IKHLAS MELEPASMU

IKHLAS MELEPASMU
82. Celine Sakit


__ADS_3

Setelah di ancam Arga kemarin, Marisa sangat kesal pada Anita. Dia selalu menyalahkan Anita yang suka mengadu pada Arga. Kini dia tidak bisa lagi mengancam Anita.


Jalan satu-satunya dia harus pulang ke kota. Membiarkan Arga dan Anita hidup dengan bahagia.


Dan sementara itu, Arga kembali menemui Anita. Dia harus pamit pada Anita untuk beberapa hari, mungkin seminggu akan mengikuti seminar di Singapura.


"Kamu akan berangkat kapan?" tanya Anita, dia menyodorkan teh hangat seperti biasanya.


"Besok pagi, ada tiga orang yang ikut seminar itu. Dan salah satunya itu aku." jawab Arga, dia menyeruput teh hangatnya.


"Berapa hari di sana?"


"Mungkin satu minggu."


"Apa Marisa sudah kembali ke kota?" tanya Anita ragu.


"Aku tidak tahu, tapi kamu jangan khawatir. Semua tentang Marisa sudah selesai." ucap Arga.


Dia menatap Anita, ada gurat sedih di wajah Anita. Arga menghela nafas panjang.


"Kenapa sedih?"


"Aku akan merindukanmu." jawab Anita.


Membuat Arga tersenyum senang, dia memegang tangan Anita.


"Hanya seminggu, setelah itu aku akan menikahimu pulang dari Singapura." kata Arga.


Anita diam kembali, wajahnya berubah bersemu merah.


Malam semakin larut, pembicaraan kini mengenai rencana ke depan dengan sisipan canda dan tawa. Dan tidak terasa malam sudah menunjukkan pukul sebelas malam, kini Arga berpamitan.


"Aku pulang ya, besok aku langsung berangkat ke kota menuju bandara." ucap Arga.


Mereka kini berjalan menuju mobil Arga. Berhenti tepat di depan pintu mobil Arga.


Dan kembali Arga memeluk Anita, serasa enggan untuk pergi. Anita membalas pelukan Arga, kedua sejoli itu seperti akan berpisah selamanya. Tapi entahlah, keduanya tidak ada yang mau melepas lebih dulu.


Pada akhirnya Arga yang melepas lebih dulu, dia menghadap Anita dan membelai pipi perempuan itu. Lalu mengecup keningnya lama.


"Aku pulang." ucap Arga.


"Ya, hati-hati." jawab Anita.


Arga lalu masuk ke dalam mobilnya,melambaikan tangannya dan di balas oleh Anita dengan lambaian tangan pula.


Mobil Arga melaju dengan pelan, setelah hilang dari pandangan Anita masuk ke dalam rumahnya. Saatnya dia istirahat dan merajut mimpi yang belum terwujud di benaknya.


_

__ADS_1


Setiap manusia hidup di hadapkan pada sebuah ujian dan cobaan. Di mana siapa yang menjadi kuat akan bertahan dan lulus jadi manusia paling baik dan hampir menuju sempurna kekuatan imannya.


Seperti halnya Tuhan memberikan ujian pada makhlukNya, apakah akan bisa melewatinya dengan kesabaran dan bertindak merubah keadaan atau hanya diam pasrah dan menerimanya dengan lapang hati.


Dua hari Arga sudah berangkatnke Singapura, Celine tiba-tiba panas badannya membuat ibu Ema khawatir. Dia bingung, Arga tidak ada di rumah dan baru berangkat lusa kemarin.


"Celine badanya panas sekali, apa harus di bawa ke dokter ya?" gumam ibu Ema.


Tapi dia bingung, jika dia harus berjaga di rumah sakit terus dia sendiri yang akan ikut sakit juga.


Tanpa pikir panjang, ibu Ema mengambil ponselnya dan menghubungi Anita. Ibu Ema akan meminta bantuan Anita untuk membawa Celine ke rumah sakit.


"Halo nak Anita, apa bisa ke rumah tante?" kata ibu Ema.


"Iya tante, kenapa memangnya?" tanya Anita, tidak biasanya ibu Ema meneleponnya.


"Tante minta tolong, Celine badannya panas sekali dan lemas. Tante mau bawa ke rumah sakit rasanya kalau sendiri tidak kuat." ucap ibu Ema.


"Oh, Celine sakit? Ya sudah tante, saya akan ke rumah sekalian dengan bawa taksi." kata Anita.


Lalu sambungang telepon terputus. Dia bergegas menemui ibunya dan berpesan padanya.


"Bu, Celine sakit dan perlu ke rumah sakit. Saya mau membantu tante Ema membawa Celine ke rumah sakit. Nanti toko langsung tutup saja, aku buru-buru." pesan Anita.


"Iya, hati-hati."


Anita pun langsung menunggu angkot lewat, tak berapa lama angkot lewat jalan menuju jalan besar, dia nanti akan memesan taksi sekalian membawa Celine ke rumah sakit. Anita gelisah dan cemas, dia meminta pada supir untuk mempercepat laju mobilnya.


"Bang bisa cepat tidak angkotnya?" tanya Anita, dia menyesal kenapa tidak naik ojek saja biar cepat sampai.


"Ibu mau kemana? Kalau mau ke jalan besar tidaj bisa bu." kata supir angkot itu.


"Ke perempatan jalan saja, nanti saya naik taksi menuju rumah teman sayanya." jawab Anita.


Dan dengan cepat mobil angkot menuju perempatan jalan. Sepuluh menit angkot sampai, Anita membayar tarif angkot lalu dia menunggu taksi lewat di depan jalan besar itu.


Anita menyetop taksi yang lewat di depannya dan memutar balik menuju rumah Arga. Hanya butuh lima belas menit menuju rumah Arga, dan sampai di sana Anita langsung keluar dari mobil taksi.


"Bang, tunggu di sini ya. Saya pesan lagi taksinya untuk bawa ke rumah sakit." kata Anita oada supir taksi.


"Iya bu."


Anita langsung masuk ke dalam rumah Arga dan mengetuk pintunya. Di sana ibu Ema menunggu Anita dengan cemas.


"Nak Anita sudah datang? Tante khawatir, sejak tadi Celine lemas dan tidak bisa bangun sama sekali." kata ibu Ema.


Anita langsung masuk ke dalam kamar Celine, dia melihat bocah perempuan kecil itu tertidur lemas di kasurnya. Anita memegang dahinya, dan ternyata panas sekali.


"Tante siapkan saja apa yang perlu di bawa, saya bawa Celine ke mobil taksi." ucap Anita

__ADS_1


Ibu Ema mengangguk dan Anita membopong Celine untuk di bawa keluar dan menuju mobil taksi yang sejak tadi menunggu di luar.


Anita masuk ke dalam taksi dan menunggu ibu Ema membawa keperluan di rumah sakit. Setelah ibu Ema juga masuk ke dalam mobil taksi, mereka langsung menuju rumah sakit. Dalam perjalanan Anita selalu memeriksa suhu panas badan Celine, dan suhunya semakin naik, dia lupa membawa termometer yang ada di meja Celine.


Tapi untungnya taksi berhenti tepat di depan rumah sakit. Langsung saja Anita membawa Celine ke UGD dan di periksa oleh dokter jaga yang ada di UGD.


Anita memperhatikan setiap detil pemeriksaan pada tubuh Celine, dia tidak mau melewatkan semuanya. Jika Arga menanyakan dia akan jawab sesuai pemeriksaan dokter.


"Bagaimana dokter?" tanya Anita pada dokter jaga itu.


"Untuk sementara di tangani cepat di infus dulu ya bu, nanti kita pemeriksaan selanjutnya memgambil sampel darah anak ibu." kata dokter jaga.


"Tapi anak saya tidak terkena penyakit parah kan doktet?" tanya Anita dengan kekhawatirannya.


"Ibu tunggu pemeriksaan selanjutnya. Jika demamnya masih saja dan malam suhunya makin naik, kita bisa lakukan pemeriksaan kembali. Saya takutnya anak ibu kena demam berdarah." kata dokter lagi.


"Apa? Demam berdarah?"


"Itu kemungkinan ya bu, ibu berdoa saja semoga anak ibu baik-baik saja." kata dokter.


Dokter itu menuliskan resep dan di berikan suster perawat untuk di berikan ke bagian farmasi dan segera di minumkan ke pasien.


"Apa anak saya akan di sini terus dokter?" tanya Anita lagi.


"Tidak bu, nanti kita sedang mempersiapkan kamar anak anda. Jangan khawatir, ibu juga ikut menjaga ya biar kita nanti memantau dengan ibu juga." kata dokter lagi.


"Baik dokter."


"Satu jam lagi kita pindahkan pasien di kamar inap." kata dokter pada perawat.


Lalu dokter keluar dari UGD dan melanjutkan memeriksa pasien selanjutnya. Anita hanya diam melihat Celine terbaring lemah. Meski infusan masuk melalui tangannya, tetap saja keadaan masih belum sadar.


Anita mendekati ibu Ema yang sedang duduk di kursi tunggu.


"Apa Arga di kasih tahu tante?" tanga Anita.


"Tante sudah hubungi Arga, tapi nomornya tidak aktif." kata ibu Ema.


Anita menghela nafas panjang, dia juga tidak tahu harus bagaimana. Apakah Marisa masih ada di kampung ini? tanya Anita dalam hati. Sejak Arga bicara dengan Marisa, dia tidak pernah datang lagi ke rumah Anita. Kemungkinan dia pulang ke kota.


"Emm, tante apa sebaiknya Marisa di kasih tahu?" tanya Anita ragu, karena jika ada apa-apa Marisa tidak di beri tahu akan di salahkan nantinya.


"Tante tidak tahu, tapi tunggu pemeriksaan selanjutnya saja. Jika di perlukan kehadirannya maka bisa dia suruh datang ke rumah sakit." kata ibu Ema.


Anita mengangguk, sebaiknya sih Marisa di kasih tahu. Tapi dia tidak punya hak untuk memberitahu Marisa atau pun tidak. Kita tunggu saja, pikir Anita.


_


_

__ADS_1


_


❤❤❤❤❤❤


__ADS_2