
Anita mengendarai motornya dengan cepat agar cepat sampai di rumah. Tapi sialnya motornya tiba-tiba mogok di jalan tikungan yang beberapa ratus meter sampai di depan rumahnya.
Anita berdecak kesal, kenapa di saat sedang buru-buru motornya malah mogok. Dan mau tidak mau Anita menuntun dan mendorong motornya untuk sampai di rumahnya yang tinggal beberapa ratus meter.
Dan tiba-tiba sebuah motor satria dengan suara nyaring membuat telinga bising berhenti di depan Anita yang menuntun motor. Anita kaget, laki-laki bertato di tangannya yang membonceng di belakang temannya turun dan membantu Anita menuntun motornya.
"Mogok ya mbak, saya bantu ya." kata laki-laki itu.
Awalnya Anita menolak, tapi laki-laki itu memaksanya. Mau tidak mau Anita menerima bantuan laki-laki yang kemarin sore jadi pelanggan barunya.
Lalu Anita berjalan di belakang laki-laki yang menuntun motornya, hinga sampai di depan rumahnya. Anita mengucapkan terima kasih pada laki-laki itu.
"Terima kasih mas."kata Anita.
"Iya mbak, mbaknya takut sama saya ya." kata laki-laki itu.
"Masnya tuh memang menakutkan, lagi pula mas baru jadi pelanggan saya. Saya kira mas laki-laki genit yang bisanya menggoda perempuan."kata Anita dengan jujur.
"Hahaha, memang cara saya berkenalan seperti itu. Tapi saya baik kok mbak. Buktinya saya menolong mbak mendorong motornya." kata laki-laki itu.
"Iya, baik. Tapi tetap saja saya takut. Pakai pegang-pegang tangan lagi." kata Anita ketus.
"Iya mbak, maaf. Saya hanya ingin kenalan saya. Nama saya Eros mbak, memang bukan orang sini tapi tetangga desa."
"Oh, Eros. Terima kasih ya, apa kamu mau minum?" tanya Anita.
"Tidak mbak, tapi kalau di kasih mau sih. Hehehe..."
Senyum Anita menyungging, dia hampir salah sangka. Tangannya bertato, matanya genit dan tadi di pasar dia menyapa. Menakutkan sekali, eh dia malah menolongnya menuntut motornya yang mogok.
Anita keluar lagi setelah dia tadi masuk mengbil air mineral botol di kulkas di dalam toko.
"Ini mas airnya." kata Anita menyodorkan botol mineral itu.
"Iya, terima kasih mbak. Saya bawa pulang aja ya minumnya."
"Ya."
Anita mengambil belanjaannya di motor dan membawanya masuk ke dalam toko. Dia letakkan di meja kemudian dia masuk ke dalam rumah memberikan lontong sayur pada Chila dan Chiko yang sudah siap berangkat ke sekolah.
"Ma, suapi." kata Chiko.
Anita membuka bungkusan lontong sayur dan di tuangkan ke dalam mangkok. Dia juga membuka punya Chila juga dan di tuang ke mangkok satunya.
"Kakak, ayo di makan lontong sayurnya." ucap Anita.
"Iya ma." jawab Chila.
Dia lalu duduk di meja makan dan menyuapkan satu sendok pemuh lontong dengan sayur labu kuningnya. Sedangkan Anita menyuapi Chiko dengan telaten.
Dia melirik jam di dinding, sudah menunjukkan pukul enam tiga puluh.
"Kakak, adek berangkat ke sekolagnya jalan kaki aja ya. Motor mama mogok, harus di bawa ke bengkel dulu. Ngga apa-apa kan?" tanya Anita pada kedua anaknya.
"Iya ma, ngga apa-apa." jawab Chila.
__ADS_1
"Iya ma, nanti pulangnya sama-sama dengan Dodo dan Amanda." jawab Chiko.
Anita tersenyum, dia senang anaknya tidak merepotkannya ataupun rewel.
Semenjak dia pulang buru-buru dari kota, kedua anaknya kembali menurut seperti biasanya sebelum Rendi datang berkunjung waktu itu.
Ternyata, pengaruh itu terhapus oleh perlakuan Rendi padanya. Anak-anaknya seperti tidak mau bertemu dengannya lagi, bahkan bertanya pun tidak pernah. Anita merasa kasihan sebenarnya, dia yang di kecewakan dan di sakiti anak-anaknya yang membalasnya.
Mereka lebih peduli dengan ibunya dari pada Rendi yang waktu malam itu melihat Rendi memukul Anita. Dia juga sedih karena kedua anaknya ikut merasakan sakitnya ibunya di sakiti.
_
Sore hari, Anita menyapu halaman rumah dari pojok rumahnya sampai depan tokonya. Dari jalan dia di panggil-panggi oleh seseorang, Anita menoleh dan mengerutkan dahinya.
Eros.
"Mbak, beli rokoknya dong." kata Eros, dia duduk di kursi depan toko Anita.
Anita menghentikan menyapunya, lalu dia masuk ke dalam toko mengambil rokok yang di pesan Eros. Kini laki-laki bertato itu menjadi pelanggan Anita, dia kadang membeli kebutuhan sehari-hari. Terutama rokok dan kopi.
"Nih, kamu merokok sehari berapa batang?" tanya Anita menyodorkan rokoknya.
"Tiga bungkus, kadang empat bungkus." jawab Eros, dia membuka bungkus rokok dan menyulutnya kemudian di hisapnya rokok tersebut.
"Banyak banget, apa ngga merasa lapar?"
"Ya kalau lapar tinggal makan, ngga susah saya kalau makan. Tinggal minta di warung aja." kata Eros santai.
"Ngutang?"
"Lho, kok minta aja. Ngga bayar lagi?"
"Iya. Mereka juga senang kok. Kan warungnya saya jaga setiap hari."
"Itu namanya malak, Ros. Ngga baik begitu, kasihan pedanganya. Untung tidak seberapa malah di palakin." kata Anita mengingatkan.
Eros diam, wajahnya berubah sedih. Anita melihat perubahan mimil wajah Eros dari yang ceria jadi berubah sedih. Lucu sekali, tapi mungkinkah orang itu punya masalah? gumam Anita dalam hati.
"Iya mbak, emak juga bilang begitu. Kalau mau memberi nafkah sama istri harus dari hasil yang baik, jangan malak ke orang-orang. Mantan istriku juga tidak mau, jadinya dia pulang ke rumahnya. Mertua saya juga marah-marah terus."
Ternyata dia punya masalah berat juga, tapi masalahnya bukan karena istrinya Melainkan dari dia sendiri tidak punya pekerjaan tetap, jadinya dia jadi preman di pasar.
"Kenapa kamu tidak cari pekerjaan yang layak?" tanya Anita.
"Mana ada yang mau menerima saya yang tamatan SMP, mbak."
"Ya kan ada jadi kuli panggul di pasar misalkan. Atau jadi kuli bangunan. Di belakang pasar itu kan akan di bangun perumahan BTN, kamu daftar aja jadi kuli bangunan. Kalau kamu ada usaha pasti ada hasil." ucap Anita memberi semangat pada Eros.
Sayang sekali dia orang baik sebenarnya, namun keadaan yang membuat dia seperti itu. Bersaing dengan teman-temannya sesama preman untuk mendapatkan kekuasaan wilayah tempat pemalakan.
Di pasar masih ada yang seperti itu, merasa punya kekuatan dan sudah lama jadi berkuasa. Apa lagi pada pedagang baru, itu sudah pasti di tekan terus.
"Saya belum kepikiran jadi orang baik mbak. Hehehala..." ucap Eros enteng.
Anita malah mendengus kasar, dia hanya menggelengkan kepalanya saja. Merubah watak dan pandangan seseorang itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Harus pelan-pelan dan melalui dialog yang masuk ke logikanya, agar dia berpikir.
__ADS_1
"Mbak, suaminya meninggal ya?" tany Eros tiba-tiba.
"Ngga." jawab Anita singkat.
"Cerai?"
"Ya."
"Kenapa?"
"Dianya pengen cerai."
"Ck, padahal mbak tuh cantik. Tapi kenapa di ceraikan ya?"
"Ngga tahu." jawab Anita, dia malas menanggapi masalah perceraiannya itu dengan mantan suaminya.
"Bodoh aja mantan mbak itu. Kalau aku pasti aku rawat dan ku jaga." kata Eros seperti menggombal.
"Memangnya aku bunga?" ucap Anita, tersemyum.
"Ya, mbak tuh ibarat bunga. Harus di rawat dan di jaga." ucap Eros lagi.
"Hahaha, aku tuh tadinya takut sama kamu. Tapi sekarang kamu lucu yah." Anita tertawa senang.
"Maaf ya mbak, soal yang kemarin. Beneran mbak, saya hanya iseng goda mbak." kata Eros lagi menyesal.
"Sepertinya kalau ada pencari bakat kamu bisa tuh daftar jadi laki-laki genit dan tukang gombal."
"Ah, yang benar mbak?"
"Iya benar, tapi mana ada orang pencari bakat di kampung. Adanya di kota."
Obrolan mereka makin panjang, hingga waktu menjelang sore Eros baru pergi dari toko Anita.
Lumayan menghibur bagi Anita, dia jarang sekali ngobrol santai seperti itu. Yang ada jika ngobrol saka ibunya pasti tentang rumah dan toko. Jika ngobrol sama kedua anaknya, urusannya sekolah dan teman-temannya.
Dan jika ngobrol dengan Arga, larinya ke masalah hati. Anita menghela nafas panjang, apa kabar dengan jawabannya ya sama Arga? gumam Anita.
Siapkah dia untuk menjalin kembali hubungan serius dengan Arga?
Tapi, akhir-akhir ini tampaknya Arga sibuk. Mungkin banyak kasus yang harus dia tangani. Kembali Anita menarik nafas panjang, mencoba membuang semua kepahitan yang dia rasakan dan dia alami.
Seperti Eros, dia sangat santai sekali menanggapi masalahnya. Tapi kembali lagi pada diri masing-masing, semua punya kemampuan untuk bisa menyelesaikan masalahnya sendiri-sendiri.
Di saat dia sedang melamun, dari samping dia duduk di teras, seseorang memanggilnya dengan keras.
"Anita."
_
_
_
❤❤❤❤❤❤
__ADS_1