
Liburan telah usai, kini Anita mulai beraktifitas kembali seperti biasa. Bulan depan dia sudah menyiapkan kedua anaknya untuk masuk ke sekolah TK. Chiko dan Chila sangat senang akan masuk sekolah.
"Ma, nanti baju seragamnya gimana ma, Chila belum ada." kata Chila.
"Iko juga ma." ini Chiko yang ikut-ikutan kakaknya.
"Iya nanti kan daftar dulu di sekolahnya. Kalau sudah daftar pasti dapat baju seragamnya kok." kata Anita.
"Nanti pakai baju polisi ngga ma? Iko pengen pake baju polisi. Seperti punya Dodo, ma." kata Chiko lagi tidak sabar untuk masuk sekolah.
"Iya sayang, nanti juga dapat baju polisi. Sabar ya, kata ibu gurunya harus sabar." ucap Anita menenangkan anaknya.
"Iko main dulu sama Dodo ma, kata Dodo di sawah lagi banyak jangrik." kata Chiko.
"Jangan jauh-jauh Iko mainnya."
"Iya ma."
"Chila mau main sama Nabila aja ma, main boneka." kata Chila.
"Iya sayang, nanti kalau lapar pulang ya. Mama udah masak ayam goreng kesuakaan Chila sama Iko."
"Iya ma."
Lalu kedua bocah itu pergi keluar untuk bermain dengan teman-temannya. Ibu Yuni hari ini tidak enak badan, sudah tiga hari semenjak pulang dari liburan di vila milik teman Arga.
"Ibu sudah minum obat?" tanya Anita pada ibu Yuni yang sedang berbaring.
"Sudah tadi pagi." jawab ibu Yuni.
"Sudah makan juga?"
"Belum, mulut ibu masih ngga enak untuk makan."
"Ya setidaknya perut di sini dulu bu."
"Iya nanti ibu makan."
"Aku buatkan jus apel aja ya?"
"Iya boleh, ibu pengen makan yang segar-segar aja."
"Kayak orang ngidam aja,bu."
"Ngga tahu nih,mungkin ibu pengen punya cucu lagi."
"Ish, ibu ini ada-ada aja sih."
"Ya lagian kamu bilangnya kayak orang ngidam."
Sedang mengobrol asyik dengan ibunya,dari luar terdengar pintu di ketuk seseorang.
"Seperti ada yang mengetuk pintu bu." kata Anita.
"Iya, siapa ya? Arga?"
"Ngga tahu bu. Ya udah,aku ke depan dulu."
"Iya."
Anita meninggalkan ibunya di kamar, sedangkan dia menduga itu adalah Arga. Ada senyum mengembang di bibirnya. Ketika membuka pintunya, senyum Anita tertahan. Dia terpaku di tempatnya melihat siapa yang datang ke rumahnya.
"Siang Anita." sapa laki-laki itu dengan senyum mengembang.
"Siang juga mas Rendi." jawab Anita kaku.
Dia masih tidak percaya dengan kedatangan Rendi ke rumahnya. Anita masih belum mempersilakan Rendi masuk, dia masih syok dengan kedatangan Rendi yang tiba-tiba itu.
"Apa aku boleh masuk?" tanya Rendi.
"Oh ya, silakan mas." jawab Anita.
__ADS_1
"Terima kasih."
Rendi lalu masuk ke dalam rumah. Rumah yang sama ketika dia datang melamar Anita dulu. Belum banyak berubah, hanya ada toko di depan saja perubahannya.
Rendi masih berdiri, matanya masih berkeliling ke segala tempat. Anita mempersilakan Rendi duduk.
"Duduk mas." kata Anita.
"Ya."
"Aku mau ambil minum dulu, mungkin kamu haus."
Tanpa menunggu Rendi, Anita masuk ke dalam dapur. Dia berhenti sejenak dan menghembuskan nafas panjang.
Anita melamun sejenak, kenapa Rendi datang? Apa yang mau dia lakukan? Apakah mau mengambil anak-anak?
Tidak, itu tidak boleh terjadi. Tapi bagaimana dia mau mengambilnya, sedangkan dia saja enggan untuk mendekat pada anaknya.
"Anita, di luar siapa? Arga?" tanya ibu Yuni yang tiba-tiba ada di belakang Anita
"Eh, bukan bu. Dia.."
Belum sempat Anita menjawab, Rendi memanggil namanya dari dalam. Membuat ibu Yuni tertegun dan kaget. Dia menatap Anita curiga.
"Siapa dia Anita?"
Anita diam,belum mau menjawab pertanyaan ibunya.
"Anita?"
"Mas Rendi bu." jawab Anita menunduk.
Ibu Yuni mendesah, dia lalu meninggalkan Anita yang sedang membuatkan minum untuk Rendi. Dia bingung, jika di diamkan juga tidak enak. Biarlah ibunya sementara marah, tapi dia akan yakinkan diri kalau Rendi hanya mampir saja.
Setelah selesai membuat minum, Anita keluar membawa nampan berisi minuman teh hangat saja. Dia letakkan di meja lalu dia duduk di kursi.
"Silakan di minum mas." kata Anita.
"Terima kasih." jawab Rendi.
"Anak-anak sedang main ya?" tanya Rendi.
"Iya, mereka main sama temannya di lapangan." jawab Anita datar.
"Jauh banget mainnya."
"Setiap hari mereka main ke sana."
"Kalau main di lapangan itu kotor, banyak kotoran binatang yang nanti menempel. Nanti mereka bisa sakit." kata Rendi, seolah dia lebih tahu apa yang di lakukan anak-anaknya.
Anita menatap Rendi, dia tertegun dengan ucapan Rendi. Lalu dia tersenyum sinis, namun Anita diam saja. Kemana saja selama ini, kenapa tiba-tiba jadi perhatian seperti itu.
"Ada apa mas Rendi kemari?" tanya Anita tidak menggubris ucapan Rendi tadi.
Rendi diam sejenak, dia menatap Anita. Ada rasa bersalah, lalu dia menunduk.
"Aku minta maaf sama kamu, Anita." ucap Rendi pelan.
Dia mendekat pada Anita dan bersimpuh di hadapan Anita. Anita kaget,dia beringsut di kursinya, memiringkan badannya ke samping. Sejujurnya dia sangat kaget dan risih.
"Jangan seperti ini mas." ucap Rendi.
"Aku banyak salah sama kamu, maafkan aku."
Kembali Anita diam, dia membiarkan tangan Rendi memegang tangannya. Tapi dia berusaha melepas pegangan Rendi.
"Aku sudah memaafkanmu mas, tolong jangan seperti ini. Kalau ibu tahu dia akan marah padamu." kata Anita lagi.
Lalu Rendi bangkit dan duduk kembali, dia menatap Anita lagi. Ada rasa ingin memeluk mantan istrinya itu, namun dia sadar kalau sekarang statusnya berbeda.
"Mamaaa, Iko dapat jangkrik banyak maa..." teriak Chiko berlari masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Chiko memperlihatkan wadah yang banyak jangrik di dalamnya pada Anita.
"Waah, Iko hebat ya. Banyak banget jankriknya." ucap Anita sambil tertawa.
Rendi yang melihat Chiko begitu senang dengan mainannya jadi ikut senang, namun dia tiba-tiba jadi ingin memeluk anaknya itu.
"Iko.." ucap Rendi.
Chiko yang tidak tahu kalau di belakangnya ada Rendi. Chiko menoleh ke arah suara yang memanggilnya.
Dia menatap Rendi tidak percaya, Rendi tersenyum pada Chiko.
"Papa..!" teriak Chiko mendekat pada Rendi.
Rendi menyambut Chiko, dia senang anaknya masih ingat dengannya. Rendi memeluk Chiko erat.
"Papa kemana aja, kok baru datang jenguk Iko?" tanya Chiko.
Rendi menatap Anita yang membuang muka ke samping. Lalu dia menatap Chiko lagi dan tersenyum.
"Kata mama, papa ngga akan datang lagi karena sibuk kerja." ujar Chiko dengan polosnya.
Anita menahan isak tangisnya,dia lalu bangkit dari duduknya dan masuk ke dalam kamarnya. Rendi terpaku, dia kembali merasa bersalah.
"Ini papa datang kok. Papa sedang libur, makanya papa cari Iko." kata Rendi, kembali dia memeluk anak laki-lakinya itu.
"Ma, kakak mau main ke rumah Amanda ya ma." kini Chila datang.
Dia melihat Chiko sedang di peluk oleh Rendi. Anak itu tertegun, dia menatap Rendi dengan dingin. Ada rasa rindu dan marah pada Rendi.
Anita keluar dari kamarnya, lalu duduk kembali di kursi yang tadi dia duduk.
"Kak, itu papa datang." kata Anita menunjuk Rendi.
Rendi tersenyum pada Chila, tapi Chila masih terpaku di tempatnya.
"Kak, sini sama papa." ucap Rendi.
Chila masih diam, tidak bergeming.
"Papa mau apa datang ke sini?" tanya Chila.
"Papa kangen sama kakak dan adek Iko, sayang." jawab Rendi.
"Papa bohong! Papa ngga pernah sayang sama Chila dan adek Iko!" masih berteriak,lalu dia menangis memeluk Anita.
Rendi diam dengan ucapan anak gadisnya itu. Dari pada Chiko, Chila lebih sensitif.
"Maafkan papa kak."
Rendi mendekat ingin meraih Chila, namun Chila memepis tangan Rendi.
"Kak, ngga boleh begitu. Papa kangen sama kakak dan adek Iko." bentak Anita pada Chila.
"Papa bohong ma, papa ngga pernah sayang sama kakak dan adek Iko." tangis Chila pecah.
Rendi mencoba memeluk Chila, namun anak itu menolaknya. Dia maklum, mungkin yang paling terluka adalah Chila.
"Maafkan papa,kak." Rendi ikut menangis.
Mau tidak mau Anita menenangkan anaknya itu dan memberinya nasehat agar mau menerima papanya. Tapi Chila tetap belum mau menerima Rendi.
"Sudahlah mas,nanti juga Chila mau. Kamu tenang saja,aku akan coba bujuk Chila nanti." kata Anita.
"Terima kasih. Aku mau menebus semua waktuku sama anak-anak." ucap Rendi.
Hari sudah mulai sore, Rendi berpamitan pada Anita dan Chiko. Namun Chila masih belum mau menerima dengan ikhlas ayahnya itu.
_
_
__ADS_1
_
❤❤❤❤❤