
Arga sangat lega ketika Marisa menyesali perbuatannya, dia berniat melanjutkan hidupnya di kota dengan perjodohan mamanya, ibu Rita. Sebelum ibu Rita menjemputnya, Marisa sudah kembali ke kota.
Kini tinggal Arga yang harus meyakinkan Anita jika masalahnya dengan Marisa sudah selesai dan dia sudah kembali. Meskipun Marisa ingin menemui Anita untuk minta maaf, tapi Arga melarangnya
Dan malam ini Arga akan ke rumah Anita lagi, setelah satu minggu pengakuan Marisa. Dia tidak sabar untuk menyampaikan kabar bahwa Marisa sudah pulang ke kota.
Sampai di rumah Anita, Arga malah deg degan. Seperti baru pertama kali bertemu pacar lagi. Tapi memang benar, dia sudah hampir satu bulan tidak pernah bertemu lagi dengan Anita karena dia selalu mengbindari Arga.
Tok tok tok
Arga mengetuk pintu, rasa deg-degannya tidak juga hilang.
Pintu terbuka, dan lagi-lagi hanya ibu Yuni yang membuka pintunya. Meski kecewa, tapi Arga masih tersenyum.
"Anitanya sudah tidur bu?" tanya Arga.
Ibu Yuni menghela nafas panjang, dia lalu duduk di teras menarik lengam Arga untuk ikut duduk juga. Arga merasa heran, kenapa dengan ibu Yuni.
"Nak Arga, ibu tidak tahu hubungan kalian seperti apa dan sejauh mana. Masalah apa yang kalian hadapi juga ibu kurang paham. Tapi ibu tidak tega jika harus melihat anak ibu terlihat murung. Dia selalu berpikir keras untuk memulihkan hatinya yang begitu rapuh. Yang sejenak bahagia dan lalu kembali terasa di sakiti. Ibu merasa kasihan sama Anita. Ibu pikir sepertinya Anita menyerah dengan keadaannya sekarang. Sebentar, ibu ambil sesuatu dulu."
Lalu ibu Yuni masuk lagi ke dalam rumahnya, dia mengambil sesuatu yang di titipkan Anita untuk di berikan pada Arga.
Setelah dia ambil, ibu Yuni kembali menemui Arga dan menyerahkan sebuah bungkusan. Entah apa, tapi Arga mulai tidak enak hatinya. Dadanya berdebar, apa yang Anita titipkan pada ibu Yuni.
"Apa ini bu?" tanya Arga penasaran.
"Di buka di rumah saja ya, kalau di sini rasanya tidak enak. Nak Arga nanti lihat dan pikirkan kembali semuanya." kata ibu Yuni.
Arga diam, dadanya semakin bergetar. Dia takut Anita sudah tidak peduli lagi padanya.
"Ibu masuk dulu nak Arga. Kepala ibu sedang pening sejak tadi sore." ucap ibu Yuni.
Arga menangguk, dia kembali kecewa tidak bisa menemui Anita langsung. Lalu Arga kembali ke dalam mobilnya dan dengan segera melajukannya dengan kencang agar cepat sampai di rumah dan segera membuka apa yang di titipkan ibu Yuni dari Anita.
Sampai juga Arga di rumahnya, dia tidak sempat memasukkan mobilnya ke garasi. Dia langsung masuk ke dalam rumah dan menuju kamarnya dengan cepat.
Ibu Ema heran, ada apa dengan anaknya itu. Kembali dengan cepat. Tapi ibu Ema tidak langsung ikut ke kamar Arga, dia memastikan Celine tidur dengan nyenyak.
Sedangkan di kamar Arga, dia langsung membuka bungkusan yang tadi di berikan ibu Yuni. Dia merobek bungkusnya dan terlihat sebuah surat serta cincin yang pernah dia berikan pada Anita. Tangannya bergetar memegang cincin itu, bibirnya menekuk ke dalam.
Dia lalu membaca surat dari Anita, hanya beberapa kalimat saja. Namun cukup kembuat Arga menangis pilu di kamarnya.
Dia meremas surat itu dan menangkupnya di wajahnya sambil menangis tersedu, tubuhnya melorot kebawah dan kedua tangannya menumpu kepalanya. Tangisnya semakin nyaring namun tak membuat orang di rumah kaget.
Ibu Ema yang tak sengaja lewat di depan kamar Arga merasa ada suara tangis di kamar anaknya. Dia berhenti dan mendengarkan dengan seksama.
Benar, anaknya menangis pilu. Ibu Ema mendekat dan mendorong kuat pintu yang tidak terkunci itu. Dia melihat anaknya berjomgkok dengan kepala di tumpu kedua tangannya dan lututnya dan sedang menangis.
Tangannya masih memegang kertas putih kecil, Ibu Ema menarik surat itu dan membacanya dalam hati.
'*Ga, maafkan aku yang selalu merepotkanmu. Aku sudah lelah menghadapi masalah rumit ini. Kupikir belum saatnya kita bersatu. Banyak yang harus di selesaikan.
Aku kembalikan cincinnya agar kamu bisa mengerti kekecewaanku dan rasa lelahku memghadapi masalah ini.
Aku ingin hidup tenang, tanpa harus terbebani apapun. Terima kasih untuk semuanya Arga.'
Anita*
__ADS_1
Hanya beberapa kalimat sederhana namun itu membuat Arga semakin sakit dan perih. Dia hanya tinggal satu langkah lagi, menjelaskan semuanya dan berakhir masalahnya.Tapi kini Anita memutuskan untuk berhenti berjuang untuk mendapatkan cintanya.
Ibu Ema memeluk anaknya dengan erat, dia merasa kasihan pada anaknya itu. Berjuang dengan keras untuk mendapatkan Anita dan kini masalah sudah berakhir, tapi Anita malah menyerah.
"Arga, sudah jangan seperti ini." ucap ibu Ema.
"Aku kecewa bu, Anita memutuskan semuanya. Dia memutuskan untuk berhenti bu. Aku harus bagaimana?" ucap Arga di sela tangisnya.
Arga benar-benar rapuh, ibu Ema melihat itu. Kembali dia memeluk anaknya yang bergetar karena tangisnya semakin kencang .
Setelah keadaannya tenang, Arga lalu berbaring di ranjangnya. Ibu Ema kembali ke kamarnya juga karena memang malam sudah sangat larut.
_
Hari-hari bagi Arga terasa hampa, setiap hari berangkat kerja seperti tidak punya semangat untuk menyongsong masa depan. Tidak ada gairah dalam hidup Arga.
Ibu Ema merasa miris sekali dengan keadaan anaknya. Ibu Ema prihatian, dia melihat seperti orang hidup tapi tak bernyawa.
"Ga, lusa Celine harus kontrol kedua ke rumah sakit. Apa kamu bisa mengantarnya?" tanya ibu Ema pada Arga.
"Aku ngga tahu ma. Bisa ngga mama aja yang mengantar ke rumah sakit?" Arga malah menyerahkan pada ibu Ema.
" Kamu kenapa jadi seperti ini, Arga?" tanya ibunya.
"Aku ngga tahu, aku ke kamar dulu." ucap Arga.
Dia bangkit dari duduknya di ruang keluarga, ibu Ema menatap anaknya yang pergi meninggalkannya di sana sendirian.
Sudah hampir tiga minggu sejak Arga mendapat surat dari Anita, hidupnya semakin tidak bergairah. Hanya diam dan menjalankan aktifitasnya saja di kantor.
Ibu Ema harus berbuat sesuatu, apa yang harus dia lakukan?
"Kamu mau kemana?" tanya ibu Ema melihat Arga sudah rapi mau pergi.
"Ke tempat baru ma." jawab Arga.
Ibu Ema tahu tempat baru itu adalah tempat spesial untuk kejutan nanti, tapi nyatanya kini malah berubah haluan. Mungkin hanya bisa mendatanginya saja. Tapi, apakah tempat itu akan sia-sia?
Kini ibu Ema juga bersiap, setelah Arga pergi mengendarai mobilnya. Dia mengajak Celine untuk pergi ke rumah Anita.
"Celine mau ke rumah tante Anita ngga?" tanya ibu Ema.
"Mau oma, papa ngga pernah ngajak Celine pergi ke rumah tante Anita lagi." ucap Celine dengan wajah cemberutnya.
"Celine mau ngga kalau tante Anita jadi mama Celine?" tanya ibu Ema lagi.
"Memangnya tante Anita mau jadi mama Celine, oma?"
"Pasti mau. Ayo kita ke rumah tante Anita."
Celine dan ibu Ema keluar dari rumahnya, tidak lupa mengunci pintunya. Dia harus bertindak secepatnya sebelum semuanya terlambat.
Ibu Ema menyetop taksi yang lewat di depan, dia langsung meminta pada supir taksi untuk pergi ke alamat rumah Anita.
Setengah jam mereka sampai, ibu Ema membayar tarif taksi dan mereka langsung masuk ke rumah Anita. Ibu Yuni kaget dengan kunjungan mendadak ibunya Arga itu. Ibu Ema di sambut juga oleh Anita, dia menyalami ibu Ema.
"Ada apa tante datang kesini? Maaf saya belum bisa menengok Celine sejak saat itu tante." ucap Anita merasa tidak enak diri.
__ADS_1
"Ngga apa-apa, saya mengerti. Kamu melakukan itu karena Marisa kan?"
Anita hanya menunduk, tidak menjawab dan tidak mengiyakan.
"Nak Anita, tante tahu surat yang kamu berikan pada Arga dengan cincin itu, tante membacanya." ucap ibu Ema menjeda kalimatnya.
Anita semakin tidak enak dengan ucapan ibu Ema itu. Dan ibu Ema tahu Anita juga tersiksa dengan semuanya, tapi dia harus membuat keputusan. Dan keputusan itu sudah salah.
"Anita, tante merasa kasihan dengan Arga. Sejak dapat surat dari kamu dia hidupnya seperti tidak bersemangat. Tidak ada gairah menatap masa depan, seperti mayat hidup."
"Tante, saya tidak bermaksud membuat Arga seperti itu. Saya hanya...."
"Dia sudah kehilangan separuh nyawanya Anita, hik hik hik. Dia seperti tidak mengenal tante dan Celine anaknya. Tante khawatir jika Arga terus seperti itu akan membiat sesuatu yang tante khawatirkan. Hik hik hik."
"Tante....,"
"Arga semakin terpuruk. Dia tidak pernah mau makan dan hanya diam di kamarnya sepulang kerja. Dunianya kini hanya pikirannya saja, tidak mempedulikan tante dan Celine. Tante takut dia...bunuh diri Anita. Tante...."
"Tante, jangan berkata seperti itu. Arga itu kuat, dia bisa melewati semuanya tante."
"Tapi kenyataannya dia seperti itu Anita. Dan pagi ini dia terlihat kusut, entah dia mau kemana. Tapi pikiran tante tidak enak. Mau mencegah rasanya tidak bisa. Hik hik hik."
Ibu Ema terus menangis membuat Anita bingung. Dia juga merasa tersiksa setelah memberikan cincin dan surat itu pada Arga. Dia sudah terbiasa dengan Arga. Lalu jika dia berbuat nekat, apa dia mampu berdiri sendiri nantinya? Dia akan merasa bersalah pada diri sendiri jika sampai Arga nekat bunuh diri.
Tidak, dia harus mencegahnya. Dia akan kembali pada Arga sebelum Arga berbuat nekat untuk mengakhiri hidupnya.
"Tante, apa tante tahu Arga biasa pergi kemana?" ucap Anita tiba-tiba.
Dia tidak mau terjadi apa-apa pada Arga. Sedangkan ibu Ema dalam hati tersenyum.
"Biasanya jika dia menyendiri akan pergi ke suatu tempat. Tante takut dia akan mengakhiri hidupnya di sana." ucap ibu Ema.
"Di mana biasanya Arga pergi tante?" tanya Anita tidak sabar.
Ibu Ema mengeluarkan sebuah kertas bertuliskan alamat dan menyerahkannya pada Anita. Tanpa pikir panjang, Anita mengambilnya dan dia langsung masuk ke dalam. Mengambil tasnya dan akan menyusul Arga, dia akan mencegah Arga berbuat nekat.
Tanpa permisi, Anita langsung menunggu ojek lewat. Dan tanpa menunggu lama ojek lewat, Anita langsung menyetopnya. Dia menunjukkan alamatnya pada tukang ojek itu. Dan ojek langsung tancap gas.
Sedangkan ibu Ema menghapus air matanya, dia tersenyum tipis. Sementara ibu Yuni heran dengan ibu Ema yang tersenyum itu.
"Kenapa bu Ema?"
"Hanya ingin menyatukan kedua orang yang saling mencintai bu Yuni." jawab ibu Ema.
Dan ibu Yuni pun mengerti maksud dari ucapan ibu Ema itu. Mereka kini mengobrol asyik dan tenang di teras. Wajah keduanya sangat bahagia.
_
\=> tadinya othor mau di bikin 2 bab ini tuh, tapi awal tahun baru mau ngasih hadiah manis buat readers semua dengan kisah Arga dan Anita.
\=> jadi besok tunggu kisah manis dari keduanya ya, jangan lupa kasih othor hadiah manis juga dengan favoritin karya dan hadiah serta votenya..😍😍
\=> selamat tahun baru yaa...🥳🥳🥳🥳🥳
_
_
__ADS_1
_
❤❤❤❤❤❤❤