
Kejadian semalam membuat Anita benar-benar membenci Rendi. Apa lagi dia melakukan itu oas ketika anak-anaknya ada dan melihat langsung perbuatannya.
Semalaman Anita tidak bisa tidur dengan tenang, dia menunggu pagi lama sekali. Dan sekarang waktu menunjukkan pukul tiga dini hari, jam lima pagi dia harus segera pergi dari rumah itu tanpa sepengetahuan Rendi.
Chila dan Chiko menggeliat di sampingnya, memposisikan keduanya memeluk Anita dalam tidurnya. Anita tidur di tengah-tengah keduanya, memberikan kenyamanan dan keamanan yang tadi mereka lihat sesuatu yang tidak enak bagi keduanya.
Dan lama-lama Anita akhirnya tertidur Dia tidur sengan posisi terlentang. Sesekali dia terjaga agar dia tidak terlambat bangun untuk segera pergi dari rumah Rendi itu.
Lumayan cukup lama Anita tidur, dua jam. Dan kini sudah pukul setengah lima pagi, terdengar suara panggilan sholat subuh bagi umat muslim terdengar. Anita bangun dan dia langsung masuk kamar mandi. Dia langsung membersihkan diri dan membuang hajat terlebih dahulu.
Setelah selesai, dia kemudian membangunkan kedua anaknya agar segera bersia untuk pulang naik kereta api.
"Kakak, adek ayo bangun. Ini sudah pagi." kata Anita membangunkan keduanya.
Rupanya kedua bocah itu memang sudah bangun, hanya saja masih malas banguj menunggu Anita keluar dari kamar mandi.
"Kakak mandi ngga ma?" tanya Chila.
Anita melirik jam di dinding, apakah cukup untuk mandi kedua anaknya itu.
"Cuci muka dan gosok gigi aja kak, kayaknya ngga cukup kalau kakak dan adek mandi dulu. Nanti keburu bangun papanya. Mama ngga mau papa bangun dulu." kata Anita.
"Iya ma."
Lalu Chila masuk kamar mandi, bergantian dengan Chiko. Setelah keduanya siap, baru Anita membuka kunci kamar. Matanya mengedar ke seluruh ruangan, berharap Rendi ada di ruang kerjanya sedang tidur.
Setelah dj rasa cukup aman dari Rendi, mereka langsung menuju pintu rumah dan keluar. Sengaja Anita tidak mengunci pintunya lagi.
Anita, Chila dan Chiko sudah berada di pinggir jalan menunggu taksi konvensional datang di pagi hari buta. Walaupun sangat jarang ada taksi kewat, Anita berharap taksi lewat.
Dan keberuntungan pada Anita, dia melambaikan tangannya ketika mobil taksi warna biru lewat di depannya.
Mobil taksi berhenti tepat di depan Anita, dia membuka kunci mobil dan Anita menyuruh kedua anaknya masuk dalam taksi.
"Mau kemana bu?" tanya supir taksi.
"Ke stasiun ya bang." jawab Anita.
"Baik bu."
Lalu mobil taksi biru itu melaju sedang, namun Anita meminta melujkan kecepatannya agar cepat sampai di stasiun dan tidak ketinggalan kereta yang menuju ke kotanya.
Satu jam kurang mobil taksi sampai di depan stasiun, cukup cepat perjalanannya karena suasana jalanan sepi karena masih pagi. Anita menyodorkan ongkos taksi sesuai argo.
__ADS_1
Dia lalu menuju loket untuk membeli tiket kereta api tiga orang penumpang. Bersyukur Anita dapat kereta yang berangkat setengah jam lagi, karena jadwal keberangkatan itu setengah enam pagi dan jam delapan pagi. Jika harus jam delapan pagi, maka mereka akan terdampar di stasiun lama sekali sekitar tiga jam.
"Ma, Iko lapar." Chiko merengek kelaparan.
"Sebentar, mama beli roti dan minuman dulu di kantin sana. Kalian jangan kemana-mana." pesan Anita.
Keduanya mengngguk, lalu Anita pergi meninggalkan mereka menuju kantin di ujung stasiun. Cukup jauh sehingga dia harus berlari kecil agar cepat sampai dan tidak terlalu lama meninggalkan kedua anaknya.
Anita membeli tiga roti dan tiga minuman mineral, setelah selesai dia kembali berlari dan memberikan roti itu pada Chila dan Chiko.
Kereta yang menuju kotanya kini berhenti di depan peron. Anita dan si kembar bersiap untuk masuk dan mencari tempat duduk sesuai tiket yang dia beli.
Keadaan tiga tahun lalu hampir sama dengan sekarang, namun kali ini di liputi rasa yang tidak akan pernah lagi mau menemui Rendi.
Setelah masuk ke dalam gerbong kereta, Anita dan kedua anaknya duduk. Mereka benar-benar tidak ingin kembali lagi ke kota di mana membrikan trauma bagi Anita serta mungkin Chiko.
"Ma, adek ngga mau menemui papa lagi." kata Chiko merasa menyesal.
"Iya sayang, ngga apa-apa." kata Anita.
Dia tidak akan memaksa anaknya lagi menerima papanya jika suatu saat Rendi datang, jika itu terjadi.
"Kakak benci sama papa, ma." ucap Chila.
Anita diam, sudah cukup dirinya di sakiti oleh Rendi dan tadi malam dia malah ingin melecehkannya.
"Duh, ponselnya ketinggalan lagi di sana." gumam Anita.
"Kenapa ma?" tanya Chila.
"Ponsel mama ketinggalan di rumah papa, kak." jawab Anita.
"Ya udah, beli lagi aja ma." ujar Chiko.
"Kakak sama adek ponselnya kemana?" tanya Anita.
Keduanya pun merogoh tas masing-masing. Setelah tahu tidak ada di tasnya, mereka lesu.
"Ngga ada ma, tadi malam lupa di masukin ke dalam tas lagi habis main game." jawab Chila.
"Iko juga ma, ketinggalan." ujar Chiko menimpali.
Anita menghela nafas panjang. Berarti ponsel ketiganya ketinggalan semua di rumah itu. Tapi biarlah, Rendi juga tidak akan bisa menghubungi mereka. Karena ponselnya ketinggalan semua.
__ADS_1
_
Rendi bangun dari tidurnya pukul enam tiga puluh. Dia langsung menuju kamar Anita, diam di depan pintu dan mengetuk pintumya pelan. Berharap Anita keluar dan dia akan minta maaf pada Anita dan anak-anaknya.
Tok tok tok
"Anita, keluarlah. Aku mohon maaf pada kamu atas kejadian semalam." kata Rendi di depan pintu kamar Anita.
Tak ada jawaban di sana, dia masih setia menunggu Anita keluar dari kamarnya. Namun sepuluh menit berlalu, Rendi menunggu dan mengetuk pintu Anita tidak juga keluar.
Rendi mencoba menarik handle pintu, ternyata tidak di kunci. Dia mendorong pintunya pelan dan masuk ke dalam. Tidak ada Anita dan kedua anaknya, Rendi masuk terus menuju kamar mandi dan ruang ganti baju, ternyata tidak ada satu pun. Bergegas dia keluar dari kamar Anita menuju dapur, namun tetap tidak menemukan ketiganya.
Dia mengambil ponselnya, mencoba menghubungi Anita. Dan suara dering ponsel Anita ada di sofa ruang keluarga. Rendi lemas, ternyata ponsel Anita ketinggalan. Tak putus asa, dia mencoba menghubungi nomor Chiko, dan suara dering ponsel Chiko ada di dalam kamar.
Dia masuk lagi ke dalam kamar Anita, dan dering ponsel Chiko berbunyi. Ternyata ponsel Chiko dan Chila ketinggalan di kamar Anita.
Lemas sudah Rendi, dia terduduk di lantai sambil tangannya masih memegang ponselnya.
"Iko, kakak Chila. Papa minta maaf pada kalian. Hik hik hik."
Tiba-tiba ponsel Anita berbunyi, Rendi menoleh. Dia lalu bangkit dari duduknya dan menuju sofa. Mengambil ponsel Anita yang masih berdering. Tertera nama Arga di sana, kembali Rendi kesal. Dia mengabaikan sambungan telepon itu, namun lama-lama jadi risih juga.
Rendi memencet tombol hijau untuk mengangkatnya.
"Halo Anita, jam berapa kamu pulang?" tanya Arga di sambungan itu.
Rendi semakin kesal, dia diam saja tanpa menjawab pertanyaan Arga.
"Anita, kenapa diam saja?"
"Anita minggat dari rumah ini!" teriak Rendi lalu melempar ponsel Anita ke sofa lagi.
"Aaaaah, brengseek!"
Rendi berteriak kencang, dia benar-benar frustasi dengan keadaanya sekarang. Di tinggalkan mantan istrinya dan anaknya kini membencinya.
Sedangkan di seberang sana, Arga terpaku. Benarkah Anita sudah pulang?
Kenapa terburu-buru sekali? Apa yang tejadi di sana?
_
_
__ADS_1
_
❤❤❤❤❤