
Anita pusing dengan rengekan Chiko.Setiap hari dia merengek meminta segera pergi ke kota menemui Rendi.
" Iko, kan mama sudah bilang lusa kita kesana. Jadi adek ngga boleh merengek terus, kalau adek ganggu mama terus, mama batalin ke kotanya. Biar Iko nangis terus sampai air matanya habis terus matanya merah kayak zombie." kata Anita menakuti anaknya itu.
Dia jadi terganggu dengan rengekannya sejak tadi pagi sampai sore hari ini. Biarlah dia memberikan ancaman seperti itu, dia bingung harus berbuat apa. Berharap anak itu mau diam dan menurut apa katanya.
Dan benar saja, ketika Anita menakuti seperti itu, Chiko diam. Dia lalu pergi dari hadapan Anita menuju ruang tamu.
Anita menghela nafa panjang, dia lalu melanjutkan kembali menyusun barang dagangannya di etalase karena tadi padi belum sempat dia rapikan.
"Kak Chila, mata Iko merah ngga?" tanya Chiko pada kakaknya itu.
"Kenapa?" tanya Chila heran dengan pertanyaan adiknya itu.
"Kata mama, kalau adek nangis terus, air matanya habis terus berubah jadi merah kaya zombie." ucap Chiko menjelaskan apa kata Anita.
Anita yang mendengar percakapan kedua anaknya itu tersenyum sendiri, dia ingin tertawa namun di tahan. Masuk juga dia, pikir Anita.
"Iya, mata sebelah kirinya merah." kata Chila memperhatikan mata Chiko yang sebelah merah.
Padahal tadi siang matanya kemasukan semut jadi merah karena di kucek terus.
"Hwuuaaa, mama. Mata Iko merah kayak zombie!" tangis Chiko pecah lagi.
Anita tertawa di dalam toko, dia lalu keluar dan menghampiri anaknya yang menangis kencang sambil menutupi matanya. Tawa Anita belum hilang, dia masih menunggu tawanya berhenti untuk menolong anaknya yang masih menangis kencang itu.
Chila hanya menatap Anita dengan heran, lalu dia keluar untuk bermain dengan temannya.
"Ma, kakak mau main sama Amanda dulu ya." kata Chila minta izin pada Anita.
" Iya kak, sore pulang ya." pesan Anita pada anak gadisnya itu.
"Iya ma."
Lalu Chila langsung melesat pergi setelah mendapat izin dari Anita. Anita pun berjongkok menghadap Chiko, menarik tangannya di turunkan ke bawah.
"Coba mama lihat matanya adek." kata Anita.
Dia memperhatikan mata Chiko dengan seksama, mendramatisir bahwa memang mata Chiko merah dan seperti zombie.
"Wah, adek. Matanya memang merah nih. Kebanyakan nangis jadinya merah." kata Anita mengusap mata Chiko.
"Iko ngga mau kayak zombie ma, mata Iko ngga mau kayak zombie Hwuaa..." tangis Chiko kembali pecah.
"Katanya ngga mau mata merah kayak zombie, tapi masih nangis aja sih Nanti mata satunya merah lagi lho, beneran kayak zombie." ucap Anita.
Chiko pun terdiam, dia mengusap kembali matanya lalu memeluk Anita. Dan Anita membalasnya juga.
Anita menghela nafas panjang, emosi yang sejak tadi berkumpul di hatinya kini lenyap seketika dengan drama zombie ala Chiko.
_
Malam hari, terasa sangat melelahkan bagi Anita. Ingin dia cepat tidur dan istirhata. Anak-anaknya juga sudah tidur semua, ibu Yuni pun rupanya sudah terlelap meski waktu masih menunjukkan pukul delapan empat puluh menit.
Anita duduk di ruang makan yang bisa berfungsi juga ruang tivi, karena sebelahnya meja makan dan sebelahnya lagi tempat duduk lesehan menonton tivi. Karena ruangan itu luas.
__ADS_1
Dia lelah, namun entah kenapa matanya belum mau mengantuk. Jadi untuk membantu matanya cepat mengantuk, Anita menonton tivi sendirian menonton sinetron anak muda masa kini di chanel tivi nasional.
Baru juga menyetel tivi, suara pintu di ketuk dari luar. Dengan malas Anita bangkit dari duduknya lalu menuju ruang tamu dan membuka pintunya.
Dia terkejut setelah mengetahui siapa yang datang, lalu tersenyum terpaksa karena lelahnya melanda.
"Masuklah Ga." kata Anita.
Ternyata Arga, dia lalu masuk ke dalam rumah Anita dan langsung duduk sofa yang sudah usang namun masih bisa di pakai, karena hanya busuk saja warnanya.
"Terima kasih." ucap Arga, dia meletakkan kantong kresek di meja.
"Aku ambil minum dulu ya."
Anita melangkah meninggalkan Arga yang duduk di sofa. Dia bersandar lelah karena akhir-akhir ini aktifitasnya padat sekali. Walau pun lelah, namun dia ingin bertemu Anita karena rasa rindunya pada Anita.
Tak lama Anita datang lagi membawa nampan berisi air teh hangat. Dia letakkan cangkir berisi air teh hangat di hadapan Arga. Kemudian Anita duduk berhadapan dengan Arga.
Arga menatap Anita yang terlihat kelelahan, sesekali dia sudah menguap. Dia merasa bersalah karena mengganggu waktu istirahat Anita.
" Aku ganggu kamu istirahat ya." tanya Arga.
"Ngga kok, aku memang tadi sedang nonton tv karena belum mengantuk." jawab Anita, lagi-lagi dia menguap.
"Tuh kan kamu menguap lagi."
"Jangan hiraukan aku. Kamu kesini mau apa?" tanya Anita.
"Aku pengen ketemu kamu, aku kangen sama kamu." kata Arga, kini dia lebih berani mengungkapkan perasaannya pada Anita meski Anita sendiri belum memberikan jawaban padanya.
"Aku pikir kamu kapok datang lagi setelah aku usir waktu itu." kata Anita tidak menanggapi ucapan Arga.
Arga tersenyum, dia menatap Anita yang berubah merah wajahnya tapi tak terlihat karena lampu yang temaram di ruangan itu.
"Kan aku sudah bilang akan menunggu kamu menjawab lamaranku." kata Arga lagi.
Kembali Anita terdiam, dia lalu berpikir apa sebaiknya dia mengiyakan saja lamaran Arga?
"Lusa aku mau ke kota, Chiko meminta di antarkan bertemu papanya. Apa kamu mau menunggu setelah aku pulang dari rumah papanya Chiko?" tanya Anita pelan.
Meski dia agak ragu, namun dia akan coba menerima Arga setelah nanti pulang dari kota.
"Baik, aku tunggu. Berapa lama kamu di sana?" tanya Arga penuh semangat.
"Aku belum tahu, tergantung Chiko mau berapa hari di sana. Tapi akhir bulan ini dia sudah aktif sekolah. Jadi mungkin sekitar satu mingguan di sana." kata Anita.
"Baik aku akan sabar menunggu dalam satu minggu ke depan. Tapi tunggu, aku mau lihat jadwal dulu. Kalau tidak salah lusa aku juga harus ke kota ke Lapas di sana." kata Arga, dia lalu merogoh kantongnya untuk mengambil ponselnya dan melihat jadwal harian di agendanya yang tersimpan di ponselnya.
"Benar, aku ada jadwal ke kota untuk ke Lapas di sana." kata Arga.
"Mau apa ke Lapas?"
"Ada korban yang harus aku dampingi, dia korban KDRT oleh suaminya tapi malah dia yang di penjara. Aku harus dampingi korban itu agar terbebas dari hukuman, setidaknya meringankan hukumannya." jawab Arga.
"Lalu, apa hubungannya dengan kamu ke Lapas dan aku harus ke kota?"
__ADS_1
"Aku antar kamu sampai rumah Rendi, setelah dari sana aku langsung ke Lapas." kata Arga.
"Tapi kamu nanti repot, apa lagi kalau Celine tahu Chiko sama Chila ikut sama kamu. Apa nanti tidak ingin ikut?"
"Aku bilang sama dia kan mau kerja. Aku juga tidak akan bilang berangkat sama kamu dan anak-anak." jawab Arga.
"Ngga apa-apa kalau kami ikut?"
"Ya ngga apa-apa. Aku malah senang ada temannya. Jam berapa kamu bersiap?"
"Tergantung kamu aja, kan aku numpang sama kamu."
"Ya sudah, bagaimana kalau jam sepuluh pagi. Aku ke kantor dulu sebentar mengambil berkas di sana, baru aku jemput kalian."
"Baiklah, nanti aku siap-siap sepagi mungkin."
"Emm, mau aku jemput pulangnya?" tanya Arga.
"Ngga usah, nanti aku naik kereta aja." ucap Anita.
Keduanya diam, Arga membuka kantong kresek yang tadi dia bawa.
"Kamu lapar ngga?" tanya Arga.
"Kamu bawa apa?"
"Martabak mains, kebetulan tadi di jalan masih ada yang buka jadi aku beli. Kupikir belum pada tidur jadi aku beli banyak. Kalau makan sendirian tidak akan habis."
"Hahaha, aku bantu makan martabaknya."
Lalu keduanya makan martabak berdua sambil mengobrol tentang apa saja, lebih banyak mengenang masa sekolah dulu di banding mengungkapkan perasaan masing-masing.
Tak terasa waktu sudah larut malam, jam menunjukkan pukul sebelas malam. Arga pun berpamitan pada Anita.
"Aku pulang ya, lusa aku jemput kamu." kata Arga setelah mereka ada di luar.
"Ya, hati-hati Ga."
"Emm, Anita..?"
"Apa?"
Arga mendekat, lalu dia mengecup kening Anita tanpa permisi dan tiba-tiba. Tentu saja Anita diam terpaku dan kaget. Dia menunduk dan tersenyum pada Arga.
"Aku pulang."
Setelah melambaikan tangan, Arga masuk ke dalam mobilnya dan melajukannya dengan kecepatan sedang.
_
_
_
❤❤❤❤❤
__ADS_1