutkan persidangan terakhir.
"Besok aku ke kota, menghadiri persidangan terakhir klienku yang dulu. Nanti sekalian aku cari tahu notaris yang mengesahkan surat rumah yang kemarin Rendi berikan sama kamu dan anak-anak." ucap Arga setelah dia di antar Anita sampai di mobilnya.
"Iya, terima kasih ya mau mengurus semuanya untukku." kata Anita.
Dia menatap Arga, lalu tersenyum manis.
"Ada imbalannya." kata Arga balas tersenyum.
"Apa?" tanya Anita heran.
Karena tidak biasanya Arga meminta imbalan. Arga mendekat pada Anita, membuat Anita heran.
"Imbalanya?"
Arga semakin mendekat, degup jantung Anita semakin kencang seiring Arga mendekat padanya. Dan seperti apa yang di pikirannya, Arga menarik tengkuk leher Anita dan mencium bibirnya, lama. Tak ada penolakan dari Anita, dia terus mencium bibir Anita dan memainkan lidahnya di bibirnya.
Anita membalasnya, dia menikmati ciuman Arga. Dan kini tersadar setelah Arga melepasnya. Tapi dia kemudian mendorong dada Arga ketika Arga hendak menciumnya lagi.
"Sudah, Ga." cegah Anita.
Arga menghela nafas panjang, kecewa dan menatap Anita.
"Nanti lagi, kalau sudah sah." ucap Anita tersenyum, menghilangkan rasa kecewa Arga.
Arga pun tersenyum, dia lalu masuk ke dalam mobilnya.
"Aku pulang dulu ya." ucap Arga.
"Ya, hati-hati." balas Anita.
Lalu mobil melaju pelan, tangan Arga melambai dan di balas dengan senyuman Anita dan anggukan kepalanya. Dan kini mobil Arga pergi meninggalkan Anita yang masih di tempatnya semula.
Malam semakin larut, Anita masuk ke dalam rumahnya dan mengunci pintunya. Dia langsung menuju kamarnya, karena dia juga butuh istirahat.
_
_
_
❤❤❤❤❤❤
__ADS_1