
Hari Minggu, Arga dan sekeluarga seperti biasa menghabiskan waktu libur untuk jalan-jalan sesuai kemauan anak-anaknya.
Dia sedang menyiapkan barang-barang yang akan di bawa untuk berlibur. Tujuannya ke kebun binatang, itu permintaan Kevin, dia ingin pergi ke kebun binatang.
Katanya ingin melihat gajah yang berbelalai panjang dan juga monyet bergelantungan di pohon. Dia melihat itu hanya di televisi, dia ingin melihat langsung binatang tersebut.
"Nanti adek di gigit sama monyetnya lho?" kata Chila menakut-nakuti adiknya.
"Ih, kak Chila jangan nakutin adek dong." ucap Kevin hampir menangis.
"Hahaha, beneran deh dek, tanya sama abang Iko. Atau tanya papa, pasti jawabnya di gigit monyet." kata Chila lagi.
"Mama, kaka Chila ganggu adek maa!" teriak Kevin dengan menangis.
Chila hanya tertawa saja, dia kemudian pergi sebelum Anita memarahinya.
"Kenapa dek, kok nangis?" tanya Anita.
"Kakak Chila, kata kak Chila monyetnya nanti gigit tangan adek. Huhuhu."
"Ya kalau dekat dengan monyet tangannya ya nanti di gigit dek. Eh, sekarang panggilnya abang Kevin ya. Kan mau punya adek." kata Anita.
"Adek mau punya adek ma?"
"Iya, sekarang panggilnya abang Kevin, bukan adek lagi. Karena abang mau punya adek, nihasih di perut mama." kata Anita sambil memegangi perutnya yang sudah besar.
Kevin memperhatikan perut Anita tangannya memegang perutnya, di tuntun tangan Anita. Dia tersenyum senang.
"Perut mama besar. Heheh.."
"Iya sayang, ini ada adek bayinya." jawab Anita.
Arga ikut nimbrung dengan anak dan istrinya. Dia memangku Kevin lalu mencium pipinya.
"Ih, papa. Kevin udah besar, mau punya adek jangan cium-cium." rajuk Kevin.
Arga dan Anita tertawa lucu dengan ucapan anaknya itu.
"Kan adeknya belum keluar sayang, jadi Kevin boleh dong di cium papa." kata Arga.
"Panggil abang, pak. Kata mama abang Kevin panggilnya." kata Kevin meralat ucapan Arga.
"Oh ya, papa lupa. Harusnya panggil abang Kevin ya."
"Pa, kok bisa adek ada di perut mama sih?"
"Eh, itu kan perut mama kan hangat. Jadi adek bayi suka di perut mama. Nanti kalau sudah besar adek bayinya ngga betah di perut mama, karena di sana sempit." kata Arga.
Anita hanya memperhatikan percakapan anak dan suaminya.
"Waktu abang Kevin bayi juga sama, setelah besar udah ngga betah di dalam perut mama."
"Kalau adek bayi makannya apa sih pa?"
"Makannya susu asi, sayang. Karena adek bayi belum punya gigi dan masih lemah jadi makannya susu asi." jawab Arga, dia bangga bisa menjawab pertanyaan anaknya mengenai hal seperti itu.
"Asi tuh yang ada di mama ya pa?"
__ADS_1
"Iya, iyu khusus buat adek bayi. Kalau sudah besar ngga boleh lagi minum asi." jawab Arga lagi.
"Tapi waktu malam-malam, abang pernah lihat papa minum asi mama. Tapi abang juga lupa sih kapan, memangnya papa juga suka asiama ya?"
"Eh?"
Arga kelabakan menjawabnya, dia melirik istrinya yang sudah mulai menatap tajam padanya.
Dulu pernah dia dan suaminya ceroboh tidak di kunci pintunya ketika sedang bermesraan di kamar. Dia pikir anaknya Kevin tidak akan mencari Anita ke kamarnya, tapi Kevin malah langsung mendorong pintu dan berlari ke arah kedua orang tuanya yang sedang bercumbu melakukan pemanasan untuk bercinta.
Hingga suara panggilan Kevin yang masih mengucek matanya membuat Arga dan Anita kaget dan buru-buru menyudahi kegiatannya itu.
"Pa, papa juga suka asi punya mama?" pertanyaan ulang Kevin semakin membuat Arga bingung.
Duh, anak kecil kalau bertanya terlalu rumit untuk di jawab. Arga menggaruk bagian belakang kepalanya, bingung mau jawab apa.
"Sudah, ayo masuk ke dalam mobil sayang. Mama sudah selesai beres-beresnya. Sekarang waktunya kita jalan-jalan ke kebun binatang." ucap Anita menyelamatkan suaminya dari kebingunan pertanyaan anaknya.
Dan ternyata lega juga, Arga. Dia mendekat pada istrinya dan berbisik.
"Kamu menyelamatkan aku sayang. Uh, jadi tambah cinta aku sama kamu." kata Arga.
"Makanya kalau mau buru-buru itu pintu di kunci. Anakmu yang memergoki." ucap Anita.
"Tapi aku jawab sama kamu aja, aku suka asi kamu kok sayang. Nanti malam boleh ya?"
"Ish, apa sih? Udah sana ganti baju."
"Hahaha!"
_
Seperti Sabtu sore ini, anak-anak sedang bermain di halaman rumah yang luas. Kevin main otopet, Angga main sepeda mininya beomba dengan adiknya.
Sedangkan Chila, Chiko dan Celine main kartu permainan di gazebo.
Arga sedang duduk di ayunan dengan istrinya sambil memeluk. Bercerita tentang pekerjaan masing-masing dan rencana masa depan jika kelak anak-anaknya besar nanti.
Antara gazebo dan ayunan agak jauh jaraknya, sedangkan trek untuk jalan sepeda mengitari gazebo dan taman di depan dan berakhir di garasi mobil.
Anita memeluk suaminya dengan erat, sesekali dia menatap suaminya dengan kagum dan tersenyum.
"Ga?" Anita memanggil suaminya.
"Kenapa sayang?" tanya Arga.
"Kamu kok ganteng banget sih?" tanya Anita menatap suaminya.
"Ya kan dari dulu aku ganteng. Masa kamu baru sadar sekarang sih?" kata Arga.
Dia menatap balik istrinya dan bibir keduanya saling menyentuh sekilas.
"Tapi waktu SMA kamu hitam deh kulitnya, sekarang bersih dan cerah banget." kata Anita lagi.
"Itu karena aku selalu bahagia, sayang. Karena aku telah mendapatkan cinta sejatiku, yaitu kamu. Cup." kata Arga.
"Emm, sejak kapan kamu suka sama aku?"
__ADS_1
"Emm, sejak kita pergi kemping di bukit itu. Waktu itu kan kamu kedinginan banget dan menggigil."
"Itu kan kelas satu SMA, Ga. Memangnya dari kelas satu SMA kamu udah suka sama aku?"
"Ya, awalnya suka aja. Tapi aku jadi dekat sama kamu jadi semakin suka dan cinta sama kamu." jawab Arga.
Dia mengenang semasa SMA waktu itu adalah titik di mana dia sangat senang sekali menjalin persahabatan dengan Anita. Saat itu dia pikir lebih baik bersahabat dari pada menjadi pacar, karena nanti jika putus akan saling bermusuhan dan menjauhi satu sama lain. Jika bersahabat, dia merasa akan selalu dekat dengan Anita.
Hingga usai ujian sekolah, ingin menyatakan cinta pada sahabatnya. Setelah dia tes ke kampus, malah tidak bisa bertemu dengan Anita.
"Jadi, kamu memcintai aku selama hampir sembilan belas tahum sampai sekarang?"
"Ya, kamu percaya sayang? Dari sejak itu sampai sekarang perasaan cinta aku sama kamu tidak pernah berubah. Meski dulu aku pernah menikah dengan Marisa, tapi dalam hati kecilku selalu berharap aku akan menemukanmu dan bisa mengembalikanmu padaku." kata Arga, matanya menerawang jauh ke depan.
Mengingat pernikahan yang mendadak dengan Marisa dulu hanya untuk menghapus ingatannya pada Anita, tapi malah semakin ingin bertemu dengan Anita setelah dia tahu di hianati Marisa.
"Jadi, selama kamu menikah dengan Marisa. Kamu masih memikirkan aku?" tanya Anita lagi.
Dia takjub sama suaminya itu, Arga mencintai dirinya terlalu dalam sejak dulu.
"Sejujurnya ya, bahkan aku memikirkanmu di saat aku bercinta dengan Marisa. Heheh, maaf ya sayang." ucap Arga.
"Ngga boleh begitu Ga, kalau sudah punya istri pikirkan istrinya jangan memikirkan perempuan lain. Apa jadinya jika istrimu tahu kalau yang di pikirkan suaminya adalah perempuan lain?" kata Anita.
"Iya, aku tahu. Makanya waktu Marisa menghianatiku, sakit sebenarnya. Tapi entah kenapa aku ngga peduli apa yang dia lakukan. Pernah aku coba menerima dia lagi, tapi dia sendiri yang meminta untuk bercerai. Mungkin ini jalan dari Tuhan sayang, mempertemukan aku dengan cinta sejatiku. Yaitu kamu, cup." kata Arga lagi.
Anita tersenyum, berbagai ujian dia lalui. Selama Arga setia dan mendampinginya terus, dia akan bersabar dan menerimanya. Dan ujian itu sudah banyak di laluinya, baik sebelum bersama Arga atau pun sudah menikah dengannya.
Terbukti cinta Arga padanya tidak pernah luntur. Mungkik bagi sebagian orang tidak akan percaya akan cinta sejati bagi laki-laki. Tapi yang di alami Arga memang benar adanya, dia hanya mencintai Anita sampai kapanpun.
Keduanya kembali mengeratkan pelukannya, memberi kenyamanan dan ketenangan pada hati masing-masing.
"Ga, ke kamar yuk?" ajak Anita.
"Mau apa sayang?" tanya Arga heran.
Ini masih sore, tapi istrinya mengajaknya ke kamar.
"Mau kamu." jawab Anita dengan manja.
Arga masih belum mengerti ucapan istrinya, Anita tersenyum misteri dan berbisik di telinga suaminya.
"Mumpung anak-anak anteng bermain, aku ingin bermain denganmu di ranjang." kata Anita lagi dengan gaya sensualnya.
Mungkin hormon endorfin sedang bekerja di tubuh Anita di kehamilan ini, hingga dia ingin bermesraan dengan Arga, bahkan ingin memadu cinta di kamarnya.
Dan tentu saja, di sambut dengan antusias oleh suaminya. Arga tersenyum dan mengangguk cepat.
"Ayo sayang kita ke kamar."
_
_
_
❤❤❤❤❤❤❤
__ADS_1