
Anita masih belum menjawab pasti tentang permintaan Rendi. Rendi masih berusaha untuk mendapatkan Anita lagi.
Satu hari ini Rendi masih ada di rumah Anita, siang dia pulang ke motelnya dan sore hari dia datang lagi. Hingga ibu Yuni sampai kesal juga dengan Rendi.
Rendi bermain kembali dengan anak-anaknya, sedangkan Anita sedang di toko. Ibu Yuni menghampiri Anita yang masih menghitung di kalkulator sejak tadi siang belum juga selesai. Dan malam ini dia meneruskan kembali menghitung.
Dia juga mencatat barang yang akan di beli besok pagi untuk mengisi stok tokonya yang sudah mulai habis.
"Kamu masih sibuk aja di toko?" tanya ibu Yuni duduk di kursi kayu.
"Iya bu, tadi siang belum sempat. Sore harinya banyak pelanggan yang beli, baru sekarang di kerjakan." jawab Anita.
"Kapan si Rendi itu pergi dari rumah ini?" tanya ibu Yuni.
Anita belum menjawab pertanyaan ibunya, masih fokus menghitung.
"Anita."
"Ya bu, ibu tanya apa?" tidak menatap ibunya, masih sibuk dengan kalkulatornya.
Ibu Yuni menghela nafas panjang. Lalu diam lagi.
"Sebentar ya bu, aku tidak bisa konsentrasi menghitung kalau di ajak bicara terus." kata Anita.
"Ya, teruskan saja memghitungnya. Ibu nunggu kamu selesai menghitung." kata ibu Yuni.
Sebenarnya ibu Yuni ingin bicara tentang tadi yang di bicarakan Rendi pada Anita tadi siang. Namun dia harus menunggu Anita dulu menyelesaikan pekerjaannya.
Baru setelah setengah jam Anita selesai menghitung. Dia siap mendengarkan ibunya bicara.
"Ibu mau bicara apa?" tanya Anita memandang ibunya.
"Ibu mau tanya, tadi siang kamu bicara sama Rendi bicara apa?" tanya ibu Yuni.
Belum juga Anita menjawab pertanyaan ibu Yuni, di depan ada yang mengetuk pintu beberapa kali. Ibu Yuni dan Anita saling pandang, siapa yang bertamu malam begini?
Anita melihat Rendi melintas ke arah ruang tamu untuk membukakan pintu. Baik Anita dan ibu Yuni bangkit dari duduknya dan keluar untuk melihat siapa yang bertamu.
Rendi membuka pintunya dan terlihat di sana berdiri Arga dengan sedikit senyum yang memudar karena yang membuka pintu Rendi. Ada raut kecewa di wajah Arga, namun dia berubah datar kembali.
Anita diam di depan pintu toko yang menyambung ke ruang tengah. Dia saling berpandangan dengan ibu Yuni. Ibu Yuni sendiri merasa senang dengan kedatangan Arga. Dia hendak menghampiri Arga, namun di tahan oleh Anita untuk membiarkan kedua laki-laki itu bertemu.
"Biarkan saja bu. Kita masuk saja ke kamar." ajak Anita.
Pikiran ibu Yuni berkelana, dia bingung dengan sikap Anita yang membiarkan kedua laki-laki itu untuk bicara seolah Rendi adalah tuan rumahnya.
Walaupun begitu, Ibu Yuni menurut saja, dia lalu masuk ke dalam kamarnya. Anita menggiring anaknya untuk masuk ke dalam kamarnya dan menyuruhnya tidur.
Sedangkan Arga dan Rendi duduk di ruang tamu. Saling diam dan menunggu Anita keluar. Namun trrnyata Anita tidak juga keluar.
__ADS_1
Arga menatap Rendi yang seolah dia adalah tuan rumahnya. Rendi juga menatap Arga dengan kesal, kenapa teman Anita ini datang juga.
"Anda teman semasa sekolah Anita?" tanya Rendi ketika melihat Arga seperti gelisah menunggu Anita masuk ke ruang tamu itu.
"Iya." jawab Arga.
"Apa teman sekolah dulu harus bertemu terus seperti ini?" tanya Rendi.
Arga mengerutkan keningnya, namun kemudian dia tersenyum simpul.
" Anda sendiri mengapa masih ada di rumah Anita? Anda kan sudah menjadi mantan Anita." kata Arga.
"Aku sedang mengunjungi anak-anak." jawab Rendi yang penuh percaya diri dan merasa menang karena dia punya hak di rumah Anita.
"Oh ya benar, anda adalah papanya si kembar." kata Arga.
Ada rasa kecewa, namun dia masih tetap menunggu Anita keluar.
" Kamu datang mau apa?"
"Bukan urusan anda saya mau apa."
"Ck, apa anda menyukai Anita?"
Arga diam, dia kembali menatap Rendi yang seolah menang akan keadaan ini.
"Kenapa kalau saya memyukai mantan istri anda? Bukankah dia bebas memilih laki-laki yang siap membuatnya bahagia?"
"Anita akan kembali padaku. Aku sudah memintanya untuk kembali bersama anak-anak." kata Rendi seolah mengintimidasi Arga.
"Benarkah? Silakan saja kalau Anita mau kembali lagi dengan anda, saya akan mundur jika Anita menjawab lamaran saya padanya." kata Arga.
Dua laki-laki di ruang tamu rumah Anita seperti beradu status di hati Anita. Di ruang tamu itu juga jadi terasa mencekam, keduanya seolah punya kekauatan untuk beradu argumen tentang siapa yang akan Anita pilih nantinya.
Anita sendiri di kamarnya sedang gelisah dengan kedua laki-laki yang ada di ruang tamu rumahnya. Sama sekali dia enggan keluar dari kamarnya, tapi dia juga penasaran apa yang terjadi dan apa yang mereka berdua bicarakan di sana.
_
"Sebaiknya selesaikan dulu masalahmu dengan Anita, aku akan tetap menunggu Anita memberiku jawaban." kata Arga.
Masih di ruang tamu, keduanya juga belum mau pulang meninggalkan rumah Anita.
"Jangan lagi menunggu Anita, dia akan ikut denganku." kata Rendi lagi.
Dia mulai kesal dengan Arga, sejak anaknya sering di titipkan pada Anita dan cerita Chila kalau mereka semua liburan bersama. Bisa Rendi bayangkan bagaimana Arga berusaha mendekati Anita lebih leluasa waktu itu.
Bayangan negatif tentang Anita dan Arga membuat Rendi jadi kacau akhir-akhir ini. Dia ingin Anita kembali padanya.
"Apa hak anda melarangku untuk tidak menunggu Anita? Anda hanya seorang mantan." kata Arga lebih sinis lagi pada Rendi.
__ADS_1
Rendi menatap Arga tajam, dia diam saja.
"Seorang mantan seperti sampah yang pantas di buang di tempat pembuangan sampah." ucapan Arga lebih pedas pada Rendi.
Membuat Rendi merah padam, dia berdiri dan maju mendekati Arga dan ingin memukul Arga. Namun suara lantang Anita mencegah Rendi memukul Arga. Arga juga ikut bangkit dari duduknya, dia menatap Rendi tajam.
"Hentikan!" teriak Anita.
Dia marah pada Rendi dan juga Arga. Keduanya mendapat tatapan tajam dari Anita yang marah pada mereka bertengkar yang bertengkar di rumahnya.
Arga dan Rendi melihat Anita marah kembali duduk di tempatnya. Anita duduk di kursi single itu, masih menatap keduanya dengan kesal.
"Sebaiknya kalian pergi dari rumahku, malam-malam membuat keributan yang tidak jelas di rumah orang. kekanak-kanakan sekali." ucap Anita dengan pelan.
"Anita aku mau bicara dengan..." ucapan Arga terpotong dengan Anita mengacungkan telunjuknya pada Arga untuk diam dan tidak ingin menanggapi ucapan Arga.
Rendi tersenyum, dia lalu melihat Anita yang menatap tajam juga padanya.
"Apa salahku?" tanya Rendi yang pura-pura amnesia.
"Mas Rendi juga pulang sana." Anita mengusir mantan suaminya itu.
Tentu saja Rendi kaget, tapi tatapan tajam Anita belum juga selesai. Rendi menghela nafas panjang.
"Aku mau izin pada anak-anak untuk pulang." kata Rendi.
"Anak-anak sudah tidur, jangan ganggu mereka." kata Anita.
Anita tahu itu hanya modus Rendi untuk tetap bertahan di rumah ini sebelum Arga juga pergi dari rumah Anita.
"Kamu juga pulang, Ga. Aku tidak mau bicara saat ini. Aku lelah ingin istirahat." kata Anita pada Arga.
Arga kecewa, namun dia mengerti keadaan Anita. Dia lalu bangkit dari duduknya dan keluar dari rumah Anita. Dia menatap Anita sebelum masuk ke dalam mobilnya.
Lalu dia menjalankan mobilnya, melaju dengan kencang untuk pulang ke rumahnya. Pikirannya juga sangat kacau semenjak datang ke rumah Anita ada Rendi di sana.
Sedangkan Rendi masih ingin bertahan, namun Anita juga mengusir Rendi untuk pulang.
"Aku juga mau bicara sama kamu Anita." kata Rendi.
"Aku sudah bilang, aku lelah dan pengen iatirahat. Apa mas Rendi tidak dengar tadi aku bicara?" kata Anita yang kesal Rendi masih ngotot ingin bicara dengannya.
Mau tidak mau Rendi pun keluar dari rumah Anita dan pulang dengan keadaan yang sama kacau gara-gara Arga datang ke rumah Anita.
Anita menghela nafas panjang ketika kedua laki-laki itu sudah pulang ke tempatnya masing-masing. Dia lalu menutup pintunya dan menguncinya. Dia benar-benar lelah hari ini. Hati dan pikirannya lelah, di tambah lagi kedua laki-laki tadi hampir baku hantam di rumahnya karena dirinya.
_
_
__ADS_1
_
❤❤❤❤❤❤❤