IKHLAS MELEPASMU

IKHLAS MELEPASMU
157. Kelahiran Anak Ke Enam


__ADS_3

Menjelang kelahiran anaknya, Anita lebih santai menghadapinya. Namun yang lebih antusias adalah anak-anaknya juga suaminya.


"Sayang, kamu belum merasakan sakit mau melahirkan?" tanya Arga ketika malam ini mereka sudah ada di kamar menjelang tidur.


"Emm, belum sepertinya. Kenapa sih? Nanti juga lahir anak kita." kata Anita dengan santai.


Jika perkiraan dokter, tiga hari lagi harusnya sudah lahiran. Tapi sampai saat ini Anita masih santai dan biasa saja, belum ada tanda-tanda myeri atau keluar air ketuban.


"Seharusnya udah lahiran sayang, dulu waktu Kevin mau lahiran juga sebelum waktu hpl. Tapi kok ini sudah mendekati hpl masih tenang-tenang aja kamunya." kata Arga.


"Ya ngga tahu, Ga. Mungkin dia masih betah di dalam perut aku." jawab Anita.


Dia mengelus pelan perutnya, gerakan di perutnya semakin kencang seiring dengan gerakan tangannya.


Arga pun ikut mengelus perut Anita yang semakin besar itu, dia tidak sabar bertemu anak terakhirnya itu lahir.


Dia kemudian mendekap istrinya, awalnya biasa saja. Namun tangannya mulai meraba ke leher Anita, tangan satunya membelai pipi lalu dia mencium bibir istrinya itu.


Anita sudah terbuai ketika tangan kanan Arga menempel di salah satu bukit kembarnya dan memainkan jari jemarinya di sana.


Satu tangan membuka kancing bajunya pelan sampai bawah, dan setelah terlepas semua di sibakkannya baju itu hingga kulit putih Anita terekspos jelas.


Anita menatap suaminya, dia tahu suaminya sedang ingin bercinta. Begitu pun dirinya, dia memposisikan duduk bersandar di dada suaminya, membiarkan Arga terus memainkan dan menciuminya dengan lembut.


Dan satu lenguhan keluar dari bibir Anita, membuat Arga bersemangat. Dia semakin bergairah jika melihat Anita berbadan dua seperti itu. Terlihat seksi di matanya, namun demikian dia bercinta dengan hati-hati karena dia takut istrinya akan kram perut.


Setelah pemanasan selesai, kini saatnya eksekusi, dia menatap istrinya lebih dulu. Dan raut wajah Anita sangat mendamba suaminya segera memberinya kepuasan.


"Ga, apa yang kamu lihat?" tanya Anita dengan suara beratnya.


"Aku menikmati wajahmu yang cantik dan seksi jika seperti itu sayang. Cup." kata Arga dengan tersenyum dan suara berat juga.


"Terus, kamu akan seperti itu terus menatap wajahku tanpa segera kita bercinta." kata Anita frustasi karena suaminya masih menggantungkan keinginannya.


"Ya ngga sayang, ayo kita menyelam nikmatnya bercinta."


Dan kini mereka merasakan penyatuan dua tubuh dan dua hati yang saling mencinta hingga malam sangat larut. Kebahagiaan demi kebahagiaan tercipta di dalam setiap momennya.


_


Pagi hari, Arga sudah bersiap untuk berangkat ke kantornya. Seperti biasa dia di bantu Anita memasangakan dasi.


"Emm, harum banget sih sayang wangi tubuh kamu." kata Arga menciumi leher Anita.


"Diam dong Ga, susah aku masang dasinya." kata Anita.


Dia kesusahan ketika Arga kembali menunduk dan mencium lehernya lagi. Sampai pada perut Anita mulai kram.


Rasa nyeri itu semakin lama semakin kuat dan semakin sakit. Anita memegang pundak suaminya dan memejamkan matanya, dia gigit bibirnya dan satu tangan memegang perutnya.


"Ga, sepertinya aku mau melahirkan. Eeuh." ucap Anita.


"Ah, benarkah sayang?" tanya Arga yang kini tiba-tiba panik.


"Iya, perutku sudah mulai sakit. Uh uh.." ucap Anita , dia tiba-tiba saja jadi merasa sakit dan seperti sudah di ujung.

__ADS_1


"Iya iya, aku akan bawa kamu ke rumah sakit. Sabar ya nak, papa akan bawa kalian ke rumah sakit." kata Arga.


Tanpa membuang waktu lagi, dia menggendong Anita dengan perut besar dia segera keluar dari kamarnya dan langsung turun dengan hati-hati.


Anita memegangi perutnya yang sudah tidak tahu bagaimana lagi. Rupanya ketika merasakan sakit itu langsung kontraksi hebat dan kini sudah semakin sering.


Arga memasukkan Anita dalam mobilnya, semua anaknya ikut panik ketika Arga memberitahu kalau Anita akan melahirkan.


"Mama adik bayinya mau keluar kak?" tanya Kevin pada Chila.


"Iya dek, mama mau di bawa ke rumah sakit sama papa. Biar adek bayi keluar dengan selamat." kata Chila.


"Kakak jaga adik-adiknya ya." pesan Arga sebelum dia pergi membawa Anita ke rumah sakit.


"Iya pa." jawab Chila.


Setelah berpesan pada anak sulungnya, Arga dengan cepat melajukan mobilnya menuju rumah sakit.


Pembantu Anita di beri pesan setelah mengantarjan anak-anak, dia harus ke rumah sakit membawa perlengkapan melahirkan yang sudah di persiapkan Anita jauh hari.


Karena keburu-buru, Arga tidak membawa perlengkapan bayinya. Dia sempat mau mengambil, tapi Anita merintih kesakitan terus.


Dan dalam perjalanan, Arga semakin panik. Dia melihat Anita sudah gelisah dan kesakitan. Keringat dingin terus mengucur.


"Ga, aku sakit banget. Kapan sampainya?" tanya Anita yang memegangi tangan Arga dengan kencang.


"Sabar sayang, mobilku melaju dengan kencang. Sebentar lagi sampai rumah sakit, tahan ya sebentar sakitnya." kata Arga menenangkan istrinya.


"Bukan sakitnya, ini bayi sepertinya sudah ngga sabar. Uuh, uh uh. Dia sudah ada di bawah daaan, aaah."


"Iya, iya sabar dek. Jangan lahir di jalan, papa bingung nolongin kamunya dek. Ya ampun." ucap Arga, makin panik.


Namun bukannya tenang, malah Anita memegang tangan suaminya dengan kencang dan matanya terpejam.


"Argaaaa, cepaaaat!!" teriak Anita.


"Iya iya, ini sudah cepat. Nah kan kita sudah masuk gerbang rumah sakit."


Kini Arga di depan UGD, dia berhenti di depan pintu dan menghentikan mobilnya.


Dengan cepat dia turun dan di sambut oleh dua perawat membawa bangsal.


"Suster, cepat tolong istriku. Dia sudah mau keluar bayinya." kata Arga.


"Iya pak, ayo turunkan ibunya." kata perawat itu.


Arga menurunkan Anita dan meletakannya di bangsal. Lalu kedua perawat itu langsung mendorong bangsal yang membawa Anita, mereka menuju ruang bersalin.


Arga mengikuti dari belakang, melihat istrinya sudah kesakitan. Dia memegang erat tangan Anita sambil berlari menuju kamar bersalin.


"Bapak ikut masuk ke dalam?" tanya suster satunya.


"Iya, saya mau menemani istri saya melahirkan." jawab Arga.


"Ya sudah, bapak pakai baju steril dulu ya."

__ADS_1


"Baik."


Lalu suster mengambilkan baju steril untuk Arga, dengan cepat Arga mengambil bajunya dan memakaikannya. Kemudian dia langsung menuju istrinya yang sudah siap di tangani oleh dokter.


"Sayang, yang sabar ya. Aku temani kamu di sini." kata Arga pada istrinya yang meringis kesakitan.


"Ibu, bapak, anak anda sudah siap lahir. Jadi mohon pada pak suami untuk membantu memberi semangat pada ibunya ya." kata dokter pada Arga.


"Iya dokter."


Proses melahirkan anak kali ini sangat cepat, tanpa menunggu pembukaan sempurba Anita langsung mengejan sesuai arahan dokter. Hanya tiga kali menarik nafas, bayi mungil berjenis kelamin perempuan lahir ke dunia.


Arga sangat senang sekali, kali ini anaknya perempuan. Sesuai prediksi dokter dan Anita sendiri kalau hamilnya kali ini perempuan.


Dan betapa bahagianya, Arga. Dia melihat bayi mungil itu menangis kencang.


"Oek oek oek!!"


"Nanti di bersihkan dede bayinya ya, setelah itu bapak bisa lihat di ruangan bayi. Sekarang waktunya membersihkan sisa-sisa di perut ibunya dan merapikan kembali bagian yang sobek." kata dokter.


Arga pun mengangguk cepat, sebelum keluar dia mengecup kening istrinya dan berkata dengan berbisik.


"Terima kasih sayang, sekarang sudah punya anak perempuan dari kamu. Cup." kata Arga.


"Iya."


"Aku keluar dulu ya?"


Anita mengangguk, kemudian Arga pergi keluar dari ruang bersalin. Dia menuju ruang bayi untuk melihat anaknya yang sedang di bersihkan oleh suster.


Hatinya benar-benar bahagia, dia mendapatkan anak perempuan dari Anita. Dia belum sempat melihat wajah anak bungsunya itu mirip siapa.


Kriiiing


Tiba-tiba telepon Arga berbunyi, dia lupa memberitahu pada Nia sekretarisnya bahwa dia tidak masuk kantor.


"Halo Nia, saya tidak masuk kantor." kata Arga.


"Oh, pak Arga tidak masuk kantor?"


"Iya, istri saya melahirkan. Jadi hari ini dan besok tidak masuk kantor. Untul ketemu klien di undur saja, ya." kata Arga lagi.


"Oh ya pak, saya akan jadwal ulang bertemu kliennya."


"Ya, dan ketemu dengan komnas perempuan kamu suruh Dodi saja yang mewakili saya." kata Arga lagi.


"Baik pak, selamat atas kelahiran anaknya ya pak?"


"Ya, terima kasih Nia."


Lalu sambungan telepon terputus, kini Arga menunggu namanya di panggil untuk menjenguk anaknya yang sudah di bersihkan.


_


_

__ADS_1


_


❤❤❤❤❤❤❤❤


__ADS_2