IKHLAS MELEPASMU

IKHLAS MELEPASMU
85. Menjauhi Arga


__ADS_3

Sudah lima hari Celine di rawat di rumah sakit, anak kecil itu sudah lebih baik keadaannya. Dan Arga sudah pulang dari seminar di Singapura. Ketika tahu anaknya sakit, Arga langsung pergi ke rumah sakit menemui anaknya.


Ibu Ema sendiri hanya dua hari sekali ke rumah sakit, dan yang berjaga di rumah sakit hanya Marisa saja setiap harinya. Ibu Ema heran kenapa Anita tidak pernah datang lagi ke rumah sakit sejak malam itu dia mencari pendonor darah untuk cucunya.


Namun demikian, ibu Ema maklum mungkin saja Anita sibuk dengan pelanggan di tokonya. Dia memang sangat ulet dalam bekerja agar semua bisa di dapatkan.


Arga langsung ke rumah sakit setelah ibu Ema memberitahu kalau Celine di rumah sakit, dia langsung menuju kamar inap di mana Celine di rawat. Pikirannya kacau setelah tahu Celine sakit.


Dia masuk ke dalam kamar Celine yang ternyata di sana hanya ada Marisa. Agak kecewa, namun memang seharusnya Marisa tahu kalau anaknya sakit.


"Papa sudah pulang?" tanya Celine ketika Arga masuk ke dalam ruangannya.


Marisa menoleh ke arah Arga, dia tersenyum pada Arga dan bergeser memberinya tempat untuk melihat keadaan Celine lebih dekat.


Arga hanya melihat pada Marisa, namun kemudian dia mendekat pada anaknya tanpa mempedulikan Marisa.


"Oma bilang Celine sakit dan di bawa ke rumah sakit, papa langsung datang kesini. Apa yang Celine rasakan sayang?" tanya Arga melihat infus di tangan anaknya.


"Celine panas pa badannya, kata oma harus ke rumah sakit di rawat." jawab Celine dengan menempelkan tangannya di dahinya.


Arga pun ikut memegang dahi anaknya, lalu tersenyum padanya.


"Udah ngga panas kok." ucap Arga.


"Kata dokter waktu baru masuk rumah sakit, Celine butuh donor darah." ucap Marisa menyambung pembicaraan antara Arga dan Celine.


Arga menatap Marisa, dia lalu duduk di kursi dekat dengan meja.


"Lalu, darah siapa yang di ambil?" tanya Arga.


"Tentu saja darahku, dia kan anakku. Jadi aku menyelamatkan anakku. Jika aku tidak datang, entah apa yang terjadi sekarang ini." ucap Marisa dengan antusias.


"Siapa yang memberi tahumu kalau Celine sakit dan butuh darah? Rencananya kamu akan pulang ke kota kemarin kan?" tanya Arga lagi, menatap Marisa lekat.


Marisa mendapat tatapan seperti itu jadi kikuk sendiri. Dia tertunduk.


"Anita yang memberitahunya, aku langsung kemari." ucap Marisa.


Arga diam saja, dia akan menanyakan pada Anita nanti. Pikirnya.


_


Delapan hari Celine di rawat di rumah sakit, selama delapan hari itu Anita dan anak-anaknya tidak pernah berkunjung ke rumah sakit menjenguk Celine. Itu membuat Arga jadi aneh, ada apa dengan Anita tidak pernah menjenguk Celine di rumah sakit.


Namun demikian, Arga tidak mencari tahu. Mungkin saja dia tidak sempat. Atau nanti jika sudah di rumah kalau sudah pulang.


Marisa masih sering berkunjung dari pagi hingga sore setiap hari di rumah Arga. Alasannya kuat, dia ingin mendampingi Celine dalam masa pemulihan pasca sakit.


Arga sendiri tidak bisa berbuat banyak untuk mengusir Marisa, karena memang Marisa punya hak untuk merawat atau menjaganya selama dia tidak meminta hak asuh Celine.


Risih sebenarnya Arga, setiap hari Marisa datang ke rumahnya. Namun dia hanya bisa diam, malah kini rasa penasarannya semakin besar. Kenapa Anita tidak juga menjenguk anaknya. Bahkan Celine sering bertanya pada Arga, Chila dan Chiko tidak pernah menengoknya.


"Pa, kok kakak Chila dan abang Iko ngga pernah jenguk Celine ya?" tanya Celine suatu malam ketika makan malam.

__ADS_1


Arga diam, dia menatap ibu Ema. Dan ibu Ema hanya mengedikkan bahunya saja.


"Mungkin kakak Chila sedang sibuk belajar sayang. Tante Anitanya juga sedang repot di toko." kata Arga.


"Ooh gitu ya pa. Selama di rumah sakit Celine cuma di temani mama aja, Celine juga pengen di temani tante Anita. Tante Anita ngga mau jenguk Celine." ucap Celine.


"Waktu Celine panas ngga turun-turun, mama kasih tahu Anita untuk mengantar mama dan Celine ke rumah sakit. Dokter bilang Celine butuh donor darah, jadi Anita memanggil Marisa untuk mendonorkan darahnya. Marisa datang waktu itu, hanya sendirian. Dia membawa koper besar, sepertinya mau pergi. Entahlah, mama tahu sampai di situ. Dan ketika malam Anita datang, dia langsung pulang." ucap Ibu Ema panjang lebar.


"Aku pikir Marisa datang karena di suruh mama. Tapi dia juga bilang di kasih tahu Anita kalau Celine sakit." ucap Arga.


"Coba kamu tanya dia, kenapa tidak datang lagi menjenguk Celine." kata ibu Ema lagi.


"Iya ma, nanti aku ke rumah Anita." ucap Arga.


Setelah acara makan malam itu, Arga bersiap pergi ke rumah Anita. Dia masih penasaran dengan Anita yang tidak menjenguk Celine, apa karena Marisa yang memintanya? Jika itu benar, dia tidak akan membiarkan Marisa merusak hubungannya lagi dengan Anita.


Setengah jam perjalanan menuju rumah Anita, seperti biasa dia memarkirkan mobilnya di depan rumah Anita. Arga keluar dari mobilnya dan menuju teras rumah, mengetuk pintunya.


Lama pintu di buka, tiga kali Arga mengetuk pintu. Baru di buka, yang muncul bukan Anita tapi ibu Yuni.


"Ada apa nak Arga?" tanya ibu Yuni.


"Anita belum tidur bu?" tanya Arga.


"Sebentar ibu lihat ya." ucap ibu Yuni.


Arga duduk di kursi teras dan ibu Yuni masuk untuk memanggil Anita. Tak lama ibu Yuni kembali lagi dan menghampiri Arga.


"Anitanya sudah tidur nak Arga, dia kelelahan. Memang tadi siang pelanggan banyak banget jadi tidak sempat istirahat tadi siangnya. Makanya dia langsung tidur." ucap ibu Yuni.


"Iya nak Arga. Apa ada yang penting, biar nanti ibu sampaikan atua ibu bangunkan saja?" tanya ibu Yuni.


"Tidak usah bu, kasihan kalau di bangunkan. Nanti saja saya datang lagi kesini." ucap Arga.


"Iya, maaf ya. Biasanya Anita belum tidur." ucap ibu Yuni lagi.


"Kalau begitu, saya permisi dulu bu." ucap Arga lagi.


"Iya nak Arga."


Lalu Arga pergi dengan hati kecewa, biasanya sengantuk apa pun Anita pasti menemuinya, tapi sekarang dia sudah tidur. Apa karena aku tidak memberi tahu dulu kalau mau datang? pikir Arga.


"Tapi biasanya juga tidak memberitahu dulu, dia selalu mau menemuiku." gumam Arga.


Mobilnya meluncur dengan cepat, dia ingin istirahat cepat juga malam ini, rasa lelahnya mendera pikiran dan tubuhnya.


_


Malam berikutnya, Arga datang lagi. Da seperti kemarin-kemarin Anita sudah tidur duluan, Arga jadi heran kenapa Anita seperti menghindarinya. Ini pasti ulah Marisa lagi, ucapnya dalam hati.


Dan esok harinya, Arga sebelum berangkat ke kantor menunggu Marisa datang. Biasanya dia datang jam tujuh pagi sebelum dirinya berangkatnke kantor.


"Marisa, bisa aku bicara sebentar?" tanya Arga.

__ADS_1


"Boleh, bicara apa mas?" tanya Marisa tersenyum.


"Apa kamu melarang Anita untuk menemuiku?" tanya Arga langsung saja.


Marisa mengerutkan keningnya, dia merasa terintimidasi lagi oleh Arga.


"Mas, kenapa sih setiap Anita selalu melakukan hal yang menurut kamu aneh, kamu mengaitkannya padaku. Apa aku tidak boleh melakukan hal yang lebih baik selain urusannya dengan Anita? Aku selalu salah di matamu mas kalau menyangkut Anita." ucap Marisa dengan wajah sedih.


"Tapi biasanya Anita selalu mau menemuiku, kenapa sekarang dia seolah menghindarku. Apa kamu menekan Anita lagi agar tidak mau menemuiku?" tanya Arga lagi.


"Tanyakan padanya, kenapa dia tidak mau bertemu denganmu. Aneh, selalu saja aku yang salah." sungut Marisa kesal.


Kali ini dia percaya jika Anita tidak akan memberitahu Arga tentang pembicaraannya dengan Anita, tapi dia cemas juga.


Arga terdiam melihat Marisa seperti tidak punya beban meski wajahnya terlihat kesal di tuduh seperti itu darinya.


Tanpa berbicara lagi, Arga masuk ke dalam mobilnya dan melajukannya menuju rumah Anita. Ya, pagi ini dia akan menemui Anita. Mungkin jika pagi hari Anita bisa di ajak bicara dengannya.


Tak lama mobilnya sudah berhenti di depan rumah Anita, Arga melihat motor matik yang biasa Anita gunakan untuk ke pasar sudah ada di depan. Mungkin akan mengantarkan Chila dan Chiko ke sekolah lalu di lanjutkan ke pasar, pikir Arga.


Anita muncul dari dalam rumah, Arga langsung menghampiri dan menarik tangan Anita. Anita kaget dan dia melihat Arga menarik tangannya.


Dia kesal, lalu melepas lengan yang di pegang Arga dengan cepat.


"Apa sih Ga, kenapa kamu ada di sini?" tanya Anita dengan wajah kesal dan tidak menatap Arga.


"Anita, kenapa kamu seolah menjauhiku?"


"Siapa yang menjauhimu?"


"Kamu, aku ke rumah ini malam hari tapi kamu selalu sudah tidur. Ada apa Anita?" tanya Arga bingung dengan sikap Anita yang berubah.


"Aku lelah Ga, setiap hari ke pasar dan mengantarkan si kembar sekolah. Melayani pembeli yang banyak setiap harinya. Aku juga butuh istirahat cukup Ga, apa kamu tidak mengerti kesibukan dan rasa lelahku?" ucap Anita.


Kini Anita menatap Arga tajam, dia tidak menunjukkan wajah sedih ataupun kelembutan. Yang ada rasa kecewa dan kesal yang di tangkap Arga di matanya.


Arga menunduk, dia melepas tangan Anita pelan.


"Celine menanyakanmu, kenapa kamu tidak pernah menjenguknya?" ucap Arga pelan.


"Aku belum bisa menjenguknya, akhir-akhir ini aku sibuk dan selalu merasa lelah jika sudah malam hari. Makanya aku langsung tidur, maaf kalau aku tidak bisa menemuimu." ucap Anita lagi.


"Baiklah kalau itu alasanmu. Aku tidak akan memaksanya, nanti aku datang lagi." ucap Arga lemah.


Dia melangkah gontai menuju mobilnya, masuk ke dalam mobil dan menjalankan kemudinya. Melihat sekilas Anita yang masih membuang wajahnya ke samping. Setelah mobil Arga tak terlihat, Anita menatap kemana arah mobil Arga pergi, lalu menghela pafas panjang. Hatinya berkecamuk,


Dan rasa perih di rasakan oleh Arga dengan sikap Anita pagi ini. Sepanjang perjalanan dia tidak bisa tidak memikirkan Anita kenapa berubah.


_


_


_

__ADS_1


❤❤❤❤❤❤


__ADS_2