
Tanggal merah, berarti semua kegiatan di kantor manapun dan sekolah di mana pun pasti libur. Kecuali tempat wisata dan tempat swalayan dan pasar beroperasi seperti biasa.
Begitu juga Rendi libur dari kerjanya. Dia mengajak anak-anaknya dan Anita jalan-jalan ke pantai seperti katanya dia suka liburan ke pantai.
Hah, Rendi sangat kesal ketika dia ingat saat Chila mengatakan suka pergi ke pantai dengan Arga. Dia juga harus bisa mengajak ketiganya ke pantai.
"Kakak senang ngga kita jalan-jalan ke pantai?" tanya Rendi ketika mereka sudah ada di dalam mobil untuk jalan-jalan ke pantai.
"Iya pa." jawab Chila biasa saja.
Rendi melihat Anita diam di jok belakang, Anita tidak mau duduk di depan. Bukan apa-apa, dia tidak mau Rendi memanfaatkan keadaan. Baginya menemani anak-anaknya bertemu dengan papanya dan mau di ajak jalan-jalan hanya untuk menemaninya anak-anaknya saja, tidak lebih.
"Iko senang tidak?" tanya Rendi menengok ke arah kirinya.
"Senang pa." jawab Chiko, lesu.
Rendi melihat wajah Chiko lebih pendiam di banding baru pertama kali datang, lebih ceria. Dia menghela nafas panjang, ada rasa salah ketika dia memarahi anaknya pagi itu.
"Papa minta maaf ya Iko, kemarin marahi Iko." kata Rendi.
Chiko masih diam, raut wajahnya belum berubah. Masih sama, sedangkan Anita memandang anaknya dengan aneh juga. Namun demikian hatinya juga merasa kesal pada Rendi waktu itu.
Mobil telah tiba di tempat wisata pantai, Rendi memarkirkan mobilnya di jajaran mobil pengunjung lainnya. Setelah terparkir, semuanya turun dari mobil dan menuju loket pembayaran masuk area pantai.
Anita membawa bekal anak-anak dan baju gantinya. Dia akan diam saja menunggu kedua anaknya bermain air laut, tidak ikut bermain air.
Setelah membayar tiket masuk, Chila langsung berlari di ikuti oleh adiknya Chiko. Rendi tersenyum, dia melihat anaknya begitu senang. Anita yang berjalan di belakang juga ikut senang melihat anak-anaknya ceria lagi.
"Ma, Iko main air ya?" tanya Chiko pada Anita.
"Iya, tapi jangan jauh-jauh dari kakak Chila ya." kata Anita.
"Papa mau ikut main air juga sama Iko dan kakak Chila." kata Rendi.
Dia menggulung celananya dan ikut berlari menuju garis pantai. Sedangkan Anita menggelar tikar di bawah pohon, menata bekal yang dia bawa dari rumah. Lalu dia mengambil ponselnya.
Ada pesan singkat dari Arga kalau dia akan menjemputnya jika pulang nanti. Anita tersenyum, entah kenapa dia rindu dengan Arga. Ciuman itu? Ah, Anita tiba-tiba memerah pipinya mengingat ciuman Arga waktu di mobil.
Tiba-tiba saja ponselnya berbunyi. Arga.
"Halo Ga, ada apa?" tanya Anita senyumnya mengembang.
"Kamu lagi apa?" tanya Arga di seberang sana.
"Aku menemani anak-anak main di pantai sama papanya." jawab Anita.
"Oh, kamu merindukan aku?"
Glek.
Anita menelan ludahnya, dia tidak menyangka Arga mengetahuinya kalau dia tadi tiba-tiba ingat Arga dan merindukannya.
"Tidak." jawab Anita berbohong, tapi senyumnya mengembang.
"Aku kecewa, Anita."
"Apa sih Ga, kamu seperti anak ABG aja deh."
"Orang jatuh cinta tidak mengenal usia, Anita."
Anita diam, dia melihat Chiko berlari ke arahnya sambil membawa binatang laut yang dia temui di pantai.
"Mama, aku dapat kerang besar banget. Lihat deh ma?" kata Chiko menunjukkan cangkang kerang mutiara yang memang sudah tidak ada isinya.
"Wah, iya dek besar banget kerangnya." Anita menanggapi.
"Di bawa pulang ya ma." kata Chiko lagi.
__ADS_1
"Iya, tapi jangan banyak-banyak bawanya ya. Nanti repot." kata Anita.
"Iya ma"
Kemudian Chiko berlari lagi menuju garis pantai lagi, menghampiri Rendi dan kakaknya. Anita tersenyum melihat kedua anaknya berlarian kesana kemari saling kejar.
"Anita?"
"Ya mas, eh ya Ga ada apa?" tanya Anita merutuki dirinya yang melamun sampai salah sebut nama.
Arga diam di balik sambungan telepon sana, Anita tahu Arga kaget dan mungkin kecewa.Tapi bukankah, hanya panggilan mas? Bukan memanggil seseorang spesial.
"Kamu melamun, sampai panggilanmu salah." kata Arga.
Kini Anita yang diam, yang dia maksud dari panggilan salah itu pasti Rendi.
"Apa penting sebuah panggilan?"
"*Bagiku penting, aku lebih suka kamu memanggilku nama saja. Kalau kamu ganti dengan embel-embel mas, bararti kamu masih men*gingatnya."
Anita menghela nafas panjang, belum apa-apa Arga sudah merasa cemburu hanya gara-gara panggilan salah. Dia belum juga menjawab iya dengan lamaran Arga, tapi kenapa seakan aku sudah jadi miliknya.
Baiklah, mengalah saja. Mungkin wajar jika orang mencintai merasa cemburu pada mantannya. Dia juga mungkin sama saja, ketika nanti mantan istri Arga tiba-tiba datang dia akan merasa cemburu.
"Anita?"
"Ya, Ga." lebih lembut menjawab panggilan Arga.
Anita kini fokus kalau dia sedang menelepon Arga. Mungkin dia tadi melihat anaknya ceria berlarian jadi pikirannya bercabang.
"Kamu kapan pulang?"
"Mungkin tiga hari lagi, aku belum bilang sama anak-anak kalau kunjungan ke papanya hanya sebentar." kata Anita.
"Aku harap tidak lama-lama di sana."
"Kamu tenang aja, aku tetap akan pulang meskipun nanti Chiko rewel." kata Anita menenangkan Arga.
"Baiklah, aku tutup dulu ya teleponnya."
"Ya"
Anita menatap ponselnya, dia kemudian meletakkannya lagi ke dalam tasnya. Dia menatap ke depan, melihat gulungan ombak yang menerjang setiap orang di dekat pantai itu. Dia tahu, semakin orang menjauh dari garis pantai dan lebih menjorok ke laut, maka terjangan ombak laut akan semakin besar kekuatannya
Seperti hidup, jika tidak mencoba dalamnya laut maka tidak akan tahu seberapa besar cobaan hidup yang akan dia dapatkan. Tergantung apakah kekuatan kaki kita bisa bertahan untuk berpijak.
Anita pernah di posisi sangat sulit ketika dia harus jatuh pada kekecewaan hidup, namun dia cepat bangkit lagi. Menatap masa depan bersama kedua buah hatinya, hidup tenang dengan si kembar.
Tapi rupanya Tuhan punya rencana lain, dia di hadapkan pada persoalan harus memilih atau mengalah pada keadaan.
Tapi bukankah Tuhan juga memberikan pilihan? Ya, pilihan yang di anggap baik. Memilih Arga adalah hal terbaik di saat sekarang, dan mengalah pada anaknya dengan kemauannya juga tidak bisa dia abaikan.
"Mba, sedang melamun ya?" tanya seseorang di belakang Anita.
Anita menoleh, dia lalu tersenyum pada wanita yang terlihat kurus dan ada guratan sedih di wajahnya. Seperti tampak penyesalan pada sebuah keadaan.
Wanita itu tersenyum, kemudian berjalan meninggalkan Anita yang merasa heran padanya tanpa berbicara lagi. Berjalan sendirian tanpa arah, seperti sedang berpikir tentang masalahnya sendiri.
"Ma, mama lihat apa?" tanya Chila yang sudah duduk di sebelahnya.
"Oh, kakak sudah main airnya?" tanya Anita.
"Kakak lapar ma, mau makan nuget aja." kata Chila.
Di bukanya kotak bekal berisi macam-macam nuget dan sosis goreng. Sengaja Anita tidak di masak karena nuget dan sosis hanya untuk cemilan saja.
"Ngga makan nasi aja kak?" tanya Anita menyodorkan kotak berisi nuget dan sosis.
__ADS_1
"Nanti aja kalau sama adek Iko dan papa makannya." jawab Chila.
Anita memandang putrinya, dia tersenyum. Anak itu lebih dewasa dari usianya, mungkin karena dia sering melihat dan mendengar sesuatu yang menyakitkan pada mamanya.
"Kak, tiga hari lagi kita pulang ke kampung ya. Eyang putri kasihan sendirian di rumah." kata Anita, dia tahu putrinya itu mau saja apa kata Anita.
"Iya ma, kakak juga pengen main lagi sama teman-teman di kampung." kata Chila masih mengunyah nugetnya.
Anita tersenyum, tinggal mengatakan pada Chiko saja. Dia berharap Chiko tidak membuat drama lagi.
Dan rupanya Chiko dan Rendi ikut bergabung dengan Anita dan Chila. Mereka sudah kelaparan karena memang waktunya makan siang.
"Kamu bawa makanan banyak banget." kata Rendi melihat banyak beberapa kotak makan dengan berbagai macam jenis makanan.
"Biar irit, ngga usah makan di restoran lagi." jawab Anita.
"Kan aku yang bayar, kenapa harus repot bawa bekal segala." ucap Rendi lagi.
"Ya kalau mas Rendi mau makan di restoran ya silakan aja. Aku lebih suka bawa bekal sendiri, dan ajak juga anak-anak makan di restoran." ucap Anita lagi.
Dia agak kesal, kenapa juga masalah bekal di permasalahkan. Kalau tidak mau makan dia tidak memaksa.
Rendi diam, dan akhirnya dia ikut makan juga dengan lahap. Anita memperhatikan Rendi, dia malah mencibir Rendi dalam hati, melihat makannya lahap dan habis banyak.
"Pa, naik perahu dong. Iko pengen naik perahu kayak nelayan itu yang cari ikan." kata Chiko.
"Iya nanti kita naik perahu. Kakak mau ikut?" tanya Rendi pada Chila.
Chila diam, dia takut dengan banyaknya air di laut ada di atasnya. Bayangannya jika dia jatuh, maka akan tenggelam dan mati.
"Ngga pa, kakak takut." jawab Chila.
"Ikut aja kak, kan seru." kata Chiko menimpali dengan antusias.
"Ngga mau Iko, kakak takut." kata Chila yang hampir menangis.
"Adek, kakak ngga mau jangan di paksa." kata Anita menengahi.
"Yaah, padahal enak kalau ada kakak Chila juga." ujar Chiko kecewa.
"Kan sama papa, Iko. Berdua juga asyik." kata Rendi.
"Ya udah pa, sekarang aja."
"Ayo, lets go."
Chiko dan Rendi berlari meninggalkan Anita dan Chila di tempat peristirahatan itu. Chila sebenarnya pengen ikut, tapi dia takut. Jadi akhirnya hanya memandang mereka dari jauh saja.
"Kakak sebenarnya pengen ikutkan?"
"Iya ma, tapi kakak takut."
"Ya udah, nanti lain kali belajar naik perahu yang bisa di naiki banyak orang. Biar kakak ngga takut lagi."
"Beneran ma?"
"Iya, tapi ngga tahu kapan lagi." kata Anita tersenyum.
Melirik anaknya yang kecewa dengan ucapan Anita.. Anita tersenyum, lalu mendekap kepala Chila dan mencium pipi anaknya itu. Chila tersenyum senang dengan ciuman mamanya.
_
_
_
❤❤❤❤❤❤
__ADS_1