IKHLAS MELEPASMU

IKHLAS MELEPASMU
146. Hamil Lagi


__ADS_3

"Begini pak Arga, saya sempat khawatir dengan keadaan istri anda. Karena kami harus menyelamatkan dua nyawa sekaligus. Waktu koma beberapa menit, ternyata istri anda mendengar ucapan kami mungkin. Jadi, dia berjuang untuk bangun. Maka dari itu koma ibu Anita hanya beberapa menit saja." kata dokter, dia belum menyampaikan intinya.


"Apa yang anda katakan dengan suster dokter, sehingga istri saya berjuang untuk sadar kembali. Sejujurnya saya tidak mengerti dengan ucapan anda, dok. Apa bisa bicara pada intinya saja?" ucap Arga, dia tidak sabar dokter berkata terlalu berputar-putar.


"Ya maaf pak Arga. Emm, janin di dalam istri anda sempat kehabisan asupan oksigen dan gizi dari rahim ibu Anita. Ya, karena ibu Anita terlalu banyak mengeluarkan darah." sampai di sini dokter berhenti lagi.


Membuat Arga melongo karena dia tidak percaya dengan ucapan dokter.


"Apa dokter? Janin?"


"Iya, istri anda itu sedang hamil tujuh minggu. Apa anda tidak tahu?" tanya dokter heran.


Sekali lagi, Arga melongo dengan ucapan dokter. Kemudian dia tersenyum, rasa lega dan bahagia dia rasakan. Akhirnya keinginannya untuk mendapatkan anak satu lagi tercapai.


"Lalu, bagaimana kesehatan istri saya dan janinnya saat ini dokter?" tanya Arga.


"Keduanya selamat dan baik-baik saja, anda cukup tanggap dan sigap membawa istri anda ke rumah sakit." jawab dokter.


" Iya dokter, saya panik dan cemas melihat istri saya banyak mengeluarkan darah. Makanya saya langsung bawa ke rumah sakit. Apa jadinya jika cepat aku bawa, aku akan kehilangan istriku juga janinnya." ucap Arga sedih.


"Kenapa istri anda sampai teriris urat nadinya pak Arga, apa karena percobaan bunuh diri?" tanya dokter pelan, takut ucapannya salah.


"Tidak, bukan percobaan bunuh diri. Tapi ada orang yang mau mencelakakan istri saya, dok." jawab Arga.


"Oh, maaf kalau saya salah mengira." kata dokter tidak enak.


"Tidak apa-apa dokter. Yang penting istri saya dan janinnya selamat berkat dokter." kata Arga.


Lalu pembicaraan mereka selesai setelah waktu yang di tentukan melebihi batasnya. Arga segera keluar dari ruangan dokter dan tidak lama dokter keluar untuk melakukan operasi lagi.


Arga menghampiri Chiko yang masih duduk di tani pak Diman. Arga menghampiri mereka serta duduk di samping Chiko.


"Abang pulang dulu ya sama pak Diman, biar papa aja yang jaga mama di sini." kata Arga.


"Tapi mama baik-baik saja kan, pa?" tanya Chiko masih sedih dengan mamanya.


"Mama baik-baik saja, jangan khawatir. Ada papa di sini, sekarang abang pulang ya." kata Arga menenangkan anak sambungnya itu.


"Baiklah, nanti aku boleh jenguk mama lagi kan?" tanya Chiko.


"Iya boleh, nanti sama kakak Chila dan adek Celine semuanya. Mereka juga pasti pengen menjenguk mama." ujar Arga lagi.


Setelah berkata seperti itu, Chiko dan pak Diman berpamitan sama Arga, tak lupa juga memberikan tas berisi baju-baju Arga dan Anita juga.


_


Arga menunggu Anita siuman dari pingsannya. Dia memegang tangan istrinya lalu menciumnya beberapa kali.


Sesekali dia mengelus perut Anita dengan pelan, senyumnya mengembang tanda bahagia. Dia akan mempunyai anak lagi dari Anita.


Total anaknya jadi enam orang, biarkan saja orang berkata apa. Kenapa istrinya hamil terus. Dia hanya merasa senang dengan tingkah lucu anak-anak.

__ADS_1


Suatu saat dia tidak akan cepat sekali di tinggalkan anak-anaknya karena meneruskan pendidikan jauh. Atua pun menikah.


Saat itu memang pasti terjadi, namun dia tidak mau hidup di hari tuanya sepi. Meski pun anak-anaknya sudah besar, mereka akan kembali ke rumahnya dengan tawa candanya.


Dia mengaca pada dirinya, anak tunggal dan hidup sendiri tanpa saudara. Begitu pun dengan Anita, pasti ibunya dulu sangat kesepian ketika Anita kuliah dan menikah dengan Rendi di kota.


Dia tidak ingin seperti itu cepat terjadi. Bertahap sesuai dengan kedewasaan umur anak-anaknya.


Mata Anita mulai bergerak, dia melihat suaminya sedang mengelus perutnya.


Dia tahu bahwa dirinya hamil lagi di sela-sela komanya sesaat lalu.


Kemudian tangan Anita bergerak dan di sentuhnya kepala Arga yang sedang menempel di samping kanannya.


Arga terkejut, dia menoleh ke arah istrinya dan dia melihat Anita tersenyum padanya.


"Sayang, kamu sudah sadar?" tanya Arga senang.


Dia membelai pipi Anita dengan lembut, dan juga tersenyum padanya. Dia juga mengecup kening Anita lama.


"Terima kasih sayang, kamu memberi kesempatan aku untuk mempunyai anak lagi." kata Arga masih dengan senyum manisnya.


"Janinku selakat, Ga. Aku takut sekali, ketika dokter mengatakan aku harus kehilangan janinku jika aku koma lama sekali. Saat koma aku mendengar dokter mengatakan kalau aku hamil lagi." kata Anita dengan terisak.


Tangan kirinya yang masih berbalut perban di pergelangan tangannya hanya bisa diam.


"Ngga apa-apa sayang, walaupun janin kita tidak bisa terselamatkan. Yang penting kamu selamat. Aku takut sekali kehilanganmu sayang, hik hik hik." kata Arga terisak.


"Kok kamu juga menangis sih?


"Aku juga tidak akan tega meninggalkanmu sendiri dengan anak-anak, Ga. Aku mau menua denganmu, membesarkan anak-anak kita bersama. Termasuk dalam perutku ini." ucap Anita.


"Iya sayang, aku senang sekali. Terima kasih ya, kamu mengandung lagi anakku. Cup." kata Arga mengecup tangan Anita.


"Saat itu aku lupa pakai kontrasepsi, jadi ya ini hasilnya." kata Anita meraba perutnya.


"Ngga apa-apa, aku memang ingin kamu hamil lagi. Sepuluh lagi juga ngga apa-apa, hehe.."


"Ish, kamu yang enak. Aku yang hamil merasakan ngga enaknya, merasakan ngidam dan juga rasa mual. Pokoknya sudah, jangan nambah lagi." kata Anita ketus.


"Kan biar anaknya banyak sayang, kita punya harta banyak buat apa? Jadi biarkan anak kita yang menghabiskan harta kita." kata nyeleneh Arga.


"Ngga pokoknya. Cukup ini saja, kalau kamu mau nambah lagi setelah ini. Sana hamil sendiri!" ucap Anita dengan mode kesal.


"Eh, ya ngga bisa sayang. Kan aku cuma nyumbang susu aja sama kamu, kamu yang nampungnya. Jadi deh bayi kecil." kata Arga lagi.


"Ish, apa sih. Udah ah, jangan bahas itu lagi. Pasti ujung-ujungnya kamu akan bilang seneng proses bikin bayinya."


"Hahaha, kamu tahu aja sayang."


Perdebatan mereka berdua tentang anak terus berlanjut, Arga ingin nambah lagi sedangkan Anita tidak mau.

__ADS_1


Sampai rasa lelah baru di rasakan Arga karena dia dari pagi hingga malam ini benar-benar memacu adrenalinnya.


Kini Arga harus istirahat, dia juga memberitahu pada sekretarisnya tadi sore kalau untuk beberapa hari dia akan libur ke kantor firma karena mengurus istrinya di rumah sakit.


_


"Jadi bagaimana pak Darma, apakah perempuan itu di jatuhi hukuman berat?" tanya Arga di telepon pada kepala kepolisian bagian reskrim setempat.


"Untuk sementara ini sih masih di dalami kasus yang kemarin anda ajukan. Tapi yang jelas kasus penculikan dan perencanaan pembunuhan sudah masuk ke berita acara. Tinggal di sidang saja pak Arga." jawab pak Darma.


"Oh, ya sudah. Saya tunggu kabar selanjutnya dari pak Darma. Dan saya akan mengirimkan pengacara lain saja untuk menjerat perempuan itu." kata Arga lagi.


"Ya pak Arga, pengacara anda silakan datang ke kantor kepolisian untuk memberikan keterangan mengenai kasus yang dulu dan penculikan itu."


"Baik pak Darma, siang ini saya menghubungi pengacara istri saya, dan mungkin sore ini atau besok pagi pengacara istriku akan ke kantor polisi." ujar Arga.


Setelah bernegosiasi dengan kepala bareskrim di kantor polisi setempat, Arga kini akan menghubungi temannya untuk mendampingi kasus istrinya.


Arga masuk lagi ke dalam kamar inap istrinya, dia melihat Anita berusaha untuk makan sendiri. Arga dengan cepat mengambil alih piring yang di pegang istrinya dan menyuapi makanannya ke dalam mulut Anita.


"Kamu kalau mau makan bilang dong sayang, jangan ambil sendiri." kata Arga.


"Aku bisa kok, cuma posisinya aja yang kurang enak jadi agak susah." ucap Anita.


Sedang menyuapi istrinya, terdengar di luar kamar suara riuh rendah anak-anak yang khas sekali perdebatan Angga dan Kevin.


Mereka masuk ke dalam kamar Anita dan kelima anaknya berlari menghampiri Arga dan Anita.


"Mamaa..!" Teriak Kevin.


Anak itu biasanya jarang di tinggal oleh Anita, dan sekarang harus di tinggal olehnya. Tentu saja pertemuan itu membuat Anita sangat senang. Dia memeluk satu persatu anak-anaknya.


Dan yang terakhir adalah Chiko, rasa bersalah di raut wajah Chiko sangat kentara sekali.


"Abang kenapa diam begitu?" tanya Anita memperhatikan raut wajah Chiko.


"Maafkan adek Iko ya ma, gara-gara Iko mama jadi terluka dan di rawat di rumah sakit." kata Chiko.


Anita diam, lalu tersenyum. Kembali dia memeluk anak laki-lakinya itu agar tidak merasa bersalah.


"Hei, mama itu wajib menyelamatkan Iko. Jadi jika mama terluka itu karena mama ceroboh. Jadi adek jangan sedih dan merasa bersalah ya." kata Anita.


"Iya ma." jawab Chiko.


Celoteh anak-anak Anita di kamar inap rumah sakit membuat Anita senang, dia merasa seperti di rumahnya sendiri mendengar dan melihat kelima anaknya yang ceria.


Arga juga senang, dia tersenyum dan tertawa bersama anak-anaknya dan istrinya. Sedangkan pembantunya dan supir ada di luar setelah mengucapkan rasa simpati pada majikannya.


_


_

__ADS_1


_


❤❤❤❤❤❤❤❤❤


__ADS_2