
Arga masih cemas, dia lalu menghubungi pembantunya bahwa dia ada di rumah sakit menunggu istrinya.
"Jaga anak-anak ya bi, bilang mamanya ada di rumah sakit karena kecelakaan." kata Arga di telepon.
"Ya ampun, iya tuan. Semoga nyonya tidak berat lukanya, tuan." kata pembantunya.
"Terima kasih bi."
Sambungan terputus, Arga menghampiri dokter yang tadi mencarinya.
"Dokter bagaimana istri saya?" tanya Arga.
"Ya, tinggal di pindahkan ke kamar inap saja." jawab dokter.
Lalu dokter menyuruh perawat membawa Anita ke kamar yang sudah di siapkan. Arga mengikuti kemana bangsal yang membawa Anita pergi.
Dia melihat wajah istrinya ada goresan di pipinya dan sudah di beri perban kecil. Serta dia melihat tangan sebelah kiri di gips untuk menyatukan kembali tulang yang retak di lengannya.
Pegang jari tangan Anita dengan erat. Matanya hampir basah karena menangis, dia usap agar tidak jatuh ke bawah.
Sampai di kamar inap yang sudah di siapkan, Anita di pindahkan di kasur bangsal yang sudah rapi. Selang infus yang menempel di tangannya di pindahkan juga dekat dengan kepala Anita.
Arga tidak mengalihkan sedikitpun pandangannya pada wajah istrinya yang masih tertutup rapat matanya.
Setelah selesai memindahkan infusan, perawat pun keluar. Arga duduk di sisi kanan Anita, tangannya membelai pipinya. Kemudian dia mengecup kening Anita lama.
Tak berapa lama, kelopak mata Anita berkedip. Membuka perlahan matanya, terasa gelap pandangannya karena terhalang oleh tubuh Arga yang masih mengecup keningnya lama.
"Ga?" kata Anita dengan suara lirih.
Arga kaget, dia melihat ke arah wajah istrinya dan terlihat mata Anita terbuka. Arga memeluk istrinya setelah tahu Anita membuka matanya. Dia menangis, sejak tadi dia menahan agar tidak menangis. Tapi sekarang dia menangis lepas, dia takut istrinya kenapa-kenapa.
"Sayang, terima kasih kamu bangun. Aku takut sekali kamu kenapa-kenapa, hik hik." ucap Arga di sela tangisnya.
"Hei, aku ngga apa-apa kok. Aku hanya berpikir pak Diman bagaimana?" tanya Anita.
Arga melepas pelukannya, dia menatap istrinya lalu mengecup bibir Anita sekilas.
"Pak Diman di operasi karena wajahnya terkena kaca mobil. Tapi dia sudah selesai di operasi, tinggal tunggu dia bangun." jawab Arga.
"Syukurlah, aku takut dia meninggal." ucap Anita lirih.
"Sebenarnya apa yang terjadi sayang? Kenapa bisa terjadi kecelakaan?" tanya Arga.
"Ceritanya panjang, Ga. Ini sepertinya ulah dua orang yang kemarin aku pecat. Karena pak Diman sempat melihat kedua orang itu ada di sekitar pabrik." jawab Anita.
Dia membetulkan posisi tidurnya agar bisa duduk. Arga membantu istrinya untuk duduk dan bersandar di bantalan.
"Kamu masih lemah sayang, apa harus duduk?" tanya Arga.
"Aku pengen duduk." jawab Anita masih menggeser pantatnya agar bisa duduk dengan benar.
Arga pun menurut, dia membantu istrinya mengangkat tubuhnya dengan pelan lalu menyandarkannya di bantal.
Arga memegang tangan Anita yang di gips, lalu menciumnya pelan.
"Sayang, aku takut kamu kenapa-kenapa." ucap Arga.
__ADS_1
"Aku ngga apa-apa, kamu sudah menghubungi di rumah?" tanya Anita.
"Sudah, aku sudah kasih tahu bibi tentang keadaan kamu. Mungkin besok anak-anak di antar bibi menjengukmu." jawab Arga.
Lalu Anita pun bercerita lagi tentang kejadian dia kecelakaan karena remnya blong di sengaja. karena pada waktu itu mobil sehabis dari bengkel dan semuanya di cek, tapi kenapa bisa jadi rem blong.
"Itu memang ada yang merusaknya sayang, coba nanti aku periksa cctv yang aku pasang di setiap sudut sekitar pabrik." kata Arga.
"Kamu memasang cctv di pabrik?" tanya Anita.
"Iya, kan suapay kalau ada kejadian kemalingan atau perngrusakan sada dokumentasinya. Aku tinggal ambil saja itu cctvnya. Apa kamu tidak tahu?"
"Aku ngga tahu, ya sudah coba saja lihat cctv agar bisa tahu siapa pelakunya. Jika memang benar mereka berdua, aku akan pastikan mereka masuk penjara." kata Arga dengan marah.
"Terserah kamu Ga, mereka memang pantas di jebloskan ke penjara. Aku pikir mereka bisa berubah, tapi mereka malah mencelakaiku." kata Anita.
Anita hanya merasa kasihan, tapi bagi pecandu judi dalam bentuk apa pun tetap saja akan berbuat merugikan banyak orang. Mereka tidak memikirkan bagaimana orang yang di rugikan, yang di pikirkan adalah bisa mendapatkan uang untuk bisa bermain judi lagi.
Malam semakin larut, Arga menemani istrinya di rumah sakit. Dia juga akan memberitahu mertuanya, ayah Anita pak Sugara besok pagi. Karena jika di beritahu sekarang takutnya menjadi beban pikiran.
_
Tiga hari sudah Anita di rawat di rumah sakit, dia sudah lebih baik. Arga sendiri mengbil cuti seminggu hari agar bisa menjaga istrinya di rumah sakit.
Anak-anaknya yang di rumah bersama pembantunya. Dan siang ini sepulang dari sekolah, mereka menjenguk Anita bersama-sama.
Satu persatu masuk ke dalam kamar inap Anita mereka senang Anita bisa berjalan. Dan memang dari awal bisa jalan, hanya saja kakinya masih lemas untuk jalan.
"Ma, kapan pulangnya?" tanya Angga sambil melihat tangan Anita yang gips.
"Lama sih pa, di rumah sakitnya?" tanya Angga lagi.
"Kan mama belum sembuh, dek." jawab Chila.
"Sekolahnya pada pinter ngga?" tanya Anita tersenyum.
"Pintar dong ma, kita belajar juga di rumah." jawab Celine.
"Iya ma, walaupun ngga ada mama dan papa juga kita tetap belajar kok." Chiko menimpali.
Anita mengacungkan jempolnya memberi pujian pada anak-anaknya.
"Kalian udah pada makan belum?" tanya Arga pada anak-anaknya.
"Belum pa, dari rumah langsung kesini." jawab Celine.
"Ya sudah, papa mau beli makanan buat kalian. Jaga mama kalian ya?"
"Oke pa." jawab Celine dan Chiko bersamaan.
Arga pergi dari kamar inap Anita untuk membeli makan siang. Pembantu Anita mendekat lalu berbicara pada Anita ragu. Tapi dia harus menyampaikannya.
"Nyonya, kemarin perempuan yang pernah ke rumah mencari nyonya datang lagi." kata pembantunya itu.
"Siapa sih bi? Kok aku penasaran sama perempuan itu." kata Anita heran.
"Saya juga kurang tahu, nyonya. Tapi dia tidak seperti dulu lagi, waktu itu terlihat sombong, tapi kemarin tidak." katanya.
__ADS_1
"Bibi bilang apa sama dia?" tanya Anita.
"Ya, saya jawab ibu sedang di rawat di rumah sakit, tapi perempuan itu minta alamat rumah sakit ini nyonya." kata pembantunya lagi.
"Kamu memberi alamat rumah sakit ini?" tanya Anita lagi.
"Iya, karena dia meminta alamat rumah sakitnya dengan memaksa."
Anita terdiam, dia memikirkan siapa perempuan itu. Apakah Marisa? Tapia jika Marisa seharusnya yang di cari itu Arga, bukan dirinya.
Semakin di pikirkan, Anita semakin pusing. Dia menghela nafas panjang dan memejamkan matanya.
Anak-anaknya sedang bercanda dengan satu sama lain. Sedangkan Anita masih memejamkan matanya.
_
Arga mencari orang yang mencelakai istrinya, dia segera memberi dakwaan dengan pasal berlapis. Seperti penggelapan uang pabrik dan juga berusaha mencelakai istrinya dan supirnya.
Dia sudah menemukan pelaku dari cctv yang terpasang di area pabrik. Dia melihat di cctv tersebut memang kedua orang yang di pecat Anita, pak Maman dan pak Salim pelakunya membuka paksa pintu mobil dan memutus remnya.
Hingga rem mobil Anita jadi blong. Mobilnya juga berada di kantor kepolisian sedang di periksa. Dan polisi juga langsung memburu kedua orang tersebut.
Dan tak berapa lama, pak Maman dan pak Salim di tangkap. Karyawan pabrik juga tidak menyangka kalau kedua mantan karyawan pabrik Arga dengan sengaja mencelakai Istri bosnya.
"Pak Maman sama pak Salim ternyata jahat juga ya." kata Dian pada Sarah sang manager pabrik.
"Iya, padahal ibu Anita itu baik. Dia memberi pesangon pada pak Maman dan pak Salim waktu di pecat itu. Tapi tega ya mau mencelakai ibu Anita." kata Sarah menimpali.
"Yang namanya orang jahat susah bertobatnya, mbak. Padahal banyak sekali kerugian pabrik, saya aja ngga berani bilang sama pak Arga waktu itu karena di ancam." ucap Dian lagi.
Semua karyawan pabrik menjenguk Anita secara bergantian, waktu dan harinya. Karena tidak boleh meninggalkan jam kerja secara bersamaan.
Kini Pabrik kosong kepemimpinan, Anita masih di rumah sakit. Mungkin akan lama lagi Anita masuk ke pabrik untuk memulihkan kesehatannya.
Hari sudah beranjak siang, ketika lima karyawan pabrik menjenguk Anita, mereka menjenguk dengan membawa beberapa kue dan buah.
Kini di kamar Anita sepi lagi, setelah tadi ramai oleh obrolan para karyawan yang menjenguk Anita.
Anita berbaring di bangsalnya, dia berusaha mengangkat selang infusnya di dekatkan pada bangsal. Lalu dia duduk dan posisi tubuhnya berbaring perlahan.
Baru memejamkan matanya, ada suara langkah kaki yang memakai sepatu. Anita belum mau membuka matanya meski dia tahu ada langkah kaki masuk ke dalam kamar inapnya. Dia pikir itu adalah perawat, namun dia diam di samping Anita yang berbaring.
Orang yang berdiri tepat di depan Anita memandang Anita yang sedang terpejam, dia menghela nafas panjang.
Anita merasa perawat yang biasa memeriksanya kenapa diam saja, dia heran. Lalu Anita membuka matanya perlahan dan melihat seorang perempuan berdiri di depanmya sambil menatapnya datar.
Anita kaget dengan perempuan di depannya itu, dia tidak percaya akan bertemu lagi.
"Selamat siang, Anita."
_
_
_
❤❤❤❤❤❤❤
__ADS_1