
"Anita."
Anita menoleh, ternyata Arga. Dia bingung kenapa suara mobilnya tidak terdengar? Oh, dia tadi melamun sehingga suara mobil Arga berhenti di depan rumahnya tidak terdengar.
Anita tersenyum dan menyuruh Arga duduk. Arga heran sejak tadi. Apa yang di pikirkan Anita?
"Kamu melamun?" tanya Arga setelah dia duduk.
Anita menunduk lalu tersenyum lagi, Aah manis sekali jika Anita tersenyum. Pikir Arga.
"Aku memikirkan pelangganku yang tadi datang." kata Anita.
"Oh, pelanggan. Sampai tidak mendengar aku memanggilmu tiga kali, serius sekali." ucap Arga.
"Ya, dia lucu. Maaf, tadi kamu memanggilku tiga kali?" tanya Anita heran sendiri.
Berarti dia melamun serius sekali sampai panggilan Arga tidak dia dengar.
"Iya, apa yang kamu pikirkan?" tanya Arga menyelidik dari raut wajah Anita yang terlihat lebih ceria dari biasanya.
"Aku sudah bilang, tadi ada pelanggan lucu banget. Aku kira dia itu nakal, ternyata preman pasar." jawab Anita.
"Kamu rupanya senang banget." kata Arga, ada nada cemburu di wajahnya.
Belum pernah Arga membuat Anita tersenyum senang seperti itu. Dia menarik nafas panjang, merasa gagal membuat Anita senyum ceria seperti itu. Dia menunduk sedih.
Anita melihat Arga seperti sedih, apa yang di pikirkan Arga?
"Ada apa kamu kemari?" tanya Anita, memperhatikan Arga yang terlihat sedih.
"Aku kangen sama kamu." kata Arga, dia menatap Anita dengan intens.
Anita menunduk, dia tersenyum tipis. Belum berani dia bicara tentang hati.
"Anita, aku belum pernah melihatmu ceria seperti tadi ketika kamu cerita tentang preman pasar itu. Apa kamu bahagia?" tanya Arga, dia harus tahu apa yang membuat Anita bisa tersenyum seperti itu.
"Ga, setiap orang perlu bahagia. Dan bahagia tidak harus terlihat dari wajah dan senyuman setiap hari. Bahagiaku sederhana, Ga. Aku lihat anak-anak tumbuh dengan baik itu sudah bahagia buatku. Mereka hartaku selamanya. Aku juga tidak akan membiarkan anak-anakku terlantar hanya karena aku memikirkan diriku sendiri." kata Anita.
Arga menunduk, dia kini semakin sedih dengan kalimat-kalimat Anita yang sepertinya belum ada peluang baginya. Tapi apakah dia akan menyerah? Entahlah.
"Apakah aku mau menikahimu membuatmu bahagia?" kini pertanyaan Arga menusuk hati Anita.
Dia bersalah belum bisa menjawab lamaran Arga saat itu. Dan ini sudah hampir empat bulan semenjak mereka liburan bersama di vila.
"Kamu menunggu jawabanku, Ga?" tanya Anita, dia menatap Arga dengan serius.
Arga balik menatap Anita dengan serius pula.
"Bukankah aku sudah katakan sama kamu, aku menunggumu Anita, kapanpun kamu mau menjawabnya." jawab Arga.
Dia benar-benar menunggu jawaban dari Anita. Dia mengerti apa yang di pikirkan Anita, bukan hanya dirinya yang di pikirkan tapi juga kedua anaknya juga ibunya.
__ADS_1
Makanya dia menerima Anita dengan semuanya, paket lengkap. Dia juga sedang merencanakan hal besar jika Anita benar-benar menerimanya dan menikah dengannya.
Kembali Anita menunduk, dia bangkit dari duduknya dan masuk ke dalam rumah. Meninggalkan Arga yang masih bingung dengan Anita. Arga semakin sedih dan menundukkan kepalanya.
Tak berapa lama, Anita kembali lagi dengan kotak beludru di tangannya. Dia lalu duduk di samping Arga dan menyerahkan kotak beludru itu.
Agra kecewa dan bingung, itu adalah kotak beludru yang dia berikan pada Anita ketika dia mengantar ke kota menemui Rendi karena anak-anaknya.
"Apa maksudnya ini? Apa kamu menolakku?" tanya Arga semakin nyeri di hatinya.
Arga belum menerima kotak itu,Anita tersenyum dan menatap Arga yang masih bingung dengan kotak itu.
"Nih kotaknya." kata Anita menyerahkan pada Arga.
Arga semakin kecewa, dia menerima kotak beludru itu pelan.
"Pakaikan di jariku." kata Anita masih dengan senyumnya mengembang.
Arga mendongak, dia tidak percaya dengan kalimat terakhir Anita. Dia menatap Anita, mencari kesungguhan di mata Anita.
"Ya, pakaikan." kata Anita lagi meyakinkan Arga.
Arga tersenyum, buru-buru dia membuka kota itu dan mengambilnya. Dengan pelan dan tangan bergetar, Arga memasukkan cincin itu di jari manis Anita.
Anita tersenyum, dia menatap cincin itu dengan senang. Dan Arga bahagia tak terbendung, dia memeluk Anita erat.
"Terima kasih, aku akan membahagiakan kamu, Anita." kata Arga dengan senyum mengembang di bibirnya.
Dia benar-benar bahagia dan tidak percaya. Rencananya mengunjungi Anita karena dia memang sangat merindukan Anita di sela-sela kesibukannya dengan pekerjaannya. Tapi dia malah mendapatkan kejutan dari Anita.
Pelukan Anita terlepas, dia melihat cincin yang melingkar di jari manisnya dengan indah. Biarlah dia mencoba untuk menikmati ini semua. Dia akan berusaha mencoba mencintai Arga. Tapi bukankah dia juga suka sama Arga?
Lalu apa yang dia ragukan, Arga juga mencintainya sejal dulu. Sejak dari SMA.
"Anita, apa ini benar?" tanya Arga masih tidak percaya.
"Lalu, kamu pengennya ini bohong?" tanya Anita.
"Tidak, aku ingin ini benar adanya." jawab Arga cepat.
Anita tersenyum, dia diam kembali menundukkan wajahnya. Membuat Arga jadi heran.
"Ada apa?" tanya Arga.
Baru juga dia bahagia, tapi kini dia melihat Anita terlihat sedih lagi. Dia kini jadi ragu, apakah Anita benar-benar menerimanya atau karena terpaksa.
"Tidak apa-apa." jawab Anita.
"Apa kamu masih ragu dengan jawabanmu sendiri?" tanya Arga lagi.
"Tidak, aku hanya..." jawaban Anita menggantung.
__ADS_1
"Aku tidak apa-apa kalau kamu masih ragu dengan jawabanmu sendiri. Aku akan tetap menunggumu." kata Arga lagi.
"Tidak Ga, aku seperti ada sesuatu yang mengganjal." kata Anita.
"Apa?"
"Apa seperti ini caranya menerima lamaran?"
"Hah?"
Keduanya saling pandang bingung. Lalu mereka tertawa lepas bersama. Hingga membuat ibu Yuni di salam keluar.
"Kalian kenapa?" tanya ibu Yuni heran menatap keduanya secara bergantian.
"Tidak bu, tidak apa-apa." jawab Anita masih dengaj senyumannya.
Arga pun memeluk Anita tanpa ragu, dia mencium pelipis Anita di depan ibu Yuni. Kini ibu Yuni mengerti, dia lalu ikut tersenyum bahagia. Pasti sesuatu yang membahagiakan sehingga mereka tertawa sangat senang.
"Ibu kira apa. Ya sudah, ibu masuk lagi."
Ibu Yuni pun masuk ke dalam rumah, dia kembali menatap Anita yang terlihat dari dalam rumah. Senyum Anita mengembang dengan sangat manis. Ya, senyum itu jarang sekali dia temui di awal Anita pulang tiga tahunan lalu.
"Semoga kamu bahagia selamanya, nak. Ibu ikut bahagia jika kamu bahagia Anita." gumam ibu Yuni.
Dia lalu masuk lagi ke dalam kamarnya.
_
Setiap hari Arga selalu menelepon Anita di waktu pagi dan malam hari menjelang tidur. Walau sangat sibuk, Arga juga menyempatkan datang ke rumah Anita. Ada saja yang dia bawa untuk Anita dan juga kedua anaknya.
Arga sudah sangat dekat dengan Chila dan Chiko, Arga juga berusaha jadi ayah bagi Chila dan Chiko.
Anita dan Arga sepakat untuk saling mengenal lebih dulu dan bisa di katakan masa pacaran, walau gaya pacaran mereka berbeda dengan gaya pacaran remaja. Mereka tahu, mereka bukan anak muda lagi. Jadi pacaran mereka hanya datang dan menelepon saja. Itu pun tidak pernah ada romantis atau berdua saja.
Mereka malah sering menemani anak-anak bermain. Ibu Yuni sendiri heran dengan gaya pacaran mereka. Tapi Anita tidak ambil pusing, bagi memberikan waktu untuk Arga di sela kesibukannya melayani pembeli juga sudah cukup.
Dan Arga sendiri tidak mempermasalahkannya, dia juga kadang membantu melayani pembeli jika hari minggu setelah pulang dari gereja jika Anita membuka tokonya.
"Anita, apa kamu tidak pergi jalan-jalan begitu sama Arga?" tanya ibu Yuni.
"Pergi kemana?"
"Ya kemana begitu, layaknya orang pacaran. Apa tidak merasa ingin berduaan dengan Arga."
"Arga juga ngga kenapa-kenapa kalau di rumah aja ketemunya. Aku merasa sudah jadi keluarga, bedanya kita belum di sumpah di hadapan Tuhan. Aku dan Arga santai aja bu." jawab Anita.
Ibu Yuni menghela nafas panjang, terserah merekalah. Yang penting mereka bahagia selamanya. Ucap ibu Yuni dalam hati.
_
_
__ADS_1
_
❤❤❤❤❤