
Tak terasa liburan di vila sudah tiga hari berlalu. Anak-anak merasa kurang puas bermain di pantai kemarin.
Kini Anita sedang mempersiapkan barang-barang untuk kembali pulang.
"Ma, kok sebentar banget sih liburannya?" tanya Chiko pada Anita.
"Nanti lagi, bang. Kan papa juga sudah waktunya masuk kerja. Nanti kalau mau liburan lagi di sana aja, ya." kata Anita.
"Tapi pantainya enak di sini, ma. Airnya bening dan banyak pasirnya." ucap Chiko lagi.
"Abang, harus mengerti keadaannya papa juga. Lagi pula abang kan harus sekolah, mau pembagian raport belajar kan hari seninnya?" ucap Anita lagi.
Chiko diam, dia masih belum puas dengan jawaban Anita. Anita hanya menatap anaknya pergi begitu saja.
"Ada apa sayang, kenapa menatap Chiko seperti itu?" tanya Arga membantu istrinya merapikan barang bawaannya yang akan di masukkan ke dalam mobil.
"Dia kurang liburannya, aku bilang nanti lagi." jawab Anita.
"Apa kita undur dulu kepulangan kita lusa?" kata Arga.
"Ngga usah, besok kamu sudah masuk kerja. Lagi pula aku tidak mau meninggalkan ibu terlalu lama." ucap Anita lagi.
Arga menghela nafas panjang, dia menyesal kenapa mengambil cuti sebentar sekali.
"Nanti minggu depan kita bisa jalan-jalan lagi di sana. Bilang saja sama Chiko, minggu depan bisa jalan-jalan lagi." ucap Arga.
Anita tersenyum, dia sangat senang Arga selalu mengerti dengan anak-anak. Arga juga tudak membeda-bedakan dengan anak-anak lainnya.
Beruntung sekali Anita mencintai Arga, bisa menikah dengannya. Meski dulu ada yang membuat mereka jadi jauh. Tapi sekarang Arga semakin pengertian, pikirnya.
"Terima kasih, Ga. Iya, lebih baik liburan yang dekat saja. Aku cemas jika meninggalkan ibu sendiri di rumah terlalu lama." ucap Anita.
Arga menarik pinggang istrinya, dia lalu mencium pipinya lembut.
"Aku akan lakukan apa pun yang kamu mau sayang. Memang benar, ibu jangan terlalu lama di tinggal sendiri. Beliau sudah tua, jadi harus sering di temani." ucap Arga kembali mencium pipi istrinya itu
Anita menatap manik mata suaminya, lalu dia tersenyum dan membalas mencium pipi Arga.
"Terima kasih ya, mau mengerti aku. Aku semakin cinta sama kamu. Cup." ucap Anita.
Arga tersenyum, kemudian dia membalas mencium lagi tapi di bibir Anita. Lalu melepasnya setelah dia merasa cukup.
"Aku bawa barang ini ke mobil, sayang." ucap Arga membawa barang yang tadi di rapikan oleh Anita.
"Iya." jawab Anita.
_
Sampai di rumah, mereka langsung masuk dan mengambil barang masing-masing.
"Ma, lapal" kata Kevin.
"Eh, adek lapar. Pengen makan?" tanya Anita.
"Iya." jawab anak kecil itu dengan senyum khasnya.
__ADS_1
"Uh, kasihannya anak mama kelaparan. Ayo kita minta ke bibi bikin apa di dapur." ucap Anita membopong anak bungsunya itu.
"Kamu mau makan juga, Ga?" tanya Anita pada suaminya.
"Ngga sayang, aku mau langsung istirahat aja." jawab Arga.
"Ya udah, aku masuk duluan. Kasihan Kevin lapar katanya."
"Iya."
Anita bergegas masuk ke dalam rumah menuju dapur. Di sana pembantunya sedang membuat makanan untuk makan malam.
Sore hari seperti ini biasanya ibu Yuni sering membantu memasak di daput, tapi sekarang tidak.
"Bi, ibu mana?" tanya Anita.
"Ibu sejak pagi di kamar terus nyonya." jawab pembantunya itu.
"Emm, bibi sudah selesai masaknya?" tanya Anita lagi.
"Sudah nyonya, tinggal membereskan peralatan yang kotor aja."
"Bi, tolong suapi Kevin dulu ya. Saya mau melihat ibu dulu, cuci piringnya nanti aja. Aku cemas sama ibu." kata Anita.
"Iya nyonya."
Lalu Anita mendudukkan Kevin di kursi, dia berpesan pada anak laki-laki itu untuk makan dengan bibi.
Kemudian dia langsung menuju kamar ibunya yang tertutup rapat. Ada rasa gelisah yang di rasakan Anita, semakin mendekat dia semakin cemas.
"Bu, apa ibu tidur?" tanya Anita dari balik pintu.
Tidak ada jawaban dari dalam kamar ibu Yuni.
Anita menarik handel pintunya, dia mendorong daun pintu pelan. Karena memang tidak di kunci, di edarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Namun dia tidak menemukan ibunya di ranjangnya
Anita heran, di mana ibunya itu berada?
Anita semakin masuk ke dalam kamar, pikirannya cemas dan gelisah. Dia melihat pintu kamar mandi sedikit terbuka. Dengan melangkah cepat Anita menuju kamar mandi dan melihat ibunya sedang terkapar di sana.
"Ibuuu!!!
Cepat-cepat Anita menarik ibunya dari dalam kamar mandi untuk di bawa ke ranjangnya. Namun sia-sia karena dia tidak bisa membawa ibunya sendirian.
Dia lalu berlari keluar kamar ibu Yuni dan berteriak memanggil suaminya.
"Argaaaa, tolong ibu!" teriak Anita di bawah tangga.
Dia kemudian kembali masuk ke dalam kamar ibunya Arga bergegas turun ke bawah sambil berlari dan masuk ke dalam kamar ibu Yuni.
"Sayang, ada apa dengan ibu?" tanya Arga ikut cemas dan melihat Anita sedang menyeret ibunya dari kamar mandi.
Arga kaget, dia langsung menghampiri Anita dan membopong mertuanya itu di bawa ke ranjangnya Anita sudah berurai air mata.
"Ga tolong bawa ibu di bawa ke rumah sakit, aku takut ibu kenapa-kenapa. Hik hik hik." ucap Anita sambil menangis.
__ADS_1
"Kamu tenang dulu sayang, aku siapkan mobil dulu ya." ucap Arga menenangkan istrinya yang semankin panik.
"Aku tidak mau terjadi apa-apa sama ibu, Ga. Hik hik hik."
"Iya, aku tahu. Aku juga tidak mau terjadi apa-apa dengan ibu. Ibu sepertinya baik-baik saja."
"Aku takut, Ga. Aku takut sekali "
"Iya, kamu tenang ya. Aku akan siapkan mobil, kamu juga siapkan keperluan ibu untuk ke rumah sakit."
Anita mengangguk, lalu Arga bergegas keluar dari kamar ibu Yuni. Dia langsung berlari menuju kamarnya mengambil kunci mobil dan bergabti pakaian.
Rencana semula dia ingin istirahat dan tidur, tapi terjadi insiden pada mertuanya.
Setelah selesai, dia langsung turun lagi, di sana Chila dan Celine melihat Arga berlari dengan cepat.
"Papa kenapa ya, kak?" tanya Celine heran.
"Kakak ngga tahu, dek. Ayo kita turun juga ke bawah." ajak Chila.
Celin pun mengangguk, dia menggandeng tangan Chila dan turun ke bawah. Mata mereka melihat ibu Yuni sedang di bawa keluar oleh papanya. Chila terkejut, ada apa dengan eyang putrinya?
"Ma, eyang putri kenapa?" tanya Chila,wajahnya sudah mulai sedih.
"Eyang jatuh di kamar mandi, kak. Kakak si sini aja dulu ya, jaga adek semua. Mama sama papa ke rumah sakit dulu mengantar eyang putri. Mudah-mudahan eyang tidak apa-apa ya kak." ucap Anita.
"Iya ma, nanti kakak boleh kan nengok eyang di rumah sakit?"
"Iya, sekarang kakak jaga adek-adeknya. Kakak Celine jangaj nakal ya, jagain adeknya juga sama kakak Chila." pesan Anita pada kedua anaknya itu.
"Sayaaang, cepetan naik mobil." teriak Arga dari luar.
"Iya."
Lalu Anita bergegas keluar rumah dan menghampiri suaminya
Dan tanpa menunggu lagi, Arga langsung tancap gas. Dia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi
Sementara di rumah, Chila merasa sedih melihat ibu Yuni tadi pingsan di gendongan papa sambubgnya.
Pembantu Anita juga sebelumnya sudah di beri tahu oleh Anita untuk menjaga anak-anaknya. Dia merada bersalah tidak memeriksa keadaan ibu Yuni yang sejak pagi tidak keluar rumah karena mempersiapkan makanan untuk majikannya yang baru datang dari liburan.
"Semoga eyang putri tidak kenapa-kenapa ya non Chila." ucap pembantunya itu
"Iya bi, aku kasihan sama eyang putri." jawab Chila.
Mereka kini ada di meja makan bersama. Chila sebagai anak tertua merasa bertanggung jawab menjaga adik-adiknya.
_
_
_
❤❤❤❤❤❤❤
__ADS_1