IKHLAS MELEPASMU

IKHLAS MELEPASMU
125. Berkunjung


__ADS_3

"Enaknya kapan ya Ga ketemu sama ayah?" tanya Anita setelah jeda percintaan mereka.


Anita masih polos, sedangkan Arga memakai celana boxer saja untuk menutupi tanpa memakai semp*k. Karena dia pikir akan melanjutkan percintaannya setelah menyelesaikan pekerjaannya memeriksa keuangan pabrik pemuatan alat kelontong miliknya.


"Terserah kamu sayang, aku siap kapan saja tapi asal hari Minggu aku bisa." kata Arga tidak mengalihkan pandangan matanya ke laptop.


Anita menutup bagian dadanya dengan selimut, dia memajukan wajahnya sejajar dengan Arga. Melihat apa yang di kerjakan suaminya.


"Kamu sedang mengerjakan apa?" tanya Anita.


"Memeriksa keuangan pabrik pembuatan alat rumah tangga." jawab Arga.


Dia mengerutkan dahinya melihat di sana ada selisih cukup besar dari pendapatan dan pengeluaran serta jumlah barang yang terkirim ke agen.


Anita memperhatikan angka-angka di laptop tersebut. Dia juga mengerutkan dahinya, ada tanda merah pada jumlah selisih tersebut.


"Kok beda dengan sebelahnya sih?" tanya Anita pada suaminya.


"Kamu mengerti sayang?" tanya Arga.


"Iya, sedikit. Aku dulu kuliah dapat ilmu ekonomi meski tidak lanjut kuliah karena menikah dulu." jawab Anita.


"Coba kamu periksa laporan keuangan ini, kalau kamu menemukan kejanggalan nanti keuangan pabrik kamu saja yang memeriksanya."kata Arga.


Anita menggeser duduknya, selimut yang tadi membungkus tubuhnya kini melorot, dia tidak sadar hingga Arga mencium punggungnya berkali-kali.


Anita tidak menolak, dia fokus pada angka-angka di laptop tersebut. Arga yang tidak dapat penolakan kini mencium bagian tengkuk Anita, Anita sendiri merasa geli namun dia tahan karena nanti konsentrasinya pecah.


"Sudah di temukan?" tanya Arga masih menciumi punggung istrinya.


"Belum banyak, sebentar lagi." jawab Anita.


Tangan kanannya memegang mouse dan tangan kirinya memencet tombol laptop. Dahinya mengerut ketika dia menemukan kejanggalan pada lembaran di layar.


"Ini kok selisihnya banyak banget sih? Memang tidak rugi?" tanya Anita.


Dagu Arga di tempelkan di pundak istrinya dan melihat di layar laptop. Tangannya mendekap pinggang istrinya.


"Jadi, ada kejanggalan di laporan itu?" tanya Arga.


"Iya, ini banyak banget deh selisihnya. Apa kamu ngga rugi kalau selisihnya banyak banget? Itu kemana uangnya?" tanya Anita pada suaminya.


"Nanti aku selidiki di kantor, ini laporan bulanan saja. Aku belum lihat laporan mingguan, sengaja aku menyuruh bagian keuangan untuk membuat dua laporan agar bisa terlihat jelas kekuarangan dan berapa selisihnya. Jika banyak pasti itu ada orang dalam mengambil uang pabrik dengan sengaja. Karena aku jarang mengawasi pabrik, jadi laporan keuangan aku terima aja. Baru aku periksa kali ini, karena biasanya selalu dapat keuntungan yang stabil tapi ini kok selama tiga bulan rugi terus. Apa lagi penyaluran produk selalu sama setiap bulan itu." kata Arga menjelaskan.


"Emm, berarti mereka memang sengaja mengambil uang pabrik. Karena kamu tidak pernah memeriksanya, apa lagi mengawasi mereka kerjanya seperti apa." kata Anita.


"Kalau kamu yang mengawasi di pabrik, mau ngga sayang?" tanya Arga menawarkan Anita untuk mengawasi pabriknya.


"Memangnya boleh aku kerja?" tanya Anita memastikan suaminya memang mengizinkannya bekerja.


"Ya boleh dong sayang, asal kamu tahu batasannya. Dan tidak mengabaikan suamimu ini, aku dengan senang hati ada yang membantu pekerjaanku. Kebetulan sekali di kantor banyak banget yang minta aku jadi pengacara mereka yang terjerat kasus, terlebih lagi masalah rumah tangga." kata Arga.


"Ya kalau kamu mengizinkan aku bekerja ngga apa-apa. Aku tahu batasanku kok. Dan aku akan pastikan pulang sebelum kamu pulang." kata Anita.


"Terima kasih sayang, kenapa ngga dari dulu ya aku minta kamu memgawasi pabrik?" tanya Arga memeluk istrinya.


"Ya, mungkin kamu ngga tahu kalau aku sedikit tahu tentang laporan keuangan." kata Anita.


"Maaf ya, aku ngga terlalu banyak tanya tentang kuliahmu yang ngga selesai itu. Apa kamu lanjutkan aja kuliahmu?" tanya Arga lagi.

__ADS_1


"Ngga usahlah, aku udah nyaman sebagai ibu rumah tangga. Kalau untuk mengawasi pabrik aku bisa atur aja, agar tidak terlalu sering meninggalkan anak-anak." kata Anita.


Arga diam, dia menatap istrinya. Bertambah lagi rasa cintanya pada istrinya, hatinya sangat lapang dan juga tahu kewajibannya sebagai istri dan ibu. Arga mengecup bibir Anita sekilas, dia membelai pipinya lembut.


"Aku sangat beruntung menikah denganmu, perempuan yang sabar dan juga pengertian. Juga sangat menyayangi anak-anak dan aku, terima kasih sayangku. Kamu selalu ada setiap harinya di kala aku pulang dari kantor. Rasa lelah buatku hilang ketika melihatmu tersenyum menyambutku. Apa lagi kalau mau berangkat kerja, rasanya itu wajib bagiku untuk selalu melihat wajahmu dari dekat. Cup." kata Arga.


Anita tersenyum, dia juga menatap manik mata suaminya dan memegang pipi Arga.


"Aku juga sama, itu juga bentuk cintaku padamu selalu melayanimu dan tersenyum di pagi hari."


Mereka saling mengungkapkan perasaan masing-masing, hingga berlanjut tidur di ranjang. Membiarkan laptop tetap menyala karena gairah untuk bercinta kini mereka rasakan kembali untuk yang kedua kalinya.


_


Hari Minggu, semua sudah siap untuk pergi ke rumah pak Sugara. Mereka tampak senang akan bertemu dengan kakek yang selama ini belum pernah mereka temui.


Anita sendiri menyiapkan beberapa hadiah dan juga parcel untuk ayahnya. Dia menyiapkan beberapa stel baju untuk ayahnya, juga biskuit kalengan beberapa kaleng.


"Sayang, sudah siap?" tanya Arga pada Anita.


"Iya, ini di masukkan dulu ke bagasi." kata Anita.


"Banyak banget bawaannya, ngga repot?" tanya Arga.


"Ngga, cuma ini yang bisa aku kasih untuk ayah. Kamu keberatan?" tanya Anita.


"Ngga, itu terserah kamu aja. Hanya aku pikir kamu ngga repot nanti beberapa kali memindahkan barang-barang itu nantinya." kata Arga.


"Nanti anak-anak yang membawanya dan di berikan kakeknya." jawab Anita lagi.


Benar juga, Anita berpikir untuk mengenalkan ayahnya pada cucunya dengan cara yang sangat bagus. Mengajarkan memberi pada orang lain pada anak-anaknya, apa lagi pada kerabat terdekat.


"Iya."


Anita segera mengepak semua barang-barang yang akan di bawa sebagai oleh-oleh.


Setelah selesai, dia di bantu pembantunya memasukkan barang-barang yang dia kemas sedemikian rupa agar terlihat menarik.


Lalu Anita masuk ke dalam mobil, di sana sudah sejak tadi anak-anaknya masuk dan memunggunya untuk segera masuk.


"Yuk jalan, rumahnya agak jauh." kata Anita.


"Siaap bu boss!" ucap Arga.


Anita hanya tertawa kecil dengan ucapan suaminya, dia menengol ke belakang memastikan anak-anaknya sudah masuk di dalam mobil.


"Kalian sudah masuk semua?" tanya Anita.


"Sudah maa." jawab kelima anaknya.


"Udah ma, Kevin udah masuk." ucap Kevin dengan suaranya yang lucu.


"Papa, ayo kita lets go." kata Celine.


"Oke, siap tuan putri." jawab Arga.


Lalu mobil Arga keluar dari halaman rumah dan melewati gerbang rumahnya. Sesuai petunjuk Anita, Arga mengemudi dengan tenang dan senang.


Hari Minggu di warnai rasa bahagia keluarga Anita dan Arga. Setiap melewati belokan, pasti ke empat anaknya bertanya apakah sudah dekat dengan rumah kakek mereka.

__ADS_1


Mereka ternyata tidak sabar ingin bertemu dengan kakek yang baru akan di temuinya. Mereka pasti punya cerita sama teman-temannya jika mereka juga mempunyai kakek yang masih hidup.


_


Sampai di rumah yang sederhana, Arga memarkirkan mobilnya di bahu jalan. Karena memang halaman rumah pak Sugara tidak cukup untuk mobil Arga.


Pak Sugara dan ibu Rika berdiri di depan rumah untuk menyambut anak, menantu serta cucu-cucunya yang baru di temuinya.


Anita keluar dari mobil, di susul oleh suaminya dan kemudian pintu tengah mobil terbuka. Keluarlah anak-anak Anita satu persatu, mereka berjejer di depan pintu. Masih canggung untuk maju ke depan meski mereka melihat pak Sugara tersenyum senang.


Anita pun mengajak anak-anaknya mendekat pada ayahnya, kakek mereka. Arga juga menggendong Kevin, dia melihat mertuanya dengan senyum ramah.


"Selamat siang ayah, ayah sudah lebih baik?" tanya Anita memeluk ayahnya.


"Ayah baik-baik saja, ayo masuk semua." kata pak Sugara.


Arga pun menyalami mertuanya dan istrinya., Anita menyuruh anak-anaknya untuk bersalaman pada kakek dan neneknya.


Chila dan Chiko heran, kenapa neneknya beda.


"Ma, kakeknya harusnya pasanagannya eyang. Kenapa nenek Rika?" bisik Chiko pada Anita.


Anita tersenyum dan mengusap kepalanya.


"Kan eyang sudah meninggal, jadi kakek menikah dengan nenek Rika. Kenapa abang tanya seperti itu?" tanya Anita.


"Ngga apa-apa ma, tapi kenapa kakek baru sekarang ketemunya dengan kita ma? Kenapa tidak waktu ada eyang putri." kata Chiko masih berbisik.


Anita terdiam, dia sedikit pusing dengan pertanyaan anaknya itu. Namun dia kemudian menjelaskan sedikit dan nanti jika bertanya di jawabnya di rumah saja, agar ayahnya tidak tersinggung.


Chiko masih menatap pak Sugara, ada kemiripan wajah di sana. Pak Sugara pun menatap balik pada anak laki-laki itu lalu tersenyum.


"Ini siapa namanya?" tanya pak Sugara pada Chiko.


"Chiko kakek." jawab Chiko.


"Waah, Chiko sudah besar ya. Kelas berapa sekolahnya?" tanya pak Sugara berbasa basi untuk lebih akrab pada anak-anaknya Anita.


"Kelas empat kek, sama kayak kak Chila." jawab Chiko.


"Chiko sama Chila kembar, yah." kata Anita menjelaskan pada ayahnya.


"Ooh, kembar ya. Maaf ya kakek tidak tahu." kata pak Sugara.


Mereka berkenalan dan saling mengakrabkan diri. Begitu juga dengan Arga. Awalnya dia canggung, namun kini dia bisa lebih akrab dengan mertuanya meski ada rasa segan karena cerita Anita.


Dia menghormati istrinya yang mau menerima dan memaafkan ayahnya itu. Memang tidak sepenuhnya salah pak Sugara, namun ibu Yuni juga berperan besar untuk menahan agar pak Sugara tidak boleh menemui anak dan cucunya.


Dengan sabar dan rajin berdoa, memohon pada Tuhan. Akhirnya doa-doanya terkabul, mungkin berkat mantan istrinya. Sehingga Anita mencari tahu pada sepupu ibu Yuni, ibu Rima.


Ada kebahagiaan tersendiri pada pak Sugara, bertemu anaknya dan juga sekarang di kunjungi oleh menantu dan cucu-cucunya.


_


_


_


❤❤❤❤❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2