IKHLAS MELEPASMU

IKHLAS MELEPASMU
88. Kejutan Manis untuk Anita


__ADS_3

Anita sangat khawatir dengan Arga, dia takut Arga nekat melakukan hal yang di larang agama.


"Bang, bisa cepat ngga motornya." ucap Anita tidak sabar.


"Ini sudah cepat bu, di jalannya kan lagi macet juga." ucap tukang ojek.


"Bisa cari jalan lain ngga?" tanya Anita lagi, dia benar-benar tidak sabar.


"Kalau muter jalan nantinya tambah jauh bu, ini sudah yang paling dekat dengan alamat yang ibu berikan tadi." ucap tukang ojek itu lagi.


Dia heran dan risih, tapi memang orang kalau sedang terburu-buru pasti bawaannya tidak sabar dan marah-marah terus.


Memang agak jauh alamat yang di berikan oleh ibu Ema, membutuhkan satu jam dari rumah Anita.


Anita ingin menelepon Arga, ingin tahu posisinya ada di mana dan baik-baik saja. Tapi sialnya dia mencari ponselnya di tasnya tidak menemukan ponselnya dalam tas.


"Duh, ketinggalan lagi " ucap Anita pelan.


"Apa yang ketinggalan bu?"


"Ponsel saya ketinggalan di rumah."


Sampai mendekati alamat yang di tuju, Anita semakin gelisah. Dia melirik jam di tangannya, masih pukul satu siang.


Satu jam lebih Anita menaiki ojek, dia akhirnya turun di sebuah rumah besar dengan halaman sangat luas. Rumah itu sangat besar dan terlihat berlantai dua.


"Bu, ongkosnya?" kata tukang ojek itu.


Anita cepat-cepat mengambil uang dalam dompetnya dan menyerahkan pada tukang ojek itu.


"Ini bang, terima kasih."


Anita kembali memgambil kertas berisi alamat yang tertera di dalam kertas tersebut. Memang benar itu alamat yang tertera, dia melangkah ragu.


Tapi dia tetap masuk ke dalam halaman rumah besar bercat putih itu. Matanya berkeliling, siapa tahu ada sosok yang dia kenal. Tapi nyatanya dia tidak menemukan siapa-siapa. Hanya ada sebuah mobil Alphard berwarna putih juga di garasi yang belum ada penutupnya.


Anita semakin mendekat ke dalam pintu rumah, dia berhenti dan kembali matanya berkeliling.


"Apa benar apa yang di berikan tante Ema ini?" tanya Anita pada diri sendiri.


Dia lalu mencoba mengetuk pintu berbentuk kupu-kupu. Cukup besar untuk muat empat orang masuk bersamaan.


Sekali lagi Anita mengetuk pintu besar itu. Tak lama, pintu terbuka dan terlihat seseorang yang selama perjalanan dia khawatirkan. Anita menatap penuh kerinduan dan kecemasan.


"Arga..." suara Anita tercekat, dia benar-benar rindu dengan Arga, matanya menatap manik Arga yang masih memantung karena terkejut dengan kahadiran Anita di depan matanya.


"Anita..."


Anita melihat tangan Arga memegang pisau tajam. Anita panik dia maju ke depan dan merebut pisau itu dan membuangnya jauh.


"Kamu jangan gegabah Arga." teriak Anita pada Arga.


Arga bingung dengan sikap Anita yang aneh, dia memandang pisau yang di buang Anita. Lalu dia hendak mengambil pisau itu lagi, sudah berjongkok namun Anita menarik lengan Arga dan mendorongnya kuat.


"Kamu jangan berpikiran pendek Arga, hanya karena aku kembalikan cincin itu dan memutuskan berpisah denganmu kamu mau bunuh diri? Jangan konyol kamu Ga?!"


Arga di buat semakin tidak mengerti, dia menatap Anita heran.

__ADS_1


"Anita, kenapa kamu buang pisau itu?"


"Kamu mau bunuh diri kan? Kamu mau mengakhiri hidupmu karena aku?"


"Anita?"


"Ku mohon jangan seperti itu, Ga. Celine bagaimana? Dia butuh papanya, dia masih kecil Ga!"


"Anita aku.."


"Aku tidak suka laki-laki lemah seperti itu hanya karena aku memutuskannya kamu harus mengakhiri hidupmu. Aku minta maaf Ga, aku juga tidak bisa harus tersiksa seperti ini. Hik hik hik.."


"Anita aku sedang.."


"Aku mencintaimu Ga, aku tidak akan meninggalkamu. Aku mau berjuang denganmu Ga, jangan melakukan konyol seperti itu, aku takut Ga. Hik hik hik..."


Arga kini mengerti, dia lalu tersenyum dan mendekat pada Anita lalu memeluknya kuat. Hatinya lega dan bahagia dengan ungkapan cinta Anita padanya.


"Aku juga mencintaimu juga, Anita. Sangat mencintaimu." ucap Arga dalam peluakannya.


"Kenapa kamu mau bunuh diri Ga?" tanya Anita di sela-sela tangisannya.


Senyum Arga mengembang, dia diam saja. Belum mau menjawab pertanyaan Anita.


"Arga, kenapa kamu mau melakukan itu?"


Arga melepas pelukannya dan menatap Anita dalam. Dia menghapus air mata Anita yang masih mengalir di pipinya. Manik matanya masih menelusuri setiap gerak bola mata Anita.


"Siapa yang mau bunuh diri, emm?" tanya Arga lembut.


Alis Arga terangkat satu, senyumnya melebar namun tidak menampakkan gigi-giginya.


"Mama bilang begitu?"


"Bukan seperti itu sih, tapi beliau takut kamu mau bunuh diri karena dapat surat dariku. Aku minta maaf Ga."


"Mama pintar juga, tapi aku suka cara mama memberitahumu. Aku jadi tahu kalau kamu sangat mencintaiku. Terima kasih ya." ucap Arga dengan senyum mengembang.


"Kamu sedang apa di rumah sebesar ini?" tanya Anita.


"Aku sedang masak, aku lapar jadi aku bikin mie instan dengan di tambah sayur-sayuran. Pisau itu aku gunakan untuk memotong sayuran. Karena ada yang mengetuk pintu jadi aku tergesa, lupa meletakkan pisaunya." ucap Arga masih dengan senyum di bibirnya.


Anita yang mendengar penjelasan Arga jadi malu sendiri, wajahnya memerah. Dia hendak berbalik dan pergi dari hadapan Arga. Dan tentu saja Arga tidak membiarkan Anita pergi begitu saja.


Dia menarik lengan Anita kencang hingga Anita sedikit oleng dan hampir jatuh. Arga langsung menangkapnya. Tubuh mereka saling berhimpitan dan saling berhadapan serta saling menatap mata mereka satu sama lain.


Wajah Arga mendekat, perlahan matanya menatap bibir Anita yang terkatup rapat. Semakin dekat wajah Arga, Anita memejamkan matannya. Bibir Arga dan Anita bertemu, mereka merasakan kehangatan bibir masing-masing. Mengecap satu sama lain, melepaskan kerinduan di hati masing-masing.


Lama ciuman mereka beradu, hingga nafas keduanya hampir kehabisan. Lalu keduanya melepas tautan bibirnya, kepala keduanya saling beradu. Lalu kembali keduanya memeluk erat. Menyalurkan kembali kerinduan yang dalam selama sebulan lebih mereka tidak bertemu.


"Aku memcintaimu Anita, sangat mencintaimu." ucap Arga di telinga Anita.


Anita tersenyum bahagia, kini beban di hatinya hilang seketika. Ucap syukur di hatinya tiada henti Arga masih mencintainya.


"Aku juga sangat mencintaimu, Arga." ucap Anita lirih, namun masih terdengar di telinga Arga.


Lalu keduanya melepas pelukannya dan tertawa bersama.

__ADS_1


"Ayo ke dapur." Arga mengajak Anita.


Anita heran, rumah siapakah ini, besar sekali.


"Ga, ini rumah siapa?" tanya Anita pemasaran.


"Bagus ngga rumahnya?" Arga berbalik bertanya.


"Bagus, karakter bangunannya kuat dan kokoh. Desain interiornya juga bagus Ga. Ini rumah siapa?" tanya Anita lagi penasaran.


Mereka sampai di dapur, dan ruang dapur juga sangat fantastik, kithcenset mewah dan beberapa peralatan masak sudah lengkap serta kulkas dua pintu yang berdiri di pojok. Anita memperhatikan seluruh detail ruang dapur. Dia suka tatanan dapur yang cantik, apa lagi warna kithcensetnya sungguh warna yang dia sukai, warna hitam dan di padu warna putih.


"Ga, ini sangat mewah sekali." ucap Anita lagi.


"Mau lihat ruangan lainnya?" tanya Arga dengan senyum mengembang.


"Memang ada berapa ruang, Ga?"


"Ayo kita berkeliling."


Arga menarik tangan Anita, dia sangat antusias mengajak Anita menjelajahi rumah sangat mewah itu. Arga mengajak Anita masuk nke dalam kamar di lantai bawah lebih dulu, setiap kamar di isi dengan ramjang dan lemari lengkap, semua serba putih. Di kamar kedua juga seperti itu.


Di lantai bawah ada tiga empat kamar, semua sudah di jelajahi. Dan Arga mengajak Anita naik tangga, Anita menurut saja, meski di hatinya penasaran dan penuh tanda tanya besar.


Sampai di lantai atas, Arga lagi-lagi menunjukkan kamar. Di lantai atas juga ada empat kamar. Dia mengajak Anita masuk satu persatu kamar itu, dan tiga kamar sama dengan kamar di bawah. Bedanya ranjang yang di sana lebih kecil. Tiga kamar itu seperti akan di tempati oleh anak-anak, karena melihat semia ornamen yang terpasang milik anak-anak.


Dan satu lagi, Arga mengajak Anita pada kamar besar dengan pintu lebih besar di banding tiga kamar di sebelahnya. Dia membukanya pelan, lalu di tariknya tangan Anita untuk lebih masuk ke dalam kamar itu.


Dan betapa takjubnya Anita dengan satu kamar itu, matanya berkeliling. Semua warna cat memang putih, namun di padu dengan warna kopi susu. Sangat cocok dengan sosok kuat dan tangguh.


Di tengah ranjang besar dengan gaya klasik. Ada meja serta ada sofa. Di belakangnya ada ruang ganti pakaian dan lemari di sana. Anita menuju balkon, dia juga takjub. Senyumnya mengembang, lau dia menghampiri Arga.


"Ga, ini rumah siapa?" tanya Anita lagi.


"Ini milikmu, rencananya memang aku membangun rumah ini untukmu. Setelah menikah kita akan tinggal di rumah ini. Chila, Chiko dan Celine kamarnya sudah ada masing-masing di sebelah kamar ini.


Mama dan ibumu juga sudah aku sediakan kamar di bawah yang tadi aku tunjukkan padamu."


"Ga?"


"Anita, selama aku bertemu denganmu kembali. Aku bertekad membuat rumah ini untukmu dan kita. Rumah ini aku atas namakan namamu."


"Arga?"


"Anita, apakah kamu mau menikah denganku?"


_


\=> manis ga kejutannya??? 😊😊


_


_


_


❤❤❤❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2