IKHLAS MELEPASMU

IKHLAS MELEPASMU
09.Pertengkaran


__ADS_3

Sejak Anita menelepon malam waktu Rendi,dia semakin banyak diam.Dia sering melamun dan kadang menangis jika anak-anaknya tertidur.Noni yang setiap hari melihat perubahan majikannya jadi heran,mau bertanya tapi rasanya tidak sopan.


Empat hari Rendi dinas di Bali,sore hari dia sudah pulang ke rumah.Mendapati istrinya ada di kamarnya sedang mendandani si kembar.


Karena si kembar belum punya kamar sendiri,jadi semua keperluan dan boks bayi masih ada di kamar mereka.Anita meminta kamar sendiri untuk anaknya,tapi tanggapannya hanya nanti nanti saja.


Membuat Anita malas untuk meminta sesuatu pada suaminya selain uang belanja yang penuh dan gaji pembantu.


Dia bahkan jarang sekali membeli barang kesukaannya,hanya kebutuhan anaknya saja yang dia penuhi.


Bisa saja Anita mengumpulkan sisa uang belanja untuk kebutuhannya sendiri,tapi dia berpikir suatu saat nanti akan membutuhkan tabungan sisa uang belanja.Jadi dia tidak pernah gunakan sisa uang belanja itu.


Rendi masuk ke dalam kamarnya,menyimpan kopernya dan beberapa papaerbag berisi barang oleh-oleh untuk Anita.


Dia berpikir mungkin Anita akan senang di belikan oleh-oleh dari Bali.


"Ini untukmu."kata Rendi menyerahkan paperbag pada Anita.


Anita menerimanya lalu meletakkannya di atas kasur begitu saja.


"Kamu tidak mau?"tanya Rendi lagi.


Anita masih sibuk mendandani Chiko yang tidak mau diam.Kedua anaknya biasa saja melihat ayahnya berdiri di samping mamanya.


Biasanya anak kecil akan meminta di gendong ketika ayahnya datang.Tapi kedua bocah kembar itu hanya menatapnya saja lalu bermain kembali.


Mungkin karena Rendi jarang sekali atau bahkan hampir tidak pernah menggendong atau bermain dengan mereka.Menanyakan perkembangan anaknya saja tidak pernah,walau Anita sering bercerita pada Rendi ketika waktu sarapan pagi.Karena hanya itu waktu yang tepat Anita bercerita atau mengeluh pada suaminya.


Namun Rendi hanya menganggapinya dengan deheman saja.Dia malah sibuk dengan ponselnya.Walaupun Anita sering di acuhkan ketika berkeluh kesah,namun dia tetap bercerita tentang anaknya pada Rendi.Karena Rendi berhak tahu perkembangan anak-anaknya.


Tapi kali ini,Anita lebih acuh dan pendiam.Dia ingin bertanya tentang perempuan yang menjawab teleponnya,namun dia ragu.Berpikir lagi,bukankah Rendi selalu marah-marah jika di tanya tidak sesuai hatinya.


Baiklah,memang harus di tanyakan karena semua harus jelas dan tidak ada yang merasa tersakiti lagi.Anita tidak mau berprasangka buruk lagi,dia harus tahu semuanya.


Anita menoleh pada suaminya,lalu menoleh lagi pada kedua anaknya.Jika terjadi pertengkaran maka dia tidak mau bertengkar di depan anak-anaknya.


Lalu Anita menarik tangan Rendi untuk keluar.Rendi heran dengan sikap Anita yang menarik tangannya sedikit kasar.


"Kenapa kamu menarik tanganku?"tanya Rendi ketika mereka sudah di luar kamar.


"Aku mau tanya,siapa perempuan yang kemarin malam menjawab teleponku?"tanya Anita langsung saja.


"Dia direktur,bosku.Kenapa kamu bertanya seperti itu?"


"Hah,bos?Kenapa dia memanggilmu sayang?Apa kamu pacaran sama bosmu itu?"


"Apa yang kamu katakan?!"


"Kamu jangan berpura-pura lagi mas! Setiap malam aku selalu mendengar kamu berbicara di telepon dengan mesra-mesra,itu apa namanya?Kamu pacaran kan?"


"Anita!"


"Apa?!"


"Kamu sekarang ngelunjak sama suami!"


"Kamu yang membuat aku seperti itu mas,kamu selalu menghindar jika di tanya pekerjaan.Kamu selalu mengingkari janjimu sendiri,kamu juga tidak merasa bersalah dengan tindakanmu.Apa aku salah bertanya seperti itu?!"

__ADS_1


Rendi diam,wajahnya merah padam.Dia ingin sekali menampar istrinya yang tidak tahu diri itu.


"Aku bekerja banting tulang,fokus dengan pekerjaanku untuk mendapatkan jabatan,dan sekarang aku sudah dapatkan.Kamu tinggal menikmati apa yang aku berikan padamu.Jadi jangan lagi mengusik semua urusanku.!"


"Ya,urusanmu adalah direktur cantikmu itu,kami hanya sebuah bayangan yang tidak pernah kamu hiraukan kehadiranku dan anak-anakmu.Kamu sibuk dengan urusanmu.Kamu tidak pernah peduli dengan kami.Yang kamu pedulikan teman-temanmu dan direkturmu itu,pacar gelapmu itu."


Plak!


Satu tamparan keras menimpa pipi Anita,Rendi sudah di luar kendalinya.Dia sangat marah,matanya memerah dan otot di pelipisnya menonjol.


"Aku tidak suka kamu yang pembangkang.Aku juga tidak suka perempuan yang gendut dan bau.Jadi jangan salahkan aku untuk berpaling dengan perempuan cantik dan wangi.Kamu tidak pernah mendengarkan ucapanku."


Setelah berkata seperti itu,Rendi masuk ke dalam kamarnya.Mengemasi beberapa bajunya dalam koper,lalu dia keluar dan menatap Anita tajam.Kemudian dia berlalu dan pergi keluar dari rumah meninggalkan Anita yang terisak.


Anita tidak menyangka dengan suaminya itu.Dia kini tahu,suaminya benar-benar tidak mempedulikannya.Anita terkulai,dia menatap pintu keluar yang tadi Rendi keluar membawa koper,entah dia mau kemana.


Tapi mungkin dia pergi ke hotel,menginap di sana sementara waktu atau selamanya.Entahlah.


Dan kini hati Anita hancur,dia benar-benar sudah di campakkan suaminya.


_


Sehari setelah pertengkaran sore itu,Rendi tak pernah pulang.Seminggu lebih dia tidak pulang.Anita pun mencoba menenangkan dan mendiamkan karena dia berpikir Rendi ingin menyendiri dan menenangkan pikiran.


Anita kini akan mengalah,dia akan memaafkan suaminya dan akan memperbaiki hubungannya.Dia juga akan merawat diri secara perlahan agar Rendi mau kembali bersamanya.


Bagaimanapun anak-anaknya butuh sosok ayahnya meski sejak bayi bahkan sejak dalam kandungan tidak di pedulikan.


Anita mencoba menghubungi Rendi,memintanya untuk pulang ke rumah dan berjanji tidak akan mengusik urusan suaminya itu.Tapi tidak pernah di angkat.


Lalu dia bermain-main dengan si kembar di halaman depan.Karena di depan ada halaman cukup luas untuk bermain.


"Noni,saya mau ke pasar dulu ya.Kalau si kembar rewel kamu telepon saya aja.Nanti saya langsung pulang."pesan Anita pada pembantunya itu.


"Iya bu."


Lalu Anita berlalu dengan cepat.Dia tidak mau berlama-lama di pasar.Hanya membeli yang dia butuhkan saja.


Sepeninggal Anita,seorang perempuan tinggi semampai berpakaian kerja rapi dengan rok di atas lutut dan memakai blazer biru laut masuk ke halaman rumah Anita.


Noni yang masih bermain di halaman rumah bersama kedua anak kembar itu melihat perempuan itu dengan heran.


Dia menatap sedikit tajam karena ingatannya pada sebuah adegan mesra di supermarket dulu.Ya,dia adalah perempuan yang di ajak oleh Rendi waktu di supermarket itu.


Perempuan itu menghampiri Noni sambil bersedekap dan menatap kedua bocah yang sedang bermain skuter kesayangannya.


"Ibu cari siapa?"tanya Noni.


"Saya mencari istrinya Rendi.Apa dia ada?"tanya perempuan itu dengan angkuh.


"Oh ibu Anita,beliau sedang ke pasar.Kalau ibu berkenan silakan menunggu sebentar,karena bu Anita cuma sebentar kok."kata Noni.


Dia tidak yakin jika Anita tahu kalau perempuan di hadapannya itu adalah selingkuhan suaminya.


"Ya,baik.Saya tunggu saja,ada yang perlu saya omongin sama dia."ucap perempuan itu lagi.


Noni mempersilakan masuk tamu majikannya itu,namun dia menolak.Noni pun tidak memaksa,lalu dia meneruskan bermain dengan si kembar.

__ADS_1


Sepuluh menit perempuan itu menunggu,ternyata berdiri terlalu lama juga sangat melelahkan.Dia lalu duduk di kursi taman yang menghadap Noni yang sedang bermain dengan si kembar.


Dia tidak menghiraukan kedua bocah yang menatapnya sambil tersenyum,lalu dia mengambil ponselnya untuk membuka sosial medianya.


Baru beberapa menit dia bermain ponselnya,Anita yang dia tunggu akhirnya datang dengan membawa belanjaan yang cukup banyak.Noni menyongsong majikannya itu dan mengambil alih belanjaan yang di bawa Anita.


"Sini bu biar saya aja yang bawa.Di depan ada tamu ibu."kata Noni.


"Siapa Non?"


"Ngga tahu bu,ibu kesana aja.Biar saya aja yang bawa belanjaannya masuk ke dalam sekalian buatin minum."ucap Noni yang tidak mau Anita semakin bertanya.


Dia takut nanti malah keceplosan tentang perempuan itu.


Lalu Noni membawa buru-buru belanjaannya masuk ke dalam rumah.Sedangkan Anita menghampiri perempuan yang di bicarakan Noni tadi.


Dia memandang dari jauh,siapa perempuan ini?tanya Anita dalam hati.Kemudian dia mendekati perempuan itu yang sedang merapikan roknya dan berdiri ketika Anita mengahampirinya.


Dia tersenyum sinis ketika melihat penampilan Anita yang seadanya,lalu bersedekap.


Ketika Anita lebih dekat,dia menyambut dan mengulurkan tangannya sambil tersenyum yang di buat seramah mungkin.


"Hai."mengulurkan tangan menyalami Anita.


Anita yang bingung hanya tersenyum tipis lalu menyambut uluran tangan perempuan cantik di depannya itu.


"Saya Mourin,kamu Anita kan?"tanya Mourin tersenyum tenang.


"Ada apa ya,bu Mourin?"tanya Anita heran.


"Kamu istrinya Rendi kan?"tanya Mourin lagi masih dengan senyumnya namun senyum itu berubah seperti senyum mengejek.


"Iya,kenapa dengan suami saya?"tanya Anita lagi.


"Saya direktur di perusahaan di mana suamimu bekerja dan....,"Mourin tidak meneruskan ucapannya karena di hentikan oleh Anita.


"Cukup,lebih baik anda pergi dari rumahku!"


"Penyambutan yang kasar,anda mengusir saya.Baiklah,memang ada benarnya juga Rendi meninggalkanmu."


"Apa maksud kamu?!"


"Ya kamu kucel,kasar dan tidak sopan serta tidak bisa merawat diri.Bagaimana bisa merawat suami sedangkan merawat sendiri saja tidak bisa!"


"Keluar dari rumahku!"


Anita hendak mendorong Mourin untuk keluar dari rumahnya,namun sebuah teriakan membuatnya semakin membeku.


"Anita!"


_


_


_


❤❤❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2