
Anita masih meringis kesakitan, Arga sendiri terus mendampingi istrinya sampai pembukaan sempurna. Anita kadang menjerit dan juga menangis, membuat Arga panik.
"Kamu ngga apa-apa sayang melahirkan normal?" tanya Arga dengan raut wajah cemas.
"Ngga apa-apa kok. Kata dokterkan tinggal tiga pembukaan lagi, mungkin ini juga sebentar lagi sempurna pembukaannnya." ucap Anita dengan meringis kesakitan.
Dokter masuk, dia memeriksa kembali dengan memasukkan tangannya di bagia bawah. Melihat jam di tangannya.
"Satu lagi sempurna ya bu, ibu tahan sakitnya. Bapak beri semangat istrinya ya." ucap dokter.
"Iya dokter." ucap Arga.
Dokter kembali keluar, dia akan menyiapkan beberapa peralatan dengan suster. Suster masuk membawa peralatan dokter, menyiapkan agar tidak terlupakan.
Menambah satu pembukaan saja, lama sekali membuat Anita dan Arga semakin tidak sabar. Anita kini terus meringis kesakitan, Arga semakin tidak tega melihat Anita meringis dan menangis secara bersamaan, dia seakan ikut betapa sakitnya mau melahirkan.
"Ga, aku ngga kuat. Uuuuh!"
"Sabar sayang, kata dokter tinggal satu lagi. Kamu pasti bisa sayang, apa kamu ingin melihat anak kita yang lucu?" ucap Arga di depan wajah Anita, dia mencium kening istrinya untuk menenangkannya.
Jika Anita saja berputus asa seperti itu, apa kabar dengan dirinya? Arga harus memberi semangat pada Anita, hingga Anita memegang lengan Arga dengaj kencang sambil menjerit tertahan. Inginnya dia menangis di situ, tapia dia harus tegar demi Anita yang sedang berjuang menahan rasa sakit luar biasa ketika akan melahirkan.
Dokter masuk, bertepatan air ketuban Anita pecah. Di samping sisi kanan kiri Anita basah, dengan sigap lalu suster menyiapkan kain dan alas untuk menampung kotoran dan juga darah yang sudah keluar dari jalan lahir.
"Nah, ibu pembukaan sudah sempurna ya. Ibu mengejan sesuai dengan instruksi saya. Jangan lelah, tarik nafas lalu buang ya. Bagina bawah harus menempel, jangaj di angkat. Ayo sekarang dalam hitungan ketiga, ibu mengejan. Satu dua tiga!"
Anita mengejan sekuat tenaga.
"Eeeeeh!"
Belum juga keluar tapi kepala bayi sudah terlihat, dokter kembali memberi aba-aba. Anita kembali mengejan.
"Eeeeeuuuuuuuh!"
Dan keluarlah bayi dengan suara tangisan melengking, Arga terharu. Dia melihat anaknya yang masih merah dan darah masih menempel di kulitnya.
"Oek oek oek!"
"Ini anak bapak dan ibu ya, jagoan kecil yang sangat kencang sekali tangisannya." ucap dokter memperlihatkan wajah anak Arga dan Anita pada kedua orang tuanya.
"Lucu sekali kamu, nak." ucap Arga lirih dan terharu.
Dia menahan tangis melihat bayi mungil itu, sedangkan Anita masih di tangani dokter untuk membersihkan sisa-sisa yang masih ada di dalam rahim Anita.
Arga memandang istrinya, dia sangat bahagia. Dia lalu mengecup seluruh wajah Anita. Sedangkan Anita masih memejamkan matanya, nafasnya masih memburu karena lelah yang di rasakannya. Dia tiba-tiba saja mengantuk.
"Ga, aku ngantuk banget." ucap Anita lirih.
"Iya sayang, kamu boleh tidur kok nanti setelah ini selesai." ucap Arga.
__ADS_1
Dia kembali mengecup kening istrinya, lalu keluar karena dokter memyuuh Arga ke ruang bayi untuk sentuhan kulit dengan kulit ayah dan bayi. Agar perasaan dekat dengan ayahnya.
_
Di dalam kamar inap Anita di mana sedang di rawat, suara riuh rendah anak-anak Anita dan Arga memperebutkan adik mereka.
"Nanti adek main sama kakak Celine ya." ucap Celine di samping boks adik kecilnya.
"Ngga bisa, kan adek cowok jadi mainnya sama abang Iko." ucap Chiko tidak mau kalah.
"Iiih, abang Iko. Ini kan adek Celine." ucap Celine dengan rengekannya.
"Tapi Celine kan cewek, kalau cowok main sama cowok." teriak Chiko.
Perdebatan dua anak kecil itu membuat semua hanya geleng kepala. Arga belum melerai anak-anaknya yang bertengkar itu. Dia senang, mereka merasa memiliki adik yang baru lahir. Mempunyai anggota baru di rumahnya.
"Sayang, terima kasih ya atas pengorbananmu mengandung dan melahirkan anak aku. Cup." ucap Arga.
"Aku juga senang kok, bisa memgandung anakmu. Aku bahagia, Ga." ucap Anita.
Dia memeluk suaminya, ada rasa haru melihat kedua anaknya begitu akur dan saling menyayangi anak Arga. Meski mereka saudara tiri, tapi seperti saudara kandung.
Arga menoleh ke arah istrinya yang sedang menatap ketiga anak-anak yang masih berebut adiknya. Arga tersenyum, dia kembali mengecup kening istrinya.
Kini Celine yang menangis, karena kalah berdebat dengan Chiko. Anita melepas pelukannya pada Arga lalu menyongsong Celine yang menangis.
Arga tersenyum, dia memperhatikan interaksi anak dan istrinya itu.
"Ma, masa abang ngga boleh Celine main sama adek. Itu kan adek Celine, kayak kakak Chila punya adek abang Iko. Hik hik hik.." ucap Celine terbata dengan tangisannya.
"Itu adek semuanya kok, adeknya kakak Chila, adek abang Iko dan adeknya kakak Celine. Jadi nanti main sama-sama ya." kata Anita menenangkan Celine.
"Tapi adek cowok ma, masa main sama cewek." ucap Chiko kekeh dengan pendiriannya.
"Ya ngga apa-apa bang, kan sama-sama anak mama dan papa. Jadi mainnya sama-sama. Ayo coba kalau abang sendirian cowoknya, ngga ada temannya." ucap Anita, dia tersenyun.
Chiko cemberut, dia lalu duduk di samping ibu Yuni yang sejak tadi hanya tersenyum melihat tingkah cucunya.
"Tapi papa Arga juga cowok." ucap Chiko di sela-sela rasa kesalnya.
"Ya, papa kan main juga sama abang Iko, sama Celine juga sama kakak Chila. Sama mama juga." balas Arga.
Perdebatan berakhir dengan Chiko yang masih kesal. Tapi akhirnya mereka kini bermain lagi di depan kamar inap itu, bermain lari-larian.
Namanya juga anak-anak, sebentar ribut sebenyar juga akrab lagi. Jika orang dewasa ribut, yang ada satu tahun bahkan lebih akan saling memaafkan lagi, itu pun hubungannya tidak seperti semula.
"Ga, nama anak kita siapa? Kamu belum kasih nama anak kita." ucap Anita.
Dia sedang menyusui, Arga masih fokus ke mulut bayi yang menyedot p*ting buah dada Anita.
__ADS_1
"Ga, kok kamu melamun sih." ucap Anita lagi setelah Arga tidak juga menjawab ucapannya.
"Oh, kamu bicara apa sayang?" tanya Arga menatap Anita.
"Anak kita namanya siapa? Kamu belum kasih nama sama ank kita." ucap Anita mengulangi pertanyaannya pada suaminya itu.
Dia tahu, suaminya sedang berpikir apa, pasti tentang masa sesudah melahirkan bagaimana nanti dirinya.
Arga berpikir, lama. Dia pikir memberikan nama itu gampang, tapi susah juga ya. Namun akhirnya dia menemukan nama penggabungan dirinya dan Anita.
"Emm, namanya Angga saja sayang. Gabungan nama kita, Anita dengan Arga. Angga, bagaimana kamu setuju?" tanya Arga.
Anita berpikir, boleh juga ya. Simpel dan sesuai dengan anaknya. Anita tersenyum, lalu mengangguk cepat.
"Iya Ga, anak kitan namanya Angga aja." ucap Anita.
Ketiga anak-anak mereka masuk setelah pulang dari kantin bersama dengan kedua neneknya.
"Pa, adek namanya siapa?" tanya Celine.
"Adek Angga, sayang. Kakak Celine panggilnya adek Angga. Kakak Chila dan abang Iko panggil adek Angga ya." ucap Arga pada ketiga anak mereka.
"Iya pa " jawab mereka kompak.
"Namanya Angga, Ga?" tanya ibu Yuni.
"Iya bu, gabungan nama aku dan Anita. Anita dengan Arga." jawab Arga.
"Tidak ada nama panjangnya, Ga?" tanya ibu Ema.
"Ada, nama panjangnya Angga Yosef Anugrah. Anak kita itu anugrah dari Tuhan, ma. Jadi aku kasih nama itu." jawab Arga.
"Ya, bagus juga. Semoga kalian langgeng ya, bisa memperbaiki apa yang pernah kalian alami. Mama yakin cinta kalian sangat besar satu sama lain. Jangan ada yang saling menyakiti, karena kalian sendiri tahu rasanya sakit hati itu seperti apa. Kalian yang telah mengalaminya. Kita orang tuan hanya mendoakan saja dan mendukung setiap apa yang kalian lakukan." ucap ibu Ema panjang lebar.
Arga dan Aniga mengangguk, mereka sadar akan kegagalan dalam rumah tangga dulu. Jadi untuk saling menyakiti satu sama lain, rasanya mereka harus berpikir dua kali bahkan ribuan kali. Mereka juga yakin, cintanya sangat kuat.
Baik itu Arga atau pun Anita. Arga memahami Anita dan Anita lebih memahami suaminya, terutama jika sudah berdua dan di atas ranjang. Anita sangat paham akan hal itu.
Anita juga tahu, ketika suaminya di tanya nama anaknya, pikiran mesumnya pasti sedang berkeliaran di otaknya. Dia melirik suaminya yang masih diam mendengarkan mertuanya bicara.
"Oek oek oek!"
_
_
_
❤❤❤❤❤❤
__ADS_1