IKHLAS MELEPASMU

IKHLAS MELEPASMU
71. Marisa Bertemu Ibu Ema


__ADS_3

Marisa sudah bertekad untuk bertemu anaknya hari ini. Dia bersiap untuk pergi ke rumah mertuanya yang dia tahu di pinggir kota, karena dia pernah ke rumah mertuanya ketika dia masih menjadi istri mantan suaminya.


Marisa menaiki ojek yang dia setop di pasar.


"Bang ke alamat ini ya." kata Marisa pada tukang ojek.


"Iya bu, siap."


Lalu tukang ojek itu tancap gas menjalankan motornya menuju alamat yang di berikan oleh Marisa. Hati Marisa merasa deg degan, dia sedikit takut jika mantan mertuanya akan menolaknya.


Setengah jam perjalanan, motor ojek telah sampai di depan rumah bercat warna biru langit dengan taman yang luas. Marisa memperhatikan rumah yang pernah dia singgahi dulu bersama mantannya.


"Ini bang ongkosnya." kata Marisa memberikan lembar uang.


"Terima kasih bu." tukang ojek itu langsung pergi melajukan motornya dengan cepat mencari pelanggan lain.


Marisa diam sejenak, masih memoerhatikan rumah berkesan sepi tampak dari luar. Dia beranikan diri untuk masuk ke dalam pagar besi itu. Dia mendorong pelan pintanl pagar itu dan masuk dengan pelan menuju teras rumah.


Rasa deg degan dan takut kian menjadi di hatinya. Mencoba menenangkan hatinya dengan menarik nafas panjang dan membuangnya pelan.


Dia berdiri tepat di depan pintu, mencoba tangannya untuk mengetuk pintu itu.


Tok tok tok


Pelan Marisa mengetuk pintu, menahan nafasnya. Belum ada jawaban, Marisa mencoba mengetuknya lagi pintu itu lebih keras.


Tok tok tok


Masih sama, belum di buka pintunya. Marisa menghela nafas panjang, dia putus asa. Apakah mereka tidak ada di rumah ini? Pikir Marisa.


Kemudian dia berbalik hendak pergi, namun suara pintu di buka dari dalam. Pintu melebar terbuka, tampak seorang anak kecil berdiri memandang punggung Marisa dengan heran.


"Tante cari siapa?" tanya anak kecil itu.


Marisa berhenti, dia berpikir ternyata ada orang di dalam. Lalu dia berbalik, menatap kaku anak perempuan kecil menatapnya heran.


Marisa tertegun, tangannya bergetar juga bibirnya. Ingin dia mengucap satu kata nama, namun lidahnya kelu. Dia hanya diam sambil tersenyum.


" Tante cari siapa?" tanya anak kecil itu masih bingung dengan Marisa yang terdiam kaku menatapnya.


"Kalau cari papa, papa ngga ada sedang kerja." kata anak kecil itu lagi.


"Emm, tante cari.." kalimat Marisa terhenti setelah mendengar suara perempuan tua memanggil nama anak kecil tersebut.


"Celine, ada siapa di luar?" tanya perempuan itu menghampiri anak bernama Celine.


"Itu oma, ada yang cari papa." kata Celine.


Perempuan itu menatap Marisa, ya dia adalah ibu Ema. Mamanya Arga. Ibu Ema tertegun, menatap Marisa. Wajahnya berubah jadi kesal dan sinis.


"Celine, masuk ke dalam rumah." ucap ibu Ema pada Celine.


"Iya oma." jawab Celine.


Celine masuk ke dalam rumah, sedangkan ibu Ema masih menatap Marisa dengan tidak suka dan kecewa.


"Mau apa kamu datang ke rumah ini?" tanya ibu Ema.

__ADS_1


"Ma, apakah itu Celine anakku?" tanya Marisa merasa terharu dengan melihat anaknya tadi.


"Untuk apa kamu kemari?" tanya ibu Ema lagi.


"Aku, ingin bertemu anakku ma." jawab Marisa sambil terisak.


"Heh, setelah sekian tahun baru mencari anakmu. Kamu kemana saja selama ini? Apa karena selingkuhanmu itu mencampakkanmu, terus kamu datang mencari anakmu?" tanya ibu Ema semakin marah pada Marisa.


"Aku hanya mau bertemu anakku ma, itu saja." ucap Marisa masih dengan tangisannya.


"Setelah kamu bertemu anakmu, apa lagi yang kamu inginkan?"


Marisa diam, dia tidak tahu harus mengatakan apa lagi. Tapi dia juga bertujuan meminta maaf pada mantan suaminya dan mantan ibu mertuanya itu.


"Mau apa lagi, Marisa?" desak ibu Ema.


"Aku, mau minta maaf sama mas Arga dan mama juga." jawab Marisa sambil menunduk.


"Segampang itu kamu meminta maaf, tapi kamu lupa dengan kelakuanmu dulu. Memohon pada anakku untuk di ceraikan padahal masih menyusui Celine. Arga kurang apa padamu waktu itu? Dia sangat baik, bahkan dia tahu kamu selingkuh pun masih memaafkanmu. Tapi kamu malah meminta cerai darinya. Perempuan tidak tahu diri." kata ibu Ema lagi dengan ketus.


Marisa semakin menunduk, dia terisak menyesali apa yang pernah dia perbuat. Memang tidak pantas di maafkan, tapi dia yakin jika Arga memaafkannya nanti.


"Lebih baik kamu pergi, cucuku sudah bahagia dengan papanya."


Setelah mengucapkan seperti itu, ibu Ema masuk ke dalam dan menutup pintunya dengan keras. Membuat Marisa terkejut dan kaget. Dia lalu berbalik, memang tidak.mudah untuk mendapatkan maaf dan bertemu dengan anaknya.


Tapi dia tidak akan menyerah bertemu dengan anaknya dan mantan suaminya nanti. Hari ini cukup sampai di sini, besok dia akan kembali lagi. Dia menganggap ini sebuah imbalannya dulu telah membuat Arga dan ibu Ema repot memgurus anaknya.


_


Esok harinya, Marisa kembali lagi ke rumah ibu Ema. Tapi sebelumnya membeli boneka beruang yang besar, sebesar anaknya Celine. Dia pasti suka dengan hadiah yang dia bawa untuk anaknya itu.


Tok tok tok


Marisa mengetuk pintu, dia mengetuk sekali lagi karena tidak juga di buka.


Dan seperti biasa, Celine membuka pintunya Menatap Marisa dengan heran. Dia tertarik dengan boneka yang di bawa Marisa.


"Tante bawa apa?" tanya Celine.


"Boneka beruang sayang. Celine mau boneka beruang ini?" tanya Marisa dengan berbinar.


"Boleh tante?" tanya Celine memastikan.


"Iya, kalau Celine mau boneka ini buat Celine." kata Marisa lagi.


Marisa menyerahkan boneka beruang itu pada anaknya, dia senang Celine mau menerima pemberian darinya.


"Celine, kamu di mana?" tanya ibu Ema dari dalam rumah.


"Di luar oma." jawab Celine.


Ibu Ema pun keluar, dia melihat Marisa memberikan boneka beruang besar itu pada Celine.


"Untuk apa kamu memberikan boneka itu?" tanya ibu Ema ketus.


"Untuk anakku ma, aku ingin memberikan sesuatu untuk anakku ma." jawab Marisa.

__ADS_1


"Arga juga mampu membelikan boneka itu untuk Celine. Jadi jangan membuang-buang waktu dan uangmu untuk sesuatu yang tidak penting."


Marisa diam, dia menarik boneka itu kembali. Tapi Celine malah mengambilnya.


"Katanya boneka beruangnya buat Celine tante?" tanya Celine.


Marisa tersenyum, dia menyodorkan boneka beruang itu pada anaknya kembali.


"Terima kasih tante." ucap Celine.


"Sama-sama sayang." balas Marisa.


Ibu Ema mendengus kesal, dia lalu mengajak Celine masuk ke dalam rumahnya.


"Cukup sudah kamu memberikan itu saja pada Celine, jangan pernah datang lagi."


Setelah berkata seperti itu, ibu Ema menutup lagi pintunya.


"Besok aku akan datang lagi ma." teriak Marisa di belakang pintu.


Setidaknya dia di terima secara perlahan oleh anaknya dan mantan mertuanya.


Marisa berbalik dan senyumnya mengembang. Sebuah usaha keras tidak akan mengecewakan hasilnya. Lambat laun Celine akan dekat dengannya dan ibu Ema juga akan memaafkannya, dan Arga. Pasti dia juga memaafkannya, jauh keinginannya paling dalam dia kembali pada mantan suaminga meski itu mustahil.


Bukankah batu yang keras di tetesi air setiap hari akan bolong juga pada akhirnya? Pepatah itu yang Marisa anut saat ini, namun sepertinya lebih cepat dari dugaannya.


Marisa kini menaiki ojek, tapi tidak pulang ke kontrakannya melainkan ke rumah Anita untuk bercerita kalau dia sudah bertemu dengan anaknya. Tinggal nanti bertemu dengan mantan suaminya itu.


Sampai di depan rumah Anita, Marisa turun dari motor dan membayar ojek sesuai tarif dari tukang ojeknya.


Dia masuk ke dalam halaman rumah Anita dan menuju toko Anita. Dia melihat Anita sedang melayani pembeli dengan cekatan.


Anita melihat Marisa dan tersenyum padanya, memberi isyarat menunggu selesai melayani. Marisa mengangguk dan mengacungkan jempolnya. Kemudian dia duduk di kursi teras rumah Anita.


Tak berapa lama, Anita selesai dan duduk di kursi sebelahnya yang biasa Arga duduk di sana jika dia berkunjung ke rumah Anita.


"Bagaimana mbak Marisa, apakah hasilnya lumayan?" tanya Anita pada Marisa tentang usahanya mendekati anak dan mantan mertuanya.


"Hari ini lebih baik mbak, saya membawa boneka untuk anakku. Dan dia menerimanya, tapi omanya malah tidak suka." jawab Marisa.


"Sabar mbak, nanti juga lama-lama luluh juga." kata Anita.


"Iya mbak, saya lebih bersemangat lagi kok untuk besok bertemu dengan anakku." kata Marisa.


"Bagaimana dengan mantan suamimu, apakah dia juga menolakmu?" tanya Anita.


"Saya belum bertemu dengannya, mungkin dia sibuk kerja. Nanti hari minggu saya kesana lagi, berharap bertemu dengannya." jawa Marisa.


"Semoga ya mbak." kata Anita menimpali.


Kemudian obrolan demi obrolan mengalir tidak terasa. Dan seperti biasa mereka mengobrol sampai sore. Setelah sore Marisa pamit pulang kembali ke kontrakannya Besok dia akan kembali menemui Celine anaknya.


_


_


_

__ADS_1


❤❤❤❤❤❤❤


__ADS_2