IKHLAS MELEPASMU

IKHLAS MELEPASMU
130. Mengintrogasi Pelaku


__ADS_3

"Mama berangkat dulu ya sayang. Cup." katw Anita pada Kevin.


Kevin hanya mengangguk, meski dia merasa sedih harus di tinggal kerja lagi. Anita melangkah pergi, namun Kevin memanggilnya.


"Maa." kata Kevin.


Anita menoleh, dia tersenyum pada anak bungsunya itu lalu melambaikan tangannya. Hatinya tidak tega harus meninggalkan anak bungsunya itu.


Dia kemudian mendekat lagi dan berjongkok sejajar dengan anaknya.


"Mama harus kerja ya dek, adek sama bibi dulu. Kan adek pintar tidak nangis, ya?" kata Anita membujuk anaknya.


"Mama pulangnya lama lagi ya?" tanya Kevin masih dengan wajah sedih.


"Iya sayang, nanti kalau adek udah pintar mama belikan mobil robot mau?" tanya Anita.


"Beneran ma?" tanya Kevin dengan wajah ceria lagi.


"Iya, sayang. Jadi adek harus pintar ya ngga boleh nangis. Tunggu abang Angga pulang ya sama bibi." kata Anita lagi.


"Iya ma." jawab Kevin dengan senangnya.


Anita kembali mencium kedua pipi Kevin yang memang masih terlihat chubby. Kemudian dia pergi meninggalkan Kevin dan pembantunya di sekolah Angga itu.


Teman satu merumpi Anita di sekolah Angga merasa kehilangan ketika Anita bekerja. Mereka tidak bisa mengobrol lagi.


"Bi, mama Angga kerja di mana?" tanya ibunya teman Angga pada pembantu Anita.


"Kerja di pabrik, bu." jawabnya.


"Lho, kerja di pabrik kok rapi bener ya?'


"Pabrik punya suaminya, suaminya tidak bisa mengawasi pabriknya karena sibuk mengurusi perceraian orang lain. Apa ya namanya?"


"Pengacara."


"Iya, itu. Pabriknya sekarang ibu Anita yang pegang dan mengawasi."


"Ooh, jadi mama Angga itu pimpinan pabrik ya?"


"Iya bu, begitu."


Obrolan demi obrolan antar ibunya anak-anak TK di mana Angga bersekolah terus bergulir.


Pembantu Anita hanya mengasuh Kevin berlari kesana kemari.


_


Anita tiba di pabrik agak siang, karena tadi harus menenangkan anaknya Kevin yang merajuk dia harus kerja lagi di pabrik.


"Pagi bu." sapa satpam penjaga di depan dengan menundukkan kepala.


"Pagi mang Sapri." jawab Anita sambil tersenyum.


Dia terus melangkah masuk ke dalam pabrik, hari ini dia akan memeriksa bagian produksi. Dia akan melihat langusng pembuatan alat-alat rumah tangga yang terbuat dari plastik dan kaca.


Dia masuk ke dalam ruangannya, membuka pintunya dan meletakkan tasnya di meja kerjanya. Kemudian dia mengambil berkas yang kemarin dia bawa pulang untuk di periksa lagi.


Tadi malam rencananya memeriksa dengan suaminya laporan dari bagian gudang dan keuangan. Namun karena mengantuk dan lelah, karena suaminya harus di layani jadi hanya sebagian saja yang dia periksa.


Saat pemeriksaan catatan laporan di bagian gudang, ternyata ada lagi kejanggalan di sana. Anita terus meneliti satu persatu dan di cocokkan lagi.


Dia lalu menelepon Dian untuk memberitahu kalau ada laporan masuk dari pengiriman barang harus segera di laporkan padanya.


"Halo, Dian. Hari ini bagian pengiriman barang melapor sama kamu?" tanya Anita setelah tersambung pada bagian keuangan.


"Iya bu, apa ibu juga perlu laporan itu?" tanya Dian.


"Iya, kamu bawa ke ruanganku. Aku ingin lihat apakah ada lagi yang hilang catatannya." kata Anita.

__ADS_1


"Baik bu."


Sambungan terputus, dia kemudian melanjutkan pemeriksaan berkas laporannya. Sedikit lagi dia sudah menjumlah seluruh uang yang hilang di bagian keuangan.


Tok tok tok


"Ya masuk."


Pintu terbuka, Dian masuk membawa laporan pemasukan keuangan hari ini, atau yang kemarin.


"Ini bu catatan laporan dari bagian pengiriman produk, mereka bilang belum semuanya yang masuk. Jadi mungkin menunggu satu minggu lagi." kata Dian menyerahkan catatan keuangan.


"Iya Dian, terima kasih. Ini dengan pengeluaran produk kan?" tanya Anita.


"Iya bu, tinggal ibu cocokkan dengan di bagian gudang aja." kata Dian.


"Oh ya Dian, terima kasih."


Dia keluar dari ruangan Anita, Anita pun meneruskan pekerjaannya.


Kini dia konsentrasi penuh, dia harus menyelesaikan secepatnya agar bisa santai lagi. Dan anak-anaknya tidak protes terus mengenai pekerjaannya.


Siang ini dia minta di temani Sarah untuk melihat dan mengawasi serta ingin tahu apa saja bahan yang di gunakan.


_


Anita berjalan-jalan berkeliling di temani Sarah sang manager, dia banyak bertanya pada Sarah semua tentang pabrik dan apa saja yang di produksi.


"Jadi produk pabrik ini sangat banyak bu, permintaan pasar juga meningkat setiap bulan. Kami mengambil sampel testimoni dari pengguna produk kita bu. Dan setiap kita berkeliling menawarkan barang juga ada lagi, selain pengiriman barang ke agen-agen." kata Sarah menjelaskan.


"Jadi produksi pabrik kita sangat banyak? Apa saja itu, dan mungkin itu sesuai permintaan pasarkan?"


"Iya bu, jadi kita setiap hari menambah produksi dan pengiriman barang produksi." jelas Sarah.


"Tapi kenapa setiap bulan selalu berkurang uang yang masuk ke bagian keuangan? Setiap bulan selalu permintaan banyak, tapi dalam tiga bulan terakhir banyak sekali penyelewengan dana. Apakah kamu tahu Sarah tentang ini?" tanya Anita.


Sarah diam, dia bukannya tahu. Hanya saja di bagian pengiriman barang produksi semaunya saja.


"Tapi bu, bukankah itu ada bagiannya masing-masing?" tanya Sarah.


"Saya yang perimtahkan, bilang begitu jika ada yang bertanya." kata Anita pada Sarah.


"Baik bu."


Kemudian Anita berlanjut melihat di bagian gudang. Di sana dia melihat ada beberapa orang yang mengepak barang. Pak Salman mendekar, dia menyapa Anita.


"Siang bu, apa ada yang bisa saya bantu?" tanya pak Salman.


"Saya hanya melihat-lihat pak Salman." jawab Anita.


Lalu dia berkeliling lagi, hingga tidak terasa waktu terus bergulir. Waktu makan siang telah memasuki, semua karyawan menghentikan kegiatannya untuk mencari makan siang di sekitar pabrik.


Ada yang membawa bekal sendiri, juga ada yang membeli di warung.


"Ibu Anita mau di belikan apa?" tanya ibu Imah OB pabrik.


"Ya, tolong belikan nasi dengan lauk soto dan ayam goreng ya. Sekalian beli tiga bungkus untuk bu Imah dan supir saya. Sebentar lagi dia datang setelah menjemput anak-anak di sekolah." kata Anita.


"Baik bu."


Anita menyerahkan uang dengan beberapa lembar pada bu Imah. Ada yang melihat sangat senang sekali jika di suruh Bos pabrik karena akan dapat jatah juga.


"Nanti kalau datang serahkan saja pada pak Diman ya bu Imah." kata Anita.


"Iya bu, siap."


Anita pun kembali ke ruangannya, memeriksa berkas yang tadi tertunda dan yang terpenting suaminya pasti meneleponnya.


Sampai di dalam ruangan, benar saja. Arga menelepon. Anita mengangkat teleponnya dan seperti biasa bertanya sudah makan belum dan rayuan manis dan romantis dari Arga.

__ADS_1


_


Satu minggu Anita memeriksa dan sudah tahu di mana letak kesalahan dan kejanggalannya. Juga sebesar apa kebocoran atau penyelewengan dana tersebut.


Sore itu, sebelum pulang. Anita memanggil dua orang bagian penyaluran produksi yang dia curigai sebagai pelakunya.


"Ada apa ya bu Anita memanggil kami?" tanya pak Maman yang lebih tua dari temannya.


"Ya, saya mau tanya apakah pak Maman yang mendistribusi produk dari pabrik?" tanya Anita.


"Iya bu, memang kami yang mendistribusi ke agen- agen produk dari pabrik ini." jawab pak Maman yang masih belum curiga kalau Anita akan memeriksa dan menanyakan banyak hal.


"Begini pak Maman, ada beberapa laporan kalau kerugian pabrik itu banyak sekali." Anita berhenti sejenak.


Pak Maman mulai gelisah, juga teman sebelahnya. Anita memperhatikan gerak gerik mereka yang saling melirik.


"Pak Maman, beberapa minggu ini saya memeriksa dari bagian gudang, pembukian keuangan dan setoran yang di terima setiap hari. Saya memeriksa semuanya, sekarang saya ingin bertanya apakah ada kesalahan jumlah dalam pendistrobusian produk? Karena kejanggalan yang saya temui itu dari bagian pendistribusian produk oleh pak Maman dan pak Salim." kata Anita.


Pak Maman dan pak Salim menunduk, mereka berdua tertunduk.


"Sudah berapa lama pak Maman lakukan itu?" tanya Anita.


"Maaf, bukan kami yang melakukannya." jawab pak Maman.


Anita mengerutkan dahinya, sudah jelas kejanggalan ada di bagian pengiriman dan pendistribusian kenapa mereka mengelak.


"Apa saya perlu memunjukkan semua nota laporan yang pak Maman dan pak Salim berikan pada Dian?" tanya Anita


Pak Maman dan pak Salim terdiam lagi.


"Pak Maman tahu, kerugian pabrik terlalu besar. Apa karena selama ini tidak pernah di awasi oleh suami saya?" tanya Anita lagi.


Mereka masih diam dan menunduk. Anita menghela nafas panjang.


"Saya bisa saja memperkarakan kasus ini ke pengadilan, suami saya pengacara. Anda berdua tahu kan pemilik pabrik ini adalah seorang pengacara?" tanya Anita memberi peringatan.


"Maaf bu, iya kami mengaku salah. Lalu apakah kami akan menggantinya?" tanya pak Salim.


"Seharusnya iya, harus di ganti sesuai kerugian yang di terima pabrik. Puluhan juta, itu berarti sekitar empat bulan pak Maman dan pak Salim melakukan kecurangan. Kemana pak Maman salurkan produk itu?" tanya Anita.


Dugaan pertama Anita tanyakan, jika bukan produknya yang di selundupkan kemumgkinan uangnya yang tidal di setorkan semuanya. Pikir Anita.


"Tidak bu, bukan seperti itu. Kami hanya..." kata pak Salim, melirik pak Maman.


"Hanya apa pak Salim?" tanya Anita penasaran.


"Kami memang salah bu, kami mengurangi setor uangnya." kata pak Maman.


"Kenapa pak Maman melakukan itu? Ini terlalu besar pak, dan seharusnya pak Maman dan pak Salim itu di pecat. Tapi saya hanya minta pak Maman dan pak Salim mengembalikan uang yang sudah pak Maman dan pak Salim pakai, nanti saya beri toleransi pada bapak berdua." kata Anita memberi pilihan.


"Berapa bulan kami harus membayarnya bu?" tanya pak Maman.


"Secepatnya, karena itu ada hak orang lain. Bukan hanya keuntungan pabrik saja." kata Anita lagi.


"Kalau begitu kami permisi bu, mau memikirkan apa yang akan kami lakukan." ucap pak Salim.


Tanpa mengatakan apa-apa lagi, keduanya langsung pergi. Anita heran, kenapa merek langsung pergi.


Padahal pembicaraan belum selesai. Anita menghela nafas panjang. Beberapa hari sangat menguras otak, bagaimana dia harus menghadapi kedua orang tersebut.


Dan seperti kata karyawan lain, memang kedua orang itu hanya mengaku saja tanpa ada itikad baik untuk mengembalikan atau mau meminta maaf dengan tulus.


Hari sudah sangat sore, kini Anita bersiap untuk pulang ke rumah. Pak Diman juga sudah menunggu sejak tadi di depan, Anita merasa tidak enak harus pulang terlambat dari pabrik.


_


_


_

__ADS_1


❤❤❤❤❤❤❤❤❤


__ADS_2