
Saat ini Sandra tengah mengandung anak kedua setelah anak pertamanya lahir berjenis jelamin laki-laki satu tahun lalu.
Kini Sandra sangat bahagia, setelah sekian lama tidak mengandung. Justru dalam satu tahun mengandung lagi, dan kandungannya sekarang berusia tiga bulan.
Jika dulu mengandung anak pertama mengalami ngidam dan kadang membuat malas melakukan kegiatan, justru sekarang Sandra lebih aktif di kehamilan usia tiga bulan lebih.
Apakah janinnya itu akan lahir laki-laki lagi? Tapi apa pun jenis kelaminnya, Sandra akan senang dan menerimanya.
"Ma, Malvin sudah di kasih susu belum?" tanya Jhosua pada istrinya.
"Sudah pa, dia kan setiap dua jam selalu minum susu." jawab Sandra.
"Kok dia merengek lagi minta susu di botol sih ma?" tanya Jhosua lagi.
"Mungkin masih lapar pa, ya sudah nanti mama buatkan." kata Sandra lagi.
"Oh ya, Elana di mana?" tanya Jhosua.
"Tadi sih ada di kamarnya." jawab Sandra.
"Apa di sekolahnya ada yang mengejeknya lagi?" tanya Jhosua.
Sandra menghela nafas panjang, lalu menganggukkan kepalanya pelan.
"Aku kasihan sama anak itu, selalu di ledek oleh teman sekolahnya mengenai Mourin. Aku takut dia jadi anak yang pendiam dan tertutup pa." kata Sandra.
"Biar nanti papa yang memberinya semnagat ma, papa kadang ngga tega melihat anak sekecil itu teman-temannya menjauh. Padahal dia sedang aktif dan senang bermain." kata Jhosua.
"Iya mama juga merasa kasihan, tapi anaknya sih selalu ceria kalau di tanya sama aku pa." kata Sandra.
"Ya sudah, mama buatkan susu botol dulu buat Malvin. Biar papa yang memberinya semnagat." kata Jhosua.
"Iya pa."
Jhosua lalu pergi menuju kamar Elana, dia mengetuk pintu kamar gadis berusia sembilan tahun itu.
Tok tok tok
Jhosua mengetuk pintu pelan, dan tak lama pintu terbuka. Elana berdiri memandang Jhosua. Wajag sendu tampak jelas di mata Jhosua.
"Kakak El sedang apa?" tanya Jhosua.
"Lagi belajar om." jawab Elana.
"Boleh om masuk kamar kak El?" tanya Jhosua lagi.
"Boleh om, silakan."
Jhosua pun masuk ke dalam kamar Elana, sangat rapi. Dia rajin merapikan kamarnya meski ada pembantu yang selalu siap merapikan kamarnya. Tapi Elana selalu merapilannya sendiri.
Kemudian Jhosua duduk di ranjang kecil milik Elana, dia menatap Elana yang duduk di kursi belajarnya.
"Emm, kak El di sekolah tadi bagaimana?" tanya Jhosua pelan, dia takut menyinggung perasaab anak kecil itu.
"Baik om, ada tugas matematika dari ibu guru." kata Elana.
"Oh, sudah di kerjakan?"
"Iya om."
"Kak El, teman-teman di sekolah semua baik?"
"Emm, mereka masih sering mengolok kak El om. Mama El kan di penjara, jadi teman-teman ngga mau main sama kak El." jawab Elana.
Hati Jhosua perih, dia mendengar Elana tentang olokan temannya seperti biasa saja. Tidak ada kesedihan dan marah. Waktu pertama kali dapat olokan seperti itu dari teman-teman yang mengetahuinya Elana memangis dan tidak mau berangkat ke sekolah selama satu minggu.
Tapi mungkin sekarang dia sudah biasa mendapatkan olokan dari teman-temannya. Dia tidak marah bahkan mogok ke sekolah. Dia tetap berangkat sekolah seperti biasa.
"Kakak El yang sabar ya, jadi perempuan kuat. Mama kak El juga kuat, pasti kak El bisa kuat seperti mama." kata Jhosua.
__ADS_1
"Iya om, kak El selalu sabar kok. El ngga pernah dengarkan teman-teman mengolok El." jawab Elana.
"Bagus, tante sama om selalu berharap El kuat menghadapi olokan teman-teman. Buktikan kalau kak El anak mama Mourin kuat dan selalu berprestasi ya, jangan pernah malas belajar. Om sama tante San akan selalu dukung cita-cita kak El." kata Jhosua lagi memberi semangat.
"Iya om, terima kasih."
Setelah berbicara seperti itu, Jhosua keluar dari kamar Elana.
Dari sini nanti ya, kisah Elana~~~😊
_
Sandra sedang di butiknya, dia sekarang lebih bersemangat di kehamilan keduanya ini. Semangat merancang desain baju-baju untuk butiknya.
Ketika dia sedang merancang pesanan sosialita di kota itu, karyawannya mengetuk pintu.
Tok tok tok
"Ya masuk."
Lalu pintu terbuka, tampak karyawan masuk dan memberitahu kalau ada tamu untuknya.
"Bu, ada tamu." katanya.
"Siapa?"
"Emm, itu bu laki-laki yang pernah sering datang kesini bu." jawabnya ragu.
Sandra mengerutkan keningnya, siapa yang sering datang ke butiknya selain suaminya?
"Aku." jawab seorang laki-laki yang tiba-tiba berdiri di depan pintu ruang kerja Sandra.
Sandra menoleh, begitu pun karyawan itu.
"Kamu boleh pergi." kata Sandra pada karyawannya itu.
Karyawan itu pergi, laki-laki itu masuk dan masih berdiri di depan Sandra.
Ya, Martin datang mengunjungi Sandra. Entah mau apa.
"Aku boleh duduk?" tanya Martin.
"Ya, silakan." jawab Sandra singkat.
"Terima kasih."
"Mau apa kamu datang lagi kesini?" tanya Sandra ketus.
"Emm, bisa tidak bicaranya jangan ketus begitu?"
"Gue ngga bisa ngomong halus sama lo."
"Oke, aku mau minta maaf sama kamu."
"Udah?"
"Sandra, ku mohon jangan ada permusuhan antara kita. Kamu sudah menikah dan ku dengar kamu punya anak juga. Kamu bahagia?" tanya Martin.
"Tentu saja, suamiku lebih menyayangiku dan pengertian. Tidak seperti kamu yang meninggalkan setelah menikmati apa yang aku jaga selama ini."
"Untuk itu aku minta maaf sama kamu, dan juga aku ingin bahagia. Makanya aku datang untuk meminta maaf dan mengantarkan ini untuk kamu dan suamimu." kata Martin sambil menyodorkan kartu undangan.
"Heh, kamu mau menikah?"
"Iya, seperti dirimu aku ingin hidup bahagia dengan pilihanku." jawab Martin.
Sandra mendengus kasar, dia seharusnya menyudahi perseteruannya dengan Martin. Seperti halnya Mourin dengan Evan, dia sudah mengikhlaskan Evan dengan pilihannya.
Lagi pula dia sudah bahagia dengan Jhosua, jadi untuk apa dendam pada Martin?
__ADS_1
"Iya, San. Aku berharap kamu dan suamimu datang di pernikahanku nanti." kata Martin.
Martin bicara baik-baik, Sandra juga memang sudah tidak peduli lagi dengan mantan pacarnya itu.
"Iya, aku usahakan datang dengan suamiku." jawab Sandra lagi dengan nada biasa saja.
Kini mereka hanya mengobrol biasa, tak berapa lama Jhosua masuk ke dalam ruangan istrinya itu. Niatnya mau makan siang dengan istrinya, tapi dia melihat mantan pacar Sandra ada di sana.
"Ma?" kata Jhosua.
"Eh, papa kesini?" tanya Sandra sedikit kaget.
Martin menoleh ke arah Jhosua, dia tersenyum ramah pada suami Sandra itu. Jhosua pun sama membalas senyim Martin.
Di luar ruangan sana, karyawan yang pernah tahu siapa Martin itu jadi bisik-bisik membicarakan ketiga orang di sana.
"Jadi tamu laki-laki itu adalah mantan bu Sandra?" tanya karyawan baru.
"Iya, dia mantan pacar bu Sandra dulu. Dan sering banget ke butik menemui bu Sandra, saya kira mau menikah dan jadi suami eh malah menikah sama pak Jhosua." kata karyawan satunya.
Di dalam sana
"Pa, dia mau menikah minggu ini katanya." kata Sandra pada Jhosua.
Jhosua melihat kartu undangan yang tadi di berikan oleh Martin pada Sandra. Dia memperhatikan kartu undangan tersebut dan melihat ke arah Martin.
"Emm, selamat ya. Semoga kalian hidup bahagia." ucap Jhosua.
"Iya, terima kasih. Kalau begitu saya permisi dulu, jangan lupa datang kalian di pernikahanku." kafa Martin mengingatkan.
"Iya, kita.pasti datang." jawab Jhosua dengan pasti.
Setelah mereka bersalaman, Martin pun keluar. Jhosua masih memandangi kartu undangan tersebut.
Sandra sendiri merasa suaminya mengintimidasi dirinya lewat sikapnya.
"Pa, ada apa kemari? Tumben." tanya Sandra.
"Dia hanya mengantarkan kartu undangan ini?" tanya Jhosua tanpa mengindahkan pertanyaan istrinya.
"Dia kesini hanya minta maaf sama aku, pa. Aku memang pertama terkejut kenapa dia datang lagi, tapi dia bilang hanya minta maaf sama aku dan kasih kartu undangan itu." jawab Sandra berusaha sejujur mungkin.
Ada bau cemburu pada suaminya, namun dia menutupinya dengan sikapnya itu.
"Yakin ma?"
"Ya yakin pa, ngapain mama bohong sama papa. Aku udah bahagia sama papa, juga cinta sama papa. nih buktinya mau dua." kata Sandra sambil menunjuk perutnya.
Jhosua tersenyum senang, dia menghampiri istrinya dan mencium keningnya.
"Papa hanya tidak ingin mama di sakiti lagi. Dan juga tidak mau mama masih punya perasaan sama mantan pacar mama itu." kata Jhosua.
"Mana ada pa, kalau sudah di buang ya ngapain di pungut lagi. Mama sekarang bahagia hidup sama papa, papa pengertian sama mama, jadi buat apa mama berpaling dengan orang lain." kata Sandra.
Jhosua tersenyum, lalu dia mengambil kantong kresek yang tadi dia bawa.
"Ayo kita makan siang dulu ma."
"Papa sengaja bawa makan siang untuk makan berdua di sini?"
"Iya, papa pengen makan berdua sama mama di sini."
Lalu keduanya makan siang bersama dan ruang kantor Sandra dengan penuh kebahagiaan. Masalah dengan Martin tadi hilang menguap begitu saja.
_
_
_
__ADS_1
❤❤❤❤❤❤❤❤