IKHLAS MELEPASMU

IKHLAS MELEPASMU
52. Trauma


__ADS_3

Satu minggu setelah kepulangannya dari rumah Rendi kini Anita telah di sibukkan dengan tokonya lagi. Ibu Yuni yang heran dengan semakin menyibukkan diri dengan tokonya dan Chila serta Chiko mulai ceria lagi bermain dengan teman-temannya.


Senin kemarin kedua anaknya baru saja masuk sekolah, mereka sangat senang sekali. Bisa punya teman baru dan ada kegiatan baru sekain bermain dengan teman-teman tetangganya.


Setiap hari ada saja cerita dari mereka tentang sekolah dan teman barunya. Anita senang kedua anaknya sudah melupakan kejadian dirinya di tampar oleh Rendi.


Meski begitu, du hati kedua bocah itu terbersit rasa trauma ketika Anita di tampar oleh papanya.


"Ma, Dodo juga sekolah dengan adek ma." cerita Chiko mengalir dari bibirnya.


"Oh ya, bagus dong ada temannya di sekolah." kata Anita mananggapi Chiko.


"Iya, Amanda juga ma. Kakak senang sekolah bareng sama Amanda." Chila menimpali.


Lalu mengalirlah terus cerita demi cerita dari mulut keduanya dengan antusias. Malam hari itu sangat ramai karena cerita dua anaknya, Anita sangat senang dengan cerita-cerita dari keduanya.


Hingga ketukan dari luar suara ketukan pintu menghentikan obrolan santai mereka.


"Siapa ma?" tanya Chiko.


"Mama belum tahu, mama buka dulu ya."


Anita menuju pintu depan untuk melihat siapa malam-malam begini bertamu.


Klek


Di sana wajah laki-laki penuh senyum terlihat senang yang membuka pintu Anita. Anita terdiam, lalu dia menyuruhnya masuk.


"Masuk Ga." kata Anita lemah.


Terima kasih."


Arga masuk ke dalam rumah dan menuju sofa, duduk di sana sambil memperhatikan Anita yang duduk sambil menunduk. Mungkin dia merasa tidak enak pada Arga tidak mengabari Arga kalau sudah pulang ke kampung.


Justru Arga merasa kasihan pada Anita, dia seperti mempunyai tekanan pada mantan suaminya. Dia belum bicara apa-apa pada Anita, pun demikian dengan Anita. Keduanya saling diam dan menunduk.


Arga mengingat ketika dia menelepon Anita yang mengangkat Rendi.


Flash back :


Setelah mendapat jawaban dari Rendi kalau Anita pergi dari rumah Rendi di telepon pagi itu, dengan segera Arga pergi dari rumah temannya untuk segera menuju rumah Anita yang di tempati ketika liburan anak-anaknya bertemu Rendi.


Dia langsung tancap gas tanpa permisi lagi pada temannya yang bingung dengan tlngkah Arga yang aneh.


"Mau kemana dia buru-buru." gumam teman Arga saat melihat Arga berlari dan melajukan mobilnya dengan kencang.


Sedangkan Arga pikiran cemas memikirkan Anita, dia melajukan mobil exoandernya dengan delapan puluh kilo meter perjam, jadi bisa di bayangkan kencang sekali dengan ukuran yang biasa mengemudi kecepatan sedang.


Sampai di depan rumah Anita pagi itu, keadaan rumah itu sangat sepi. Tapi mobil Rendi kasih ada di halaman rumah.


Arga turun dari mobilnya, terlihat pintu garasi tidak di kunci dan seperti di tutup dengan buru-buru. Arga lalu mendorong pintu itu dengan pelan lalu menuju pintu rumah Anita itu.


Dia memgetuk pintunya dengan cepat, berharap Rendi atau Anita keluar dari dalam rumah.

__ADS_1


Tak berapa lama, Rendi muncul dengan berpakaina lengkap untuk pergi ke kantor. Dengan wajah kesal pada Arga, dia menatap sinis padanya.


Arga melongok ke dalam rumah, berharap Anita akan keluar.


"Kamu cari Anita?" tanya Rendi sinis.


"Kemana dia?" tanya Arga dengan tatapan sengit pada Rendi.


"Heh! laki-laki sok perhatian, dia sudah mingga dari ruamh ini!" kata Rendi yang rasa kesalnya memuncak.


Dia tidak terima ada orang lain yang lebih perhatian darinya pada Anita.


"Kamu pasti berbuat macam-macam sama Anita. Laki-laki macam apa kamu hah?!" teriak Arga.


Dia tidak terima jika sampai Anita di perlakukan tidak baik oleh mantan suaminya itu.


"Aku memperlakukannya dengan baik, tapi dia malah tidak mau aku menciumnya seperti kamu menciumnya bebas." kata Rendi dengan sengit.


Kamu bangsat!"


Buk!


Arga memukul pelipis Rendi, dia sudah tidak bisa bersikap ramah pada laki-laki egois itu. Baginya Rendi adalah laki-laki brengsek yang telah menelantarkan anak-anak Anita dan berlaku brengsek pada wanita, apa lagi pada ibu dari anak-anaknya.


"Ku pastikan kamu tidak akan pernah bisa menemui anakmu, sekalipun kamu memohon. Aku akan meminta Anita mengalihkan hak asuhnya pada Anita Bagiku itu mudah."


"Kamu jangan ikut campur dengan anak-anakku!" kata Rendi membentak Arga.


"Dan kamu juga jangan sekali-kaki mengganggu calon istriku!" teriak Arga tidak mau kalah.


Lalu tanpa permisi Arga pergi dari rumah Rendi, Rendi mendengus kesal, dia menatap kepergian Arga dengan marah. Di rabanya pipi yang tadi di pukul oleh Arga. Ada rasa nyeri di tulang pelipisnya.


Kemudian dia masuk ke dalam mobilnya untuk berangkat ke kantornya.


_


Flash back off


Kini Anita dan Arga saling diam di kursi sofa, Anita masih menunduk sedangkan Arga menatap Anita dalam. Ada rasa sedih dan sakit hati ketika Arga menemui Anita di rumah Rendi sudah tidak ada. Dan cara pergi juga sepertinya sangat terburu-buru.


Ingin Arga bertanya, namun sepertinya dia mengerti keadaan Anita sekarang. Rasa trauma yang di alami Anita tidak bisa memaksa Arga untuk bercerita atau menerimanya dengan cepat. Meskipun Anita terlihat baik-baik saja.


Jauh di lubuk hati paling dalam, Anita sangat rapuh. Namun dia bertahan dan terlihat tegar karena ada dua malaikat kecil yang mengokohkan hatinya hingga sekarang dia terlihat tegar.


"Anita."


"Ga, bisakah kamu membantuku untuk mengalihkan hak asuh Chila dan Chiko jatuh padaku?" tanya Anita.


Arga tampak diam, sesuai dugaannya. Anita pasti meminta hak asuh anaknya jatuh padanya.


"Aku akan membantumu, aku akan menuntut Rendi jika dia bersalah dan..."


"Tidak usah, aku hanya minta hak asuh anak-anak aja. Tidak perlu yang lain, aku yakin dia juga tidak akan berani datang mencariku." kata Anita.

__ADS_1


"Anita, aku akan membantumu dan juga harus ada keterangan yang memberatkan Rendi agar mudah jatuh hak asuh itu sama kamu."


"Aku hanya berjaga-jaga saja, Ga. Aku tidak mau ke depannya akan sulit."


"Iya aku tahu, tapi kamu harus punya laporan ketidak becusan Rendi mengurus anak-anak."


"Bukankah cukup laporan kalau dia telah menelantarkan anaknya?"


"Tapi masalah finansial apa dia menjamin?" tanya Arga.


"Iya, dia selalu mengirim transferan setiap bulan untuk anak-anak."


"Kalau dia menuntut itu, kamu akan kesulitan. Coba cari alasan yang lebih memberatkan dia tidak bisa mendapatkan hak asuh Chila dan Chiko." desak Arga.


Dia ingin tahu kejadian waktu dia sebelum pergi mendadak dari rumah Rendi. Tapi Anita malah diam, rupanya dia seperti trauma tentang itu. Terbukti dia menangis terisak.


Arga mendekat, dia meraih tubuh Anita yang bergetar karena isakan tangisnya. Arga memeluk Anita, memberikan ketenangan padanya.


Lama Anita menangis, dia lalu melepas pelukan Arga dan menyeka air matanya. Menghela nafas panjang, mengurangi beban di hatinya.


"Selama di sana awalnya Rendi sangat baik sama anak-anak. Tapi denganku terakhir malam itu dia malah melecehkanku. Dan itu di depan anak-anak Ga, aku khawatir anak-anak juga jadi trauma seperti aku. Mereka bilang tidak mau bertemu dengan papanya." kata Anita menjelaskan peristiwa malam itu.


Arga jadi sedih, jadi Anita trauma dengan itu? Bagaimana dengan janjinya untuk memberi jawaban tentang lamarannya? Apakah akan tertunda lagi.


Dalam hati Arga kecewa, namun demikian dia mengerti apa yang di alami Anita. Di lecehkan oleh mantan suami membuat trauma baginya. Dia harus bersabar menghadapinya, dia juga akan pelan-pelan mendekati Anita dan memulihkan kepercayaan pada sebuah pernikahan yang langgeng.


Dia juga akan membuat Anita dan kedua anaknya kalau dirinya pantas untuk melindungi dan membahagiakannya. Dia harus bersabar sampai kapanpun.


"Aku akan bantu kamu, dan laporan kamu tentang malam itu juga aku akan lampirkan sebagai pemberat nanti di persidangan." kata Arga.


"Terima kasih, Ga. Kalau tidak ada kamu aku sudah pasti bingung dan takut nanti menghadapi mas Rendi lagi jika dia datang meminta hak asuh anak-anak."


"Kamu tenang saja, dalam seminggu ini aku akan daftarkan ke pengadilan dan semuanya biar aku yang urus. Kamu hanya memberikan keterangan saja, setelah itu tunggu hasil dari persidangan."


"Iya. Oh ya, maaf ya aku tidak bisa menghubungimu waktu itu, karena buru-buru. Ponselku juga ketinggalan di sana." kata Anita lagi.


"Iya aku tahu, pagi aku meneleponmu tapi yang mengangkat Rendi. Jadi aku langsung kesana karena dia bilang kamu minggat. Aku cemas saat itu, makanya aku datang ke rumah itu. Tapi kamu sudah pulang naik kereta api ya." kata Arga.


"Kamu datang ke sana?" tanya Anita heran.


"Iya, kan aku sudah janji mau menjemputmu." kata Arga lagi.


Anita diam, jika dia menunggu Arga. Dia takut Rendi malah semakin menahannya. Dia takut akan di sekap seperti bayangannya di film-film kalau dirinya dan kedua anaknya akan di sekap.


Entahlah, mungkin rasa takut dan traumanya jadi pikirannya jadi kemana-mana. Belum lagi rasa bencinya pada Rendi yang menggunung. Dia hanya bersabar dan mau menerima Rendi karena kedua anaknya saja.


Tapi sekarang dia tidak ingin bertemu Rendi lagi. Cukup sudah hatinya di sakiti oleh Rendi.


_


_


_

__ADS_1


❤❤❤❤❤❤


__ADS_2