
Seperti ucapannya pada Arga, Anita benar-benar akan menyumbangkan uang yang di beri oleh Rendi sebanyak lima miliar itu untuk yang membutuhkan bantuan.
Dia belum berpikir akan di sumbangkan kemana uangnya, masih tahap pemikiran. Dia akan mendiskusikannya lagi dengan Arga juga ibunya. Siapa tahu ada masukan harus kemana uang itu di salurkan.
Anita mendekati ibunya yang sedang duduk di ruang keluarga, menonton sinetron di stasiun terbang. Anita duduk di sebelah ibu Yuni, kepalanya dia jatuhkan di pangkuan ibunya.
Entah kenapa, dia ingin bermanja dengan ibunya. Di belai rambutnya sampai dia tertidur seperti waktu kecil dulu.
Ibu Yuni heran dengan tingkah anaknya, dia menatap Anita yang terpejam matanya. Anita menarik tangan ibunya, di tempelkan di kepalanya dan di usap di kepalanya.
Ibu Yuni menghela nafas panjang, mungkinkah anaknya ingin mengenang masa kecilnya. Tidak biasanya dia bermanja seperti itu.
"Kamu kenapa?" tanya ibu Yuni mengusap kepalanya lembut sesuai keinginan anaknya itu.
Anita tidak menjawab, matanya masih terpejam. Dia sedang mengenang masa kecilnya dan mendalami apa yang ada di ingatannya sewaktu kecil dulu. Ibu Yuni diam, dia berpaling menatap televisi besar berukuran empat puluh dua inci itu.
"Rasanya nyaman bu, aku seperti kembali ke masa kecil dulu. Sering tidur di pangukan ibu ketika susah sekali tidur." ucap Anita masih memejamkan matanya.
"Kamu kenapa, Anita?" tanya ibu Yuni lagi dan tangannya berhenti mengusap kepala Anita.
"Aku sedang mengenang masa kecil bu, sungguh nyaman sekali tidur di pangkuan ibu." ucap Aniya.
Dia belum bangun dari tidurannya di pangkuan ibunya.
"Ya, boleh saja kamu mengenang masa kecil, tapi jangan lama-lama. Ibu capek, kepalamu besar tidak seperti waktu kecil." ucap ibu Yuni.
Anita sontak saja bangun dari pangkuan ibunya. Dia tertawa kecil, ibu Yuni hanya tersenyum saja dengan tingkah anaknya.
"Hehehe, maaf bu. Memang dulu dan sekarang sudah jauh berbeda." ucapnya.
Dia duduk bersandar di sofa dan ikut menonton sinetron di stasiun terbang.
Masih belum memulai, padahal dia antusias mau menyampaikan niatnya pada ibunya. Ibu Yuni memperhatikan mimik wajah Anita yang bingung.
"Ada apa? Kamu tidak biasanya ikut duduk sama ibu nonton sinetron. Biasanya kamu nonton lawakan saja." tanya ibu Yuni yang heran sejak tadi Anita diam.
"Emm bu, aku punya rencana mau menyumbangkan uang yang di berikan mas Rendi ke orang yang membutuhkan. Apakah ibu punya usulan, kemana uang itu di sumbangkan?" tanya Anita.
"Maksud kamu apa, ibu belum paham dengan ucapanmu." kata ibu Yuni.
"Maksud aku, aku mau menyumbangkan uang dari mas Rendi bu. Kira-kira ibu punya usulan kemana harus aku sumbangkan?" tanya Anita.
"Kamu mau menyumbang semua uangmu?" tanya ibu Yuni.
__ADS_1
"Iya bu, apakah ibu punya pendapat lain?" jawab Anita.
"Suamimu tahu tentang uang itu?" tanya ibu Yuni lagi.
"Arga tahu, aku juga sudah membicarakannya pada Arga. Dan dia terserah aku, dia tidak melarangnya." ucap Anita.
"Bagaimana dengan uang si kembar?" tanya ibu Yuni.
"Aku tidak menggunakan uang si kembar bu, hanya uangku saja yang di sumbangkan. Uang Chila dan Chiko dari mas Rendi tetap aku tabung untuk masa depan mereka. Pasti nanti akan membutuhkan biaya yang besar untuk sekolah dan kuliah nanti. Aku berpikir, semuanya aku serahkan pada Arga. Dia yang menjamin hidupku dan anak-anak serta ibu juga. Aku tidak masalah apa yang di berikan oleh Arga padaku, aku terima. Jadi aku ingin memulai hidup baru benar-benar dari awal dengan Arga. Aku sudah mengatakan padanya tentang ini." ucap Anita lagi.
"Ya kalau suamimu mengizinkan, apa ibu berhak melarangmu?" tanya ibu Yuni.
"Terima kasih bu, yang aku hanya minta pendapat ibu kemana uang itu di salurkan?"
"Uang lima miliar itu banyak. Jika untuk satu lembaga, sepertinya kebanyakan. Bagaimana jika uang itu kamu bagi-bagi saja ke setiap rumah ibadah yang membutuhkan. Dan bisa ke yayasan panti asuhan juga." usul ibu Yuni.
Anita tampak berpikir, memang benar. Uang lima miliar itu banyak. Jika satu lembaga akan kebanyakan. Tapi di bagi-bagi ke beberapa tempat ibadah dan yayasan anak yatim piatu.
"Ya, usul ibu bagus juga, aku akan bicarakan lagi dengan Arga." ucap Anita.
"Anita, ibu punya kenalan di kampung sebelah sewaktu di sana. Dia mempunyai lembaga pendidikan di sana. Dan tempatnya juga sepertinya kurang layak, ibu pikir apakah bisa sebagian kamu sumbangkan ke teman ibu itu. Dia orangnya bersahaja, tidak pernah meminta. Tapi jika ada yang menyumbang di terima. Apakah usul ibu ini bisa di terima?" tanya ibu Yuni.
"Ya aku setuju sekali bu, yang penting uang itu bermanfaat untuk orang lain. Nanti ibu antar tempatnya ya, aku juga ingin lihat seperti apa lembaga pendidikan itu." ucap Anita.
"Lalu kemana lagi?"
"Di gereja ibu biasa berkunjung, di sana juga bisa. Dan ibu pernah melihat ada sebuah masjid yang sedang di bangun. Bisa kamu berikan sumbangan, juga di belakang gereja kemarin kamu menikah ada lembaga yayasan yatim piatu. Kamu bisa ke saja."
"Berarti empat tempat yang akan kita beri sumbangan?" tanya Anita.
"Yang ibu tahu hanya itu. Karena ibu tidak hanya menunjuknya saja, di sana memang benar-benar membutuhkan dana besar. Mereka juga akan senang karena dananya bisa langsung di pakai." ucap ibu Yuni.
"Ya sudah, di empat tempat itu saja aku salurkan uangnya." ucap Anita.
Lama perbincangan kedua anak dan ibu itu berlangsung. Di luar terdengar suara mobil Arga masuk di halaman rumah.
"Aku ke depan dulu bu, Arga sudah pulang." ucap Anita.
Dia bangun dari duduknya dan menuju depan menyambut suaminya pulang dari kantor.
Arga tersenyum, dia senang Anita menyambutnya ketika pulang dari kantor. Dia lalu memeluk Anita dan mencium keningnya.
"Kamu sudah mendingan sayang?" tanya Arga.
__ADS_1
"Sudah, aku tidur dari pagi dan bangun pas makan siang. Lama banget aku tidur." ucap Anita sambil tersenyum.
Mereka saling merangkul dan menuju tangga, untuk masuk ke kamarnya.
"Anak-anak sudah tidur?" tanya Arga lagi.
"Celine sudah tidur dan si kembar baru saja tidur setelah belajar tadi." jawan Anita.
"Baguslah kalau begitu."
"Kamu sudah makan?" tanya Anita setelah mereka sudah ada di dalam kamar.
"Emm, aku belum makan." ucap Arga, senyum jahilnya mengembang.
Anita mengerutkan dahinya, jangan-jangan suaminya itu berkata dengan maksud lain. Dia khawatir jika dugaannya itu benar.
Arga menengok ke arah istrinya yang masih diam karena curiga. Dia tertawa lepas melihat ekspresi Anita, lalu mendekat karena sangat lucu dengan wajah seperti itu.
"Kamu menggemaskan kalau sedang curiga seperti itu sayang, apa yang kamu pikirkan?" tanya Arga, dia mengusap pipi Anita.
"Aku merasa aneh dengan ucapan keragu-raguanmu." jawab Anita.
"Kalau begitu, kamu paham maksudku ternyata. Jadi persiapkan tubuhmu untuk nanti malam." ucap Arga sambil mengerlingkan mata genitnya.
Anita tersenyum kaku, lalu dia mengambil tas suaminya dan meletakkan di tempatnya. Juga jas yang tadi dia pakai, di masukkan ke keranjang kotor.
Arga masuk ke dalam kamar mandi, dia akan mandi terlebih dahulu.
"Aku serius nanya sama kamu, udah makan belum suamiku?" tanya Anita.
"Siapkan saja sayang apa yang kamu masak. Nanti aku ke bawah, makan denganmu. Setelah itu malamnya makan kamu. Hahaha..!" Arga tertawa puas menjahili istrinya.
Anita menggelengkan kepalanya saja dengan ucapan kalimat terakhir. Memang kadang Arga meminta jatah hampir setiap hari. Jika bukan malam, maka di pagi harinya dia meminta.
Tapi dia juga ikhlas, karena cinta yang membuat keduanya menikmati kebersamaan dalam manisnya bercinta. Apa lagi dengan orang yang benar-benar sangat di cintainya.
_
_
_
❤❤❤❤❤❤
__ADS_1