
Setelah Mourin bekerja lagi di kantornya,anaknya dia asuh pada baby sitter yang dia sewa dari yayasan,untuk mengurusnya.
Mourin tampak bersiap untuk berangkat kerja bersama Rendi kali ini.Karena mobilnya masuk bengkel.
"Sayang,hari ini ada pertemuan dengan klien dari PT Angkasa Cipta,apa kamu akan menemuinya?"tanya Rendi,dia menyetir dengan santai karena jalanan juga macet.
Mourin yang sedang melihat tabletnya menoleh,PT Angkasa Cipta itu kan punya Evan,pikir Mourin. Dia tersenyum,lalu kembali matanya mengarah ke tablet lagi.
"Kamu mau menemuinya?"tanya Rendi lagi.
"Ya,aku akan menemuinya sayang,di mana aku akan bertemu dengan pimpinannya?"tanya Mourin.
"Coba tanya sekretarismu,dia yang sudah mengubah jadwal mingguan dan harianmu. Aku juga hari ini akan ke tempat proyek,minggu depan sudah mulai di garap proyeknya "kata Rendi.
"Oke,nanti mungkin aku akan pulang telat sayang,sekalian ngambil mobil di bengkel.Jadi kalau kamu pulang ya pulang aja."kata Mourin.
Segudang rencana dengan Evan akan dia rancang. Mungkin Evan tahu kalau dia sudah mulai bekerja lagi. Senyun Mourin masih mengembang,membuat Rendi heran melihatnya.
"Kamu kenapa senyum-senyum begitu?"tanya Rendi,menatap Mourin lekat.
"Ngga sayang,aku ingat Sandra aja. Hari ini dia ada di Bali dan mau memberi oleh-oleh buat Elena,jadi aku senang dengarnya."kata Mourin balas menatap Rendi.
Rendi kembali menatap jalanan lagi,dia merasa Mourin masuk kantor lagi seperti ada yang di tunggunya. Dia juga khawatir istrinya akan sering pulang malam lagi.
Tiba-tiba saja dia ingat si kembar,bagaimana mereka kabarnya,pikir Rendi.
Sepulang dari kantor dia akan mampir ke rumah Anita,sudah dua tahun lebih dia tidak pernah mengunjungi rumah Anita dan bertemu anaknya. Tapi dia tidak akan bilang sama Mourin akan mampir ke rumah Anita.
Rendi hanya mengirimi uang saja,tanpa menjenguknya. Dia pikir tidak baik sering berkunjung ke rumah mantan istri,jadi dia tidak pernah mengunjunginya selama dua tahun lebih ini.
_
Menjelang makan siang,Mourin pergi menemui klien PT Angkasa Cipta,yang ternyata adalah Evan. Dia sangat senang sekali,karena memang Evan sengaja ingin ada pertemuan dengan Mourin.
Sedangkan Rendi masih di kantornya,dia masih memeriksa berkas yang di revisi. Dia melihat jam di tangannya,sudah pukul dua belas siang. Berarti Mourin sudah berangkat menemui klien itu,dia lupa untuk meminta tanda tangan pada Mourin sebelum istrinya berangkat bertemu klien.
Akhirnya dia keluar dari ruangannya dan menuju ke ruangan Mourin yang kebetulan tidak di kunci. Sekretaris Mourin juga sedang makan siang di bawah,jadi dia langsung masuk saja.
Rendi menghampiri meja kerja Mourin,dia meletakkan berkas di tumpukan pertama kumpulan berkas yang akan di tanda tangani.
Sedikit berantakan tumpukan berkas itu,sampai Rendi merapikannya agar tidak berserakan dan mudah mengambilnya.
Tidak sengaja Rendi memjatuhkan sebuah amplop putih dengan bertuliskan logo sebuah rumah sakit yang dulu Mourin melahirkan. Rendi mengernyitkan keningnya.
Surat dari rumah sakit? Apa Mourin pernah periksa sendirian tanpa di temani olehnya?
Karena penasaran,dia membuka isi amplop tersebut. Dia mengambil suratnya dan membaca isinya. Di sana tertulis hasil tes DNA dengan nama Elena Putri dan dirinya,Rendi berpikir apa Mourin ragu dengan anaknya? Kenapa dia melakukan tes DNA?
Lalu Rendi membaca lagi sampai bawah,dan dia pun diam. Betapa mengejutkannya dengan hasil tes DNA di sana tertulis bahwa DNA Elena dan dirinya negatif dan tidak cocok. Lalu DNA siapa yang ada di darah anaknya,Elena?
Nafas Rendi memburu,dia meremas surat itu,ternyata Mourin sudah tidur dengan laki-laki lain selain dirinya. Pantas saja waktu lahir Elena tidak ada kemiripannya sama sekali dengan dirinya.
__ADS_1
Rendi kembali membuka surat tersebut,berharap hasil tes DNA itu salah. Tapi sayangnya sudah berulang kali di baca,tetap saja isinya sama.
"Brengsek! Ternyata dia menghianatiku. Jadi dia sering pulang malam karena sering tidur dengan laki-laki lain?"umpat Rendi.
Wajah Rendi berubah merah,cuping hidungnya kembang kempis tanda dia sedang marah. Dia tarik nafas kasar,lalu dia selipkan lagi amplop berwarna putih itu. Dia berpikir lagi,dengan siapa Mourin melakukan itu.
Tapi tunggu,dia tidak boleh gegabah. Dia akan melakukan tes DNA lagi dengan Elena. Lalu Rendi keluar dari ruangan Mourin dan membanting pintunya dengan keras,membuat sekretaris Mourin terkejut dan heran kenapa suami dari bosnya itu membanting pintu.
Dan Rendi masuk lagi ke dalam ruangannya,dia merenungkan apa yang baru saja dia temukan. Tapi dia harus memastikan kalau DNA Elena adalah sama dengannya,jadi dia mengemasi tasnya dan bergegas pergi dari kantor.
"Siska,batalkan kunjungan ke proyek hari ini,saya mau ke suatu tempat dulu."kata Rendi pada sekretarisnya.
Kemudian dia pergi meninggalkan kantor dan langsung naik mobil. Dia melajukan mobilnya dengan kencang,saat ini yang ada di pikirannya dia harus pulang ke rumah dan mengambil sampel rambut Elena dan dirinya.
Dia harus memeriksanya kembali agar hasilnya akurat. Dia tidak mau gegabah,mungkin saja itu palsu. Pikir Rendi menenangkan diri sendiri.
Dan sampai di rumah,Rendi langsung menemui Elena yang sedang bermain dengan babysitternya. Bayi berumur tiga bulan itu hanya tersenyum ketika Rendi menggunting sedikit rambutnya. Sedangkan babysitter Elena diam saja,walau sebenarnya dia penasaran dengan Rendi.
"Susi,tolong kamu jaga Elena ya.Dan jangan bilang apapun sama ibu jika saya mengambil rambut Elena."kata Rendi berpesan pada Susi babysitter Elena.
Setelah selesai,Rendi kembali masuk ke dalam mobilnya. Dia langsung melajukan mobilnya lagi ke arah rumah sakit yang berbeda dari Mourin melahirkan.
_
Satu bulan sudah Rendi menunggu hasil tes DNA yang dia periksakan ke rumah sakit. Dan hasilnya sama dengan hasil tes punya Mourin. Rendi pun terdiam,dia ingin marah pada diri sendiri karena telah di bodohi oleh istrinya.
Lalu apa yang akan dia perbuat? Dia akan menanyakan terus terang pada Mourin tentang Elena anak siapa sebenarnya.
Malam hari,Mourin sedang menyusui Elena. Rendi belum berani menanyakan tentang ayah dari Elena sebenarnya.
Setelah selesai,baru Rendi kembali bangkit dari duduknya. Mondar mandir entah apa yang akan dia mulai katakan,membuat Mourin jadi terganggu dengan sikap Rendi tersebut.
"Sayang,kamu kenapa mondar mandir terus? Ada yang mengganggu pikiranmu?"tanya Mourin meletakkan Elena di tempat tidurnya.
"Iya,aku penasaran anak siapa Elena itu?"tanya Rendi yang tiba-tiba itu
Membuat Mourin diam dan terpaku. Dia menatap Rendi,jadi dia menemukan surat itu? pikir Mourin.
"Ya anak kamulah sayang,kenapa di tanyakan?"jawab Mourin sesantai mungkin.
"Bohong! Elena bukan anakku."kata Rendi melempar amplop putih di hadapan Mourin.
Mourin menatap amplop putih itu,dia mengambil isinya dan membacanya. Rendi melihat Mourin begitu tenang membuka dan membaca surat itu,hingga kecurigaannya bertambah kuat.
"Terus,apa yang akan kamu lakukan jika memang itu bukan anakmu?"tanya Mourin seolah menantang Rendi.
Mourin sudah tidak peduli lagi,sebelumnya dia sudah memberitahu Evan kalau Elena anaknya dan Evan sangat senang. Dia hanya menunggu waktu Rendi mengetahuinya dan menceraikannya. Atau dia yang akan meminta cerai seandainya Rendi tidak mau bercerai.
"Kenapa kamu bohong sama aku?"tanya Rendi yang tercekat tenggorokannya.
"Kenapa kamu menghianati aku,Mourin?"tanya Rendi lagi.
__ADS_1
Mourin diam,dia lalu duduk di sofa dan menghembuskan nafas kasar.
"Aku masih mencintai mantan pacarku yang dulu. Dia datang dan menemuiku,lalu kami masih saling menyukai."jawab Mourin enteng.
Rendi kembali tercekat,dia benar-benar tidak tahu kalau Mourin sering menemui mantan pacarnya dan sering berhubungan dengannya.
"Kamu sering tidur dengannya?"tanya Rendi lagi.
"Ya,bahkan sampai sekarangpun."
Rendi benar-benar syok dengan kalimat jujur dari istrinya itu. Rasa di rendahkan oleh istrinya dan di hianati,seperti dulu dia menghianati Anita.
Mungkinkah sesakit ini Anita merasakan di hianati oleh dirinya,sama dengan dirinya di hianati oleh Mourin.
Rendi menghela nafas panjang,dia lalu keluar dari kamarnya dan pergi menuju mobilnya. Satu kata yang ada dalam hatinya yaitu maaf pada Anita. Dia akan ke rumah Anita malam ini,menengok anaknya yang sudah dua tahun lebih tidak pernah dia kunjungi.
Sedangkan Mourin menatap kepergian Rendi,dia juga merasa bersalah. Namun begitu,Evan menunggunya jika dia bercerai dengan Rendi.
Mourin menghubungi Sandra,tersambung.
"Halo San."
"Iya,Rin. Ada apa lo telepon gue malam-malam?"
"Rendi tahu tentang surat hasil DNA itu,dia juga melakukan tes DNA ulang di rumah sakit yang berbeda."
"Lalu,apa yang lo perbuat?"
"Gue jujur kalau gue masih sayang dan cinta sama Evan.Gue juga bilang kalau gue sering bertemu Evan dan sering tidur dengannya."
"Gila lo,terus si Rendi gimana?"
"Dia pergi keluar,entah mau kemana."
"Terus lo mau cerai sama Rendi dan mau balik lagi sama Evan?"
"Ya,dari dulu tekadku sudah bulat mau kembali lagi sama Evan.Kami sering keluar berdua dan ya lo tahulah gimana."
"Apa Evan tahu kalau Elena itu anaknya?"
"Iya,gue kasih tahu dia satu bulan yang lalu.Karena gue ngga mau kehilangan Evan lagi. Dia juga mendukung gue untuk pisah dengan Rendi.Tapi gue juga merasa bersalah sama dia."
"Ya itu resiko lo dan Rendi.Itu sih terserah lo,kalau Evan emang baik buat lo dan Elena kenapa tidak?Lagi pula Evan terima kan?"
"Ya,dia menunggu gue. Dan Rendi mengetahui sendiri,jadi ya udahlah sekalian aja."
Obrolan Mourin dan Sandra masih bergulir sampai tengah malam. Hingga telepon itu terhenti karena Elena terbangun dan minta di beri asi oleh Mourin.
_
_
__ADS_1
_
❤❤❤❤❤