IKHLAS MELEPASMU

IKHLAS MELEPASMU
08.Dinas Keluar Kota


__ADS_3

Hari-hari seperti biasanya,Anita mengurus kedua anaknya sedangkan Rendi sibuk dengan pekerjaannya.Entah karena sibuk kerja atau karena perempuan lain.


Kini satu tahun enam bulan sudah Chila dan Chiko usianya.Mereka sudah bisa berjalan dan bergerak kesana kemari.Rumah selalu tertutup karena di khawatirkan kedua bocah kembar itu keluar rumah tanpa sepengetahuan Anita.


Pernah suatu kali,Chiko keluar dari rumah sendiri ketika Anita sedang ada di kamar mandi untuk hajat buang air besar.Sedangkan Noni sedang di suruh keluar untuk membeli guka yang sudah habis karena tidak ketahuan.


Chiko sudah ada di depan pintu garasi yang sedikit terbuka,Anita menjerit ketika Chiko sudah di tengah hendak keluar pagar.Dia berlari dengan kencang tanpa menggunakan alas kali karena saking kagetnya anaknya sudah mau keluar dari pagar.


Dia menarik dengan kencang Chiko yang sudah keluar pagar,lalu di bawanya masuk ke dalam rumah.Jantungnya berdegup kencang karena kaget dan syok.


Noni yang baru masuk hanya melongo dengan Anita yang menangis tersedu.


"Ibu kenapa menangis?"tanya Noni yang heran pada majikannya.


"Kamu tadi tidak menutup rapat pagarnya,Noni.Chiko hampir saja keluar dari rumah."ucap Anita marah pada pembantunya itu.


Noni kaget,dia tidak menyangka anak kecil itu bisa sampai di depan dengan cepat.


"Maaf bu,saya tidak tahu kalau Chiko mengikuti saya dari belakang."kata Noni menyesal,dia menunduk.


"Sudahlah,ini juga hampir aja kok.Lain kali kalau mau keluar tunggu saya selesai dari kamar mandi."kata Anita lagi.


"Iya bu,sekali lagi saya minta maaf."ucap Noni lagi.


"Ya sudah kamu jaga dulu si kembar,saya mau masak dulu.Maaf ya tadi saya membentak kamu,saya hanya khawatir aja Chiko ketabrak mobil di jalan."kata Anita lagi.


"Iya bu,saya juga salah ngga menutup rapat pintu garasinya.Mungkin Chiko mengikuti saya,sayanya ngga tahu."


Anita pergi menuju dapur.Hatinya masih khawatir dengan kejadian tadi.


_


Rendi merapikan baju-bajunya di dalam koper,dia memasukkan tiga stel baju dan juga dua kaos oblong serta sepatu kets.Peralatan mandi serta beberapa ****** *****.


Anita memperhatikan apa yang di lakukan suaminya,dia sedang mengganti pampers Chila yang sudah basah karena mengompol banyak.


Setelah selesai,dia menghampiri suaminya yang sedang merapikan kopernya.


"Mau kemana mas?"tanya Anita.


"Aku mau keluar kota.Ada kunjungan kerja di proyek baru di sana."jawab Rendi masih merapikan baju-bajunya.


"Kemana?"tanya Anita lagi.


"Ke Bali."


"Berapa hari?"


Rendi menatap istrinya dengan datar,lalu meneruskan lagi kegiatannya.


"Tiga hari atau empat hari tergantung pekerjaan di sana selesainya berapa hari,kenapa memangnya?"Rendi balik bertanya.


"Ngga kenapa-kenapa hanya bertanya saja."


"Pertanyaanmu seperti orang curiga,aku kerja di sana.Bukan pacaran."

__ADS_1


"Siapa yang menuduhmu pacaran?Atau jangan-jangan kamu memang mau pacaran di sana dengan alasan pekerjaan."


"Aku kerja banting tulang untuk menghidupi keluarga kita.Tapi kamu malah menuduhku sembarangan.Aku capek berdebat denganmu,malas aku lama-lama sama kamu!"


Rendi keluar dari kamarnya,dia lalu masuk ke dalam ruangan kecil yang biasa dia gunakan untuk menyendiri dan menyelesaikan pekerjaannya.


Anita menghela nafas panjang,dia sebenarnya hanya bertanya.Tapi kenapa suaminya itu tersinggung dengan ucapannya sendiri.


Anita lalu berbaring di ranjangnya,semakin hari suaminya semakin jauh.Entah harus bagaimana menghadapi suaminya yang berubah seperti itu.


Dia bukannya tidak tahu kalau suaminya itu terkadang menelepon malam-malam dengan seorang perempuan.Tapi dia diam saja,karena jika bertanya maka akan seperti tadi,bertengkar dan Rendi semakin jauh lagi.


_


Dan benar saja,Rendi pergi ke Bali perjalanan dinas kerjanya.Dia sebagai wakil direktur harus siap menemani direkturnya.


Sebenarnya sih bisa saja tidak ikut,karena mungkin direkturnya perempuan mungkin dia harus di dampingi terus.Tapi bukankah itu hanya alasan saja?


Entahlah,Anita masih belum mengerti.


Sore ini seperti biasa,karena dia jenuh di rumah saja maka dia mengajak anak-anaknya jalan-jalan di alun-alun kompleks yang ramai jika sore hari.


Pikirannya terbuka jika sudah di luar rumah,memandang pemandangan hijau taman kompleks itu membuatnya segar kembali walaupun hanya sesaat.


Noni sudah pulang sejak tadi,dia masih duduk-duduk santai sambil mengawasi kedua anaknya yang berlarian di sekitar tempatnya duduk.


"Chila,jangan jauh-jauh nak larinya."teriak Anita pada anak sulungnya itu.


"Nda ma,Chila ni ja."ucap anak perempuan itu dengan logat cedalnya.


Anita tersenyum senang,anak perempuannya itu bisa di ajak bicara walau ucapannya tidak sempurna seperti anak kecil kebanyakan.Ya karena dia masih usia satu tahun setengah,jadi wajar saja bicaranya cedal.


"Ehm,eh bu Anita lagi jalan-jalan lagi bu?"tanya ibu itu.


Anita menoleh,dia tersenyum pada ibu kemarin pernah berbicara tentang suaminya dulu.


"Iya bu,cari angin segar aja di alun-alun kompleks ini."kata Anita basa basi.


"Hebat ya suami bu Anita,sudah jadi wakil direktur sekarang sering jalan-jalan keluar kota."kata ibu itu lagi.


"Iya,kan karena tugas bu."jawab Anita masih sabar menghadapi ibu-ibu tetangganya itu.


"Ehm,pak Rendi perginya sama direktur lho bu.Ibu tahu kan direkturnya perempuan cantik dan anggun.Kata suamiku,mereka sering keluar bareng."


Anita diam saja,dia hanya tersenyum tipis saja.Dia masih bersabar dengan ocehan tetangga yang ceriwis itu.


"Saya pernah melihat mereka jalan berdua di supermarket.Menurutku mereka cocok dan serasi.Satunya cantik,satunya lagi ganteng.Duh seneng melihat mereka berdua.Apa lagi sepertinya mereka mesra banget."ucap ibu itu,membuat Anita semakin kesal.


Dari kemarin-kemarin ibu-ibu tetangga komlpeks itu selalu bercerita tentang suaminya saja.Walau mungkin pada kenyataannya seperti itu,tapi tetap saja Anita kesal dan cemburu.


Tapi dia diam saja,dia tahu tujuan tetangganya membicarakan suaminya dengan direktur cantik itu hanya untuk memanasi saja.Tapi apa untungnya dia berbicara seperti itu padanya?


"Kalau ibu mau bergosip,tolong jangan dengan saya.Saya tidak suka bergosip,apa lagi gosipnya menjurus pada fitnah.Tidak baik bu."


Setelah berbicara seperti itu,Anita menarik strollernay dan meletakkan kedua anaknya lalu mereka pergi meninggalkan ibu-ibu tadi.

__ADS_1


Hati Anita sangat dongkol,dia keluar ke alun-alun kompleks itu hanya untuk cari suasana adem dan menghilangkan pikiran jenuh,tapi malah sebaliknya menambah pikiran baru.


_


Anita mencoba menghubungi suaminya di malam ini.Hatinya benar-benar gelisah setelah pembicaraanya tadi sore dengan tetangganya.


Belum ada jawaban,Anita terus menghubungi suaminya.Masih belum di angkat juga.


Sekali lagi Anita menghubungi suaminya.Di angkat.


"Halo?"


"Ini siapa ya?"


Deg!


Seorang perempuan.Yang mengangkat telepon suaminya seorang perempuan.Hati Anita bergemuruh,tangannya mencengkeram seprei yang menempel di tangannya,nafasnya naik turun tak beraturan.Diam sejenak,menarik nafas panjang dan lagi bertanya.


"Apa ini benar nomor Rendi?"pertanyaan Anita seperti seseorang yang mau menagih hutang karena orangnya tidak tahu nomor dirinya.


"Oh ya benar,dari siapa ya?"tanya perempuan di seberang sana lagi.


"Ini dari penagih hutang,sudah empat bulan Rendi tidak bayar cicilan hutangnya pada saya.Tolong kamu berikan ponselnya pada Rendi?"kata Anita,dia terpaksa harus berkata seperti itu.


"Baiklah,dia sedang keluar sebentar.Oh itu dia sudah datang.Sayang,ini dari penagih hutang katanya mau menagih sama kamu."ucap perempuan di sana yang terdengar di telinga Anita.


Anita semakin mengeratkan cengkramannya di seprei miliknya,tanpa terasa air matanya mengalir deras.Dia tutup mulutnya agar tidak terdengar suara isakan tangisnya.


"Halo?"Rendi menjawab,masih belum sadar siapa di balik teleponnya itu.


"Kamu tega sekali mas Rendi."


Klik


Setelah satu kalimat terlontar seperti itu,Anita menutup sambungan teleponnya.Dia tidak sanggup mendengar ucapan Rendi di telepon.


Hik hik hik


Malam ini Anita menangis tanpa henti.Ternyata suaminya punya pacar baru.Apakah benar yang di katakan tetangganya tadi sore?


Hingga pukul sebelas malam,Anita baru berhenti menangis ketika Chiko terbangun dan menangis.


"Cup sayang,jangan menangis.Mama ada di sini."kata Anita pada anaknya itu.


"Mamama,Ko atut hik hik hik."ucapan cedal Chiko membuat Anita semakin sedih.


Dia seperti menenangkan hatinya sendiri ketika menenagkan anaknya yang menangis itu.


Jangan menangis nak,mama tegar.Mama akan selalu tegar untuk kalian.ucap Anita dalam hati,dia menepuk-nepuk pantat anaknya agar terdiam dari tangisannya.


Anita lalu membuang nafas panjang,melepaskan beban berat di hatinya,melepas segala sakit hatinya Namun tetap saja tidak bisa.Biarlah untuk saat ini,dia akan diam saja.Menunggu Rendi suaminya menjelaskan nanti sepulangnya dari Bali.


_


_

__ADS_1


_


❤❤❤❤❤


__ADS_2