IKHLAS MELEPASMU

IKHLAS MELEPASMU
135. Drama Sebelum Tidur


__ADS_3

Setengah bulan sudah setelah Mourin menjanjikan datang ke rumah sakit waktu itu, belum juga datang lagi.


Anita heran, apa maksud kedatangannya waktu itu? pikir Anita.


"Sayang, kamu sedang memikirkan apa?"tanya Arga.


Dia duduk di samping istrinya, dan membuka laptopnya. Anita sendiri masih diam belum menjawab pertanyaan suaminya.


"Sayang?"


"Yah, kenapa?" tanya Anita yang ternyata tidak mendengarkan suaminya bertanya.


Arga menghela nafas panjang, menatap istrinya yang masih belum fokus pada dirinya.


"Kamu memikirkan apa?" tanya Arga lagi dengan lembut, membelai pipinya agar Anita fokus pada dirinya.


Anita tersenyum dan memiringkan kepalanya dan mencium tangan Arga yang masih menempel di pipinya.


"Apa di pabrik ada masalah lagi?" tanya Arga.


"Emm, ngga ada. Aku bahkan memberi karyawan pabrik bonus bulan ini. Apa kamu keberatan?" tanya Anita.


Bukan suaminya namanya jika tidak melihat ada kerutan du wajah Anita jika dia menyimpan masalah. Tapi Arga masih sabar agar istrinya bicara padanya.


"Tidak sayang, terserah kamu saja. Kan sekarang pabrik itu kamu yang kelola." jawab Arga.


Anita pun tersenyum, dia memeluk suaminya dari samping. Namun dia diam lagi, membuat Arga tidak tahan dengan hal itu.


"Sayang, aku harap kamu bicarakan denganku apa yang membuatmu diam begitu. Aku siap dengar keluhanmu kapanpun." kata Arga.


Anita menarik kepalanya dari sandaran di pundak suaminya.


"Sebenarnya sih, bukan masalah besar. Tapi aku masih penasaran dengan maksud Mourin datang padaku. Dia mau apa denganku." kata Anita menunduk.


"Mourin siapa?" tanya Arga.


Anita mendongak, menatap suaminya lalu bibirnya di monyongkan karena suamunya lupa siapa Mourin. Padahal dia pernah cerita.


"Kok kamu lupa sih siapa Mourin? Aku kan pernah cerita sama kamu." tanya Anita sedikit ketus.


Arga menoleh ke arah istrinya, dia melihat wajah Anita yang cemberut. Lucu. Di tatapnya terus istrinya, Arga pun tersenyum, wajahnya maju mendekat pada istrinya dan mengecup sekilas bibirnya.


"Dia bukan siapa-siapa aku, buat apa aku ingat dia. Yang ada di hatiku cuma kamu sayang, jadi yang aku ingat cuma kamu. Cup." kata Arga dengan kata romantisnya.


Anita tersenyum dan menunduk malu. Lalu tertawa kecil, Arga senang istrinya seperti itu, memang sangat lucu.


"Lalu, Mourin itu siapa?" tanya Arga lagi.


"Dia itu mantan mas Rendi dulu. Yang aku pikirkan dia mau apa denganku. Dia bilang mau datang lagi, tapi sampai setengah bulan dia tidak datang lagi menemuiku." kata Anita.


"Ooh, si pelakor itu? Ya syukur kalau dia tidak datang lagi. Kan memang dia hanya mau datang aja sama kamu."


"Tapi waktu itu sudah tiga kali datang, aku ngga ada di rumah terus. Pas di rumah sakit baru bisa ketemu aku, Ga."


"Ya kalau memang sangat penting sekali dia pasti datang lagi sayang. Sudah jangan di pikirkan, sebaiknya kita main dulu yuk?"


"Aaah, ngga mau. Kamu lagi kerja, selesaikan dulu sana." jawab Anita ketus.


"Sebentar aja sayang."


"Ngga!"


Anita melotot, membuat Arga heran dan sedikit takut. Tapi dia aneh, kenapa istrinya menolaknya? Biasanya pasrah saja jika di minta.


Arga pun mendesah, jika di tunda setelah mengerjakan pekerjaan di laptop, akan tidak konsentrasi karena belum dapat jatah. Mana lagi pengen, tapi kenapa aku takut ya? pikir Arga.


"Sayang, yuk sebentar aja." rayu Arga.


"Pokoknya ngga! Kamu selesaikan dulu kerjaannya. Nanti setelah selesai, kamu juga belum sikat gigi malam kan? Bau mulutnya."


"Lho, kamu juga biasanya suka kan bau mulut aku. Kok jadi ribet sih sayang?"


"Selesaikan kerjaannya, terus gosok gigi sebelum mau itu. Jalau tidak, tidak ada jatah. Titik!" kata Anita tegas, matanya melirik tajam suaminya.


Arga merinding dengan tatapan istrinya, dia belum pernah melihat Anita menatap tajam seperti itu. Baiklah, dia mengalah. Demi jatah, jangan sampai berkurang. Pikir Anita.


"Iya, aku selesaikan pekerjaanku lalu nanti dapat jatah ya." kata Arga dengan mencoba merayu lagi.


"Gosok gigi dulu!"


"Haiish, ribet sayang."


"Ya udah, ngga ada jatah malam ini."


"Hah? Tega bener sih."


"Ya udah, nurut ngga"


"Iya, iya. Ya ampun, kenapa istriku jadi galaj begini sih."


"Arga!"


"Apa sayang?"


"Kamu ngomong apa?"


"Eh, aku ngga ngomong apa-apa."


Anita mendengus, matanya masih menatap suaminya, seolah musuh paling kejam yang harus di musnahkan.


"Sayang, jangan gitu lihat akunya.Kok kamu menyeramkan sih?"


"Argaaa!"


Anita masih menatap suaminya dengan dada memburu karena marah, lalu tiba-tiba dia terisak.


Arga tertegun, eh?


Kenapa jadi menangis? gumam Arga dalam hati. Dia mendekat pada istrinya dan memluknya erat, dia menyesal dengan semua yang dia katakan.


Hik hik hik


"Kamu jahat, Ga." teriak Anita dalam pelukan suaminya.


"Aku minta maaf sayang, bukan maksud aku mengatakan begitu. Cup cup dong sayang jangan menangis." ucap Arga mengusap pipi Anita.


"Kamu menenangkan aku seperti itu, memangnya aku Kevin?" kata Anita masih di sela tangisannya.


"Ngga sayang, kan supaya kamu diam."


"Ya tapi ngga begitu cara menenangkan aku, aku istrimu bukan anakmu."


Arga pusing dengan sikap istrinya. Baru kali ini dia menghadapi istrinya yang cengeng dan sensitif. Kenapa dia ya? Apa lagi PMS?


"Ga, kok kamu diam sih?"


Nah kan, diam di tanya ngomong juga salah. Arga makin pusing saja di buatnya.


Dia terus memeluk istrinya dengan lembut, di usapnya punggung Anita agar lebih tenang.


"Maaf ya sayang, aku khilaf. Lain kali ngga ngomong jelek sama kamu." kata Arga.


Dia tidak tahu jika ucapannya kali ini jadi bumerang baginya.


Anita melepas pelukannya dari Arga dengan cepat, melepas paksa tangan suaminya dan kembali menatap Arga dengan tajam.

__ADS_1


"Kamu berpikit aku jelek?"


"Eh, ngga sayang. Kapan aku mengatakan kamu jelek?"


"Tadi, kamu bilang aku jelek. Biar kamu bisa menjauhiku kan, biar kamu...? Hik hik hik."


Anita menangis lagi, Arga tertegun. Dia bingung, kenapa istrinya sebentar marah sebentar menangis. Pusing jadinya, serba salah.


Ya ampun, apakah istrinya itu kesambet setan pabrik? Padahal tadi pagi tidak seperti itu, kemarin malam juga masih baik-baik saja memberinya jatah seperti biasanya.


"Sayang, kamu di pabrik melakukan apa?" tanya Arga mengalihkan pembicaraannya.


"Aku diam aja di ruanganku lalu jalan-jalan di bagian produksi untuk mengawasi para karyawan bekerja di sana." jawab Anita seperti biasanya.


Kenapa perubahannya cepat sekali? pikir Arga. Sepertinya memang benar kesambet setan pabrik.


"Apa waktu di pabrik kamu merasakan sesuatu sayang?" tanya Arga lagi untuk memastikan kalau Anita memang kesambet setan pabrik.


"Emm, aku memang merasa jenuh dan malas di pabrik. Pengennya jalan-jalan di sekitar pabrik, jenuh kalau di dalam ruang kantor." jawab Anita.


"Wah, bener sayang."


"Bener kenapa?"


"Kamu kesambet setan pabrik deh."


"Setan pabrik? Memang aku kenapa?"


"Kamu dari tadi aneh, kadang nangis. Kadang marah sama aku, sekarang kamu di tanya begini biasa aja. Kan aku jadi khawatir sama kamu, sayang."


"Memangnya di pabrik ada setannya? Setahu aku di sana baik-baik saja, karyawan juga biasa saja ngga ada gangguan apa-apa. Kamu jangan mengada-ngada deh." ucap Anita.


Kini mode marahnya nampak lagi, Arga kembali khawatir.


"Tuh kan, kamu marah-marah melulu dari tadi." kata Arga.


"Sudah sana kerja lagi, aku mau cuci muka. Kamu jangan lupa gosok gigi setelah mengerjakan pekerjaanmu." ucap Anita.


Dia turun dari ranjangnya menuju kamar mandi. Baju tidur tipisnya tersingkap, membuat Arga menelan ludahnya susah.


Haduuh, hilang ini konsentrasi. Gumamnya. Dia membuang nafas dengan kasar, meraup wajahnya cepat. Mengembalikan mood kerjanya, dan kini matanya siap menatap laptop yang sejak tadi di biarkan menyala karena perdebatan tidak penting dengan istrinya.


Satu jam setengah Arga mengerjakan pekerjaannya yang sengaja dia bawa pulang, Anita sendiri juga sama melihat laptopnya.


Arga melirik ke arah istrinya, sama fokusnya menatap laptop.


Setelah selesai, Arga merapikan berkas-berkas dan laptopnya di pindahkan di meja kerjanya. Dia pun mendekat pada istrinya, mencium pipinya lebih dulu. Lalu tangannya mengelus lengan Anita.


Anita melirik suaminya datar. Lalu melanjutkan melihat layar laptop yang masih menyala tanpa melepaas tangan Arga.


Arga mendapat sinyal seperti itu pun mulai meraba tangannya ke mana-mana, Anita masih diam. Dia mulai mencium pipi istrinya lagi, dan kini mulai mengarah ke bibir istrinya, awalnya Anita masih diam.


Arga semakin berani, terus ******* bibir Anita dengan lembut.Dia lupa ucapan Anita jika selesai mengerjakan pekerjaan untuk gosok gigi.


"Argaaa, bauuu!!"


_


~ intermezo ya...😉😊


_


_


_


❤❤❤❤❤❤❤❤


Setengah bulan sudah setelah Mourin menjanjikan datang ke rumah sakit waktu itu, belum juga datang lagi.


Anita heran, apa maksud kedatangannya waktu itu? pikir Anita.


"Sayang, kamu sedang memikirkan apa?"tanya Arga.


Dia duduk di samping istrinya, dan membuka laptopnya. Anita sendiri masih diam belum menjawab pertanyaan suaminya.


"Sayang?"


"Yah, kenapa?" tanya Anita yang ternyata tidak mendengarkan suaminya bertanya.


Arga menghela nafas panjang, menatap istrinya yang masih belum fokus pada dirinya.


"Kamu memikirkan apa?" tanya Arga lagi dengan lembut, membelai pipinya agar Anita fokus pada dirinya.


Anita tersenyum dan memiringkan kepalanya dan mencium tangan Arga yang masih menempel di pipinya.


"Apa di pabrik ada masalah lagi?" tanya Arga.


"Emm, ngga ada. Aku bahkan memberi karyawan pabrik bonus bulan ini. Apa kamu keberatan?" tanya Anita.


Bukan suaminya namanya jika tidak melihat ada kerutan du wajah Anita jika dia menyimpan masalah. Tapi Arga masih sabar agar istrinya bicara padanya.


"Tidak sayang, terserah kamu saja. Kan sekarang pabrik itu kamu yang kelola." jawab Arga.


Anita pun tersenyum, dia memeluk suaminya dari samping. Namun dia diam lagi, membuat Arga tidak tahan dengan hal itu.


"Sayang, aku harap kamu bicarakan denganku apa yang membuatmu diam begitu. Aku siap dengar keluhanmu kapanpun." kata Arga.


Anita menarik kepalanya dari sandaran di pundak suaminya.


"Sebenarnya sih, bukan masalah besar. Tapi aku masih penasaran dengan maksud Mourin datang padaku. Dia mau apa denganku." kata Anita menunduk.


"Mourin siapa?" tanya Arga.


Anita mendongak, menatap suaminya lalu bibirnya di monyongkan karena suamunya lupa siapa Mourin. Padahal dia pernah cerita.


"Kok kamu lupa sih siapa Mourin? Aku kan pernah cerita sama kamu." tanya Anita sedikit ketus.


Arga menoleh ke arah istrinya, dia melihat wajah Anita yang cemberut. Lucu. Di tatapnya terus istrinya, Arga pun tersenyum, wajahnya maju mendekat pada istrinya dan mengecup sekilas bibirnya.


"Dia bukan siapa-siapa aku, buat apa aku ingat dia. Yang ada di hatiku cuma kamu sayang, jadi yang aku ingat cuma kamu. Cup." kata Arga dengan kata romantisnya.


Anita tersenyum dan menunduk malu. Lalu tertawa kecil, Arga senang istrinya seperti itu, memang sangat lucu.


"Lalu, Mourin itu siapa?" tanya Arga lagi.


"Dia itu mantan mas Rendi dulu. Yang aku pikirkan dia mau apa denganku. Dia bilang mau datang lagi, tapi sampai setengah bulan dia tidak datang lagi menemuiku." kata Anita.


"Ooh, si pelakor itu? Ya syukur kalau dia tidak datang lagi. Kan memang dia hanya mau datang aja sama kamu."


"Tapi waktu itu sudah tiga kali datang, aku ngga ada di rumah terus. Pas di rumah sakit baru bisa ketemu aku, Ga."


"Ya kalau memang sangat penting sekali dia pasti datang lagi sayang. Sudah jangan di pikirkan, sebaiknya kita main dulu yuk?"


"Aaah, ngga mau. Kamu lagi kerja, selesaikan dulu sana." jawab Anita ketus.


"Sebentar aja sayang."


"Ngga!"


Anita melotot, membuat Arga heran dan sedikit takut. Tapi dia aneh, kenapa istrinya menolaknya? Biasanya pasrah saja jika di minta.


Arga pun mendesah, jika di tunda setelah mengerjakan pekerjaan di laptop, akan tidak konsentrasi karena belum dapat jatah. Mana lagi pengen, tapi kenapa aku takut ya? pikir Arga.


"Sayang, yuk sebentar aja." rayu Arga.

__ADS_1


"Pokoknya ngga! Kamu selesaikan dulu kerjaannya. Nanti setelah selesai, kamu juga belum sikat gigi malam kan? Bau mulutnya."


"Lho, kamu juga biasanya suka kan bau mulut aku. Kok jadi ribet sih sayang?"


"Selesaikan kerjaannya, terus gosok gigi sebelum mau itu. Jalau tidak, tidak ada jatah. Titik!" kata Anita tegas, matanya melirik tajam suaminya.


Arga merinding dengan tatapan istrinya, dia belum pernah melihat Anita menatap tajam seperti itu. Baiklah, dia mengalah. Demi jatah, jangan sampai berkurang. Pikir Anita.


"Iya, aku selesaikan pekerjaanku lalu nanti dapat jatah ya." kata Arga dengan mencoba merayu lagi.


"Gosok gigi dulu!"


"Haiish, ribet sayang."


"Ya udah, ngga ada jatah malam ini."


"Hah? Tega bener sih."


"Ya udah, nurut ngga"


"Iya, iya. Ya ampun, kenapa istriku jadi galaj begini sih."


"Arga!"


"Apa sayang?"


"Kamu ngomong apa?"


"Eh, aku ngga ngomong apa-apa."


Anita mendengus, matanya masih menatap suaminya, seolah musuh paling kejam yang harus di musnahkan.


"Sayang, jangan gitu lihat akunya.Kok kamu menyeramkan sih?"


"Argaaa!"


Anita masih menatap suaminya dengan dada memburu karena marah, lalu tiba-tiba dia terisak.


Arga tertegun, eh?


Kenapa jadi menangis? gumam Arga dalam hati. Dia mendekat pada istrinya dan memluknya erat, dia menyesal dengan semua yang dia katakan.


Hik hik hik


"Kamu jahat, Ga." teriak Anita dalam pelukan suaminya.


"Aku minta maaf sayang, bukan maksud aku mengatakan begitu. Cup cup dong sayang jangan menangis." ucap Arga mengusap pipi Anita.


"Kamu menenangkan aku seperti itu, memangnya aku Kevin?" kata Anita masih di sela tangisannya.


"Ngga sayang, kan supaya kamu diam."


"Ya tapi ngga begitu cara menenangkan aku, aku istrimu bukan anakmu."


Arga pusing dengan sikap istrinya. Baru kali ini dia menghadapi istrinya yang cengeng dan sensitif. Kenapa dia ya? Apa lagi PMS?


"Ga, kok kamu diam sih?"


Nah kan, diam di tanya ngomong juga salah. Arga makin pusing saja di buatnya.


Dia terus memeluk istrinya dengan lembut, di usapnya punggung Anita agar lebih tenang.


"Maaf ya sayang, aku khilaf. Lain kali ngga ngomong jelek sama kamu." kata Arga.


Dia tidak tahu jika ucapannya kali ini jadi bumerang baginya.


Anita melepas pelukannya dari Arga dengan cepat, melepas paksa tangan suaminya dan kembali menatap Arga dengan tajam.


"Kamu berpikit aku jelek?"


"Eh, ngga sayang. Kapan aku mengatakan kamu jelek?"


"Tadi, kamu bilang aku jelek. Biar kamu bisa menjauhiku kan, biar kamu...? Hik hik hik."


Anita menangis lagi, Arga tertegun. Dia bingung, kenapa istrinya sebentar marah sebentar menangis. Pusing jadinya, serba salah.


Ya ampun, apakah istrinya itu kesambet setan pabrik? Padahal tadi pagi tidak seperti itu, kemarin malam juga masih baik-baik saja memberinya jatah seperti biasanya.


"Sayang, kamu di pabrik melakukan apa?" tanya Arga mengalihkan pembicaraannya.


"Aku diam aja di ruanganku lalu jalan-jalan di bagian produksi untuk mengawasi para karyawan bekerja di sana." jawab Anita seperti biasanya.


Kenapa perubahannya cepat sekali? pikir Arga. Sepertinya memang benar kesambet setan pabrik.


"Apa waktu di pabrik kamu merasakan sesuatu sayang?" tanya Arga lagi untuk memastikan kalau Anita memang kesambet setan pabrik.


"Emm, aku memang merasa jenuh dan malas di pabrik. Pengennya jalan-jalan di sekitar pabrik, jenuh kalau di dalam ruang kantor." jawab Anita.


"Wah, bener sayang."


"Bener kenapa?"


"Kamu kesambet setan pabrik deh."


"Setan pabrik? Memang aku kenapa?"


"Kamu dari tadi aneh, kadang nangis. Kadang marah sama aku, sekarang kamu di tanya begini biasa aja. Kan aku jadi khawatir sama kamu, sayang."


"Memangnya di pabrik ada setannya? Setahu aku di sana baik-baik saja, karyawan juga biasa saja ngga ada gangguan apa-apa. Kamu jangan mengada-ngada deh." ucap Anita.


Kini mode marahnya nampak lagi, Arga kembali khawatir.


"Tuh kan, kamu marah-marah melulu dari tadi." kata Arga.


"Sudah sana kerja lagi, aku mau cuci muka. Kamu jangan lupa gosok gigi setelah mengerjakan pekerjaanmu." ucap Anita.


Dia turun dari ranjangnya menuju kamar mandi. Baju tidur tipisnya tersingkap, membuat Arga menelan ludahnya susah.


Haduuh, hilang ini konsentrasi. Gumamnya. Dia membuang nafas dengan kasar, meraup wajahnya cepat. Mengembalikan mood kerjanya, dan kini matanya siap menatap laptop yang sejak tadi di biarkan menyala karena perdebatan tidak penting dengan istrinya.


Satu jam setengah Arga mengerjakan pekerjaannya yang sengaja dia bawa pulang, Anita sendiri juga sama melihat laptopnya.


Arga melirik ke arah istrinya, sama fokusnya menatap laptop.


Setelah selesai, Arga merapikan berkas-berkas dan laptopnya di pindahkan di meja kerjanya. Dia pun mendekat pada istrinya, mencium pipinya lebih dulu. Lalu tangannya mengelus lengan Anita.


Anita melirik suaminya datar. Lalu melanjutkan melihat layar laptop yang masih menyala tanpa melepaas tangan Arga.


Arga mendapat sinyal seperti itu pun mulai meraba tangannya ke mana-mana, Anita masih diam. Dia mulai mencium pipi istrinya lagi, dan kini mulai mengarah ke bibir istrinya, awalnya Anita masih diam.


Arga semakin berani, terus ******* bibir Anita dengan lembut.Dia lupa ucapan Anita jika selesai mengerjakan pekerjaan untuk gosok gigi.


"Argaaa, bauuu!!"


_


~ intermezo ya...😉😊


_


_


_


❤❤❤❤❤❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2